BLIND DATE

BLIND DATE
53. Amsterdam-Jakarta



...53. Amsterdam-Jakarta...


Seharian penuh mengelilingi kota Paris, rasanya masih kurang. Banyak tempat-tempat yang menarik yang disajikan oleh kota yang terkenal dengan pusat seni, kuliner, fashion,  serta budaya tersebut


Menara Eiffel. Museum Louvre yang punya predikat museum terbesar di dunia. Pusat alun-alun kota Paris yang terkenal dengan Place de la Concorde. Berupa bangunan Obelisk Mesir dengan ketinggian 23 meter. Berdiri di tengah-tengah Place de la Concorde.


Sungguh menakjubkan.


Belum bangunan-bangunan bersejarah lain. Seperti Arc de Triomphe. Sebuah monumen bersejarah yang dibangun pada tahun 1806-1836.


Gama antusias menjelaskan. Ia menelinga dengan saksama. Sebenarnya bukan hanya bangunan-bangunan eksotis yang membuatnya kagum. Akan tetapi sosok laki-laki yang berada tak jauh darinya yang tengah menjadi tour guide-nya ini juga mampu menghipnotisnya.


“Setelah ini kita pulang ke Amsterdam,” ucap Gama. Kini mereka berada di atas jembatan Sungai Seine. Sungai yang membelah kota Paris menjadi 2 bagian. Kanan dan kiri. Makam malam di atas kapal. Sambil menikmati pemandangan kota Paris yang gemerlap dihias lampu.


Seberapa banyak foto yang diambil, rasanya tetap saja ada yang tertinggal. Banyak sudut-sudut kota yang menarik untuk sayang dilewatkan. Namun akhirnya waktu jua lah yang memaksa mereka untuk segera menyudahi.


Menggunakan kereta cepat dari Stasiun Paris Gare Du Nord menuju Central Station- Amsterdam. Dengan jarak tempuh sekitar 3 jam 18 menit. Melewati pemandangan yang tak kalah indah. Hamparan lahan pertanian, bukit-bukit, hutan dan danau, bangunan-bangunan khas Eropa, hingga sungai-sungai yang tampak hijau. Tak ketinggalan lapangan sepak bola. Yang identik dengan negara-negara Eropa. Semua bisa dinikmati dari dalam kereta yang melesat dengan kecepatan maksimal 300 km/jam ini. Tanpa merasa terganggu dengan guncangan kereta yang melaju.


Ia dan Gama duduk bersisian. Di sinilah ia baru menemukan jawaban mengapa Gama ingin pergi berdua dengannya.


Kata laki-laki itu, “Ingin membuat kenangan baru.”


Dahinya berkerut. “Kenangan baru?”


Gama mengangguk. “Dulu aku road trip bareng yang lain. Di mana Dirk sebagai tour guide-nya.”


“Bukannya kamu hanya berdua dengan Elena?”


“Kata siapa? Perjalanan berdua ketika dari Amsterdam ke Brussels. Selama di kota tujuan kita semua dikumpulkan dalam 1 tempat. Dirk yang mengendalikan semuanya. Karena dialah yang punya tour and travel. Aku dan Elena membantu Dirk untuk mengenalkan usahanya ke kota-kota Eropa lainnya.”


Tiba di Amsterdam hampir tengah malam. Keduanya langsung beristirahat sebelum keesokan paginya menuju bandara Schiphol untuk kembali ke Jakarta.


...***...


“Thank you,” ia menjabat tangan Dirk. Pagi itu ia dan Gama telah berada di Schiphol Airport. “Lovely to meet you,” sambungnya.


Dirk menepuk pundaknya. Membalas, “Great interacting with you. Saat kalian menikah, aku akan datang ke Indonesia,” sahut Dirk.


“Kami tunggu kedatanganmu, Dirk. Aku siap jadi tour guide-mu,” celetuknya sambil menunjuk Dirk.


Pria dengan iris abu-abu itu tertawa. Lalu terlihat Dirk dan Gama beradu kepalan tangan. Saling menepuk punggung, berpelukan.


“Thank you, buddy,” ucap Gama.


“I know you would do the same for me,” sahut Dirk.


Kembali menempuh perjalanan panjang. Namun kali ini terasa cepat. Gama selalu berada di sisinya. Mendengarkan musik bersama, menonton film, hingga bercerita tentang pengalaman laki-laki itu mendatangi beberapa kota di sejumlah negara.


Ia baru tahu, jika hanya Elenalah yang tinggal bersama laki-laki itu. Sementara wanita lain yang pernah dekat dengan Gama selama di Belanda hanyalah penjajakan.


“Penjajakan?” Keningnya mengerut. Entah apa maksud penjajakan di sini. Namun Gama menegaskan, “girlfriend.”


“Girlfriend pakai spasi apa gak?” todongnya. Tentu akan beda pengertiannya meski pengucapannya sama. Jika girlfriend adalah teman perempuan yang berarti pacar. Sedangkan girl friend artinya teman yang berjenis kelamin perempuan.


Laki-laki itu berdecak, lalu sudut bibirnya terangkat. “Girlfriend tanpa spasi.” Mengacak-acak rambutnya.


Tidak menyebut berapa mantan pacar Gama sebelum Elena. Namun ia memilih tak menanyakan kembali apa yang terjadi antara Gama dengan pacar-pacarnya itu. Ia juga tak mau mengungkitnya. Sebab ia sendiri juga mengalami. Beberapa kali penjajakan buktinya gagal lagi-gagal lagi. Dan itu akan menjadi bagian kisah perjalanan cintanya. Menemukan pasangannya.


Pesawat yang mereka tumpangi harus transit di Dubai untuk mengisi bahan bakar. Lalu kembali melanjutkan penerbangannya ke Jakarta. Tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 3 pagi.


Gama mengusap kepalanya, “Istirahatlah. Tidak perlu ke kantor hari ini.” Mengantarkannya hingga di teras rumah.


Ia mengangguk, “Mas Gama juga.”


Gama mengulas senyum seraya menatapnya. Lalu pamit pergi.


“Saatnya kembali beraktivitas seperti biasa,” ujarnya dalam hati. Sementara sang mama baru tampak terbangun dari tidurnya. Menuruni anak tangga.


“Istirahatlah, Sas. Biar nanti Mama dan Susi yang membereskan.”


Ia memeluk dan mencium pipi Ranti saat mereka bertemu di ruang tengah. “Aku kangen, Mama,” tukasnya.


Ranti balas mencium pipi dan kepalanya.


Meninggalkan Ranti menuju kamarnya. “Huuh,” desakkan lega keluar dari mulutnya. Akhirnya ia kembali ke kamar ini.


...***...


“Tidak perlu, Fan. Hanya keluarga inti saja.” Sofyan menyahut ketika Affan menyebut berapa undangan yang akan disebar saat pernikahan kakaknya tersebut.


“Tapi, Pa. Ini momen untuk diketahui banyak orang. Karena orang-orang tahunya Gama itu sudah menikah,” tukas Affan. Pagi itu ia menemani sang papa sarapan di pinggir kolam. Seusai melakukan jalan pagi.


Sofyan menggeleng—tidak setuju. Kembali mengucap, “Hanya keluarga inti kita dan Bu Ranti.”


Keputusan papa sudah bulat. Sulit untuk mengubahnya.


“Lalu bagaimana dengan resepsinya?” tanya Affan.


Sofyan mencecap tehnya. Lalu berkata, “Kita laksanakan setelah pernikahan.”


Gama datang menghampiri keduanya. Duduk di sebelah Sofyan. Setelah tiba di rumah, rasa lelahnya memang terasa. Namun justru ia tidak bisa memejamkan mata.


“Bagaimana dengan Kemuning?” tanya Sofyan.


“Sudah capai progres 85%. Selebihnya tinggal bangunan di bagian belakang,” jawabnya.


Seorang asisten rumah tangga datang membawakan minuman untuknya.


“Ga, Papa hanya ingin keluarga inti saja yang hadir. Bagaimana menurut lo?” tanya Affan.


“Gue setuju.”


“Kuatkan tekad. Lihatlah Papa dan Mama. Sasmaya adalah wanita yang tepat mendampingimu.”


Affan berdiri. “Atau gue carikan pengganti Lyvia di sini. Jadi lo gak usah ke Bandung.”


Ia menggeleng. “Gak perlu. Habis ini gue ke Bandung.”


Setelah menemani papa sarapan, ia pun bersiap untuk pergi. Menelepon Dani bahwasanya ia akan ke Bandung hari ini. Posisi sekretarisnya itu tengah berada di sana.


Ia mampir ke toko bunga. Membeli buket bunga. Lantas menyuruh sopirnya untuk mampir ke suatu alamat yang telah disebutkan.


Melepas blazer. Menggulung lengan kemeja hingga ke siku. Ia menyusuri jalan setapak ber-paving block.


“Maafkan Gama, Ma ....”


Tatapannya dalam penuh makna. Ada banyak hal yang ingin dikatakan, tapi tertahan di tenggorokan.


“Aku, aku akan menikah.” Ia mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya. “Memenuhi permintaan Mama.”


...***...


Tidurnya begitu lelap. Hingga tak menyadari hari sudah siang. Perutnya terasa lapar, ia pun memilih turun dan menuju meja makan.


Membuka ponsel. Memeriksa pemberitahuan di sana. Nomornya telah kembali memakai nomor lama. Ada banyak pesan yang masuk.


Ia membaca satu per satu. Seraya menuangkan nasi, lauk dan sayur ke dalam piringnya. Lalu beralih pada pesan Gama yang masuk 10 menit yang lalu.


Gama : Aku ke Bandung. See you ...


Laki-laki itu tipe pekerja keras. Tak mengenal lelah, padahal pagi tadi baru saja tiba dari perjalanan panjang.


^^^Sasmaya : Take care, beristirahatlah jika lelah. Jangan maksain. Kesehatan adalah segalanya.^^^


Ia membalikkan kata-kata Gama ketika laki-laki itu pernah berujar bahwa kesehatan itu lebih penting.


Sore harinya Sinta datang ke rumahnya. Menagih oleh-oleh darinya.


“Sasmaya!” teriak Sinta heboh. Memeluknya erat seperti baru menemukan harta karun.


Ia menepuk-nepuk bahu sahabatnya tersebut. Sinta cengengesan, baru melepaskan pelukannya. “Gue kangen tahu!” cebiknya.


Ia menyahut, “Iya, gue juga tahu.”


“Hehe ...,” cengir Sinta. Lalu duduk di sofa, “asyik, asli langsung di dituna ieu mah.” Sinta mengambil keju, cokelat dan memilih gantungan kunci beraneka bentuk.


"Ini titipan gue?" tanya Sinta ketika ia meyodorkan sebuah paper bag bertuliskan brand tas terkenal.


Ia mengangguk.


"Wow, happy banget gue," ungkap Sints dengan mata berbinar-binar. Akhirnya ... punya tas impiannya.


“Titip buat Lea,” ia kembali menyerahkan paper bag pada Sinta.


Ibu satu anak itu bersemangat menerima, “Wah, pasti Lea senang banget,” melihat isinya. Sebuah boneka Miffy-Nintje. “Thanks ya, Sas. Lo ingat aja keponakan.”


Ia mencebik. Lantas membuka stoples berisi stroopwafels. Menyodorkan pada Sinta.


“Cerita dong, katanya Pak Gama nyusul ke sana?” Sinta mengambil sepotong stroopwafels. Menggeser duduknya. Mendekatinya.


“Gue ke banyak tempat di Amsterdam. Juga ke Paris bareng dia.”


“Wih ... bikin iri. Pasti Pak Gama genggam tangan lo terus bilang gini pas di Menara Eiffel ‘Sas, je t’aime ...,” tukas Sinta.


Ia menggeleng. “Gak ada,” sergahnya.


“Masa sih! Atau pas berlayar di Sungai Seine terus bilang ‘Sas, yo te amo’,” tebak Sinta.


“Ngaco. Boro-boro gak sempat menyusuri Sungai Seine,” sahutnya.


“Ah, gue tahu.” Sinta mengusap-usap telapak tangannya setelah menghabiskan sepotong stroopwafels. “Pak Gama nulis nama lo sama doi di gembok. Terus dicantolin tuh di jembatan gembok cinta, lalu pas melempar kuncinya di sungai bilang gini, ‘Sas ... I love you!”


Ia menggeleng.


“Masa sih ...! Ke kota wisata romantis gak bilang apa-apa?” Sinta tak percaya. “Jauh-jauh ke kota Paris gak ada satu pun bilang gue sayang lo versi bahasa mereka? Atau pas di Amsterdam, dia bilang sayang sama lo pakai bahasa sono?”


Sasmaya kembali menggeleng.


“Pak Gama gak romantis ah? Masa kalah sama suami gue,” protes Sinta. Memprovokasi.


“Dia gak ngomong begituan tapi ...,” ia sengaja memancing Sinta. Dibilang tidak romantis, rasanya salah. Sebab Gama memperlakukannya penuh kehangatan. Romantis tidak harus dengan kata-kata bukan?


“Tapi,” Sinta penasaran.


“Dia maunya hanya pergi berdua dan ...,” alisnya bergerak naik turun. Lalu ia menutupi wajahnya dengan bantal sofa. Mengingat Gama menciumnya. Rasanya  ...ah, pipinya pasti merah merona.


“Sas.”


Ciuman itu bahkan tertinggal hingga kini. Laki-laki itu benar-benar memperlakukannya penuh cinta.


“Sas,” panggil Sinta.


“Hah, iya.” Ia membuka bantal yang menutupi wajahnya.


Lirikan mata Sinta menyelidik. “Kayaknya, gue curiga.”


Ia lekas menyergah, “Curiga apaan?”


“Kalian ngapain di sana?” tanya Sinta.