BLIND DATE

BLIND DATE
94. Sayang



Kenan tersenyum sumringah. Saking gemasnya di angkatnya tubuh istrinya ke pangkuannya. Diciuminya pipi mulus perempuan cantik itu.


"Kennnn.....let me go ... emhhh.....!", Adelia berusaha menahan bibir Kenan yang terus menciuminya dengan membabi buta.


Tapi dengan cepat lelaki itu menahan tangan mungil istrinya dan melanjutkan aksinya.


"I'm so happy baby.....very happy ", masih menciumi wajah istrinya.


Gadis cantik itu tergelak. Wajahnya sampai memerah karena banyak tertawa. Apalagi saat ciuman lelaki itu turun ke leher dan cuping telinganya.


"Kennn.....geli.....stop it !", Adelia mengerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menghindari ciuman bertubi-tubi dari lelakinya.


Akhirnya Kenan menghentikan aksinya. Tapi tetap menahan tubuh cantik itu di atas pangkuannya. Memeluk pinggangnya erat.


Tentu saja lelaki itu terlalu gembira. Karena apa ? Ternyata grandpa dan grandma mempunyai rencana lain untuk honeymoon mereka.


Kakek nenek Kenan ternyata paling paham keinginan cucunya. Maldives. Iya, maldives adalah destinasy yang lelaki itu inginkan dari masa remaja dulu. Kalau menikah nanti ingin mengajak istrinya ke sana.


Dan ternyata kakek neneknya masih mengingat itu sampai sekarang. Dannn.....kini melakukan itu untuknya dan istrinya.


Eitsss.....tunggu, itupun tidak cuma-cuma. Kenan dan Adelia harus bisa menjatuhkan kedua pasangan itu dalam tiga jurus. Baru mereka boleh terbang ke sana.


Padahal kalau tidak, Kenan sudah berencana diam-diam akan melakukan itu sendiri. Mengalihkan tujuan honeymoonnya, meski tanpa persetujuan grandpa dan grandma. Ah.....syukurlah, dia batal jadi cucu durhaka.


"But remember, come to visit to Italy and Dutch after that ", itulah pesan grandpa dan grandma sebelum mereka terbang ke Italy beberapa jam yang lalu.


Pesan yang sama disampaikan Oma dan Opa. Bahkan ada tambahan lagi.


"Kalo nggak mampir ke Belanda, Opa minta balik cucu cantik Opa".


Bukannya itu suatu ancaman yang mengerikan ?


Huft....pasangan tua memang sangat absurd dan radikal. Kenan harus mengaku kalah dengan mereka.


Kedua pasangan tua itu akhirnya memutuskan pergi ke Italy lebih dulu. Hmmm...itupun setelah mereka adu tanding juga di Bandara.


Karena dua pasang suami istri itu sepakat saling berkunjung dan saling bertandang ke kampung halaman masing-masing.


Dengan senang hati Kenan dan Adelia menyetujui permintaan mereka.


Bahkan lelaki itu memeluk grandpa dan grandma beberapa lama. Bahkan juga mengucap maaf beberapa kali. Yang dibalas usapan lembut di bahunya dan kata-kata konyol lagi.


"Don't say sorry. Grandpa sama grandma sudah maafin. Paling besok-besok kamu ulangi lagi !", kata kakeknya.


Huft....memang sangat menyebalkan. Tapi setidaknya Kenan menghargai niat baik mereka. Kakek dan nenek yang Kenan kira mengerjainya justru mengatur rencana brilliant untuknya.


Mereka masih berada di private jet. Di sebuah kamar.


"Really....really happy ?", goda Adelia. Lalu mengalungkan tangannya di leher kokoh lelaki itu.


Kenan mengangguk cepat. Lalu mencium bibir istrinya lembut.


"Of course, baby. That's what I want ", mata hazel lelaki tampan itu berbinar.


"Mereka sayang banget sama kamu, Ken ", Adelia tatap suaminya dengan sorot lembut. Jemarinya bergerak mengelus dada lelaki itu lembut.


Kenan tersenyum dan mengangguk setuju. Grandpa dan grandma-nya memang sangat menyayanginya. Meski cara mereka begitu absurd.


"Hmmm...I know baby ", diusapnya lembut pipi putih mulus gadis cantik di pangkuannya itu.


"Siapa lagi yang sayang sama aku ?", tanyanya dengan senyum menggoda.


"Uhmm....siapa ya ?", Adelia dengan nada centil. Bahkan menaruh jemarinya di dagu cantiknya.


"Wanna know or wanna know more ?", godanya lagi. Mata cantik itu berkedip lucu. Menggemaskan sekali


"Wanna you, baby ?", Kenan sambar bibir ranum yang selalu menggodanya itu. Memagutnya lembut.


"Coba bilang siapa ?", pinta Kenan lagi.


Adelia masih pura-pura berpikir. Sengaja menggoda lelaki itu. Kenan cium lagi bibir mungil yang merah ranum itu.


"Aku.....Aku sayang kamu", kata Adelia akhirnya. Sambil merentangkan kedua tangannya lebar.


Spontan bibir seksi Kenan terkekeh.


"Aku juga sayang kamu, baby .... so much ", balasnya.


Sedetik kemudian dua bibir yang tiada jengah mengucap sayang dan cinta itu saling menempel dan mengecap mesra. Berpagut penuh gairah.


***********


Di ruangan lain dalam pesawat yang sama.


"Itu mimpi aku, No. Maldives ", kata Ina dengan binar bahagia.


"Yess, darling. Sekarang kita on the way ke sana istriku", balas Nino sambil memeluk erat istrinya.


"Thanks ya, No....I love you ", Ina balas memeluk lelaki yang sudah jadi suaminya itu.


Lelaki yang telah membuatnya rela berdiet hingga mendapatkan tubuh yang sekarang. Langsing dan cantik, meski belum bisa dibilang langsing-langsing amat sih. Tapi sudah lumayan bagus.


"I love you too..Na...But say thanks to tuan muda Ken juga ", kata Nino seraya mengusap bahu istrinya lembut.


"Tentu lah, hubby. Aku tahu , tuan muda mesum itu kan ?", Ina mempertemukan pandangan mereka.


Nino terkekeh.


"Mesum mana sama suami kamu, honey ? Nih buktinya, udah tumbuh di sini benih aku ", diusapnya perut istrinya yang masih terlihat rata itu.


Bibir Ina mencebik.


Nino tergelak.


"Dan kamu nggak bisa nolak, istriku ", belanya.


"Gimana mau nolak, kamu pepetin aku terus gitu ?", balas Nina.


Nino cium bibir merah istrinya. Menggulatnya mesra.


"Harus di pepet dong, biar nggak lepas. Gimana, mau di pepet lagi sekarang ? Coba sensasi baru di pesawat ?", goda Nino. Tangan lelaki itu sudah mengembara ke mana-mana di tubuh istrinya itu.


Ina tersipu. Kepalanya mengangguk setuju.


Tanpa menunggu lama Nino langsung menggiring tubuh istrinya ke ranjang. Sambil bercumbu mesra.


"Don't forget the door !", ingat Ina di tengah cumbuan mereka. Karena sekilas terbayang saat memergoki Kenan dan Adelia bercumbu sebelum berangkat tadi.


"Aman, honey. Don't worry !", balas Nino. Kembali mencumbu istrinya lebih liar. Ina tahan bibir lelaki itu.


"Slow down, hubby, ada baby kita", ingat Ina.


Nino terkekeh.


"Iya, tentu aja, Baby kita akan senang karena disapa Daddynya", katanya.


Sebentar kemudian terdengar suara-suara merdu menggema memenuhi ruangan kamar di pesawat itu.


*******


"Kamu yakin mereka ke sana ?", lelaki itu bicara dari balik telepon.


Terdengar balasan dari seberang sana. Lelaki itu mendengarkan dengan seksama. Lalu senyum jahat tercetak di bibirnya.


"Okay....aku nyusul besok ", balasnya.


Kembali terdengar balasan dari ujung telepon di seberang sana. Lelaki itu tergelak.


"Of course not. This is secret. I'm own my way ", tegasnya.


Terdengar kekehan dari seberang sana.


"Okay, see you tomorrow !", balas lelaki itu.


Lalu memutuskan sambungan telepon.


Sebentar mengotak-atik gawainya, menghubungi seseorang. Tersenyum puas begitu mendengar jawaban dari seberang sana. Lalu menaruh gawai itu sembarang di meja.


Dihempaskan tubuhnya dI sofa panjang itu. Merentangkan kedua tangannya di bahu sofa. Kepalanya menengadah ke atas. Matanya terpejam. Senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Wait for me, babe !", gumamnya.


Terdengar ketukan pintu.


"Come in ", suruh lelaki itu. Pasti asistennya yang membawakan makan siang. Batinnya.


Pintu terbuka. Seseorang melangkah masuk.


Masih pada posisi yang sama, lelaki itu kembali berucap.


"Taruh aja di meja !", pintanya.


Terdengar sesuatu di letakkan di meja.


"Thanks, you may go. Close the door !", ucapnya lagi.


Lelaki itu belum merubah posisi. Sedikit mengernyit karena tidak mendengar langkah kaki menjauh. Hidung mancungnya mencium bau harum feminim parfum. Serasa familiar sekali.


Perlahan membuka matanya Langsung bertubrukan dengan seraut wajah cantik yang tersenyum merekah. Berada tepat di atas tubuhnya.


"Cin....", lelaki itu menegakkan tubuhnya. Tapi tangan perempuan muda itu menahan tubuhnya. Dan kini malah duduk di pangkuannya.


"Yes, it's me ", bisiknya di telinga lelaki itu.


"Aku kangen ", katanya lagi seraya mencium bibir lelaki itu. Menggulatnya dengan liar.


Lelaki itu menahan bahunya.


"Wait Cin, what are you doing here ....?", tanyanya. Bibir perempuan muda itu merengut.


"Sorry .... I mean, why don't you call me first?", ralatnya.


"Kenapa ? Nggak boleh aku datang ke kantor kamu ?", rajuknya. Perlahan bangkit dari pangkuan lelaki itu.


Lelaki itu terkekeh. Lalu memeluk tubuh perempuan muda itu dan menariknya agar tetap di pangkuannya.


"Bukan begitu. Tumben aja tiba-tiba datang, kemarin baru ketemu. Ada apa ?", tangannya nakal meremas pinggul perempuan muda itu.


Perempuan itu membusungkan dadanya hingga menempel di dada lelaki itu. Kedua tangannya bermain-main di dada bidang itu.


"Tentu aja kangen kamu, sayang kamu Rio, masih di tanya lagi ", manjanya.


Lelaki itu terkekeh.


"Masa cuma itu. Kayak ada yang serius gitu ?", balasnya.


Tangannya nakal meremas tonjolan montok yang menempel di dadanya. Menimbulkan ******* menggoda dari bibir perempuan itu.


"Tahu aja sih. Ada yang pengen aku omongin sama kamu ", katanya kemudian.