BLIND DATE

BLIND DATE
56. Forgiven Not Forgotten



...56. Forgiven Not Forgotten...


Minggu pagi Sasmaya membantu Ranti di Moeder. Melayani pengunjung yang biasanya ramai pada hari libur.


“Silakan Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapanya pada para pelanggan yang melihat-lihat etalase.


Dibantu Susan ia melayani pelanggan. Memesan bakso yang biasa lewat depan toko.


“Mbak Sas gak takut gemuk?” tanya Susi. Menuangkan saus sambal ke dalam mangkuk.


“Iya nih, nanti baju kebayanya gak muat lho!” timpal Susan menambahi.


“Biasanya orang mau nikah itu diet lho, Mbak. Makannya pilih-pilih.” Mira tak kalah ikut nimbrung.


Ia tak acuh. Terus saja menyuapkan bakso ke mulutnya. Sesekali menyeka hidungnya yang mulai meler. Akibat sensasi rasa pedas.


“Aku malah kurusan kemarin balik dari Amsterdam,” balasnya.


“Stres kali Mbak, mikirin mau nikah.” Susan menyahut. Lalu berdiri melihat pelanggan datang. Menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanyanya.


Pelanggan tersebut mengedarkan pandangan. Melihat sosok yang dicarinya tengah duduk bersama karyawan toko. “Aku mau ketemu Sasmaya,” tukas ibu itu.


Susan menoleh ke belakang. Di mana Sasmaya dan teman-teman kerjanya tengah menyantap bakso di salah satu meja. Lalu menatap orang itu lagi, “Sebentar ya Bu. Silakan duduk. Saya panggilkan Mbak Sasmaya.”


Ibu itu terlihat duduk. Melepas kacamatanya.


“Mbak Sas, ada yang nyariin,” tukas Susan.


Ia yang belum menghabiskan bakso dalam mangkuknya terhenti. Melihat siapa yang mencarinya. Lalu beranjak, “Gue yang bayarin.” Mengambil uang dari sakunya. Meninggalkannya di meja. Lantas mendekati istri Pak Weka.


Memberikan senyum ramah, kemudian duduk di depan istri Pak Weka.


Tanpa banyak bicara wanita itu mengeluarkan secarik kertas. Menyerahkannya padanya.


Sebenarnya ia masih bingung. Maksud istri atasannya itu apa. Tak punya firasat buruk ia pun membaca kertas yang diterimanya.


Suatu pemberitahuan pemindahan uang ke nomor rekeningnya dari rekening Weka Yuda. Sebanyak 2 kali. “Bu Dewi, saya bisa jelaskan.”


“Itu uang untuk apa, Sas?”


“E,”


“Uang perjalanan?” tanya Dewi. “Uang saku? Atau uang hanya kalian berdua yang tahu?” Dewi bernada sinis.


“Bukan Bu. Sama sekali bukan.”


“Lalu uang apa?” desak istri Pak Weka.


Apakah ia harus mengatakan jika uang itu adalah uang untuk membeli kado ulang tahun pernikahan mereka? Tapi Pak Weka pernah bilang jika kado itu untuk memberikan kejutan pada istrinya. Lalu, jika ia mengatakan itu ... Sasmaya menggigit bibir bawahnya.


Sudut bibir Dewi hanya terangkat sebelah.


Ia lekas menyergah, “Percaya sama saya, Bu. Itu bukan uang yang seperti Ibu Dewi pikirkan.”


“Lantas uang apa, Sas? Kunjunganmu ke Belanda itu dalam rangka perjalanan dinas. Semua kebutuhanmu di sana ditanggung perusahaan.”


Jemarinya saling meremat. Posisinya serba salah.


“Berterus teranglah. Jika kamu membutuhkan uang itu saya maklum. Perjalanan ke luar negeri pastinya membutuhkan uang banyak.” Dewi tersenyum miring. “Saya tidak paham, sebab calon suami kamu anak pemilik perusahaan.”


Ia menatap istri Pak Weka. Matanya berkaca-kaca. Kenapa ia dituduh seperti ini? Lalu menggeleng.


“Tapi saya percaya suami saya, dia tidak akan macam-macam. Cuma saya menyayangkan, kenapa kamu pinjam suami saya secara diam-diam. Bahkan mungkin kamu meminta suami saya untuk tidak mengatakannya pada saya. Saya tidak mempermasalahkan uangnya. Hanya saja saya merasa tidak dihargai. Selama ini suami saya adalah orang yang jujur. Baru kali ini saya menemukan keanehan. Dan itu bertepatan kamu ke Amsterdam. Apa kamu malu ketahuan mau pinjam? Sehingga menyuruh suami saya untuk bungkam? Atau kamu malu pinjam sama calon suami kamu. Padahal ... jika kamu butuh uang 100 juta pun, saya bisa pinjam—”


“Saya akan mengembalikannya sekarang.” Potong Sasmaya berdiri. Tidak ingin pembicaraan istri atasannya itu melebar ke mana-mana. Yang ada jadi semakin runyam. “Berapa nomor rekening Ibu Dewi?” pintanya sambil membuka aplikasi e-banking. Bertepatan Gama masuk dan langsung menghampirinya. Laki-laki itu memang mengabarkan akan mengajaknya makan siang.


“Ada apa?” tanya Gama. Melihat raut wajah Sasmaya yang berbeda.


“Ini urusan kami berdua, Pak,” sahut Dewi.


Ia menatap Gama.


“Urusan Sasmaya jadi urusan saya juga,” tukas Gama. Sebab Sasmaya masih diam.


“Baiklah,” balas Dewi. “Sasmaya pinjam uang pada suami saya sebesar 49 juta.”


Laki-laki itu menatapnya. Meminta penjelasan dan tanggapannya lewat sorot mata.


“Untuk?” tanya Gama. Beralih menatap Dewi.


“Saya tidak tahu. Mungkin Sasmaya yang hanya tahu untuk apa.” Ambiguitas kalimat Dewi semakin membuat laki-laki itu menatapnya dengan kerut di dahi.


“Oke. Saya tidak tahu uang itu untuk apa. Tapi saya yang akan mengembalikannya.” Gama mengambil ponsel dari saku. Membuka aplikasi e-banking. Menulis sejumlah uang yang disebut istri Weka tersebut. “Silakan tulis rekeningnya,” menyerahkan ponselnya.


...***...


“Kenapa kamu mengorbankan diri?” Pertanyaan  Gama mengisi keheningan di antara mereka. Setelah lama masing-masing memilih diam. Usai ia menceritakan alasan Pak Weka mengirim uang padanya. Bahkan laki-laki itulah yang menemaninya berbelanja barang-barang titipan.


“Apa kamu pikir dengan tindakan kamu. Kamu sudah menyelamatkan perayaan anniversary pernikahan mereka menjadi sebuah pesta indah?” Gama geleng-geleng kepala. Tidak menyangka Sasmaya bisa bertindak seperti itu. Tindakan konyol menurutnya.


“Aku hanya membantu Pak Weka memberikan surprise buat istrinya,” sanggahnya.


“Konyol!” seru Gama. “Katakan sejujurnya jika itu menyakiti kamu.” Ia menelepon seseorang.


“Selamat Siang, Pak.”


“Siang. Aku hanya ingin bilang sama Anda.” Melihat Sasmaya yang menggeleng. Gama mengusap pelan pipinya. “Tadi istrimu menemui Sasmaya. Menuduh Sasmaya yang bukan-bukan. Tampaknya itu persoalan rumah tangga kalian. Tapi Sasmaya yang jadi korban di sini. Selesaikanlah baik-baik.”


“Maksud Bapak?” Weka yang belum tahu duduk persoalannya bertanya.


“Istrimu menuduh Sasmaya yang bukan-bukan soal kiriman uang kamu. Sementara Sasmaya tidak mengatakan jujur uang dari kamu itu untuk apa. Hanya karena ingin surprise anniversary pernikahanmu berjalan indah.”


Ia menggeleng lagi. Meraih tangan Gama yang masih mengusap-usap pipinya.


Gama memutuskan sambungan telepon. “Kalau pun dia minta maaf. Aku akan memaafkan ... tapi tidak untuk dilupakan. Seorang pemimpin juga harus bisa memimpin keluarganya dengan baik,” putusnya.


...***...


Hari pertama masuk kerja di awal pekan. Lantai GPP terasa berbeda. Desas-desus mutasi Weka Yuda mencuat entah dari mana sumbernya.


Sasmaya menarik napas bersamaan membuka pintu ruangannya. Pasti Gama membuat  laporan persoalan kemarin. Hingga departemen HRD memutuskan untuk memutasikan atasannya tersebut.


Setidaknya persoalan ini tidak boleh mengganggu aktivitasnya. Mungkin saja inilah kelemahan dirinya. Tidak berani bilang tidak, meski itu harus mengorbankan perasaannya.


Jelang siang ia dipanggil Pak Affan untuk ke ruangannya. Ternyata di sana Pak Weka telah duduk menghadap Pak Affan.


Ia duduk di sebelah Pak Weka. Mengulas senyum ketika pandangannya bersitatap dengan atasannya tersebut.


“Begini, Sas.” Affan memulai berbicara. “Pihak manajemen telah memutuskan Pak Weka untuk dimutasikan ke cabang. Mulai Minggu depan. Dengan jabatan yang sama.”


Desas-desus itu ternyata menjadi nyata. Apa semua karena dirinya?


“Pak Weka juga telah setuju dan menerima surat memorandum itu," lanjut Affan.


Secepat ini?


“Selama pimpinan redaksi GPP kosong, kamu ditunjuk menjadi penanggung jawab sementara editor in chief.”


Ia menatap Affan. Rasanya ini terlalu dini. Terlalu temeh jika hanya beralasan sebab dirinya.


“Maaf, Sas. Saya minta maaf atas nama istri saya. Istri saya sangat menyesal. Sudah menuduh dan merendahkanmu,” sesal Pak Weka. Kemudian menyerahkan bukti transferan uang kepadanya. “Sekali lagi saya minta maaf, Sas.”


“Ini hanya miss komunikasi saja, Pak. Lagian saya juga sudah memaafkan,” sambungnya.


Pertemuan di ruangan Affan berakhir setelah 30 menit. Ia dan Pak Weka bahkan berjalan beriringan menuju lantai GPP. Tidak ada yang berubah dari Pak Weka. Sikapnya masih sama terhadap dirinya.


Hingga Pak Weka masuk ke ruangannya. Ia memilih pergi ke lobi. Memesan ojek di aplikasi.


Tiba di sebuah hotel yang menjadi tujuannya, langkahnya begitu mantap. Menuju ruangan yang menyatu dengan bangunan hotel. Mengetuk pintu 2 kali. Lantas membukanya. Terlihat Gama sedang duduk di kursinya sedikit terkejut.


“Sas,” Gama bangkit. Mendekatinya.


Ia mengangkat tangan. Mendesakkan napas. “Bagaimana bisa seorang Gama melapor ke HRD untuk memutasikan seseorang hanya karena hal sepele?”


Gama mendekat. Ia mengangkat tangan kembali. Berjalan mondar-mandir.


“Itu tidak profesional. Ini hanya kesalahpahaman. Masalah pribadi yang dicampuradukkan dengan kinerja seseorang. It is not fair!” tandasnya.


Gama hendak menjawab. Namun tangannya kembali terangkat.


“Kamu tahu, jika hanya karena tuduhan tanpa bukti, terus kita marah dan dendam. Mau jadi apa kita?”


Lengang. Gama tak bergerak.


“Aku jadi gak enak sama Pak Weka. Aku merasa, aku tidak bisa melakukan ini. Apa kata orang-orang tentang aku. Pak Weka baru menjabat editor in chief. Baru hitungan hari.”


Ia menatap laki-laki itu yang masih diam di tempatnya.


“Jangan karena aku ini calon istri Bapak, terus seenaknya melapor. Buat pengaduan dan menggampangkan persoalan. Justru ini buat aku tidak nyaman. Aku tidak menginginkan hal ini,” protesnya.


Laki-laki itu menyilangkan tangan di dada. Menatapnya.


“Aku mohon jangan seperti ini. Aku sudah memaafkan istri Pak Weka. Aku anggap dia mungkin ... cemburu, ya cemburu mungkin. Atau ... takut kehilangan suaminya karena saking cintanya.” Ia berjalan seperti setrikaan. Menentang sikap Gama yang dianggapnya arogan.


Sementara Gama masih di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun. Mengikuti pergerakannya tanpa ada yang tertinggal.


Hening. Langkahnya terhenti. Ungkapan yang tersimpan di benaknya telah semua dikeluarkan.


“Kenapa diam?” Menatap laki-laki itu yang tak sepatah pun menanggapinya. Ia kemudian duduk di sofa dengan kasar.


Rasanya Gama ingin tertawa, tapi urung. Tawa itu ia simpan dalam-dalam. Memilih duduk di sebelah Sasmaya.


“Jadi alasan istri Weka karena dia cemburu? Oke masuk akal. Lalu bagaimana kalau alasan aku karena juga gak terima kamu dituduh seperti itu?” Gama mengembalikan pertanyaan.


“Tapi bukan begitu caranya,” sergahnya.


Gama menukas, “Lalu bagaimana caranya?”


“Ya ... cukup memberi teguran. Pak Weka juga sudah minta maaf. Istrinya juga menyesal,” jawabnya.


“Sayangnya aku tetap gak terima,” Gama menukas tak mau kalah.


Desakkan napasnya kentara, “Apa sih yang buat kamu gak terima? Mereka sudah minta maaf. Kita juga sudah memaafkan. Aku tidak mempermasalahkan itu.”


“Forgiven not forgotten.”


Ia menghempaskan punggungnya ke belakang. Menutup kelopak mata. Susah ya bernegosiasi dengan Gama. Mendistorsi suatu permasalahan yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. “Aku gak ngerti,” keluhnya pasrah.


Laki-laki itu mengaitkan rambutnya ke belakang telinga. Lantas berkata, “Karena aku sayang kamu.”