
"Jaga putri papa Ken !", papa Bram menepuk bahu Kenan lembut. Dipeluknya lelaki yang baru saja menjadi menantunya itu.
Kenan tersenyum. Sebelah tangannya bergerak meraih pinggang ramping Adelia, ya yang berdiri di sampingnya, memeluknya mesra.
"Siap, Pa ! ", katanya di balik pelukan.
"Mama sama papa pulang dulu ya, sayang. Jaga diri kamu, jaga suami kamu ! ", tutur Mama Rose.
Diusapnya lembut pipi putih mulus putrinya. Tersenyum simpul ketika melihat sebuah tangan memeluk pinggang putrinya.
Adelia menyenggol tangan Kenan yang memeluk pinggangnya erat. Berharap lelaki itu melepaskannya.
"Apa sayang? ", lirih lelaki itu. Matanya mengerling nakal di balik punggung papa Bram, ke arah istri cantiknya.
"Tangan kamu !", gumam Adelia.
dicubitnya lengan lelaki itu. Kenan membulatkan matanya konyol. Perlahan menarik tangannya dan membalas pelukan papa Bram.
Adelia dan Mama Rose akhirnya bisa berpelukan. Mama Rose usap kepala putri semata wayangnya dengan sayang.
"Thanks Pa, udah kasih kepercayaan Ken buat jagain gadis cantik ini ", katanya begitu melepaskan pelukan mereka. Sekilas melihat dengan sudut mata ke arah istrinya yang masih berpelukan dengan mamanya.
Papa Bram tersenyum bangga.
Beliau tahu kalau lelaki di depannya ini sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat sejak mengenal putrinya. Berawal dari blind date konyol itu. Dan ternyata itu berhasil.
"Sering-sering ke rumah ya, sayang, Ken. Mama sama Papa akan kangen kalian ", mama Rose melepas pelukannya. Menatap Kenan dan Adelia bergantian. Digenggamnya erat tangan mungil gadisnya.
"Of course, Ma ", Adelia dan Kenan berbarengan.
"Remember, don't work to hard, okay !", goda Mama Rose. Seketika pipi Adelia merona. Tahu kemana arah pembicaraan mamanya.
Beberapa saat yang lalu di meja makan, semua orang di sana juga menggodanya. Gara-gara apa coba? Cara jalan Adelia yang terlihat aneh dan susah. Karena memang benar Adelia merasakan ada sesuatu yang besar mengganjal di bawah sana.
Lalu lelaki mesum itu tanpa sungkan mengatakan kalau dirinya terlalu bersemangat. Bergairah.
Bisa bayangkan betapa malunya Adelia. Padahal siapa yang terlalu over, tidak mau berhenti, mengajak bercinta terus, dia kan?
Huft... sangat menyebalkan !
Lihat saja, Adelia akan kasih pelajaran nanti !
Gerutu Adelia dalam hati.
"Mamaaaaa.... Adelia doesn't like that, you know, ma ", manja gadis cantik itu.
Mama Rose terkekeh.
"I know, sweety ..... I know.... Ken.. ", tegur mama Rose.
Mama Adelia tahu benar akan putrinya, gadis kecilnya itu masih belum berpengalaman, beda dengan Kenan. Lelaki itu pasti sudah expert sekali. Terbukti dengan jawaban lelaki itu akhirnya.
"Yess, Mom....actually....me !", kekeh Kenan. Dengan ekspresi tidak bersalah sama sekali
Langsung mendapat tepukan keras di bahu kanan dan kirinya sekaligus.
"Gotcha....si pencuri ngaku juga akhirnya !", suara bariton dua lelaki mengejutkan mereka.
Kakek Kenan dan Opa Adelia.
Sontak terdengar kekehan keras di ruangan bawah itu. Malam ini semua anggota keluarga akan pulang ke rumah masing-masing. Termasuk juga Papa mama Kenan, juga grandpa dan grandma.
Tadi dua kakek tua itu sempat uring-uringan tidak mau pulang, tapi setelah grandma dan Oma membujuk mereka, baru mau menuruti.
"Ken, Grandpa ingetin, Don't make my lovely girl hurt, okay or I'll beat you !", kata kakek Kenan seraya mengacungkan tinjunya.
"I come with you, grandpa ", Opa Adelia menimpali. Kedua kakek itu saling tos.
"Partner ! ", kata mereka bersamaan.
Kenan tergelak.
"I know grandpa, Opa, Of course not. I'll make my wife was so happy, everytime....", jawabnya dramatis. Lalu mengerling nakal pada istrinya.
"That's right, baby? ", katanya seraya memeluk bahu Adelia. Membawanya agar menempel ke tubuhnya.
Gadis cantik itu memanyunkan bibirnya. Sikunya bergerak ke belakang mengarah ke pinggang Kenan. Kenan balas dengan mencuri kecupan di pipi mulus itu.
Granpa dan Opa mendengkus jelas.
"Happy gundulmu. Look !
She was so difficult to walk, you say happy? ", marah kakek Adelia.
Kenan membulatkan matanya konyol. Lalu dengkusan pelan keluar dari bibirnya. Apanya yang susah? Kenapa pula dari tadi itu bahasannya? Batinnya menggerutu.
Istrinya cuma belum terbiasa saja menerima samurai besar dan panjangnya, jadi masih beradaptasi. Nanti kalau sudah terbiasa, pasti ajan merasa nikmat. Minta lagj dan lagi.
Tapi Ahhhh, Kenan tidak mau pusing, yang penting istrinya juga menikmati itu. Terbukti gadis cantik itu tidak menendangnya. Kalau sakit, pasti Kenan akan ditendang atau di pukul, begitu kan biasanya?
Masih memeluk bahu istrinya, Kenan menoleh ke arah mama Jasmine. Hanya mamanya yang bisa mengusir kedua lelaki tua itu agar segera pergi.
"Opa, grandpa... Please ! Let they take a rest. It's to night, now !", mama Kenan menengahi. Hanya Mama Jasmine dan grandma yang bisa meluluhkan kakeknya itu.
Kenan mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
"Yess....!", serunya lirih.
Spontan Adelia menoleh.
"Apaan sih, Ken ?", tegur Adelia. Kenan jawab itu dengan kecapan lembut di bibir perempuan cantik itu.
Kakek Kenan dan Opa yang melihat itu, langsung memberikan tepukan keras di lengan lelaki itu.
"Banyak yang lihat aja, nggak tahu malu gitu. Apalagi nanti cuma berdua", gerutu grandpa. Lalu menyenggol bahu Opa, mengedipkan matanya meminta persetujuan.
"Grandpa.... Opa, please !", ulang mama Jasmine. Kedua lelaki tua itu melangkah menjauh bersamaan. Menghampiri istri mereka yang siap memberikan cubitan di tubuh mereka.
Papa Alex dan Mama Jasmine menghampiri Kenan dan Adelia. Saling berpelukan beberapa saat.
"Kennn....Jangan main-main terus sama putri cantik mama.... kalo enggak... !", ingat mama Jasmine.
"Okay Ma, okay, Kenan tahu ", yakin Kenan. Menghentikan ucapan mamanya. Kenapa semua orang ngomongnya begitu ? Kenan sedikit khawatir saja kalau istrinya nanti tidak mau disentuhnya.
"Jaga diri kamu, sayang. Pukul dia kalo nggak mau turun !", bisik mama Jasmine di telinga Adelia. Kembali pipi mulus itu memerah. Perlahan mengangguk, menyetujui ucapan mama Jasmine.
Kenan memutar matanya. Semakin mengeratkan pelukannya. Sekarang tangan lelaki itu berpindah ke pinggang ramping Adelia.
"Bocil yang bikin enak, that's right, son ? Sekarang udah buktiin sendiri kan?", bisik Papa Alex seraya menepuk lembut bahu putranya.
Kenan tergelak.
"So great, Pa !", sambil mengacungkan dua jempolnya. Keduanya terkekeh bersama, hingga mama Jasmine dan Adelia yang menoleh dengan dahi mengernyit.
"Let's go home, darling. Biarin pengantin baru nikmatin malam pertama mereka !", papa Bram sambil menghampiri istrinya. Mama Jasmine tersenyum dan mengangguk.
"Huh.... malam pertama, apa sih istimewanya? lha wong dari tadi siang udah gelut gitu ", suara grandpa ketika melintasi mereka. Bersama grandma dengan berpelukan mesra.
"C'mon everybody ! Pengantin lama juga pengen mesra-mesraan ini ", lanjutnya. Dengan suara kekehan kecil.
********
Seusai mengantar keluarga sampai di teras dan mobil yang ditumpangi mereka sudah hilang di balik pepohonan taman di halaman depan mansion, sepasang pengantin baru itu segera memutar langkahnya.
Baru selangkah Adelia berseru kaget karena secara tiba-tiba Kenan mengangkat tubuhnya.
"Aww.. Kenn...!", pekiknya. Kenan terkekeh.
"Turunin !", manja Adelia.
"Hmmm... ", gumam Kenan masih terus melangkah ke arah pintu.
Adelia mencebikkan bibirnya. Lelaki itu tidak menjawab, cuma menggumam. Ngomong apa sih dia? Batin Adelia.
"Kennn.... don't you hear me? Put me down !", ditepukinya dada lelaki itu berulang kali. Kenan tersenyum. Mendorong pintu dengan kakinya, lalu kembali menutupnya dengan cara yang sama.
Sebentar menurunkan tubuh cantik itu, dengan cepat memeluk pinggang ramping Adelia. Detik berikutnya bibir seksinya sudah meraup dan menggulat bibir merah ranum itu mesra.
Terkesiap, Adelia membulatkan matanya. Lelaki ini selalu saja mengejutkannya. Ginana kalau Adelia kena serangan jantung coba?
Karena sekarang debar jantung Adelia menggila. Mereka hanya berdua saja di mansion, eh... bukan berdua juga, ada beberapa asisten mansion. Tapi Kenan mana peduli dengan mereka.
Apa lelaki ini akan menghajarnya semalaman? Membayangkan saja kenapa Adelia sedikit bergidik ya?
"Emhhh.... Ken.....ss.... stop !", ucapnya di balik ciuman. Seperti tidak mendengar Kenan masih belum mau melepaskan bibir yang menjadi candunya itu.
'Kennn.... ", Adelia hanya bisa mendesah pelan. Tubuhnya menempel erat dengan tubuh lelaki itu. Tangannya diarahkan Kenan agar mengalung di leher lelaki itu. Bahkan kini Kenan mendorong tubuhnya agar menempel di dinding.
Adelia ingin menendang lelaki ini, tapi ingat kalau lelaki yang tengah mencumbunya ini adalah suaminya, Adelia mengurungkan niatnya.
Perlahan membalas setiap pagutan lembut lelaki itu. Tangannya mengerat di tengkuk lelaki itu, menelusupkan jemarinya di antara surai kecoklatan lelaki itu. Kenan tersenyum, lebih memperdalam ciumannya.
Bahkan ketika terdengar deheman keras, mereka masih asyik bercumbu.
"Ehem.... ehem... nice hit, tuan muda Ken !", suara seorang permpuan menginterogasi.
Adelia mendorong dada Kenan, meminta lelaki itu melepaskan ciumannya. Perlahan lelaki itu menjauhkan bibirnya. Bersamaan keduanya menoleh ke arah suara.
Kenan mendengkus lirih. Pasangan pengantin mesum ini mengganggu saja. Gerutu hatinya. Ehhh.... memang dia enggak?
Berbeda dengan Adelia, gadis itu langsung berbinar matanya.
"Inaaaa.....that's you !", girang Adelia.
"Adellll...... ", seru Ina.
Keduanya saling berlari mendekat. Lalu berpelukan erat.
Kedua lelaki yang sudah menjadi suami mereka membulatkan mata. Lalu menggeleng pelan melihat tingkah istrinya.
"Naa....aku seneng kamu di sini ", lirih Adelia ketika berpelukan.
"Aku juga Del ", balas Ina.
Adelia masih memeluk teman karibnya itu. Dia merasa senang, karena berarti nanti mereka tidak hanya berdua di mansion. Ada Ina dan Nino, but wait.... mata Adelia melihat ke arah belakang Nino. Sebuah koper besar? Mau kemana mereka ?
Dan keterkejutan Adelia terjawab, ketika mendengar Nino berucap.
"Tuan muda, kami mohon pamit. Terima kasih banyak tuan muda ", kata Nino.
Kenan tersenyum. Lalu memeluk lelaki yang sudah dia anggap saudaranya itu.
"Don't mention it, I'm happy to do that, bro !", balas Kenan tulus.
Adelia yang mendengar ucapan mereka segera melepaskan pelukannya.
"Kalian mau pergi ? Where ? Why? ", Adelia dengan dahi mengeryit. Ada nada sedikit kecewa di sana.
Ina mengangguki.
Kenan terkekeh mendengar itu. Lalu menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Baby, mereka mau rayain malam pertama berdua. So do we ", bisiknya lembut.
Lalu senyum nakal terukir di bibirnya. Di dekat telinga gadis cantik itu.
"How come, baby ? Wanna, now ? Kamar pengantin kita udah nungguin dari tadi ", sambil meniupkan nafas hangat di leher putih jenjang itu. Membuat bulu kuduk Adelia meremang seketika.
"Rayain malam pertama kita ! ", lanjut lelaki itu.