BLIND DATE

BLIND DATE
48. Terkalang Suatu



...48. Terkalang Suatu...


Di Sore hari berikutnya Sasmaya sengaja menyewa sepeda untuk berjalan-jalan ke pusat kota. Kemarin saat ia diantar Dirk ke kantor Holland, terlihat banyak orang menggunakan moda transportasi yang ramah lingkungan tersebut.


Berbagai golongan usia. Bermacam baju yang dikenakan, serta tidak memandang laki-laki maupun perempuan. Mereka semua asyik mengayuh sepeda di pinggir-pinggir jalan kota.


Ia jadi tertarik.


Lagi pula ia belum mengerti menggunakan transportasi umum seperti trem (kereta listrik) dan bus.


Setelah tadi pagi ia dan Dennis mengunjungi pabrik percetakan Holland hingga siang hari. Akhirnya ia memutuskan ke sini. Ke pusat kota Amsterdam. Dam Square. Atau alun-alun kota.


Sendiri.


Ya, ia sendiri. Bahkan ia harus berbohong pada Dirk beralasan jika ia ingin di hotel saja, menikmati fasilitas hotel bintang 4 tersebut.


“Sorry ... Dirk,” ucapnya dalam hati ketika sambungan telepon berakhir dengan pria yang bersahabat dengan Gama itu.


Napasnya mulai kembang kempis. Kakinya juga terasa berat dan pegal. Kayuhan sepedanya mulai melambat. Kata pekerja penyewaan sepeda di hotel tempatnya menginap, jarak hotel ke Dam Square kurang dari 3 kilometer. Mungkin ini biasa bagi warga lokal. Namun ternyata baginya beda. Penuh perjuangan. Begitu menguras tenaganya, setelah sampai di tempat tujuan.


Berbekal peta lokasi melalui GPS (Global Positioning System) di ponselnya akhirnya ia tiba di pusat kota yang sangat terkenal itu.


Banyak orang berlalu lalang. Ada yang duduk-duduk di pelataran undakan monumen nasional. Yang tampak seperti pilar berwarna putih. Monumen ini berdiri di tengah-tengah Dam Square.


Tidak hanya manusia saja yang sangat berantusias menikmati setiap sudut kota dengan pemandangan indah itu. Sebab sekumpulan burung merpati tak terhitung jumlahnya juga tak mau ketinggalan menyatakan keberadaannya.


Ia menyimpan sepedanya di area parkir. Melepas ponsel dari smartphone holder yang tertanam di bagian setang.


Merekatkan jaket dan syal. Tak lupa menelengkan kepala ke kanan dan kiri. Ia harus menyeberangi jalan yang dilalui kereta listrik, mobil, motor dan sepeda.


Bangunan-bangunan neo-klasik begitu terasa dan mendominasi. Ada istana Royal Palace di sebelah barat Dam Square. Lalu di sebelahnya berdiri kokoh gereja tua bergaya gotik, bernama Nieuwe Kerk (gereja baru). Ada juga bangunan dengan tulisan Madame Tussaud. Pada bangunan lain bertuliskan De Bijenkorf menurut keterangan di ponselnya itu adalah sebuah pusat perbelanjaan.


Ia mengabadikan semua tempat-tempat menarik dengan kamera maupun kamera ponselnya. Semakin sore Dam Square kian ramai pengunjung.


Suara lonceng di atas bangunan klasik menggaung. Membelah suasana Dam Square yang riuh. Ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Pukul 5 kurang 15 menit. Entah sebagai pertanda apa. Namun para pengunjung seolah sudah terbiasa dengan bunyi lonceng tersebut.


Sasmaya memilih duduk di salah satu bangku yang terbuat seperti dari batu. Kebetulan orang yang tadi duduk bangkit dan bangku itu menjadi kosong. Seekor burung merpati menghampirinya. Berdiri di sebelahnya tanpa terganggu sedikit pun.


Senyumnya mengembang. Ia mengeluarkan sebungkus roti dari dalam tas. Memberikan  sebagian kecil remahan pastry yang tadi pagi ia ambil saat sarapan di hotel.


Tidak hanya satu. Ternyata sesaat kemudian 2 merpati berdatangan bersamaan. Bahkan mengepakkan sayapnya tepat di atas kepalanya. Ia tergelak ringan. Refleks berdiri. Lalu kembali duduk setelah merpati-merpati itu terbang ke arah lain.


Ia menangkap momen tatkala kereta listrik berwarna putih biru tengah berhenti. Dengan cepat mengambil gambarnya. Sebelum kereta tersebut hilang di balik bangunan. Secara acak ia mengambil foto-foto yang menurutnya menarik. Tak ketinggalan beberapa pertunjukkan seniman yang sedang beratraksi.


Angin sore semakin kencang berembus. Disertai awan yang berarak kelam di langit. Sepertinya ia harus segera menyudahi. Langkahnya berjalan menuju tempat sepeda yang ia parkirkan.


Melewati istana Royal Palace, menyeberangi jalan. Lalu mencari sepedanya di depan Magna Plaza.


Di sana tanpa sengaja ia melihat Dirk dan Elena. Yang tengah berbincang di depan pintu masuk pusat perbelanjaan tersebut.


Entah apa yang mereka bicarakan. Ia memilih menunduk. Lekas pergi menjauh. Pasti Dirk kecewa dan marah jika melihatnya berada di Dam Square.


Kembali mengayuh sepeda menuju hotel. Kali ini tak seperti saat berangkat. Ia harus berkejaran dengan waktu. Sebab rintik hujan mulai menghunjam bumi Amsterdam.


Pukul 7 malam sangat berbeda dengan kemarin. Hari ini terlihat sudah seperti malam. Gelap. Udara terasa lebih dingin karena angin berembus kuat. Kayuh terus. Kayuh lagi. Tanpa henti. Hingga ia tak menyadari seseorang sedari tadi di belakangnya mengikuti.


Saat di persimpangan lampu merah ia berhenti. Mengeratkan jari-jemarinya pada setang.


“Aku pikir gadis Indonesia jujur, tidak pernah berbohong,” ucap seseorang yang menaiki sepeda tak jauh darinya.


Spontan ia menelengkan kepala ke kanan. Bahunya langsung turun. Mengetahui Dirk ternyata memergokinya.


“Bagaimanapun kamu mengelabui aku. Aku bisa mengendus keberadaanmu.” Dirk tersenyum miring.


Ia kembali mengayuh sepedanya bertepatan dengan lampu lalu lintas berganti hijau.


“Aku di sini jadi orang yang bertanggung jawab terhadapmu. Sebut saja kamu mau ke mana. Pasti aku antar.” Dirk Menyejajarkan laju sepeda dengannya.


Sasmaya diam.


“Ayolah ... selama A belum ke sini, kamu adalah tanggung jawabku. Apa pun yang terjadi aku berhak tahu.”


Berhak? Sebagai apa? Suruhan calon suaminya? Sementara ia tidak berhak tahu. Ada masa lalu apa Gama di sini. Dengan Elena. Dengan Holland. Entah dengan siapa lagi. Yang seakan-akan ia harus mencari tahu sendiri.


“Sas ... kom op!” seru Dirk.


Mereka tiba di depan hotel. Ia langsung menuju basement. Menyimpan sepedanya di sana.


Dirk terus mengikutinya.


Ia memejamkan mata. Menghela napas. “Sorry ... aku hanya ingin sendiri Dirk. Maksud aku ...aku tidak ingin merepotkanmu,” elaknya beralasan.


Pria berwajah bule itu berdecak, “Aku tidak merasa repot. Walau ...,” ibu jarinya menunjuk 1 ruas telunjuknya, “sedikit.” Bibirnya menipis.


Desakkan napasnya kasar. Dirk terus membuntutinya.


“Aku mau istirahat, Dirk.” Langkahnya terhenti. Dirk berdiri di sebelahnya.


“Aku harus memastikan kamu benar-benar istirahat.” Dirk tak mau kecolongan lagi.


Geram. Ia memilih menuju restoran. Mengambil makanan di buffet. Lantas memilih duduk di pinggir dekat jendela kaca. Dari sana ia bisa melihat pemandangan sungai IJ.


Dirk duduk di depannya. Membawa sepiring makan malam.


Ia melihat pria itu sejenak. Sebelum kembali melanjutkan menyantap makanannya.


“Makan malam yang terlambat,” ujar Dirk. Sekarang jam 8 malam.


“Daripada menahan lapar,” balasnya.


“Biasanya seorang wanita rela lapar demi penampilannya yang tetap terlihat seksi.”


“Terkecuali aku.”


Dirk tergelak sampai tersedak. Ia menyodorkan minumannya.


“Thank you,” ucap Dirk. Menerima minuman yang diberikannya.


“Kamu kenal Elena?”


Tangan Dirk berhenti di udara sesaat. Kemudian perlahan menyimpan gelas ke tempat semula.


“Ja.”


“Ja,” sahut Dirk santai. Tetap menikmati makan malamnya.


Ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan. Entah kenapa rasanya ia tidak berselera untuk melanjutkan makan malamnya.


Sementara Dirk mengangkat bahu. Menyudahi makanannya yang telah kandas.


...***...


Tadi siang selepas mengantar Sasmaya sampai hotel, Dirk tidak langsung pulang. Ia memilih  naik ke lantai 8 menuju skybar.


Menikmati minuman koktail sambil berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon. Kemudian bergegas pergi setelah mengakhiri telepon tersebut.


Dirk berkantor di sebuah perusahaan tour and travel yang terletak di sekitar Dam Square. Ia juga menyewakan kapal-kapal miliknya untuk Amsterdam canal tour.


Hal yang lumrah jika banyak perusahaan, tempat wisata serta hotel yang mengenalnya. Sebab ia juga bekerja sama dengan mereka. Pun, tak jarang menemani para wisatawan sebagai tour guide.


“D, Sasmaya keluar dari hotel. Sepuluh menit yang lalu.” A meneleponnya saat ia berada di kantor.


“Dia sendirian ke Dam Square.”


Ia lebih mempercayai A daripada Sasmaya yang mengatakan akan berada di hotel saja. Apalagi masih ada beberapa karyawan hotel yang dulu dekat dan pernah menjadi orang-orang kepercayaan A.


“Dirk!”


“Ok. Aku akan mencarinya.” Ia berdiri. Keluar dari kantor. Sebenarnya apa yang dikhawatirkan A terhadap Sasmaya. Ia sendiri heran. Tapi berhubung A adalah sahabat terbaiknya. Ia juga merasa punya utang budi.


Dulu ia seorang pengangguran, tak punya pekerjaan tetap setelah resign dari perkerjaannya yang lama. Sempat bekerja di Zoon hotel. Hingga akhirnya ia dan A bekerja sama. A meminjamkan modal, menyuruhnya untuk membeli kapal. A juga lah yang membantunya merintis usahanya hingga seperti sekarang.


Ia mengayuh sepedanya mengelilingi Dam Square. Bahkan sampai ke Central Station. Di mana biasanya para wisatawan akan mengunjungi tempat-tempat yang menarik.


Nihil. Ia tak menemukan Sasmaya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Dam Square. Menyimpan sepedanya di depan Magna Plaza. Kakinya melangkah hendak masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut. Berharap Sasmaya ada di sana. Tak diduga, justru ia bertemu dengan Elena.


“Dirk, senang bisa bertemu denganmu di sini,” Elena menyapanya.


“Hai,” balasnya.


“Apa kamu masih berhubungan dengan A?”


“Aku ... sorry, Elena.” Ia menepuk lengan Elena. “Aku harus buru-buru menjemput turisku,” sahutnya sekenanya. Ketika ia melihat sosok seperti Sasmaya.


“How?” tanyanya pada A melalui telepon. Setelah memastikan Sasmaya kembali ke kamarnya. Ia pun langsung pulang ke rumah.


“Apa yang kamu khawatirkan?” imbuhnya. Ia tak mengerti kenapa sepertinya rumit. Padahal Elena adalah masa lalu. Sasmaya masa depan. Selesai.


A di ujung telepon tak bersuara. Dirk tidak tahu bahwa budaya mereka jauh bertentangan.


“Kom op! Apalagi yang membuatmu seperti ini, A?”


“Aku takut dia tidak mau menerima masa laluku, Dirk.”


Bukannya ikut prihatin, Dirk malah tertawa terbahak. Tubuhnya sampai terguncang. Ini lucu menurutnya. Selama mengenal A baru kali ini ia mendengar sahabatnya itu mengaku ketakutan menghadapi seorang wanita.


...***...


“Awas lo besok pagi terlambat ke kantor,” cibirnya memperingati. Kala menerima telepon dari Sinta. Waktu Amsterdam menunjukkan 9.30 malam. Ia sampai lupa karena saking antusiasnya menceritakan pengalamannya bersepeda ke Dam Square. Berkunjung ke kantor sekaligus pabrik percetakan Holland.


Sinta terdengar menguap. “Ya udah deh, kapan-kapan kita sambung lagi. Sebenarnya gue pengen dengar lo cerita soal yang lain.”


“Gak usah pancing-pancing,” sergahnya.


Sahabatnya itu tergelak ringan. “Iya ... iya. Bye, Sas. Miss you.”


“Bye ... miss you too.”


Baru juga ia menyimpan ponsel di atas meja kecil samping ranjang ponselnya bergetar. Dua buah pesan masuk berurutan.


Gama : Rest tonight. Besok, Dirk akan menemanimu ke mana pun.


Dirk : Besok pagi seperti biasa aku tunggu di lobi.