BLIND DATE

BLIND DATE
72. Fixing a Broken Heart



...72. Fixing a Broken Heart...


 


Tujuh belas hari sejak peluncuran buku dan terbilang sukses, Sasmaya tenggelam oleh dunianya.


Menghabiskan sepanjang terang dengan pekerjaan. Mengakhiri saat gelap membungkus seperempat. Memilih menikmati akhir pekan di Moeder. Menggantikan sang mama yang tengah merawat eyang.


Inilah cara memperbaiki suasana hatinya. Mengembalikan apa yang hilang. Menuntaskan kegalauan. Meskipun tak mampu sepenuhnya menjadi obat penawar yang tepat.


Begitu juga dengan situasi yang dialami Ranti. Beberapa kali bolak balik Jakarta-Kemuning membuat kondisi sang mama mulai mengkhawatirkan.


Ia meminta mama tinggal di Kemuning sementara. Menemani eyang hingga kondisinya stabil. Sebab tak ingin melihat wanita yang sangat disayanginya itu kondisinya semakin drop akibat kelelahan.


Ranti sempat menolak. Moeder baginya juga penting. Maka sebisa mungkin ia berbagi tanggung jawab dengan 2 saudaranya merawat eyang. Juga tak ingin mengabaikan Moeder sebagai mata pencahariannya serta sumber penghidupan bagi 4 karyawannya. Lagian ia tidak ingin menambah beban pekerjaan pada anaknya.


Namun, ternyata Sasmaya pandai bernegosiasi. Meyakinkan sang mama. Bahwa dirinya masih mampu. Punya waktu. Meski weekend-nya harus dikorbankan Waktu istirahatnya juga terkurangi menjadi 4-6 jam per hari.


Desas-desus di Moeder kian santer. Mereka menganggap bahwa hubungannya dengan Gama tengah buruk. Biarpun itu adalah fakta. Tapi ia tak pernah mau mengklarifikasi.


Memilih diam. Membiarkan asumsi-asumsi meliar tanpa kendali. Menganggap itu hal pribadi yang tak perlu diberitakan pada khalayak.


Dampak dari kesibukan itulah terkadang di waktu jeda pergantian kegiatan pekerjaannya, ia memanfaatkannya dengan tidur. Di mobil. Pada ruang tunggu. Hingga pernah suatu waktu ketiduran di kafe karena menunggu pesanan makanannya yang lama tak kunjung datang.


Dina sampai terheran melihat atasannya yang sepertinya terlalu memforsir tenaganya. Berulang mengingatkan, “Mbak Sas, sebaiknya pulang. Kita bisa melanjutkannya besok.”


Beruntung Dina memperhatikannya. Memedulikannya.


Pun, ketika ia lupa harus mengganti energi yang telah terpakai. Dina datang membawakan seporsi makan siang. “Diisi dulu, Mbak. Baru lanjut lagi.”


Pengantin baru tersebut terpaksa mengikuti ritme kerjanya. Memang di depan atasan tidak ada keluhan yang terdengar. Tapi di belakang ... mengadu pada Dani. Lantas jawaban Dani kurang lebih sama. “Pak Gama lebih gila. Mereka robot apa manusia, sih?” pulang selalu malam. Dalam 1 minggu mobilitasnya tinggi. Hari ini masih di Jakarta. Besok ke Bandung. Lusa di Kemuning. Tulat sudah kembali ke Jakarta. Seperti tidak ada capeknya. Tidak merasakan kelelahan. Padahal tubuh punya limit. Punya jam biologis yang harus diutamakan.


Keluhan-keluhan Dina dan Dani sayangnya tak terdengar hingga atasannya. Menguap begitu saja di saat mereka tengah bersama membahas pekerjaan.


Ya ... inilah cara memperbaiki kondisi keduanya. Menghabiskan waktu untuk hal-hal yang dapat mengalihkan luka tak kasat mata.


“Lo kurusan?” Sinta menyelidik saat mendatangi ruangannya. Memindai tulang pipi dan tulang selangkanya. Yang tampak menonjol tanpa bungkusan lemak seperti sebelumnya. Menggeleng tak percaya. “Lo itu butuh liburan, Sas. Ke mana kek, kayak dulu lagi,” usul Sinta.


Ia mendengus. Jadwal makannya memang berantakan. Tidurnya kurang. Asupan kalori yang masuk tidak sebanding dengan yang dikeluarkan. Biarpun ia tahu dan menyadari itu, tapi karena selama ini ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Itu tak terlalu jadi perhatian.


Sayangnya, anggapan tersebut tidak sama dengan Sinta. Perubahan figur tubuh pada dirinya bagi sahabatnya itu mengganggu. Satu lagi, “Lo kayak robot! Yang gak punya perasaan. Oh ... please ...,” gemas sendiri melihat Sasmaya, “open up your heart ... dan biarkan hati lo nunjukin ke mana jalannya.”


“Tapi gue fine-fine saja, Sin,” sangkalnya.


Berdesah seraya menutup mata sesaat, Sinta menukas, “Ya, memang lo terlihat baik-baik saja. TAPI ... ini,” menunjuk dada. “Ini ...,” menunjuk pelipis. “Dan ini ...,” menunjuk mata, “lo jelas gak baik-baik saja!” serunya.


“Lo, travelling deh, staycation ke mana gitu ... backpacker-an, atau camping. Katanya dulu lo mau ke Lombok? Gih sana ...gue dukung.  Atau lo kunjungi semua candi peninggalan Majapahit, gue dukung banget. Lo coba gak usah ngantor, minimal 3 hariii saja. Lo santai-santai tuh di resort, refreshing, makan yang enak-enak, manjain diri ...pokoknya jangan mikirin pekerjaan deh,” cerocos Sinta.


Benar juga sih. Kapan terakhir dirinya travelling? Di Amsterdam bareng Gama. Oh ... bukan, itu tugas budak korporat. Ya, walau ada diselipi jalan-jalan juga. Tetapi ambil cuti khusus, melakukan travelling ala backpaker yang dulu rutin dilakukannya, sepertinya sudah lama. Dulu sempat berencana ke Lombok. Malah akhirnya terdampar di Kemuning. Tapi, “Ya, gak ngunjungi semua candi peninggalan Majapahit juga Sin, bisa gempor gue,” protesnya.


Sinta tergelak.


Ia memberengut kesal.


Usulan Sinta sepertinya perlu dicoba.


...***...


Kereta Api Argo Dwipangga berhenti di Stasiun Solo Balapan pukul 15.54. Setelah melakukan perjalanan cukup panjang selama kurang lebih 7 jam. Satu minggu setelah perbincangannya dengan Sinta soal liburan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti saran sahabatnya tersebut.


Sasmaya tetap memilih moda kereta api di banding pesawat. Ia ingin menikmati tiap waktu yang akhir-akhir ini hilang. Tak bermakna. Sebab dipenuhi dengan pekerjaan, sehingga tidak merasakan tiap detik perubahan waktu hingga matahari kembali ke peraduan.


Melihat hamparan sawah, kebun, sungai, perumahan, bukit dan gunung. Dari balik kaca jendela. Menjadi hiburan tersendiri. Paket komplit yang tidak akan dilihatnya jika menaiki pesawat.


Memilih Kemuning lagi sebagai tujuan pertama. Menjatuhkan pilihan untuk melihat kondisi eyang terlebih dahulu. Lalu ada tujuan berikutnya. Yang pasti tempatnya asyik, pinggir pantai, menyatu dengan alam dan sangat indah. Terlihat dari foto-foto yang dibagikan di grup komunitas. Kata teman di komunitas backpaker-nya bilang tempatnya adalah surga yang tersembunyi. Dijamin ia tidak akan menyesal. Jadi, ia penasaran untuk ke sana.


Meski diprotes Sinta, “Itu bukan refreshing namanya. Masa ke Kemuning lagi?!”


Tapi ia punya jawaban jitu, “Tapi kata lo gue jangan ngantor. Lagian gue mau lihat keadaan eyang dulu.”


“Ya, terserah lo, deh.”


Bibirnya terkulum. Menahan tawa melihat reaksi sahabatnya.


“Satu minggu, Sin gue gak ngantor. Sesuai arahan Ibu Sinta yang bijaksana. Tenang selama 1 minggu gue gak cuma ke Kemuning. Tapi gue juga ke pantai selatan. Gimana?” Alisnya naik turun.


Sinta menatapnya. Menipiskan bibir. Lalu menarik bibirnya lebar. Tersenyum rekah. “Happy holiday. Have fun."


Tiba di Solo ia langsung menuju rumah sakit tempat eyang di rawat. Melihat mama yang tertidur di sofa. Om Tirto beserta istrinya yang bersiap-siap mau pulang.


“Besok Om datang lagi. Pakdemu baru tadi pagi pulang.” Adik dari mama itu menepuk pundaknya.


Ia mengangguk. Berucap, “Hati-hati, Om.” Menyimpan tas ransel di balik pintu. Perlahan mendekat ranjang di mana eyang terbaring di sana. Duduk di kursi tunggu pinggir ranjang. Mengusap lengan eyang dengan hati-hati.


Menurut dokter, usia senja menjadi pemicu sistem imun seseorang menurun. Penyakit dengan mudah menyerang. Karena tubuh dalam kondisi rentan.


Artristis atau radang sendi. Infeksi saluran kemih. Serta inkontinensia urine.


Beberapa bulan terakhir penyakit tersebut menyerang eyang. Pernah beberapa kali sembuh. Namun lagi-lagi kembali kambuh.


Hingga puncaknya dalam kurun hampir 1 bulan ini eyang terpaksa di rawat di rumah sakit secara intensif. Sebab gejala yang menyerang semakin parah. Yang mana sebelumnya harus bolak balik melakukan perawatan jalan.


Bagi pasien dengan usia seperti eyang, terbilang berisiko untuk melakukan tindakan operasi. Maka dokter menyarankan untuk pengobatan serta menjalani terapi fisik.


Gerakan kecil dan terbukanya kelopak mata eyang membuatnya menyapa, “Eyang ... ini, Sas.”


“Sas?”


Ia mengangguk. “Sasmaya. Baru datang dari Jakarta. Mau jenguk eyang di sini,” terangnya bersemangat.


Dahinya membentuk kerutan. Gama? Lantas menggeleng. “Gak ada di sini.”


“Ada.”


“Gak ada, Yang. Gama gak ada. Sas gak melihatnya.”


“Kemarin dia datang.”


Kerutan dahinya kembali terbentuk.


“Beberapa kali dia datang.” Eyang menepuk pelan tangannya. “Jenguk Eyang. Bawa bunga, buah ....”


Suara ribut-ribut di luar kamar terdengar. Meski tidak jelas tetapi cukup mengganggu suara eyang yang berbicara lirih. Ia harus membungkuk. Mendekatkan telinganya ke wajah eyang. Agar lebih jelas.


“Mungkin pas lagi di Banyu Mili, jadi sekalian nengok Eyang,” tukasnya.


Eyang menggeleng. “Dia—”


“Maaf ... bentar Eyang.” Menginterupsi perkataan eyang. Bangkit. Menjauh dari ranjang menuju pintu.


Sama halnya yang didengar Ranti. Sang mama juga merasa terganggu. “Sas, kamu udah datang?” pertanyaan retoris yang dibuka mama. “Siapa sih ribut-ribut?” sambungnya ikut penasaran. Mengikuti anaknya yang membuka pintu ruang perawatan.


“Mas Gama jangan dekati lagi Mbak Sas. Sudah cukup menyakiti keluarga kami. Jangan pernah berusaha untuk mendekatinya lagi!” seru Miko berapi-api. Mendorong tubuh Gama penuh benci. “Pergi! Jangan pernah dekati lagi Mbak Sas. Aku bilang pergi!”


“Aku hanya ingin jenguk eyang," sahut Gama.


“Alasan!” erang papa. “Kamu telah mengingkari perjanjian di antara kita. Sudah hilang respek saya terhadap kamu.”


Gama menunduk, “Maaf.”


Ia menatap sang mama. Begitu juga sebaliknya. Ada isyarat dari sorot mata Ranti di sana. Dilanjutkan dengan anggukkan.


Langkahnya terayun pelan mendekati ketiga laki-laki yang tengah bersitegang tersebut.


“Papa, Miko ....”


“Sas,” tangkas Gama dan papa. Ketiga lelaki berbeda generasi itu menoleh kepadanya bersama-sama.


“Aku harap tidak ada keributan di sini,” ujarnya. Menatap satu per satu ketiganya secara bergantian.


Ranti datang kemudian. Berdiri di sebelahnya. “Kalian boleh masuk. Tapi jangan ribut.”


Sasmaya memilih menunggu di luar kamar bersama Miko. Sementara papa, Gama dan mama berada di dalam. Entah apa yang mereka bicarakan. Hingga cukup lama ia berada di luar, Ranti memanggilnya untuk masuk.


Memilih duduk di bagian kaki ujung ranjang eyang. Ia bisa melihat wajah-wajah tegang dan suasana menjadi pelik.


“Sas,” Eyang menyebutnya. Ia menatap ibu dari wanita yang melahirkannya itu. “Gama ingin menikahimu, apakah kamu menerimanya?”


Pertanyaan apa ini? Kenapa jadi membahas masalah yang sudah usang. Yang baginya sudah selesai. Tidak perlu disibak kembali.


“Sas,” ulang eyang. “Tidak ada yang berhak menghalangi kebahagiaanmu maupun Gama. Sekalipun itu papa dan mamamu.”


Sasmaya menatap Ranti. Lalu beralih pada papa.


“Gama apa kamu yakin dan kali ini serius ingin menikahi Sasmaya?” tanya Eyang. Kelopak mata penuh kerutan itu menatap layu pada Gama yang berdiri di sebelah papa.


Gama mengangguk yakin, menjawab, “Saya ingin menikahi Sasmaya, Eyang. Saya berjanji tidak akan menyakitinya lagi.”


“Bohong!” tangkas papa bersikeras.


“Wan, buat apa kamu mencegah pernikahan mereka. Jika itu justru membuat mereka semakin terluka. Gama sudah berusaha memperbaiki diri. Membuktikan kesungguhannya.”


Ini yang tidak diketahui oleh Sasmaya maupun papanya. Gama diam-diam membuktikan keinginannya untuk menikahi Sasmaya. Berbagai syarat yang dilayangkan Ranti telah terpenuhi. Bahkan beberapa kali diusir wanita yang melahirkan Sasmaya tak menggetarkan laki-laki itu untuk memupuskan keinginannya.


Papa Sasmaya menahan berang. Mengeratkan tangan membentuk kepalan tinju.


Sementara Gama tetiba bertekuk lutut. Menghadap laki-laki paruh baya tersebut. “Saya izin meminta Sasmaya untuk menjadi istri saya, Om. Saya berjanji tidak akan menyakitinya lagi.”


Ia yang terkejut dengan perlakuan Gama refleks bangkit. Menggeleng pelan.


PLAK.


Tangan kanan Papa Sasmaya melayang dan membentur pipi Gama hingga mata laki-laki itu terpejam.