BLIND DATE

BLIND DATE
101. Pemanasan



Adelia menggerakkan tubuhnya. Terasa berat. Sebuah tangan kokoh melingkar di perutnya. Memeluknya dari belakang.


Dan di bawah sana, Adelia merasakan ada yang bergerak di pusat tubuhnya.


"Oh my gosh, Kennn !", gumam Adelia. Ternyata samurai lelakinya masih bersarang di sana. Lelaki itu tidak mau melepasnya sama sekali.


Adelia kira setelah pergulatan seru mereka beberapa jam, lelaki itu menyudahi kegiatannya.Ternyata tidak.


Kenan memberikan kesempatan Adelia mengambil nafas sebentar, setelah itu membalik posisi mereka, hingga tubuh Adelia berada di atasnya. Dan memulai itu lagi....dan lagi. Berganti posisi beberapa kali. Hingga menjelang pagi.


Ya Tuhan lelakinya ini, gairahnya sangat luar biasa. Adelia tidak berkutik dibuatnya. Juga tidak bisa menolak. Lelaki itu terlalu pintar memancing gairahnya. Menghajarnya habis-habisan. Sampai melewatkan makan malam.


Ahhh....enggak. Semalam Kenan sempat meminta layanan hotel untuk mengantarkan makanan. Tengah malam, karena kelaparan.


Setelah nenyelesaikan makan malam yang sudah sangat terlambat itu, Adelia hendak mengecek gawainya. Yang masih di bawa lelaki itu, di saku jasnya tadi.


Adelia menjumpai banyak misscall dan message dari Ina. Belum sempat membaca message dari temannya itu, Kenan kembali mengeksplor tubuhnya, menciumi dan mencumbuinya.


Memancing gairahnya, sehingga kembali bertekuk lutut di bawah tubuh lelaki itu. Bergulat di atas ranjang. Lagi. Membuat ranjang itu semakin berantakan.


Menjelang pagi, baru lelaki itu baru membiarkannya terlelap. Akhirnya, seperti sekarang, mereka kesiangan.


Matahari sudah keluar dari peraduan sepertinya. Tampak dari celah korden sinarnya hangat menerobos ke dalam kamar mereka.


"Udah pagi ", gumamnya.


Adelia berusaha memindahkan lengan kokoh itu dari perutnya. Dan berharap lepas dari sesuatu yang masih bercokol di bawah sana.


Tapi justru merasakan sesuatu itu kembali bergerak nakal di dalam tubuhnya. Dan tangan kokoh itu kembali memeluknya. Erat.


Adelia menggerakkan sikunya ke belakang, ke perut lelaki itu, berharap suaminya melepaskan tubuhnya.


"Kennn....lepasin, aku mau bangun !", rengeknya.


"Hmmm...bentar lagi sayang, masih ngantuk", balas lelaki itu. Bohong saja. Karena lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. Menahan pinggang ramping Adelia agar berhenti bergerak.


Adelia merasakan sesuatu mulai menusuk di bawah sana.


"Uhmmm....Kenn, kamu mau tanding, stop doing that !", Adelia berusaha berontak.


Tapi justru membuat sesuatu di bawah sana semakin berulah.


"Once again ya sayang, hmmm....udah kebangun lagi dia ", bisik mesra lelaki itu. Penuh rayuan.


Kenan semakin menggeratkan tangannya di pinggang ramping istrinya, mendekapnya. Lalu perlahan dan pasti kembali menghentak lembut dan tegas di bawah sana.


"Warming up, baby ", kekehnya.


"Kenannnn .... mesum .... euuughhhh ", suara merdu dari bibir mungil itu kembali terdengar lagi.


Adelia tepuk lengan lelaki itu gemas. Kenan masih terkekeh seraya terus bergerak. Menghentak dan memacu tubuhnya hingga keringat kembali membasahi.


Kamar hotel itu kembali dipenuhi suara berisik karena pergulatan seru di pagi hangat itu.


***********


"Ughhh....", Arion memegangi kepalanya yang terasa berat. Matanya menyipit kembali karena silau oleh sinar sang surya yang masuk melalui celah korden.


"Asshhh....shittt, It's too late !", langsung beranjak dari baringnya. Berdiam sebentar karena kepalanya serasa berputar.


Apa yang terjadi padanya ? Arion berusaha mengingat kejadian semalam. Percintaan liarnya dengan seorang perempuan.


"Adelia....kemana dia ?", gumamnya. Sejenak mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sepi. Perempuan itu telah pergi. Tapi apa benar semalam yang bercinta dengannya adalah Adelia ? Arion menjadi sanksi.


"No..... impossible, nggak mungkin Adelia datang ke sini. Lalu siapa dia ?", Arion mengusap wajahnya kasar. Beberapa kali.


Memandangi seisi kamar. Tidak ada yang berubah atau berkurang. Yang jelas perempuan itu bukan datang untuk mencuri sesuatu.


Meskipun dalam pandangannya yang nampak Adelia, tapi tidak dapat di pungkiri, pasti bukan dia. Arion sadar itu. Perempuan cantik itu tidak mungkin datang menemuinya malam-malam.


Dia pasti sedang bergelut mesra dengan suaminya. Tentu saja. Mereka ke sini untuk berbulan madu. Apalagi yang mereka lakukan selain bercinta. Mengingat itu seketika hati Arion memanas. Tangannya mengepal geram.


Dengan cepat menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Polos. Tubuhnya tak tertutup sehelai benangpun. Benar semalam dirinya telah bercinta hebat.


Arion ingat itu setelah meminum air dari botol di atas meja. Ada yang memberikan obat perangsang padanya. Siapa ? Pasti perempuan itu. Apa untungnya melakukan itu ? Ingin bercinta dengannya ?


Ahhh....Arion memang terlalu perkasa. Wajar saja perempuan itu ingin bercinta dengannya. Bibir lelaki itu tersenyum miring. Bangga dan mengagumi dirinya sendiri. Tangannya mengelus sesuatu di bawah sana.


"Ahhhh....masa bodo ", lelaki itu segera turun dari ranjang. Meskipun masih terasa pusing dia harus segera mandi. Dia akan adu tanding dengan Kenan hari ini.


Pandangannya berhenti pada sebuah note di kertas kecil di meja dekat ranjang.


"Kamu selalu hebat, sayang. Thank you ".


Bibir Arion tertarik ke samping.


Di taruhnya kembali note itu.


"Siapapun itu, tapi aku suka kamu yang bergairah ", lirih lelaki itu lagi.


Bibir Arion tersenyum lebar. Masih bisa mengingat betapa liarnya perempuan itu. Sama seperti dirinya yang terkena pengaruh obat perangsang. Perempuan itu sudah sangat lihai. Bahkan bisa mengendalikan permainan. Masih Arion ingat perempuan itu dengan tanpa sungkan mengulum miliknya.


"Shittt....", umpatnya karena tiba-tiba miliknya mengeras di bawah sana. Segera meraih handuk yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Lalu bergegas melangkah menuju kamar mandi.


Baru beberapa langkah, terdengar dering gawai. Bergegas melangkah untuk mengambil benda yang tengah meraung-raung itu.


"Hal......!", sapanya. Belum selesai berucap sudah di potong suara dari seberang sana.


"Aku tunggu di lobi, hurry up !", suara perempuan menginteruksi dari ujung telepon di sana.


"Okay....okay, I'm on my way ", balas Arion. Segera menaruh gawainya begitu sambungan terputus dari seberang sana.


Memutar kepalanya yang masih sedikit terasa berat sampai berbunyi gemeletuk. Lalu kembali beranjak dan melangkahkan kakinya. Melanjutkan niatnya yang tertunda untuk membersihkan diri.


***********


"Udah siap, sayang ?", Adelia peluk tubuh tinggi atletis itu dari belakang.


Lelaki yang sedang membenahi sepatu ketsnya itu tersenyum. Spontan menegakkan tubuhnya. Hendak meraih tangan yang melingkar di perutnya, tapi Adelia sudah menariknya dari sana.


"Baby girl, godain aku yaaa....", gumam Kenan gemas. Seraya memutar tubuhnya agar bertemu pandang dengan istrinya.


Tapi sebuah pukulan melayang mengarah ke wajahnya.


"Wushhh....", tinggal beberapa senti saja kepalan tangan itu berhenti di depan wajahnya.


"Waspada Ken, kenapa sembrono gitu sih ?", Adelia hendak menurunkan kepalan tangannya. Tapi tangan Kenan sudah lebih dulu mengenggamnya.


"Aku tahu itu kamu, sayang. Ngapain harus waspada ? Kamu pukul juga nggak masalah ", diraihnya tubuh istrinya agar mendekat. Senyum nakal tercetak di bibirnya.


"Pukul pake ini ", disentuhnya bibir yang tampak merah merekah itu. Lalu dengan cepat menempelkan bibirnya di sana. Menggulatnya mesra.


"Hmmm....so sweet....kayak panggilan yang barusan ", seraya menjawil dagu cantik istrinya.


"Aku suka panggilan itu sayang", menunduk dan berbisik lembut. Kedua tangannya memeluk pinggang ramping perempuan cantik itu.


"Gombal. ..", bibir mungil itu mencebik lucu. Mendorong pelan dada Kenan. Lelaki itu tergelak.


"Serious, baby. I don't lie, okay ", balasnya.


Bibir mungil itu tersenyum nakal dan sedikit genit. Perlahan menyingkirkan tangan lelaki itu dari pinggangnya.


"Really ? Let me see ! ", gadis cantik itu langsung menyerangnya.


Dengan cepat Kenan menghindar. Terjadi saling tangkis.


"Wanna try me, baby ?", kekeh lelaki itu. Seraya terus menghindar.


Adelia tersenyum.


"Uhmm...maybe just for warming up ? ", balasnya.


"5 jurus, aku turutin mau kamu", ledek Adelia. Seraya terus menyerang.


Kenan tergelak, sambil terus menangkis serangan lincah dari istrinya.


"Okay, baby ....You 'll get what you want ", katanya.


Mereka saling serang sambil bercanda. Kenan yang semula hanya menghindar, beberapa kali juga melancarkan serangan. Beberapa kali pula gadis cantik itu menghindar.


Tiga jurus berlalu. Memang serangan lelaki itu lolos. Tapi sudah tiga kali tepukan nakalnya sukses bersarang di pinggul perempuan cantik itu.


"So great, baby ", pujinya seraya terkekeh. Adelia merengut. Tangan lelakinya ini sangat nakal. Adelia lebih gencar menyerang. Karena sedikit kesal.


Kenan memanfaatkan itu. Kalau marah sering kali tidak fokus istrinya itu. Dan benar saja, saat Adelia lengah, lelaki itu segera melumpuhkannya, mengunci pergerakannya. Memutar tubuh perempuan cantik itu hingga membelakanginya, lalu menarik ke dekapannya.


"what do you say, baby ?", bisiknya seduktif. Adelia terkekeh. Perlahan meraih tangan Kenan dan melepaskan dirinya. Lalu memutar tubuhnya agar berhadapan dengan lelaki itu.


"Uhmm....not bad. Aku suka sayang ", dengan cepat mencium bibir lelaki itu.


"Let's go ! Aku nggak sabar pengen lihat suami aku jatuhin lawannya", lanjutnya.


Lalu memutar tubuhnya dan melenggang pergi mendahului suaminya.


Kenan tersenyum dan menggeleng pelan. Lalu bergegas mengejar langkah kaki mungil itu.


"Kucing liar yang manis !", lirihnya.