
...67. I Hate You but I Love You...
Malam hari Sasmaya memilih pulang ke rumah. Sebab ingin melihat keadaan Ranti. Semenjak sekembalinya dari Kemuning minggu lalu. Ia tahu sang mama masih kecewa padanya. Yang memilih membatalkan pernikahan. Apakah batal atau ditunda sampai kapan ia sendiri masih belum memutuskan. Masih gamam.
Terakhir berkomunikasi beberapa hari lalu, ia mengatakan jika akan melakukan interview editor in chief. Meminta doa, juga restu Ranti. Jawaban Ranti membuatnya terenyuh, “Setinggi apa pun jabatan seorang wanita, jangan lupa kodratnya. Semoga berhasil.”
Dari situ, ia berniat menemui mama seusai interview.
Aktivitas Ranti terpantau melalui Susi. Ia sering menanyakan kabar mama dari asisten rumah tangganya tersebut. Bahkan ia meminta Susi untuk tinggal sementara dengan mama.
Taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan rumah. Mobil mama terlihat terparkir beserta motor di garasi. Tebakannya Ranti sudah pulang dari toko.
Mengetuk beberapa kali. Membuka pintu bersamaan mengucapkan salam. Manakala ia masuk ke dalam rumah. Dari posisinya kini, Sasmaya bisa melihat Ranti tengah menata sesuatu di meja makan.
Ranti menatapnya sejenak. Lalu melanjutkan kegiatannya. Menyusun kembali barang-barang yang membuatnya menarik napas panjang. Mengeluarkan perlahan.
“Mau diapakan, Ma?” menghampiri sang mama. Duduk di salah satu kursi yang kosong. Sebab, beberapa di antaranya berisi barang-barang yang telah dikemas ulang Ranti.
“Mau dikembalikan,” sahut Ranti santai. Tanpa melihatnya.
“M-ma ...,” sergahnya. Terhenti karena mama menimpali.
“Pernikahan itu batal. Jadi kita harus mengembalikan barang-barang seserahan ini pada mereka.”
Ia menukas, “Tapi, Ma. Sas belum—”
“Kamu mau menunggu apa lagi, Sas? Menunggu Gama sembuh? Yang tidak tahu kapan. Bahkan Mama tidak percaya dengan penyakit yang jadi alasan itu,” sanggah Ranti.
Ia menoleh ke kanan. Mengedarkan pandangan.
“Jangan khawatir, Susi tidak ada di sini.” Sepertinya mama tahu apa yang sedang dicarinya. “Hari ini dan besok dia ijin tidak masuk kerja. Karyawan di toko juga belum mengetahui soal pernikahan kamu. Mereka tahunya, Mama punya menantu orang kaya, ganteng, baik ... juga idaman.” Ranti terkekeh sinis. Kelopak matanya merasakan hawa panas yang menjalar pelan. “Tapi, mereka tidak tahu yang sebenarnya ...,” cibirnya pesimis.
“Mereka menipu kita. Menipu kamu. Memalukan keluarga ... menumbangkan kebahagiaan Mama dan kamu. Menganggap itu semua bisa dibatalkan kapan saja, semaunya mereka tanpa peduli sama sekali.” Ranti berucap seraya mengikat seserahan dengan pita penuh emosi. Air matanya ikut meluruhkan tumpat dadanya yang selama ini ditahan.
“Ma,” ia menelan ludah. “Sas yang membatalkan bukan mereka.”
Ranti menatapnya. “Kamu bodoh atau apa Sas? Alasan kamu membatalkan karena penyakit Gama. Penyakit psikis yang katanya bisa menyakiti, yang mengakibatkan kecelakaan itu. Itu mengada-ada Sas. Mereka mencari alasan agar kamu membatalkan.” Ranti menggeleng. Tak percaya. “Yang sakit tangannya. Bukan mulutnya untuk mengucapkan ikrar pernikahan. Gama masih bisa bicara, masih bisa tanda tangan, masih bisa jalan, masih bisa berdiri, masih bisa duduk, masih—”
Dengan sigap ia memeluk Ranti. Sang mama sesenggukan. Mengadu lirih, “Harusnya kamu sudah bahagia sekarang, bukan diperlakukan seperti ini Sas. Bukan seperti ini ....”
Ia mengusap pipinya yang basah. Mama begitu terguncang dengan keputusannya. “Sas minta maaf ....”
Ranti menggeleng, “Bukan kamu yang salah ... mereka ... mereka yang tega. Mereka Sas ... mereka.”
Sasmaya mengusap-usap punggung Ranti. Menenangkan. Sesungguhnya ini yang ditakutkan. Mama tidak terima. Pernah dikhianati papa kembali memunculkan trauma ke permukaan.
Jika Ranti ingin, sudah sedari dulu ia kembali menikah. Tidak sedikit laki-laki yang berupaya mendekat. Tapi, kekhawatiran jika pernikahan yang dijalaninya akan bernasib sama seperti dulu rupanya telah membuatnya memutuskan hidup sendiri. Ditambah Ranti hanya memprioritaskan anaknya.
Kebahagiaan Sasmaya adalah kebahagiaannya. Kesedihan Sasmaya juga kesedihannya.
Mereka saling mengurai pelukan. Ranti menghapus air matanya. Sementara ia menarik sudut bibirnya. “Sas, gak apa-apa, Ma.”
Ranti menipiskan bibir, “Mama tahu, kamu jangan bohong!”
Ia kembali duduk.
“Dulu waktu papamu memilih wanita itu, kamu yang paling tidak bisa menerima. Masala mutusin hubungan kalian, kamu susah move on. Kayak gak ada lagi laki-laki lain di dunia ini. Bodoh!” ejek Ranti kesal. Bagaimana anaknya ini bisa bilang ‘gak apa-apa’. Ia tahu Sasmaya. Jadi dengan kejadian kemarin, Sasmaya pasti merasakan kecewa dan terluka luar biasa.
Ia tergelak ringan. Mama mampu menebaknya. Sama-sama saling mengkhawatirkan berlebihan, akhirnya membuat mereka parno sendiri.
“Pokoknya Mama mau mengembalikan seserahan dari mereka. Biar mereka sadar, bahwa kamu wanita terhormat. Ada yang lebih pantas jadi suami kamu, Sas.” Ranti melanjutkan menyusun barang-barang yang pernah diberikan Gama saat acara lamaran.
Ia menghela.
“Teman-teman Mama banyak. Ada sales manager, ada juga manajer bank yang kemarin datang ke toko nawarin pinjaman lunak. Juga ponakan Tante Erna katanya ada yang bekerja jadi staf menteri. Ada juga pelanggan Mama, seorang polisi pangkatnya AKP. Tenang saja, Mama bisa mengenalkan kamu sama mereka.”
Spontan ia menengadah. Melihat Ranti. “Maksud Mama, Sas suruh blind date lagi?”
...***...
Langkahnya berat sesaat ia keluar dari mobil. Terpaku sejenak, hingga Sinta menyadarkannya. “Yuk!”
Sasmaya mengangguk.
Sementara suami Sinta menggendong Lea berjalan di depan.
Sinta menggandeng lengannya. “Pasti nanti banyak teman-teman GPP di sini,” ujarnya sambil mereka berjalan. Menuju tempat perhelatan pernikahan Dina dan Dani di gelar.
“Bukan GPP saja, pasti juga karyawan dari hotel, retail bookstore, magazine and newspaper,” imbuh Sinta.
Sudah tampak beberapa iring-iringan tamu undangan yang berdatangan. Menampilkan senyum khas saat datang ke tempat hajatan. Kala disambut di depan koridor ballroom hotel oleh penerima tamu.
Hotel Zoon. Ya, pernikahan Dina dan Dani di selenggarakan di sana.
“Hei, kok diam sih!” tandas Sinta. Sepanjang keduanya berjalan dari parkiran hingga mendekati ballroom, sahabatnya itu tak menanggapinya.
“Tugas gue cuma sampai di sini saja.” Sinta menghentikan langkahnya. Ia refleks mengikuti. Menatap ibu satu anak itu dengan heran.
“Tuh,” dagu Sinta menunjuk ke seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Ia mengikuti arahan sahabatnya tersebut.
Di sana, yang hanya berjarak kurang dari 10 meter, Gama berdiri sendiri. Mengulas senyum.
“Gue terpaksa serahin lo ke dia.” Sinta menepuk punggung tangannya. Melepas genggamannya. “Sampai ketemu di dalam.”
“Sin ...,” sergahnya. “Gue bareng lo masuk ke dalam,” cegahnya. Menahan lengan Sinta. Mengapa jadi begini? Ia yang mengajak Sinta datang sekaligus sahabatnya itu setuju untuk menemaninya. Mengapa justru sahabatnya itu menyerahkannya pada laki-laki itu. Pun, ia tidak mau bersama Gama. Yang akan jadi pasangannya. Bukankah, Sinta mengatakan akan menemaninya selama acara pernikahan digelar. Dari mulai akad nikah. Kemudian resepsi yang langsung diselenggarakan 2 jam setelahnya.
Sebab hanya orang-orang tertentu saja yang mendapat undangan saat acara akad nikah. Termasuk dirinya. Yang saat ini menjadi atasan Dina langsung.
“Sin,” Sasmaya menggeleng pelan.
Sinta berdesah. “Kita sama-sama masuk. Gue gak jauh. Kita satu tempat. Lo sama Pak Gama. Gue sama itu ... tuh!” menelengkan kepalanya ke arah suaminya dan Lea yang berdiri menunggu di depan pintu ballroom.
“Mama!” teriak Lea. Membuatnya memejamkan mata. Pasrah. Mengurai genggamannya. Ketika Gama berjalan mendekat.
“Gue tunggu di dalam,” bisik Sinta. “Staf Zoon tahunya lo calon Pak Gama, jadi mereka akan curiga kalau lo gandeng gue,” sambungnya. Tersenyum manis tetapi diartikan sinis olehnya.
Apa Sinta merencanakan ini semua? Atau justru laki-laki itu. Padahal ia yang memohon meminta ditemani. Malah sekarang dirinya yang ditinggal begitu saja. Bahkan sengaja diserahkan pada Gama. Kebetulan yang tidak mungkin, bukan?
Ia berdiri memaku. Menatap Sinta yang berlalu.
Sementara Gama mendekat. Meraih tangannya. Menggandengnya untuk masuk menyusul Sinta. Bersama tamu undangan yang lainnya. Yang sebagian besar menyapa ramah. Laki-laki itu hanya membalas dengan senyuman.
Mau tak mau, ia terpaksa mengikuti laki-laki yang berjalan di sebelahnya. Menebar senyum. Demi menutupi status mereka sebagai calon suami-istri. Setelah ini, sepertinya ia layak mendapatkan penghargaan trofi.
“Kamu kongkalingkong sama Sinta?” terkanya ketus. Sedangkan Gama masih memasang senyum pada orang yang terus saja menyapa mereka. Tepatnya menyapa Gama. Sebab laki-laki itu pemilik hotel tempat yang ia datangi sekarang. Siapa sih, yang tidak mengenalnya.
“Kata siapa?”
“Kan, yang bilang aku. Ya, berarti kataku.”
“Aku mewakili Dani. Kamu mewakili Dina. Dani stafku. Dina staf kamu. Mereka mengundang kita, jadi wajar kita datang bersamaan.”
Mereka dipandu salah satu panitia untuk duduk di tempat yang telah diatur sesuai undangan.
“Silakan,” ucap panitia yang mengantarkan keduanya.
Ia tersenyum. Begitu juga Gama. Mereka duduk bersisian. “Terima kasih,” balasnya.
Sempat mencari-cari keberadaan Sinta dan suaminya. Nyatanya mereka ditempatkan di barisan belakangnya. Pada kursi paling ujung.
Sinta melambaikan tangan, disertai senyuman yang memperlihatkan gigi-gigi yang terlihat putih akibat veneer.
“Narsis!” dengusnya dalam hati. Tatapan matanya menghunjam tajam pada ibu satu anak tersebut. Tapi lekas tersenyum saat Lea melambaikan tangan padanya.
Tak menyadari jika laki-laki di sebelahnya ini mulai gelisah. Berkeringat dingin. Mengatur napas tak biasa.
Acara telah dimulai. Dina dan Dani duduk bersisian tampak samping dari posisinya saat ini. Pak Sofyan ikut duduk di depan menjadi salah satu saksi.
Pembukaan acara diawali dari perwakilan orangtua dari kedua mempelai yang memberikan kata sambutan. Lalu berlanjut pembacaan ayat-ayat suci Alquran.
Penghulu mulai membacakan khotbah nikah. Diselingi tawa untuk mereda ketegangan calon pengantin.
Bibirnya terangkat. Mendengar gurauan dan gelak tawa dari petugas KUA serta para tamu yang hadir. Meski dalam lubuk hatinya, terasa tersindir.
Sementara Gama tiba-tiba bangkit. Pergi meninggalkannya tanpa pamit.
Sasmaya menatap kepergian Gama yang meninggalkan ballroom entah ke mana. Ia pikir laki-laki itu hanya sebentar. Nyatanya 5 menit berlalu, Gama tak kunjung kembali.
Sepuluh menit telah berjalan. Hingga sang penghulu berseru, “SAH!”
Ia mulai celingukan mencari sosok Gama. Ia bangkit bersamaan para tamu undangan yang berdiri memberikan tepuk tangan kala pernikahan Dani dan Dina dinyatakan sah. Mereka menjadi suami-istri.
Memilih keluar mencari keberadaan Gama. Sebab 20 menit laki-laki itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Perasaannya tidak enak. Mendadak kekhawatiran menyergap.
Tujuannya ke toilet. Yang masih berada dalam kawasan ballroom. Nihil. Ia tidak menemukan Gama di sana. Lalu langkahnya membujuk hatinya untuk mencari laki-laki itu di tempat lain.
Lobi. Kosong. Figur yang dicarinya tidak ada.
Toilet lobi. Hampa. Tidak ada satu pun orang di sana. Bahkan ia memberanikan memasuki toilet bertuliskan ‘gents’ tersebut.
Kemudian langkahnya tergesa menuju ruangan Gama. Ruangan yang pernah ia datangi. Sehingga ia tahu lokasinya di mana.
Ia sempat berpapasan dengan 2 karyawan Zoon. Keduanya menunduk dan tersenyum kepadanya. Ia membalas yang sama.
Tanpa mengetuk pintu ruangan laki-laki itu, ia mencari sosok Gama dalam ruangan yang cukup luas tersebut setelah pintu terbuka lebar.
Jantungnya kian berdetak cepat. Setelah tidak mendapati Gama di ruangannya. Bahkan tidak ada jejak apa pun di sana.
Jas yang dipakai Gama misalnya. Karena laki-laki itu hari ini terlihat rapi. Mengenakan setelan kemeja dan jas berwarna hitam.
Ia menggeleng. Ke mana lagi harus mencari Gama. Buntu. Mungkin kah laki-laki itu meninggalkan Zoon?
Desakkan napasnya berat. Memutar tumit, memilih kembali ke ballroom. Bisa jadi, Gama telah berada di sana. Ia berusaha menepis prasangka buruk yang sempat melintas.
Akan tetapi baru akan meraih ganggang pintu untuk menutup ruangan laki-laki itu. Ia mendengar suara sesuatu jatuh dan pecah dari kamar mandi yang berada dalam ruangan kerja Gama.
Tak mau membuang waktu, ia lekas bergegas ke sana. Membuka pintu. Melihat Gama yang tengah tertunduk. Menekuk tungkai di depan wastafel. Mereka sama-sama terkejut. Sama-sama tak mengira.
Raut wajah Gama pucat pasi. Bahkan tangan Gama menolak saat ia berusaha mendekat. Laki-laki itu sempoyongan menuju kloset yang terbuka. Muntah di sana.
“Mas Gama,” lirihnya. Melihat apa yang dialami laki-laki itu. Kekhawatirannya bertambah.
Tidak ada sesuatu yang keluar dari mulut Gama. Sebab ini sudah muntah yang kesekian kalinya. Hanya dorongan ingin muntah akibat mual hebat. Berusaha bangkit. Mengusap peluh di wajah. “Aku hanya sedikit pusing,” ujarnya enteng.
Ia membantu laki-laki itu berdiri. Memapah. Meski Gama berusaha menolak. Melewati kepingan kaca dari asbak yang pecah. Membawanya duduk di sofa panjang.
Telapak tangan Gama terasa dingin. Napas laki-laki itu juga terdengar sulit. Bibirnya bergetar.
“Aku harus bantu apa?” tanyanya bingung. Melihat kondisi Gama yang sangat mengkhawatirkan.
Gama menggeleng pelan. Berusaha tersenyum. Memegangi tangannya enggan melepas. Menyuruhnya untuk duduk di sebelah laki-laki tersebut.
“Kamu jangan bikin aku takut!” serunya kesal. Di saat kondisi serius seperti ini justru Gama bergurau.
Gama tak menyahut. Ia berdesah. Mengikuti permintaan laki-laki itu.
“Kamu butuh sesuatu?” Minuman atau obat khusus yang dikonsumsi Gama misalnya, yang ia tidak tahu. Seseorang yang tengah menjalani terapi, kadang juga diberikan obat penenang. Yang harus dikonsumsi pada saat sakit itu datang.
Kepala yang bersandar itu menggeleng dan lagi-lagi tersenyum.
“Ayolah ... jangan bikin aku panik dan khawatir. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku tidak mungkin membiarkanmu sakit seperti ini. Kenapa kamu memaksakan diri?” ocehnya kesal.
Sementara Gama justru tersenyum menatapnya.
“Ish,” desis Sasmaya. Sebal. Kecemasannya tak diacuhkan. Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan Gama melawan fobia itu sendirian. Bagaimana ketakutan itu menyakiti fisiknya. Secara kasat mata figur sempurna dan bugar ada pada Gama, sehingga orang lain tidak mungkin bisa percaya dan menyangka, jika laki-laki itu punya anxiety disorder. Termasuk dirinya.
Ia meninju lengan Gama. “Menyebalkan. I hate you ... really ... really hate you,” begitu Gama terkekeh ringan.
“Aku cari kamu ke toilet ballroom. Ke lobi. Ke toilet lobi. Ke ruangan kerja kamu. Kamu gak ada. Aku panik. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Dugaanku benar. Tapi kamu malah menyebalkan. Menolak bantuanku, merasa kuat, sehat dan gak butuh aku. Aku benar-benar menyesal kesini. Padahal kita—” ucapannya terhenti. Ketika Gama menariknya. Membuatnya jatuh pada pelukan laki-laki itu.
Sekejap ia terkesiap. Berusaha bangkit namun Gama mengeratkan rengkuhannya. Berucap, “Aku hanya ingin kamu. Hanya kamu.”