BLIND DATE

BLIND DATE
74. Menjemput Impian 2



...74. Menjemput Impian 2...


Beberapa jam yang lalu Sasmaya masih ragu akan keteguhan Gama untuk serius menikahinya. Ia tak mau menggantungkan harapan pada sosok yang pernah memupuskan. Tak ingin terlalu berharap dan memaksa jodohnya untuk segera datang.


Karena ia tahu harapan yang terlalu muluk, besar kemungkinan berpeluang menyakitkan. Apalagi menjadikan keberhasilan orang lain sebagai patokan pencapaian, itu salah besar.


Berharap tinggi pada sosok Gama untuk berjodoh dengannya juga nyatanya membuatnya lupa. Mengingkari, bahwa Gama adalah satu dari milyaran manusia yang diciptakan di muka bumi ini. Tidak sempurna. Punya kekurangan. Memiliki masa lalu yang menyisakan trauma. Berujung fobia. Bahkan mengakibatkan laki-laki itu memilih jalan berbeda.


Pada akhirnya ia sadar. Melepaskan semua beban. Mengendalikan keinginan. Mengikhlaskan takdir untuk berjalan sesuai ketentuan. Mensyukuri apa saja yang Tuhan telah berikan. Sekecil apa pun. Termasuk kecewa, luka, dan kesedihan. Ujian yang membawanya terasah masa. Cobaan yang membuatnya untuk tetap tegak berdiri menatap masa depan.


Hingga pada waktunya tiba. Ternyata Tuhan punya rencana lain. Apa yang telah ia ikhlaskan itu ternyata datang sendiri. Ia tak pernah menyangka, bahkan alih-alih bermimpi lebih.


Kini di depannya berdiri laki-laki yang siap menyambutnya, menyongsong mimpi dan asa. Melempar senyum. Mengulurkan tangan. Memastikan bahwa keduanya kini benar-benar menjadi pasangan suami-istri.


Ia tersenyum malu-malu. Menerima uluran tangan dengan sisa ketegangan serta grogi. Dibimbing Gama untuk duduk di kursi.


“You’re God’s own creation,” bisik laki-laki itu. Membuatnya menelengkan kepala pada Gama.


Laki-laki yang kini berubah statusnya menjadi suaminya itu mengerling. Lantas kembali tersenyum semringah.


Waktu rasanya berjalan cepat. Malam kian merangkak larut. Usai menyelesaikan segala administrasi pernikahan, semua yang hadir dalam ruangan yang tidak begitu luas itu satu persatu berpamitan pulang. Menyisakan keluarga inti.


“Papa titip Sasmaya. Apa pun yang telah Papa lakukan tadi jangan kamu jadikan tolak ukur. Itu hanya bagian bentuk sayang orangtua kepada anaknya.”


Gama mengangguk. Hendak mencium punggung tangan Irwan yang kini menjadi mertuanya namun lekas ditepis. Justru papa menariknya ke dalam rengkuhannya. “Jaga Sasmaya! Saya limpahkan tanggung jawab ini padamu. Tapi bukan berarti saya tidak peduli. Sas tetap anak saya. Sampai kapan pun,” menepuk-nepuk punggung Gama dengan semangat.


“Pasti. Saya akan menjaganya, Pa. Sampai saya menutup mata.”


Miko mengangkat tangan. Beradu telapak tangan dengan Gama. Tanpa basa-basi berucap, “Please take care of her ... life doesn’t bless you with a good woman twice.”


“I promise to,” sahut Gama dengan senyum.


“Aku senang Mbak Sas akhirnya menikah,” ucap Miko padanya. “Tapi aku lebih senang karena papa gak akan lagi berbagi kasih sayangnya,” cibirnya menambahkan.


Menyebalkan. Ia menarik paksa bibirnya. Meninju bahu adiknya. Memang Miko terkadang menyebalkan. Tapi mungkin suatu bentuk perhatian untuknya. Atau justru ia yang tidak pernah peduli dengan adik tirinya tersebut, sehingga kedekatan mereka terlihat kaku dan terasa hambar.


“Belajar yang rajin. Papa senang kalau anaknya pintar,” balasnya tak kalah mencibir.


Miko menipiskan bibir. Berlagak sombong. Namun baru memutar tumit siap meninggalkan sepasang pengantin malam itu, Miko kembali memutar tubuhnya, berkata, “Aku akan buktikan, kalau aku lebih dari Mbak Sas!” berlalu tanpa berniat untuk menoleh ke belakang lagi.


Sementara Gama yang mendengar percakapan mereka menyela, “Baby, jangan seperti anak kecil. Miko seperti itu karena mencari perhatianmu.”


Ia tak sempat membalas ucapan Gama, meski kalimat itu sudah terangkai di otaknya. Memilih menyimpannya. Membahasnya suatu saat nanti. Apalagi panggilan baby yang terdengar untuknya membumbungkan perasaannya.


Papa dan Miko langsung kembali ke Semarang. Om Tirto dan keluarganya juga segera pulang ke Kemuning. Begitu pula Pakde Wiryo beserta keluarga dan kerabat mama yang lain.


Tinggallah Sofyan dan Affan. Entah apa yang diucapkan atasannya itu dengan suaminya. Tampak dari posisinya terlihat intens, intim, terkadang berbisik-bisik seperti khawatir terdengar orang lain.


“Papa,” ia memilih menghampiri Sofyan yang berdiri tengah berbincang dengan eyang dan Ranti.


Sofyan membuka kedua tangan. Melukis senyum untuknya. “Welkom, Sas.”


Ia menghambur dalam rengkuhan Sofyan. “Moeder en zoon ... akhirnya benar-benar bersatu. Ik ben gelukkig! Papa senang.” Pancaran gurat kebahagiaan sedari tadi menyelimuti wajah Sofyan. “Dank u, Sas. Terima kasih.” Mengusap punggung menantunya.


Sasmaya mengangguk-angguk. Merasakan kembali keharuan yang menyeruak.


...***...


“Tidurlah ... aku yang akan jaga eyang,” ucap Gama. Ia menggeleng. Tadi usai mengganti pakaian kebaya dan menghapus riasan wajahnya. Keduanya langsung menuju rumah sakit.


Mereka memutuskan untuk tinggal di rumah sakit. Menggantikan Ranti menjaga eyang. Menyuruh mama untuk beristirahat di hotel. Menghabiskan sisa penghujung malam yang tinggal sepertiga di malam pertama setelah keduanya dinyatakan sebagai suami-istri.


Sasmaya menutup mulut. Menguap panjang.


Laki-laki itu memberikan isyarat menepuk pahanya. Mereka duduk bersisian di sofa bed.


Ia menggeleng. Menguap lagi. Kali ini lebih panjang.


Gama yang gemas melihatnya menarik kepalanya. Menyandarkan di bahunya. Bahkan mencium kepalanya sekilas.


“Bagaimana tadi kamu bisa mengucap ijab kabul dengan lancar? Kamu gak apa-apa, kan sebelum dan setelah itu?” tanyanya dengan kepala bersandar di bahu Gama. Laki-laki itu pandai menyembunyikan segala sesuatu. Pantas saja disebut enigmatic.


“Demi wanita di sebelahku ini. Aku bisa melawan semuanya. Ya ... sedikit grogi sih, karena takut salah dan takut ditampar lagi sama papa.”


“Hah.” Ia mendongak.


Laki-laki itu terkekeh. “Just joking ...,” mengusap kepalanya.


Kepala yang bersandar di bahu Gama mulai merasakan kenyamanan. Mata yang sedari tadi dipaksa membuka perlahan mengatup. Sesekali dengan sekuat tenaga membukanya lagi. Memaksa berbicara, berharap dapat mengusir kantuk yang mendera. “Kamu ada kesepakatan apa sama mama? Kenapa mama akhirnya bisa memberikan restu?”


Gama meraih tangan kiri wanita yang ada di sebelahnya. Mengusap-usap punggung tangannya. “Yang penting kita sudah menikah, Sas. Kamu gak perlu tahu bagaimana aku mendapat restu itu.”


“Hem.”


“Baby ... Affan memberikan kita tiket honeymoon ke Lombok. Bahkan dia memberikan tambahan cuti buatmu. Kita bisa berangkat lusa. Bagaimana?”


Tidak ada tanggapan. Bahkan gerakan.


Bibir laki-laki itu tertarik. Sudah tidur rupanya. Dengan pelan ia merebahkan kepala Sasmaya pada bantal sofa. Mengubah sofa menjadi tempat tidur. Memastikan terlebih dahulu kondisi eyang. Sebelum pada akhirnya ikut berbaring di samping istrinya. Memeluknya dari belakang.


Saat terbangun Sasmaya merasakan sesuatu melingkari pinggangnya. Bertepatan seorang perawat yang mengetuk pintu dan meminta izin masuk ke dalam kamar perawatan. Untuk melakukan pengecekan pada pasien.


Dengan pelan ia meletakkan lengan Gama. Beringsut dan duduk. Melihat sejenak laki-laki yang tengah tertidur. Menggeleng kecil disertai tarikan di sudut bibirnya.


...***...


Bukan Lombok menjadi tujuan mereka honeymoon. Melainkan pantai selatan yang terletak sekitar 60 kilometer dari pusat kota Yogyakarta.


Setelah berada di rumah sakit selama 2 hari. Kondisi eyang dinyatakan stabil dan diperbolehkan pulang. Keduanya memutuskan untuk pergi ke sana.


Ke sebuah pantai yang masih belum banyak didatangi pengunjung. Lupakan hotel sebagaimana layaknya pengantin baru yang tengah melakukan bulan madu. Lupakan fasilitas dan segala penunjangnya.


Sebab ia dan Gama kini tengah trekking. Menaiki bukit karang yang membentang membentuk hamparan. Setelah memutuskan untuk memarkir kendaraannya di spot terakhir. Dari lokasi parkir tersebut mereka harus berjalan kaki sekitar 400 meter lagi.


“Huuuu ... hh!” berdesah ia mengembuskan napas lega. Begitu mereka tiba di tujuan. Mengangkat tangan. Menarik napas dalam-dalam seraya memejam.


“Indah banget,” imbuhnya kala matanya terbuka. Ternyata memang tidak salah, tidak mengecewakan rekomendasi teman-temannya di komunitas. Bahkan melebihi apa yang ter gambarkan di angannya.


“Tahu dari mana tempat ini?” Gama menghampiri. Berdiri di sebelahnya. Takjub. Ikut menikmati matahari yang mulai melandai di kaki barat. Tidak terlalu panas. Apalagi angin cukup kencang.


Rencana ke Lombok batal. Wanita yang terlihat bahagia di sebelahnya ini justru mengajaknya kesini. Bahkan keinginan Gama untuk memesan hotel terbaik untuk mereka menginap nanti malam di tolak mentah-mentah.


Kata Sasmaya mereka akan berkemah.


Lekas menyusul, Gama menurunkan tas tenda yang telah mereka sewa. Memasangnya. Tak sampai memakan waktu lama, tenda telah terpasang.


Duduk berpagut lutut. Bersantai di atas bukit. Menghadap barat. Menikmati senja. Menyaksikan matahari yang mulai terbenam. Tampak eksotis. Ditemani deburan ombak yang menghantam tebing.


Laki-laki itu meraih tangannya. Menggenggamnya. “Kamu yakin malam ini kita tidur di sini?” kalaupun Sasmaya berubah pikiran. Ia dengan mudah mencari hotel dalam waktu cepat. Koneksi dengan para pengusaha hotel membuatnya mendapat privilege.


“Kamu gak nyaman?” justru berbalik tanya. Menatap laki-laki itu sejenak. Lalu kembali beralih pada sorot matahari yang mulai menyemburat membentuk salur kekuningan dan kemerahan.


Menyelipkan rambut Sasmaya ke belakang telinga. Meski harus dilakukannya berulang sebab berantakan lagi tersibak angin. “Siapa takut!” bisik Gama menggoda. Tepat di sisi telinganya.


Membuat bulu tengkuknya seketika meremang. Ia menatap Gama. Menyelisik wajahnya. “Terima kasih, kamu telah membuktikannya.” Ia sampai terlupa mengucapkan ini. Karena baru hari inilah keduanya benar-benar punya waktu berdua.


Laki-laki itu melepas genggamannya. Mengusap lembut pipi wanita yang berada di dekatnya kini dengan telunjuknya.


“Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu  mau menjadi pasangan pakaian buatku. Menjadi partner hidupku. Memberi kesempatan lagi untuk aku membuktikannya.”


Tarikan sudut bibirnya ke atas.


Gama ikut tersenyum. Menarik dagunya. Mendaratkan sebuah ciuman pada bibirnya. Sekilas.


Suasana di atas bukit karang itu bertambah romantis. Di mana langit telah berubah menjadi jingga keemasan. Dan nyanyian debur ombak menjadi latar berikutnya yang menawan. Seolah-olah menjadi momen yang tepat bagi keduanya melakukan kemesraan.


Kembali Gama menyapukan bibirnya. Kali ini lebih lama dari yang pertama.


Ada getar dalam dada yang bergejolak mendorongnya untuk menyambut perlakuan laki-laki itu. Mengatupkan kelopak mata. Merasakan hantaran kebahagiaan yang membuat hangat dan bergairah.


Mereka larut. Saat mulut terus berpagut. Merapat. Mengartikulasikan hasrat. Hingga baru menyadari jika matahari telah tenggelam. Disertai rintik gerimis yang jatuh membasahi bumi.


“Baby, kita masuk tenda,” ajak Gama.


Ia mengangguk. Menerima uluran tangan Gama. Ada sedikit kekhawatiran membungkusnya. Kenapa cuaca tiba-tiba berubah. Padahal tidak ada tanda-tanda akan hujan.


“Tenang. Ada aku di sini.” Gama sepertinya mengetahui dan bisa membaca kekhawatirannya. “Kita aman,” mendekapnya.


Menyantap makan malam sederhana. Mi instan cup rasa ayam bawang. Walau sederhana nyatanya rasanya begitu nikmat. Apalagi disantap saat lapar.


Sementara hujan masih saja turun. Meski intensitasnya tergolong ringan. Ia dan laki-laki itu justru semakin bersemangat bertukar kata.


Tentang awal perkenalan mereka. Blind date lewat sebuah aplikasi. Yang bisa dikatakan gagal total. Namun ternyata kegagalan itu diganti dengan perjodohan. Kiranya perjodohan tersebut berjalan lancar, kenyataannya justru mereka harus menghadapi cobaan bertubi-tubi.


“Mister A yang penuh enigmatic. Curang!” cibirnya kesal. Ternyata Gama lebih dulu mengetahui identitasnya ketimbang dirinya. Sementara ia, harus berpikir keras untuk menguak siapa sebenarnya Mister A ini.


Laki-laki itu terkekeh. Merebahkan tubuhnya. Lantas menepuk lengannya.


Ia mengikuti perintah Gama. Menjadikan lengan sebagai bantalan. Mereka berhadapan. Bersilih pandang. Di bawah lentera oranye membias remang.


Telunjuk Gama menyusuri wajahnya. Dimulai kening perlahan turun ke cuping hidung. Lantas mengusap lembut bibirnya. Berhenti di dagu. Mengusap-usap di sana.


“Menurutmu, apa kita bisa melakukannya di sini?”


Dahinya mengerut. Pertanyaan absurd. Yang melenceng dari bahasan malam ini.


“Gak perlu dijawab!” tukas Gama menyergah. Mengubah posisinya. Mengungkungnya. “Waktu itu kamu mau melakukan egg freezing, kan?”


Sasmaya mengangguk. Menatap laki-laki yang berada di atasnya.


“Tapi belum sempat melakukan prosedur itu, kan?” tanya Gama lagi terdengar mendesak.


Ia kembali mengangguk.


Senyum rekah terlukis di bibir laki-laki tersebut. “Aku akan memberikannya sekarang.” Tangan laki-laki itu mematikan lentera dalam tenda. Diikuti teriakan Sasmaya setelahnya.


-


-


Menuju epilog ....