BLIND DATE

BLIND DATE
66. Extra Mile



...66. Extra Mile...


“Semangat! Lo, pasti bisa.” Sinta memberikan motivasi pada sahabatnya. Sebelum 45 menit interview di mulai.


“Thanks, Sin. Apa pun hasilnya gue juga gak berharap tinggi.”


“Kemarin gue dapat bocoran dari staf HRD kalau ada 2 yang interview. GM HRD dan user yang diwakili direksi,” terang Sinta.


“Kok lo tahu?”


Ibu satu anak itu hanya menyengir. Lalu, “Adalah ... hehe.”


Ia menggeleng. Mencebik.


Sesi interview memang di bagi 2 hari. Kemarin dan hari ini. Sementara ia mendapat giliran sekarang.


“Gue percaya, you got this!” Sinta kembali memberi dukungan. Membuatnya tersenyum. Lantas sahabatnya itu berujar, “habis ini kita makan-makan.” Seketika bibir yang terangkat tadi mengerucut.


Sinta tergelak. “Gue doain dari sini. Good luck.” Menepuk bahunya. Mengantarkannya hingga depan pintu lift.


Ia masuk ke dalam kotak besi tersebut. Sesaat sebelum pintu lift tertutup, Sinta tersenyum dan mengancungkan 2 jempolnya.


Sasmaya membalas hal yang sama mengancungkan 2 jempolnya.


Tiba di ruangan dewan direksi ia menunggu di luar. Ferdi tampak menghampirinya. “Sudah siap, Sas?” tanyanya.


Ia mengangguk.


“Best of luck.” Ferdi menukas. Mendoakan. Sebelum meninggalkan dirinya.


“Terima kasih, Fer,” balasnya sambil tersenyum.


Duduk menunggu sekitar 10 menit. Staf HRD memanggilnya. Mengarahkannya untuk memasuki salah satu ruangan.


Interview pertama. Sebagai interviewer adalah GM HRD. Berjalan kurang lebih 40 menit. Semua pertanyaan mengenai hal-hal umum yang berkaitan dengan curriculum vitae-nya.


Keluar dari sana, Sasmaya kembali menunggu. Sebelum pada akhirnya ia diarahkan staf HRD untuk memasuki ruangan kedua. Guna melakukan interview selanjutnya.


Ia tak pernah menduga. Jika user yang dimaksud adalah ... Gama. Ya, laki-laki itu duduk di depannya bersebelahan dengan Affan sebagai atasannya langsung.


Menghadapi situasi yang pelik, mendadak membuat degup jantungnya berdetak cepat. Keringat dingin. Gugup. Ia sempat bersitatap dengan Gama. Lantas berusaha menguasai diri. Mengalihkan pandangannya pada Affan.


Sebagai atasannya langsung, Affan memulai percakapan. Mengenalkan Gama sebagai salah satu pemilik saham GPP.


Ia berusaha menarik sudut bibirnya meski samar.


Pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari Affan mengenai hal-hal yang selama ini telah dilakukannya di GPP. Permasalahan serta bagaimana menyelesaikannya.


Semua pertanyaan tersebut ia jawab dengan lancar dan sesuai apa yang dikerjakannya selama ini. Meski Affan terkesan santai mengondisikan situasi dalam ruangan yang berisi hanya 3 orang itu. Namun nyatanya tetap tidak bisa membuatnya relaks.


Bahkan saat atasannya itu menanyakan bagaimana menjadi seorang good leader saat ada permasalahan pada team work. Cara mengatasinya dan memberikan bentuk sanksi jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan.


Sejenak ia menatap Gama. Laki-laki itu mengangguk kecil dan tersenyum padanya.


Ia pernah berdiskusi soal ini dengan Gama. Bahkan laki-laki itu menjelaskan dengan detail. Sehingga ia bisa menjawab pertanyaan terakhir dari Affan.


Sementara pertanyaan Gama hanya 1. “Apa rencanamu 5 tahun ke depan bersama Gama Pustaka?”


...***...


Awalnya Gama menolak untuk menjadi tim interviewer calon editor in chief GPP. Ia tahu Sasmaya menjadi salah satu pesertanya. Namun Affan meyakinkan, jika inilah salah satu cara ia memulai memperbaiki hubungan mereka.


“Gue yakin, dia gak akan menghindar,” tukas Affan. Memastikan jika apa yang diyakininya tidak meleset.


Setelah ia menceritakan pertemuannya dengan Sasmaya kemarin tanpa sengaja di kantor papa. Wanita itu tidak mau melihatnya. Menghindarinya. Jadi, ia bisa menyimpulkan kalau Sasmaya belum mau bertemu dengannya. Kemungkinan besar bahkan menolak.


Hal terburuk sempat melintasi pikirannya. Bagaimana jika Sasmaya urung mengikuti interview setelah melihatnya. Pergi menjauh. Memilih mundur dari perusahaan. Bisa jadi mengeluarkan kemarahannya seperti ketika ia tidak datang menghadiri undangan. Atau paling buruk sekalipun ia dimaki, ditampar mungkin. Seperti wanita barbar yang pernah dilihatnya saat kecewa pada pasangannya.


Sebab Gama tahu kesalahannya sangat besar.


Akan tetapi ternyata pikiran-pikiran buruk itu tidak terjadi. Sasmaya begitu tenang menjawab. Mengesampingkan permasalahan yang ada.


Ia termangu, ketika jawaban-jawaban wanita ini di luar dugaannya. Hal itu menambah kekagumannya akan Sasmaya. Sampai-sampai ia merasa bodoh, jika melepaskan Sasmaya begitu saja.


Satu yang menambah keyakinannya. Jika jawaban dari apa yang didengarnya kali ini. Apabila Sasmaya tetap memilih berada di GPP, artinya ia harus memperjuangkan wanita tersebut.


“Apa rencanamu 5 tahun ke depan bersama Gama Pustaka?”


...***...


“Tetap bekerja sesuai tanggung jawab saya di Gama Pustaka. Berusaha mencapai goals dan objectives. Terus menggali kemampuan untuk meningkatkan kinerja. Tentu saja, saya tidak bekerja sendirian. Ada team work yang harus solid. Yang akan selalu mendukung satu dengan yang lainnya.”


Gama dan Affan spontan memberikan tepuk tangan. Berdiri lantas mengulurkan tangan, “Oke, Sas. Terima kasih,” tukas Affan.


Bergantian ia menyalami Affan. Lalu Gama. Dengan kerutan di dahi sekilas. Hingga tak menyadari jika tangannya dan Gama masih saling menjabat.


“Gue tinggal,” Affan meninggalkan mereka.


Sementara kecanggungan kembali terasa. Dengan perlahan ia melepas jabatan tangannya. Membereskan berkas catatan yang ada di meja dan bersiap pergi.


“Sas, kita perlu bicara.”


Bahunya terangkat. Akibat tarikan napasnya yang berat. Ia memejamkan mata sesaat.


...***...


Duduk di samping laki-laki itu. Entah ke mana Gama akan membawanya. Cukup lama keduanya dalam keterdiaman. Pandangannya lurus, sesekali menoleh ke kiri. Ke luar jendela kaca.


Sementara Gama fokus mengendarai mobilnya. Tentu saja sambil mencari cara mencairkan suasana.


Sudah setengah perjalanan keduanya masih enggan berbicara. Bingung, entah harus memulai dari mana.


“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” tukas laki-laki itu. Menoleh kepadanya. Lalu beralih menatap ke depan.


Tempatnya sejuk. Ditumbuhi beberapa pohon rindang. Langkahnya terus mengikuti laki-laki itu yang berjalan di depan, membuka pintu pagar dari besi.


Terlihat beberapa nisan di sana. Di area yang tidak begitu luas. Sepertinya pemakaman keluarga. Gama mengajaknya ke salah satu nisan yang tampak berbeda sendiri. Terbuat dari marmer putih. Dilengkapi tulisan keterangan siapa gerangan yang menempatinya.


Cyntia Clara.


“Cyntia calon istriku,” ucap Gama. Keduanya berdiri bersisian di samping tempat peristirahatan Cyntia.


“Wajahnya memiliki kemiripan sepertimu. Tapi kepribadian kalian bertolak belakang.” Gama menghela. Memejamkan mata. “Aku bukan bermaksud membandingkan kalian. Karena kamu dan Cyntia adalah orang yang sama berharganya buatku.”


Jeda. Hening. Terdengar dedaunan kering yang berserak, tergeser angin.


“Aku merasa bersalah padanya. Karena tidak memahami apa yang menjadi kemauannya. Hingga saat kecelakaan itu terjadi ... beberapa hari jelang pernikahan. Semuanya tidak dapat diperbaiki dan diulang.


“Dia pergi dengan kekecewaan. Sementara aku ditinggal dengan penyesalan,” tukas Gama sedu. Tepat hari di mana seharusnya Gama dan Cyntia menikah. Justru Cyntia harus meregang nyawa. Pergi untuk selama-lamanya.


Gama menunduk dalam. Menitikkan air mata. Tak mampu lagi berkata-kata. Hanya menggeleng, lantas berucap lirih. “Ini semua kesalahanku ....”


Ia tengadah. Melihat laki-laki itu yang masih tertunduk pilu.


Nuraninya tergerak. Perlahan ia menyelusupkan jemarinya di sela-sela jari Gama. Mengeratkan.


Gama menoleh padanya.


Ia mengangguk.


Kecelakaan itu adalah masa lalu yang menyebabkan laki-laki itu menjadi trauma. Penyesalan berkepanjangan. Ketakutan akan terjadi hal yang sama tentang pernikahan. Lalu menyimpan sendiri ketakutan itu bertahun-tahun hingga tak menyadari bahwa ia terjebak dalam situasi yang irasional. Jika dihadapkan dengan pencetus ketakutan tersebut.


Menghindar cara terbaik yang dilakukan Gama selama ini. Acapkali dihadapkan dengan objek yang membuatnya takut. Meski sebagai laki-laki normal, ia juga ingin dan punya cinta. Tetapi perasaan itu terpaksa diredupkannya.


Memilih mundur. Mengambil jalan aman dan menyelamatkannya dari energi negatif yang membuatnya sakit.


“Kita pulang,” ucap Gama. Setelah usai menceritakan keadaannya. Masa lalunya bersama Cyntia. Mereka menutupnya dengan doa.


Sasmaya memilih tidur selama perjalanan kembali ke Jakarta. Bahkan ia masih memilih banyak diam.


Sementara laki-laki yang mengemudikan itu sesekali mencuri pandang pada wanita di sebelahnya. Bibirnya rekah, biarpun tak sempurna. Dengan Sasmaya berada di dekatnya saat ini. Itu saja sudah menyenangkan hatinya.


Gama berharap, ke depannya ia bisa melihat Sasmaya seperti ini.


Jika selama perjalanan pergi terasa lama dan jauh. Maka sebaliknya saat pulang. Begitu cepat. Jujur, Gama belum puas memandangi Sasmaya sedekat ini. Ia masih rindu.


Memarkirkan mobil di area parkir apartemen. Melepas sabuk pengaman. Indra penglihatan laki-laki itu tidak beralih sedikitpun dari wanita yang tertidur pulas di sampingnya.


“Aku minta maaf,” lirih Gama. “Beri aku kesempatan sekali lagi,” imbuhnya. Merebahkan perlahan kepalanya pada setir kemudi.


Hingga dering ponsel Gama memekik nyaring. Terburu ia menolak panggilan tersebut.


Sebenarnya laki-laki itu kecewa, saat Dani menyerahkan sejumlah uang dalam amplop padanya. Kata Dani, “Dari Mbak Sas, Pak.” Ia bisa menebak, jika uang tersebut adalah pengembalian pengeluaran renovasi interior apartemen Sasmaya. Meskipun Dani tidak mengatakan uang untuk apa.


Gama juga merasa bersalah. Sampai dengan ini, Sasmaya masih memilih tinggal di apartemen. Meski tampak baik-baik saja hubungan Sasmaya dengan mamanya, tapi ia yakin, mereka tidak baik-baik saja.


“Aku minta maaf,” kembali Gama lirih  menukas sesal.


Hampir 15 menit Gama memandangi Sasmaya. Hingga ponselnya kembali berdering nyaring. Dani meneleponnya.


Dengan malas, Gama menyahut, “Ya.”


“Pak, ada meeting di Zoon jam 5 sore ini.” Sekretarisnya itu mengingatkan. Meski tengah cuti, tapi Gama berpesan bahwa agenda-agenda penting yang harus dilakukannya agar diingatkan ulang. Kecuali pada saat 2 hari jelang pernikahan sampai dengan 2 hari setelah perayaan itu diselenggarakan.


Artinya Dani hanya mendapatkan waktu cuti dari segala aktivitas kantor selama 5 hari.


“Ya, aku tahu, Dan.” Tentu saja Dani juga membuat schedule atasannya di tablet pc. Yang akan berbunyi dan mengingatkan sesuai waktu yang telah diatur oleh sekretarisnya itu. Dan alarm pengingat tersebut bersamaan berbunyi saat Dani meneleponnya.


Gama melihat jam digital pada dashboard. Masih ada waktu 30 menit lagi pikirnya. Ia keluar dari mobil. Membuka pintu. “Sas,” menunduk, menepuk pipi Sasmaya pelan. Membangunkannya.


Membuat matanya terbuka perlahan. Mengerjap.


Laki-laki itu menukas, “Kita sudah sampai.”


Menegakkan punggung. Mengaitkan tasnya di bahu. Ia hanya berkata, “Terima kasih,” lalu pergi meninggalkan Gama.


“Sas,” panggil Gama. Ia menoleh ke belakang. “Terima kasih.” Disertai senyum yang ia persembahkan dengan tulus untuk wanita itu.


Ia hanya menatap laki-laki itu sejenak. Lantas berlalu.


Gama tahu, bahwa Sasmaya butuh waktu untuk kembali menerimanya. Dan ia akan bersabar menunggu momen itu datang. Setidaknya, ia senang Sasmaya tidak lagi menghindarinya.