
...49. Perhatian Semu...
Di hari ke-3 dan ke-4 Sasmaya ke kantor Holland yang berlokasi di Den Haag. Kantor yang hanya diperuntukkan untuk penerbitan dan percetakan buku-buku fiksi serta majalah.
Bahkan ia juga mendatangi retail bookstore di beberapa titik. Melihat secara langsung peredaran buku-buku dari penerbit hingga pemasarannya.
Kemudian di hari ke-5 kembali mendatangi kantor Holland Publisher di Amsterdam. Menerima beberapa perwakilan dummy buku-buku yang telah diterjemahkan dalam 3 bahasa. Yaitu bahasa Belanda, Inggris dan Jerman.
Buku-buku tersebut adalah buku-buku yang telah disepakati untuk dibeli hak ciptanya—copyright—dari penulis yang telah terikat kontrak dengan Gama Pustaka.
Dari buku anak-anak ada 50 judul. Buku kuliner 35 judul. Bahkan HPG telah mengajukan kembali kerja sama untuk mengakuisisi beberapa buku non fiksi.
“Bulan depan kita akan ikutkan ke London Book Fair,” kata Dennis.
Tentu ia bangga. Buku-buku dari Indonesia beredar di mancanegara. Ikut bersanding dengan buku-buku dari negara lain. Menambah pamor literasi dan sastra di mata dunia. Ini pencapaian luar biasa.
“Kita juga akan memberikan tiket bagi penulis best seller untuk ke London Book Fair,” imbuh Dennis.
Dari pihak Gama Pustaka juga menyerahkan 15 buku hasil beli rights dari penerbit Holland untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Ia dan Elena berdiri. Saling menjabat tangan. Bertukar buku. Simbolis. Lalu berdiri berdampingan memegang buku untuk didokumentasikan.
“Thank you.” Ia dan Elena berucap bersamaan. Saling melempar senyum.
“Nanti malam kami mengundang Anda untuk merayakan kerja sama ini,” tukas Elena.
“Terima kasih atas undangannya.”
“Skybar Jakarta Hotel,” pungkas Elena. Pamit padanya. “Don’t miss it, please!” mengacungkan telunjuknya sambil berlalu.
Dennis menyerahkan id card padanya. “For you,” ujarnya.
Ia menerima, “Dank u.” Suatu kehormatan ia mendapat undangan sekaligus tiket masuk untuk melihat Amsterdam International Antiquarian Book Fair esok hari.
Menuruni tangga. Hendak keluar kantor Holland tanpa dinyana ia berpapasan dengan Masala.
“Maya, kamu—”
“Hai, Mas,” sapanya.
“Kamu—”
“Ada kerjaan di sini,” sahutnya.
“Oke ...oke. tunggu di sini sebentar. Janji hanya sebentar. Aku harus menyerahkan ini.” Masala mengangkat sebuah kantung. Baru 2 anak tangga kakinya berhenti. Memutar tubuhnya, “May,” panggilnya.
Ia yang baru tiba di anak tangga terakhir menoleh ke belakang.
“Please, tunggu aku.”
Ia mengangguk dan tersenyum. Menunjuk kursi kosong yang digunakan untuk menerima tamu.
Dengan cepat Masala memutar tumitnya. Melangkah setengah berlari. Bahkan dengan jangkauan 2 anak tangga sekali jalan.
Sementara ia duduk. Mengeluarkan ponselnya dari tas. Mengirimkan pesan pada Dirk. Membuka media sosialnya. Memilih beberapa foto untuk di-post ke dalam Instagramnya.
Sejak kedatangannya di Belanda ia belum sekalipun mem-post foto-fotonya. Terakhir hanya saat kedatangannya di Schiphol Airport.
“Sorry ... sorry lama,” tukas Masala dengan napas terengah-engah. “Sejak kapan tiba di sini?”
Ia berdiri. “Udah 4 hari yang lalu.”
Masala tampak kecewa. “Kalau pintu balikan sudah tertutup, setidaknya kita masih bisa berteman.”
Bibirnya tertarik ke atas. “Selama 4 hari padat jadwalnya. Dua hari kemarin juga bolak balik ke Den Haag. Sorry,” paparnya.
“Padahal aku tinggal di Utrecth. 26 menit juga sampai ke Amsterdam naik kereta,” protes Masala. Tak terima dirinya tidak mengabari kedatangannya.
Mereka berjalan kaki beriringan.
“Kamu tinggal di mana, May?” tanya Masala.
“Jakarta Hotel.”
Langkah Masala terhenti. “Sampai kapan?” lekas menyusul wanita yang masih tertinggal di hatinya tersebut.
“Mungkin 2-3 hari lagi.”
Masala berdecak. “Aku pernah bekerja di sana. Setelah itu aku pindah ke Utrecth,” terangnya. Mereka tiba di halte trem. “Kali ini aku yang traktir, please ....”
Ia menggeleng seraya tersenyum. Lalu menaiki trem. Masala tampak melekatkan 2 chipcard pada mesin pembaca tiket.
“Aku punya 2,” ujar Masala sambil menunjukkan 2 kartu berwarna dominasi biru. Mampu menebak bahwa ia tak mengantongi kartu tersebut. Tak butuh lama karena memang jarak kantor Holland dengan pusat kota dekat. Trem yang mereka naiki berhenti di halte tujuan. Masala kembali terlihat menempelkan 2 kartu ke mesin.
“Kamu lapar, May?” waktu makan siang telah lewat. “Aku punya tempat yang enak, kamu pasti suka,” imbuhnya. Ia mengajak Sasmaya ke sebuah kafe. Tempat favoritnya.
Memasuki kafe Masala membukakan pintu. Menyilakannya untuk masuk terlebih dahulu.
Ia memesan, “Mango smoothies.” Lalu melihat menu makanan yang hanya terlihat tulisannya saja, “zeeland mussels.”
Masala menggeleng. “Itu dari kerang. Nanti alergi kamu kambuh.”
Tatapannya kembali pada daftar menu. Sebagian besar tulisannya banyak yang tak dimengertinya. Berbahasa Belanda.
“Aku pesankan yang menjadi hidangan istimewa di sini,” sergah Masala. Karena wanita di depannya itu sepertinya bingung. Masala lantas menyebut menu spesial yang direkomendasikan.
Sasmaya tersenyum kala pelayan kafe meninggalkan mereka.
"Terima kasih. Ternyata kamu masih ingat aku alergi kerang.”
“Aku bahkan ingat apa yang kamu suka dan gak kamu suka.”
“Tapi mungkin sudah bergeser sedikit. Karena aku harus mengikuti zaman.”
“Itu artinya terpaksa,” sanggah Masala. Minuman mereka datang.
“Banyak tempat di sini yang bisa kamu datangi,” usul Masala. “Yang gak ada di Jakarta.”
Ia terkekeh. “Semua gak ada di Jakarta. Jadi apa semua harus aku datangi.”
“Aku siap jadi tour guide kamu, May.” Masala menegak minumannya.
“Kamu gak kerja?” tanyanya. Ikut menyeruput minumannya dari sedotan.
“Aku kerja di hotel. Salah satu hotel terbesar di Utrecth. Hari ini aku sengaja cuti untuk menyerahkan beberapa naskah pada Holland Publishing.”
“Kamu kerja di Holland juga?”
Masala menggeleng. “Literary agent.”
Ia menggeleng sambil menunjuk Masala. “Ini nih, pesaing editor,” ketusnya berpura-pura. Sudah menjadi rahasia umum editor dan literary agent bersaing mencari pengarang yang berbakat. Ya, tidak bisa disalahkan juga jika seorang literary agent lebih dahulu menemukan pengarang yang berbakat. Sebab dewasa ini banyak acara atau pertemuan yang menyangkut perlombaan jurnal sastra, pembacaan puisi atau cerpen, perkumpulan pengarang dan lain sebagainya dihadiri seorang literary agent.
Laki-laki yang duduk di depannya tertawa menang. Bertepatan pelayan datang membawa pesanan mereka.
Rasanya hubungannya dengan Masala lebih baik seperti ini. Tanpa mengungkit masa lalu mereka. Tanpa meminta harapan di masa depan. Dan memulai untuk pertemanan.
Sebelum pulang, Masala mengajaknya ke Central Station. Pusat stasiun terbesar di Belanda. Hingga akhirnya mereka berpisah di depan lobi hotel. Ia beralasan malam ini akan menghadiri undangan dari Holland Publisher.
“Sebelum pulang ke Jakarta, aku harap kita masih bisa bertemu, Sas,” pinta Masala. “Dan aku pasti datang jika diminta menemanimu menghabiskan sisa hari di Amsterdam,” sambungnya.
Sasmaya tersenyum. “Thanks, Mas. Terima kasih untuk hari ini,” balasnya.
...***...
Pukul 7.30 malam waktu setempat, Sasmaya telah mengenakan potongan rok pensil polos di bawah lutut. Dengan atasan blouse klasik berpita di area krahnya.
Dandanannya simpel sheer converage. Ringan, tidak mencolok, hampir mirip dengan kulit aslinya. Namun lebih teroles dan kelihatan lebih segar.
Sementara Gama.
Laki-laki itu hanya mengiriminya pesan di saat malam hari. Pernah dua kali di pagi hari. Yang artinya saat dia mengirim pesan Gama belum tidur. Padahal di Jakarta dini hari. Atau bahkan jelang pagi.
Telepon.
Sekali.
Video call.
Apa lagi. Tidak pernah.
Ia tidak mau berharap tinggi. Meski hatinya menginginkan. Bukankah ia berharap hubungannya sebuah partnership? Menaruh kepercayaan pada laki-laki itu. Apa pun nantinya yang harus dihadapi.
Ya, walau seonggok daging yang bercokol di tubuhnya bernama hati itu merasa kecewa. Tapi tak lantas ia merana. Karena ia yakin Gama punya perhatian untuknya. Artinya laki-laki itu peduli. Biarpun dengan cara ya ... yang aneh. Yang ia tak mengerti. Terkadang malah berlebihan.
Tiba di lantai 8 skybar ia langsung disambut oleh Dennis. Ia pikir akan banyak orang. Nyatanya mereka hanya bertiga. Dirinya, Dennis dan Elena.
Dennis menggeret kursi untuknya. Lalu pergi meninggalkan mereka.
“Maaf ... Dennis,” ujarnya sedikit bingung. Menatap kepergian sang manajer Holland Publisher. Mengapa Dennis pergi setelah menyambut kedatangannya. Bukankah ...
Elena menuang minuman ke dalam dua gelas kecil. Menyodorkan 1 ke arahnya. “Untuk kesuksesan kita,” ujarnya sambil mengangkat gelas tersebut. Meneguk dengan sekali saja.
Ia ragu. Sebab tahu minuman apa yang disodorkan Elena untuknya. “Boleh aku pesan yang lain?”
Wanita cantik di depannya ini menjentikkan jarinya. Lantas seorang pelayan datang.
“Orange juice,” sebutnya.
Pelayan terdiam sesaat. Lalu menggeleng.
“Coca cola,” sebutnya lagi.
Pelayan itu menggeleng lagi. Sementara Elena telah meneguk gelasnya yang kedua kali.
“Mocktail,” putusnya. Kebangetan jika minuman ini juga tidak ada. Atau ia yang salah berada di tempat ini.
Lagi untuk kesekian kali pelayan tersebut menggeleng. Lalu menyebutkan minuman yang ada di skybar. Berbagai cocktail serta minuman beralkohol.
“Cocktail the joker,” tandas Elena. "Minuman terfavorit di sini."
Ia pasrah.
Pengunjung skybar mulai ramai. Ia bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar. Sungai IJ sekaligus kota Amsterdam.
“Terima kasih telah datang, Sas,” ucap Elena. Wanita itu menjedanya sejenak. Sebab pelayan datang membawa pesanan makan mereka. “Steak terenak di sini. Silakan ....”
“Terima kasih,” balasnya. Tak lama pelayan datang membawa pesanan koktailnya.
Keduanya menikmati makan malam mereka. Tanpa ada yang menyela berbicara. Hingga Elena menghabiskan makan malamnya terlebih dahulu baru berkata, “Aku sudah menemukan jawaban kenapa hotel ini dijual?”
Ungkapan Elena lebih menarik perhatiannya. Sehingga ia menghentikan pisau dan garpu sejenak beradu.
“Mister Sofyan ingin A kembali ke Indonesia. Dengan menjual hotel ini.” Elena menggoyang-goyang gelas kecilnya. “Semua ini pasti berkaitan dengan hubungan kami.” Menegak minumannya.
Ia ikut menyudahi makannya. Memilih gelas berisi air mineral untuk diminumnya.
Elena tertawa sumbang. “Pria Indonesia yang sampai sekarang masih sulit untuk dilupakan. Hubungan kami hanya 3 tahun. Tapi aku rasa dia pria yang bisa mengubah banyak hal dalam diriku. Meskipun aku tahu, banyak wanita yang pernah dekat dengannya.
“Kami hidup bersama layaknya pasangan yang normal. Melakukan hal-hal yang disukai bersama. Road trip ke Belgia, Jerman, Swiss, Paris. Ya ... sebagaimana pasangan semestinya.”
Ia susah payah untuk sekedar ingin membasahi tenggorokannya. Bahkan pelupuk matanya seperti terganjal tembok cair yang mungkin kalau ia mengedip sedikit saja akan tumpah ruah.
“Bahkan, aku berharap hamil anak dia. Tapi ternyata A tak menginginkan anak dari aku.”
Ungkapan. Curahan. Berderet kalimat Elena yang membuatnya tak bisa lagi untuk tetap bertahan duduk satu meja dengan wanita itu.
Bagaimana Elena mencintai A. Rela meninggalkan Belanda jika ia diminta tinggal di Indonesia. Sayangnya, sepertinya Sofyan Putra dan istrinya tidak merestui hubungan mereka.
Karena Elena dan A tidak terikat pernikahan. Dan keduanya sepakat tidak akan menikah.
Ia menembus dinginnya udara malam. Mengayuh sepedanya penuh emosi. Air matanya tak terbendung lagi. Berguguran bak peluhnya yang mengalir di sela-sela pakaian.
Usapan kasar di pipinya berulang kali dilakukan. Ia sesenggukan.
Mungkin semesta sedikit berkasihan padanya. Pertemuannya dengan Elena lekas diakhiri. Wanita itu mendapat telepon dari sahabatnya. Yang kedengarannya penting, sehingga Elena harus segera pergi.
Sementara dirinya.
Ia memilih pergi keluar hotel. Tak tahu tujuan. Hanya ingin menghilangkan tumpat di dada.
“Dirk, aku di Red Light District,” ucapnya melalui telepon. Dengan napas tergesa-gesa.
-
Happy weekend ....
Terima kasih buat temen-temen yang masih setia sama Sasmaya. Semoga masih terus menikmati hingga akhir cerita. Mohon maaf bila tak sempat menyapa satu per satu. In sya Allah diusahakan untuk membalas like komentar temen-temen.
Sekali lagi terima kasih buat dukungannya...
Salam 😘