BLIND DATE

BLIND DATE
70. Uncontrolled



...70. Uncontrolled...


Melalui interkom Sasmaya dipanggil Affan ke ruangannya saat itu juga. Dengan sigap ia menghadap atasannya tersebut.


“Duduk, Sas.” Affan menyilakannya untuk duduk di kursi kantilever. Tepat di depan mejanya. Berhadap-hadapan.


“Selamat. Penulisanmu telah rampung. Beberapa buku sudah dikirim ke sahabat dan kolega papa yang akan memberikan preface.” Affan berujar sambil menerbitkan senyum. “Untuk cetakan perdana kita akan membuatnya 4500 eksemplar. Bagaimana menurutmu?”


Sebelum menjawab, ia mengawali dengan senyuman. “Tiras 4500 eksemplar masih standar cetakan pertama di GPP. Saya rasa itu jumlah yang tepat. O, ya ... kemarin saya menghubungi Pak Murgi, sahabat beliau, sekaligus ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Beliau berkenan memberikan kata pengantar, setelah beliau selesai membaca bukunya. Dan saya mengusulkan—”


“Aku sudah menentukan siapa selanjutnya yang akan memberikan preface Sas.” Affan menyergah cepat.


Sasmaya mengangguk. Ada 1 orang lagi yang pantas dan tepat memberikan kata pengantar. Namun ... ia belum sempat menghubungi orang tersebut. Dikarenakan kesibukannya sebagai pejabat pemerintahan.


“Siapkan dirimu akhir pekan depan. Kita akan melakukan press release  peluncuran buku.”


...***...


“Gimana?” tanya Sinta. Sahabatnya itu rela menunda kepulangannya demi mendengar hasil interview yang diumumkan hari ini.


Jujur, ia sendiri tidak mau berekspektasi tinggi. Bukan ia tidak percaya diri. Akan tetapi kegagalan pernikahannya itu membuatnya sadar. Bahwa apa yang diinginkan, apa yang menjadi tujuan tidak selalu dapat terwujud sesuai harapan.


Tidak ingin mengulang yang sama. Kini Sasmaya tidak mau menggantungkan sesuatu pada hal lain yang belum tentu dapat memenuhi harapannya.


Ucapan mama tadi malam membuatnya merenung dalam.


“Lebih baik merelakan apa yang membuatmu sakit, Sas. Dari pada menahannya hingga kamu lupa bagaimana kamu bahagia.”


Mama benar. Merelakan kesakitan itu untuk pergi. Agar ia sendiri bisa merasakan bahagia. Ini sudah pernah dicobanya. Ketika ia melepas Masala. Melepas papa. Sudi kehilangan kesempatan menduduki managing editor di kantor cabang. Lalu saat ini ia harus menggagalkan pernikahannya sendiri. Takdir yang harus dihadapi dengan air mata. Dan mengikhlaskan dengan hati yang terluka.


Ya ... keputusan berat tapi harus dilakukannya.


“E, malah melamun!” sentak Sinta.


“Gue ... udah memutuskan untuk ... untuk mengakhiri hubungan gue sama dia, Sin.”


“Wait ... wait ... wait.” Sinta menyelipkan rambut ke belakang telinga. Memastikan kalimat sahabatnya yang masuk tertangkap indra pendengarannya tidak salah. Kenapa topik pembicaraan justru beralih pada ‘dia’? Dia yang dimaksud di sini pasti bukan tentang pekerjaan. Melainkan Gama. Siapa lagi. “Maksud lo?” sambungnya meyakinkan.


“Setelah tadi malam gue melihat reaksi mama terhadap Gama. Mama hanya bilang ke gue: Lebih baik merelakan apa yang membuatmu sakit. Dari pada menahannya hingga kamu lupa bagaimana kamu bahagia ....” Ia mengulang ucapan Ranti.


Sinta berdiri menghampirinya. Duduk di sebelahnya. “Lo beneran mau mengakhiri hubungan kalian? Bukankah akhir-akhir ini lo bareng sama dia. Membantunya untuk menjalani terapi?” tak mengerti dengan keputusan yang diambil Sasmaya. Ia pikir hubungan Sasmaya dan pewaris Hotel Zoon tersebut akan berakhir di pelaminan. Kembali berbaikan. Masalah itu terpecahkan setelah Pak Gama sembuh dari trauma.


Ia menggeleng. “Gak sesimpel yang lo bayangkan, Sin. Mama gak merestui. Dan ... gue gak ingin mengecewakannya.”


Desakkan napas Sinta mengudara.


“Ya, lo ...,”


“Gue sudah coba menjelaskan pada mama. Tanggapan mama masih sama. Mama terlanjur kecewa, marah dan ... gak percaya,” potongnya. Tidak ingin berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Tadi malam ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Gama. Di hadapan Ranti. Walau berat, tapi ia tidak bisa membiarkan dalam kondisi seperti ini. Begitu juga mama dan keluarganya, yang menunggu keputusannya.


Ibu satu anak tersebut menatapnya, bertanya menyelisik, “Lo, benar-benar yakin?”


Hening. Dalam hitungan detik mata bermanik cokelat gelap itu tak berkedip. Lalu mengangguk. Bersamaan desakan cairan yang memenuhi kelopak matanya.


Sinta merengkuhnya. “Kalau lo udah yakin dengan keputusan lo itu, gue gak bisa apa-apa.” Kendati sebenarnya ia kurang setuju dengan keputusan itu. Ia bisa merasakan bahwa Sasmaya masih mencintai Pak Gama. Begitu juga sebaliknya. Tapi kembali lagi, jika restu orangtua adalah hal utama. Sasmaya tidak mungkin membantah. Apalagi menambah daftar kecewa mamanya.


Pemberitahuan hasil interview kandidat editor in chief yang lolos tepat diumumkan pukul 17.00 WIB.


Seharusnya ini merupakan kabar yang membahagiakan. Menggembirakan. Sasmaya dinyatakan lulus dan menjadi editor in chief GPP. Namun nyatanya Sinta hanya mampu tersenyum kecut. Lantas menggaruk kepala. Bingung mengekspresikan suasana hatinya yang tengah dirundung perasaan senang sekaligus sedih.


Sementara Sasmaya menarik napas dalam. Hingga bahunya terangkat, berseru, “Let’s get home!”


Sepanjang perjalanan pulang ia menyandarkan kepala ke belakang. Mengatupkan kelopak mata.


Dalam kehidupannya, ada hal-hal yang bisa dikontrol. Akan tetapi ada hal lain yang mendasar yang tidak bisa dikontrolnya. Yaitu restu Ranti.


Bagaimanapun, mama lebih berharga dari segalanya. Tanpa mama ia bukan Sasmaya seperti sekarang ini. Bukan apa-apa.


Tiba di rumah, ia dibuat terkejut ketika sebuah kue tart berukuran medium terletak di meja mini bar. Dilengkapi buket bunga berserta kartu ucapan.


...‘Mama yakin kamu pasti bisa. Selamat Sas ...’...


...—Love U—...


Entah dari mana mama mengetahui dirinya lulus interview. Bahkan hasil pengumuman tersebut baru dirilis 3 jam yang lalu. Sejauh ini baru Sinta yang mengetahui. Mungkin juga beberapa staf HRD.


Mungkin kah firasat mama begitu kuat. Sehingga mama begitu yakin. Tangannya meraih ponselnya dalam tas. Setelah terdengar bunyi pesan masuk.


Mama : Mama pulang ke Kemuning. Eyang sakit.


Ia menggigit bibir bawahnya. Semburat senyum berganti kekhawatiran akan kondisi eyang.


^^^Sasmaya : Bagaimana kondisi eyang, Ma?^^^


Tidak menunggu lama pesannya terbalas.


Mama : Belum tahu. Mama masih di jalan menuju Kemuning. Tadi ambil penerbangan jam 18.15. Kata Tirto sekarang masih di RS. Nanti Mama kabari kondisi eyang kalau sudah sampai.


^^^Sasmaya : Ok. Mama hati-hati di jalan.^^^


^^^Sasmaya : BTW ... terima kasih, Ma 😊. Berkat doa Mama, Sas lulus.^^^


Tak ada balasan lagi dari Ranti. Ia menyimpan ponsel tak jauh dari kue. Mencicip kue dengan menyoleknya. Enak. Kue tart yang paling favorit dan rekomendasi dari Moeder.


Layar ponselnya berpendar. Disertai dering khas sebuah pesan masuk.


Laki-laki itu ia yakini mengetahui kelulusannya dari Affan. Tak berniat membalas, Sasmaya memilih keluar dari aplikasi chatting. Menyimpan ponsel dalam tas. Ia bangkit seraya mengaitkan tasnya ke bahu. Melangkah menuju kamarnya di lantai 2.


...***...


Hari-hari penghabisan sebelum peluncuran buku membuatnya tenggelam dalam kesibukan. Berangkat pagi. Tiba di rumah selalu malam.


Tidak pernah bertemu Susi. Yang selalu meninggalkan catatan di meja makan. Menanyakan apakah dirinya perlu dimasakkan. Atau suatu waktu bertanya, apa dirinya menginap di rumah bersama Gama? Biar Susi menyiapkan kamar untuknya.


Ia pernah membalas dengan meninggalkan catatan berisi : Gak perlu Sus. Aku gak makan di rumah.


Setelah itu ia tak pernah membalas lagi pesan asisten rumah tangganya tersebut. Bisa jadi mungkin karena Susi menemukan baju kotornya, sehingga mengira ia menginap di rumah.


Padahal memang kenyataan, ia tinggal di rumah mama. Sejak beberapa hari yang lalu. Tanpa Gama.


Orang-orang terdekat mama mengira ia dan Gama telah menikah. Rasanya ia merasa bersalah. Atas kesimpangsiuran ini. Tapi ia belum siap, untuk menjelaskan pada mereka bahwasanya ia dan Gama belum menikah. Lebih tepatnya tidak akan terjadi pernikahan.


Alasan Susi meninggalkan pesan mungkin karena ia tidak membalas pesan singkat ART-nya tersebut.


Sebenarnya tidak hanya dari Susi. Pesan Gama juga ia abaikan.


Laki-laki itu memberitahukan jika tengah berada di Kemuning. Namun akan hadir saat peluncuran buku.


Pernah satu waktu Gama mengajaknya bertemu. Tapi ia beralasan tidak ada waktu.


Sasmaya menyapu wajahnya dengan air dingin. Menatap di depan cermin. Esok hari adalah press realese peluncuran buku biografi Sofyan Putra.


Undangan telah disebar. Waktu telah ditentukan. Bertepatan dengan ulang tahun tokoh utama. Bertempat di salah satu ruang pertemuan Hotel Zoon. Mau tak mau ia akan bertemu dengan laki-laki itu. Inilah hal yang tak bisa dikontrolnya.


Namun ia berjanji. Setelah ini, ia akan menyelesaikan semuanya. Tentang hubungannya. Tentang masa depan mereka.


Suara nyaring dering ponselnya membuat Sasmaya melongok. Nama Gama berpendar di layar.


Ia menyambar handuk. Mengeringkan wajahnya yang basah.


Ini sudah malam. Mengapa laki-laki itu menghubunginya. Enggan menjawab, ia memilih tak memedulikan.


Dering pertama terhenti. Namun baru beberapa detik. Layar masih menyala, dering kedua mulai memanggil kembali.


Lagi-lagi nama Gama mengisi layar ponselnya.


Berdesah berat. Duduk di pinggir ranjang sambil menatap layar benda pintar yang masih menampilkan nama laki-laki itu.


Disangkanya Gama tidak akan menghubunginya lagi, alih-alih layar yang baru saja gelap kembali terang karena panggilan Gama masuk untuk ketiga kalinya.


Pada panggilan ke-5 yang tak terjawab. Gama mengiriminya pesan.


...***...


Gama : Aku di depan rumah.


Ada perubahan yang signifikan ditunjukkan Sasmaya kepadanya. Satu di antaranya tentu wanita itu terkesan menghindarinya. Menjauhinya.


Bagaimana Sasmaya bisa 100% berubah terhadapnya?


Perasaan takut kehilangan menghinggap. Menemui Sasmaya. Melihat sosok yang sangat dirindukan adalah cara paling ampuh untuk mengusir kegalauan dalam hatinya.


Sampai di Jakarta malam. Ia bahkan menyuruh Dani agar menumpang taksi untuk pulang sendirian. Demi langsung menemui Sasmaya di kediamannya.


Beralasan menemui dan menemani calon istrinya yang tinggal sendirian, ia membeberkan dalih tersebut ketika petugas keamanan kompleks menyapanya saat patroli.


“Saya tunggu di teras rumah saja, Pak. Tidak akan masuk,” tukasnya pada petugas keamanan yang pernah mencurigainya.


Duduk di bangku teras. Menyilangkan tangan di depan dada. Menahan dingin udara malam. Berharap wanita yang ditunggunya segera datang.


Dua jam berlalu. Ia ketiduran menunggu. Terbangun akibat dering bel sepeda dari patroli jaga.


“Pulang saja, Mas. Mbak Sasmaya aman. Nanti kalau ada apa-apa, kami yang tanggungjawabi.” Petugas keamanan itu menyeru. Menghentikan laju sepeda.


Gama bangkit. Mendekatinya. Menyodorkan satu bungkus rokok pada petugas tersebut. “Boleh saya menunggunya di dalam mobil saja, Pak? Besok pagi saat Sasmaya terbangun. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Tidak bisa menunggu sampai di kantor,” ujarnya.


Kegigihannya sepertinya membuahkan hasil. Petugas keamanan kompleks menerima rokok yang diberikannya. Terpaksa berkata, “Baiklah ... yang penting tidak membuat keributan di sini.”


Ia tersenyum. “Terima kasih, Pak.” Menengadah. Melihat jendela kamar yang terlihat temaram. Sementara yang lainnya gelap tanpa pencahayaan.


Cukup lama ia berdiri menyadar badan mobil. Membakar ujung rokok. Menghisapnya dalam. Mengeluarkan perlahan. Berulang kali melihat ke atas jendela yang temaram. Berharap Sasmaya melihatnya. Mau menemuinya.


Puntung rokok itu belum seluruhnya habis. Ia melemparnya ke bawah. Menginjaknya. Hingga isi dalam bungkusan berwarna putih itu kocar-kacir. Hancur.


Mendongak sekali lagi. Lantas membuka pintu mobil. Sengaja duduk di sebelah kemudi  agar pandangannya tak terhalang oleh apa pun saat ia menengadah. Membuka kaca jendela hingga setengah.


“Good night.”