BLIND DATE

BLIND DATE
62. A Tragic Fate



...62. A Tragic Fate...


Tiba di Jakarta hari telah berganti. Ia meminta sopir taksi untuk menurunkannya di salah satu gedung pencakar langit.


Sepi.


Langkahnya terus terayun sesuai hati. Menuju unit apartemennya yang berada di ketinggian lantai dua puluh lima.


Tiba di sana ia baru menyadari ketika ia memasukkan kunci beberapa kali, kunci yang dimasukkan ke dalam tempatnya tak sesuai. Sehingga membuatnya mengerutkan dahi.


Sasmaya mundur selangkah. Menatap pintu unitnya yang terlihat berubah warna dan bentuk.


Sejak kapan pihak pengelola gedung mengubah pintu unitnya? Kenapa tidak ada konfirmasi terlebih dahulu kepadanya—sebagai pemilik yang sah.


Ia mengusap kening. Terpaksa harus kembali ke lobi untuk meminta penjelasan pada pihak-pihak pengelola apartemen.


Di lobi hanya terlihat 2 orang petugas keamanan. Ia menghampirinya. Menunjukkan tanda pengenal dan kartu akses gedung. Menanyakan mengapa pintu unit miliknya berganti tanpa sepengetahuannya. Bahkan tadi sempat membandingkan dengan unit lain masih 1 lantai yang sama. Ternyata unit yang lain masih memakai pintu asli bawaan lama.


Artinya, hanya pintu unitnya saja yang diperbaharui. Lantas, kenapa pihak pengelola mengganti tanpa seizinnya. Dan pemberitahuan sebelumnya.


“Mengenai itu saya tidak tahu, Bu.” petugas itu menatap temannya yang berdiri di sebelahnya. Dan respons petugas satunya juga menggeleng.


“Terus saya gak bisa masuk dong!” tukasnya kecewa mendengar jawaban mereka yang tak memuaskan.


“Nanti kami tanyakan pada pihak manajemen. Kalau sekarang ...,” petugas tersebut melihat jam tangan di lengannya. Pukul 4 pagi. “Pasti tidak akan diangkat kalau kami meneleponnya.”


Sasmaya berdesah. Pupus sudah keinginannya untuk tinggal sementara di apartemen. Sedangkan tidak ada tempat lainnya yang dipunyai selain apartemen ini.


Mau tidak mau. Ia memutar tumit terpaksa meninggalkan apartemen dan kembali pulang ke rumah. Namun baru beberapa langkah petugas tadi menyergah.


“Ibu Sasmaya!”


Ia menoleh.


“Saya lupa, kalau ada pesan dari Pak Rudi. Jika Bu Sasmaya mau masuk unit, kuncinya dititipkan di sini.” Pak Rudi adalah building manager. Petugas tadi mendekat dan menyerahkan sebuah kartu akses. “Kalau soal penggantian itu saya memang tidak tahu. Hanya dapat amanah menyerahkan kunci saja,” tambahnya.


“Baiklah. Saya terima. Tapi saya juga butuh keterangan atas penggantian pintu unit saya.”


“Baik, Bu. Nanti kami sampaikan pada Pak Rudi. Agar cepat ditindaklanjuti.”


Ia lekas meninggalkan lobi. Kembali ke unitnya. Kendati dalam benak, ingin secepatnya mendapat tanggapan dari manajemen apartemen. Tapi mengingat waktu yang tidak memungkinkan, sementara ia kesampingkan. Saat ini, ia hanya ingin mengistirahatkan hati, pikiran dan tubuh yang sangat lelah.


Selama perjalanan menggunakan kereta api dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Pasar Senen, Sasmaya sama sekali tidak tidur. Meskipun kelopak matanya ia paksa mengatup. Malah pikirannya mengelana. Berkenaan dengan kegagalan pernikahannya.


Smartdoor lock itu terbuka kala ia menempelkan kartu akses yang diberikan petugas keamanan tadi. Tanpa curiga apa-apa. Ia bergegas masuk. Menyimpan koper sembarang. Melepas sepatu. Dan merebahkan tubuhnya telentang di atas kasur.


Akhirnya ... dengan mata terpejam ia bisa meluruskan punggungnya. Merentangkan kedua tangan. Menarik napas panjang. Mengeluarkannya perlahan. Sayangnya, lagi-lagi bayang laki-laki itu datang.


“Aku mulai tertarik sama kamu.”


“Justru aku mau booking untuk 1 bulan ke depan. 1 hari boleh dihitung 1 bulan, dengan syarat dan ketentuan. Kamu temani aku.”


“Sasmaya is my future wife.”


“Karena aku sayang kamu.”


Butir-butir cairan yang berasal dari sudut matanya terlepas.


“I can’t do it. Aku gak bisa menikahi Sasmaya. Aku tidak akan bisa menikah.”


Kelopak matanya terbuka seketika. Pandangannya kabur. Ia meringkuk. Mengubah posisinya.


“Ternyata setelah cinta itu hadir, tetap tidak bisa membuat kamu menikahiku,” ucapnya lirih dengan tetesan air mata yang kembali jatuh.


...***...


“Bagaimana kondisi Gama sekarang?” tanya Affan pada Lyvia. Psikiater yang buka praktik di kota Bandung itu datang karena panggilannya.


“Intensitas ketakutannya sedang meninggi,” sahut Lyvia. “Aku ikut prihatin. Pernikahannya terpaksa harus dibatalkan.”


“Aku pikir dengan terapi yang kamu lakukan selama ini, dia sudah sembuh.”


Lyvia berdecak, “Kamu pikir aku bisa sulap. Bim salabim ... langsung hilang dalam sekejap,” cibirnya.


Affan menipiskan bibir. Mengangkat bahu. “Siapa tahu.”


“Jika beberapa waktu lalu aku menyuruhnya untuk menulis hierarki ketakutannya dari skor 10 sampai dengan 100. Dia menuliskan angka 60 pada janji nikah sebagai pemicu ketakutan terbesarnya. Maka baru saja level rasa takutnya akan janji nikah meningkat menjadi 80. Itu artinya aku harus kembali melakukan terapi classical conditioning ke tahap sebelumnya. Sekarang ... kondisinya lebih tenang.”


“Apa dia menanyakan tentang Sasmaya?” tanya Affan.


“Dia akan sangat bersedih jika mengucap nama itu.”


Affan menarik napasnya. Lantas mengembuskan kentara.


...***...


Kepalanya masih terasa berat dan pening saat Sasmaya memaksa untuk bangun dari tidurnya. Dengan berat hati ia menyerat kakinya untuk masuk ke kamar mandi. Biarpun ia tahu. Hari ini ia masih akhir minggu.


Mendorong pintu kamar mandi. Lampu langsung menyala. Mencuci muka di wastafel. Menyambar handuk yang tersimpan rapi di rak kabinet samping cermin. Mengelap wajahnya perlahan. Sembari menatap wajahnya di sana.


Keningnya melipat.


Ekor matanya menyelidik sekitar. Sontak ia terkejut dan lekas memutar tubuhnya untuk memastikan pindaian indra penglihatannya tak salah.


Kenapa kamar mandinya berubah?


Pintu kaca tembus pandang. Dinding keramik berubah jadi abu muda. Senada dengan rak tempat menyimpan perlengkapan toiletries.


Ia kembali memutar tubuhnya.


Jika dulu tidak ada batas antara kloset dan shower. Sekarang ada sebuah partisi dari kaca. Dan ia baru menyadari bahwa pintu kamar mandinya juga berganti kaca.


Ia mengusap pintu tersebut. Keluar dari sana sambil menutupnya perlahan. Dibarengi dengan lampu padam.


Lantas kembali masuk. Lampu menyala seketika.


Indra penglihatannya menangkap sebuah remote control yang terletak di salah satu laci rak.


“Kamu tidak tahu caranya?”


Ia menekan tombol kuning. Seketika kaca menjadi buram. Ia menekan tombol lain. Lampu berubah menjadi redup. Kembali menekan tombol kuning. Kaca kembali tembus pandang.


Mengapa desain kamar mandinya mirip dengan kamar mandi laki-laki itu? Sejak kapan pihak manajemen mengganti semua fasilitas di unitnya?


Ternyata keterkejutan berikutnya adalah ketika ia keluar dari kamar mandi. Interior desain di mulai dari living room hingga ruang tidur, dapur mini, gorden, bahkan sofa, keseluruhannya berubah.


Ia bahkan harus memastikan untuk keluar kamar. Kalau-kalau dirinya salah masuk unit. Tetapi sesuai nomor yang tercantum di dinding dan seingatnya inilah unit apartemen yang berada di lantai dua puluh lima kepunyaannya. Tidak salah lagi.


Demi mengusik rasa penasaran dan pastinya kekecewaan. Ia pun menghubungi pihak manajemen pengelola apartemen.


Awalnya perwakilan pihak pengelola berpretensi bahwa ia mendapat hadiah sebagai kado pernikahan.


Namun ia membalas, “Sayang sekali, jika itu benar maka akan saya terima. Sayangnya, saya belum menikah. Dan tidak akan menikah dalam waktu dekat ini. Jadi saya tidak akan menerima kado tersebut. Jadi Bapak jangan mengada-ada.”


“Tapi, Mbak ... ini hadiah memang khusus untuk Mbak Sasmaya.”


“Maaf, saya tidak bisa menerimanya.”


“Tapi—”


Ia lekas memotong. “Saya bisa laporkan pihak pengelola gedung yang tidak profesional. Bahkan tanpa izin memasuki unit saya. Memperbaharui fasilitas di dalamnya secara diam-diam. Itu termasuk melanggar hukum,” ancamnya kesal.


Meski kini unitnya terlihat baru dan terkesan mewah, tetap saja ia tidak akan menerimanya.


Bagaimana jika orang yang mengatasnamakan hadiah tersebut punya niat terselubung? Money laundry, tipu muslihat, lalu ternyata hanya sebagai iklan agen properti.


“Pokoknya saya tidak mengizinkan. Saya merasa dirugikan,” putusnya tegas.


“Bentar-bentar, Mbak. Ini kebetulan Pak Rudi baru saja datang. Mungkin Pak Rudi bisa menjelaskan.”


“Saya tidak butuh kejelasan, jika pada akhirnya alasan dari pihak pengelola tidak masuk akal dan terkesan semena-mena.”


Suara dari seberang berganti. “Kami mohon maaf, Mbak sebelumnya atas ketidaknyamanan ini. Tapi kami melakukan ini karena permintaan seseorang.” Pak Rudi menjelaskan.”


Ia bertanya, “Seseorang?” keningnya mengerut.


“Iya, benar. Orang tersebut merenovasi unit atas nama Mbak Sasmaya katanya sebagai kado pernikahan.”


“Boleh saya tahu siapa, Pak?” tanyanya penasaran. Sebab hanya segelintir orang yang mengetahui rencana pernikahannya.


“Sebenarnya ... saya tidak boleh mengatakannya sekarang. Namun karena takut terjadi kesalahpahaman, baiklah ... saya akan mengatakannya.”


Ia menelinga.


“Namanya Gama Putra.”


Seusai menghubungi pihak pengelola. Ia mengambil gambar penampakan interior unitnya dari beberapa sudut. Lengkap. Mendetail. Kemudian mengirimkannya kepada seseorang lewat surat elektronik.


“Aku rasa desain interiornya perlu diganti dengan suasana baru.”


“Aku yang akan menanggung semua. Di mulai interior custom apartemen ini. Kebutuhan untuk pernikahan. Dan ... semua keperluan kamu. Itu semua tanggung jawabku.”


“Dan kamu tetap melakukannya. Meski aku bilang jangan. Curangnya kamu mendesainnya percis seperti kamar kamu,” ucapnya kesal sekaligus kecewa.


Apa-apa yang menyangkut laki-laki itu semakin melekat. Padahal awalnya ia ingin menenangkan diri di sini. Tanpa Gama maupun kenangannya.


Ponselnya berdering nyaring. Nama Sinta berpendar di layar.


“Sas ... lo di mana?”


Memang sejak kepergiannya kembali ke Jakarta ia sengaja mematikan ponselnya. Bahkan lupa memberitahukan pembatalan pernikahannya pada sahabatnya itu.


“Sorry, Sin. Gue ....”


“Gue udah di Kemuning. Dan lo di Jakarta. Tega, ya, lo. Kurang lebar apa coba bahu gue buat lo bersandar?”


Pasti sang mama dan eyangnya telah menceritakan kegagalan pernikahannya pada Sinta.


“Gue pagi-pagi ngejar pesawat biar cepat ke sini. Tapi justru lo ke Jakarta gak bilang-bilang ke gue. Semalaman ponsel lo susah dihubungi. Kurang jauh apa gue datang buat lo!”


Ia sengaja mematikan ponselnya. Tidak mau seorang pun menghubunginya.


“Sas ... gue mau nangis bareng lo. Gue ... gak mau nangis sendirian.” Sinta terisak-isak. “Gue ....” Jeda. Terdengar suara Lea, “Mama kok angis. Tante Sas napa?”


Ia ikut mengusap pipinya yang basah. Entah apa yang dibicarakan ibu dan anak itu di sana. Hanya terdengar, “Lea ikut ayah dulu ya, Mama mau bicara sama Tante Sas.”


Memilih membuka pintu balkon. Di sana terdapat ayunan minimalis. Ini juga pasti bagian dari renovasi dari laki-laki itu. Kalau begini, bukankah ia akan semakin sulit melupakannya. Merebahkan tubuhnya perlahan.


“Gue lagi di depan rumah eyang lo. Semua keluarga lo dan Pak Sofyan serta keluarganya juga lagi kumpul di sini. Dan lo di sana. Sendirian. Tanpa gue ....”


Harusnya hari ini akan menjadi hari bahagianya. Tragis, nasib pernikahannya harus kandas.


“Sas ... gue setuju dengan keputusan lo. Menundanya untuk kebaikan semua. Kebaikan dia. Kebaikan lo juga. Jika hari ini harus ditunda, gue yakin suatu saat Pak Gama datang dengan sendirinya. Tanpa embel-embel perjodohan. Meminta lo.


“Gue yakin, Pak Gama butuh waktu. Butuh lo.”


Lengang. Ia sedari tadi hanya mendengar ocehan Sinta.


“Sas ....”


“Gue yang gak yakin, Sin.”