BLIND DATE

BLIND DATE
92. Rencana honeymoon



"Sayang, bangun !", grandma menepuk pipi mulus Adelia.


Gadis cantik itu masih terlelap. Damai sekali.


Grandma tersenyum, tahu kalau cucu menantunya itu baru saja memejamkan matanya.


Ngomong-ngomong, ternyata setelah semalam Kenan membuatkan makanan untuk Adelia dan keduanya makan dengan lahap, gadis cantik itu belum diijinkan kembali ke kamar menemani grandma.


Kenapa lagi coba ? Suaminya meminta melakukan pertempuran itu lagi. Bergelut mesra. Di dapur. Huft .... menyebalkan sekali. Untung saja semua orang masih terlelap. Jadi tidak melihat ataupun mendengar pergumulan seru itu.


Belum puas juga, lelaki itu masih minta mengulangi lagi di kamar mandi, dalihnya mandi bersama.


Eehhh....ternyata menyemburkan lahar panas dan mengerang bersama. Dengan suara yang sangat berisik di kamar mandi.


Baru setelah itu Kenan membiarkan Adelia kembali menemani grandma.


"Aman, grandma masih lelap", itulah ucapan yang di dengar Grandma begitu gadis itu kembali ke kamarnya.


Waktu sudah menjelang pagi. Adelia kembali menarik selimut dan tidur di sebelah neneknya. Perempuan tua itu memgetahui karena diam-diam sudah terbangun. Membuka matanya sedikit untuk mengintip pergerakan cucu menantunya itu.


Setelah dirasa gadis cantik itu terlelap, grandma beranjak.


"Ken sangat nakal sama kamu, pretty girl ", lalu membenahi selimut Adelia dengan senyum tipis.


Sebentar kemudian melangkah menuju ke kamar mandi. Beberapa saat terdengar suara gemericik air.


Sementara gadis cantik di atas ranjang masih lelap. Senyum tipis menghasi bibir mungilnya.


*******


Di kamar Kenan.


"What's a matter, grandpa ? Ken masih ngantuk ", lelaki itu kembali menarik selimutnya. Bahkan menutupi bagian kepalanya.


Dengan cepat grandpa menarik selimut itu.


"Wake up, Ken !", lalu mengarahkan pukulan tangan ke tubuh Kenan. Sengaja untuk menguji ketajaman insting lelaki itu.


Pada saat yang sama, lelaki itu beralih posisi.


"Grandpa, please, Let me sleep !", Kenan memutar tubuhnya membelakangi arah grandpa, sehingga pukulan tangan lelaki tua itu mengenai ranjang saja.


"Wake up Ken, grandpa ajak kamu latihan ", ucap grandpa lagi. Lelaki itu sudah mengenakan pakaian olahraga lengkap dengan sepatu ketsnya.


Tidak ada sahutan. Grandpa lebih mendekat ke ranjang. Mengarahkan tangannya untuk memukul bahu Kenan.


Plakkkkkk ......


"C'mon, Ken. Your wife is waiting !", seru grandpa.


Spontan tubuh yang semula diam itu beranjak duduk.


"Where is my wife ?", memutar tubuhnya cepat ke arah grandpa. Mata hazel itu menyipit karena silau oleh pendaran mentari yang masuk dari jendela yang terbuka.


Kakek Kenan tergelak. Membuat mata lelaki tampan yang kini duduk di atas ranjang itu terbuka lebar.


"Sekali saja grandpa sebut istri kamu, bisa langsung semangat begitu ya ?", ledeknya.


Kenan berdecak. Kakeknya ini suka sekali mengerjainya. Tapi kenapa Kenan dengan bodohnya terperdaya. Tentu saja istrinya masih tidur sekarang. Pasti kecapekan karena ulahnya semalam. Hingga menjelang pagi. Kenan tersenyum mesum mengingat itu.


"Of course grandpa, I love her so much.....sooo much. You know grandpa, She always makes me on fire ", kekeh lelaki muda itu.


Lalu dengan cepat melompat dari ranjang. Rasa kantuknya sirna seketika saat yang menjadi topik pembicaraan adalah istrinya.


Kakeknya menggelengkan kepala dan tersenyum. Dalam hati ikut merasakan bahagia karena cucu lelaki satu-satunya sudah menemukan tambatan hatinya.


Dan yang pasti itu adalah perempuan baik-baik. Yang akan merubah cucunya menjadi lebih baik juga.


"Grandpa tunggu di tempat latihan ", grandpa tepuk bahu cucunya begitu lewat di depan tubuh jangkung itu.


Kenan mengangkat tangannya, menyatukan punggung tangan mereka.


"Okay, grandpa, I'll be there soon ", balas Kenan.


Lalu melangkah menuju ke kamar mandi.


"Sudah bangunkah kamu, my love ?", gumamnya seraya menyentuh sesuatu yang tiba-tiba menegang hanya dengan mengingat istrinya.


******


Mata cantik itu membeliak, ketika sebuah kepalan tangan berada tepat di depan wajahnya.


"Whoppps...", gadis itu menggulingkan tubuhnya ke samping.


Lalu dengan cepat tubuh itu beranjak, bangun dari baringnya.


Terdengar suara terkekeh geli.


"Emang nggak salah Kenan pilih istri ", ucapnya.


Adelia menoleh cepat.


"Grandma ?", serunya.


Kembali perempuan tua itu terkekeh.


"Just kidding, sweety !", katanya lagi.


Adelia menyibak selimutnya.


" Grandma udah bangun ? ", lalu turun dari ranjang.


"Refleks kamu hebat, darling. So great !", pujinya. Diusapnya lembut bahu gadis cantik itu.


Adelia tersenyum manis.


"So, will we try to fight ?", godanya dengan centil.


Grandma tersenyum.


"Good idea, sweety. Kamu mandi dulu, grandma tunggu di ruang latihan ", balasnya.


"Uhmm....okay grandma !", Adelia mengacungkan jempolnya.


"Hurry up honey, don't be late !", Grandma menyenggol lengan gadis cantik itu sebelum melangkah menuju pintu kamar.


Adelia mengangguki. Lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara begitu terdengar grandma berucap lagi.


"Your Ken is waiting ", spontan membuat bibir mungil itu tertarik ke samping. Lalu menepuki pipinya yang memerah. Kaki mungilnya kembali melangkah menuju kamar mandi.


***********


"Baby ....", gumam Kenan. Senyum tampan menghias bibirnya. Bersamaan dengan itu bibir mungil merekah dari arah yang berlawanan.


"Ken....", gumam perempuan cantik itu.


Pasangan pengantin baru itu saling melempar pandang dengan binar di mata mereka. Pandangan penuh cinta.


Kenan tidak menyangka, pun juga Adelia, kalau grandpa dan grandma merencanakan itu semua. Mempertemukan mereka dengan cara yang dramatis. Mirip adegan di sinetron atau telenovela. Secara setiap saat grandpa selalu mengerjainya. Tidak menyangka mempunyai rencana seperti itu.


Grandpa bilang menunggunya di ruang latihan. Ternyata merubah rencana dengan mengatakan pada asisten mansion kalau kakeknya ada di taman. Kenan tahu itu dari asisten mansion. Hal serupa juga dialami oleh Adelia.


Dannn....ternyata apa yang mereka temui di taman sekarang ? Tempat itu di hiasi bunga-bunga indah. Layaknya taman bunga. Bahkan ada rangkaian bunga yang di desaign dengan motif love.


Aishhh.....ulah siapa ini ? Pasti pasangan tu itu. Romantis juga. Batin Kenan.


Lelaki itu menggeleng dengan senyum geli.


Sementara di tengahnya terdapat meja jamuan besar. Dengan berbagai macam hidangan.


Kedua sejoli itu saling melangkah mendekat. Dan begitu jarak tubuh mereka semakin tipis, Kenan meraih tubuh mungil istrinya dan mengangkatnya tinggi.


"Kennn...!", pekik Adelia.


Lelaki tampan itu tergelak.


"Like in drama, baby. Do you love it ?", tanyanya. Kepalanya mendongak menatap istrinya dari bawah.


Masih mengangkat tubuh Adelia tinggi. Kedua tangan mungil gadis itu berpegang pada bahu Kenan. Bibir mungil itu tertawa geli.


"Are you kidding, Ken ? Of course, I love it ", balas perempuan cantik itu.


Tidak bisa menahan, perlahan Kenan sedikit menurunkan tubuh cantik itu, hingga sejajar dengan tinggi tubuhnya. Menggesekkan hidungnya ke hidung mancung istrinya. Lalu dengan cepat diraihnya bibir merah ranum itu. Menggulatnya mesra.


Tangan Adelia menggalung di leher kokoh lelaki itu. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah. Hingga tangan Kenan tepat dengan erat memeluk pinggang rampingnya.


Mereka saling berpagut mesra. Saling mengecap dan tersenyum bahagia di balik ciuman.


Hingga terdengar suara yang membuat mereka menjauhkan bibir mereka. Dengan tangan Kenan yang masih memeluk pinggang ramping Adelia, keduanya menoleh bersama.


"Ckckck....baru beberapa jam nggak ketemu. Bisa-bisanya, mesum begitu. Unbelieveable !", grandpa berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


Pipi Adelia merona. Sementara Kenan malah memicingkan mata.


"Apa sih grandpa ? Ganggu tahu ", kembali mengalihkan pandangan pada istrinya.


Adelia menatap lelaki itu penuh peringatan. Kenapa bisa berkata seperti itu pada orang tua ?


Kenan hanya tersenyum tak bersalah. Lalu secara mengejutkan Kenan berikan kecapan lembut di bibir mungil itu. Menahannya beberapa lama.


"Uhmm....Ken...", Adelia cubit pinggang lelaki itu dengan pipi yang merona. Gadis cantik itu tersipu. Suaminya ini sungguh tidak punya malu. Di hadapan grandpa dan grandma melakukan tindakan absurd seperti itu.


"Kenapa, sayang? nggak usah malu, grandpa sama grandma pasti ngerti ", dipeluknya tubuh cantik itu erat.


"Jangan samain kamu sama mantu cantik kita Ken .... ", sahut grandma.


"Yuk sarapan, habis itu berangkat !", ajak grandpa. Lalu menuntun grandma menuju ke meja jamuan.


Kenan dan Adelia saling pandang.


"Where's , baby ", lirih Kenan dengan kernyitan di dahi.


Adelia menggeleng perlahan. Bahunya terangkat. Matanya mengedip-ngedip lucu. Membuat bulu lentik itu bergerak menggemaskan.


Selalu membuat Kenan merasa terhipnotis saja. Tak lama kemudian lelaki itu tersenyum mesum.


"Great....we're free, baby. They must be back to Italy ", dengan suara sedikit berbisik. Tangannya menjawilnya hidung mancung istrinya.


Adelia memanyunkan bibir. Tangan mungilnya mengusap dan memukul manja dada lelakinya.


"Free for what, Ken ?", godanya dengan berbisik juga.


Adelia sebenarnya tahu ke mana arah pembicaraan lelaki yang sudah jadi suaminya itu. Tapi sepertinya terlalu berlebihan suaminya ini. Memang kalau ada kakek neneknya mereka tidak bebas, beberapa jam yang lalu lelaki itu berhasil mencuri kesempatan juga kan ?


Kenan terkekeh. Senyum mesum langsung muncul di bibir seksinya.


Hendak menjawab, tapi suara grandpa sudah menginterogasi.


"That's right. Kita akan balik ke Italy, bersama kalian berdua. For honeymoon ", sahutan grandpa dari meja makan.


"What's.....?", Kenan seketika menoleh ke arah dua orang tua itu dengan mata membulat.