
Yuri yang menabrak seseorang sampai ponselnya terjatuh, "jalan hati-hati donk. Gak lihat hp saya jatuh."
Yuri sambil mengomel karena ponselnya jatuh, lalu mengangkat kepalanya.
Steven yang melihat gadis ini lagi yang menabraknya merasa ini sebuah kebetulan. "Nona, saya rasa anda yang dari awal menabrak saya. Karena kita sudah tiga kali bertemu, dan anda yang selalu memulai menabrak saya, bukankah Anda hutang permintaan maaf kepada saya." Steven berkata dengan nada agak dingin.
Yuri yang mendengar kata-kata Steven merasa malu sendiri, dia kemudian berkata. " Saya minta maaf tuan. Kalau begitu saya pamit."
Steven yang melihat Yuri terburu-buru pergi, tidak ingin kehilangan kesempatan, dia menarik tangan Yuri, dia lalu berkata. "Tunggu dulu nona, nama saya Steven. Ini kartu nama saya, siapa tau anda ingin meminta maaf saya secara resmi. Silahkan hubungi saya langsung."
Steven memberikan kartu nama sambil tersenyum. Yuri yang melihat senyum Steven menjadi salah tingkah, karena memang dia yang salah. Lalu Yuri menerima kartu nama itu. "Baik tuan, kapan waktu saya akan menghubungi anda."
Yuri lalu pergi meninggalkan steven, mama ivana yang dari tadi mencari Yuri ingin melihat gambar foto bayi Ray dan Aera, tanpa sengaja melihat Yuri dan Steven yang sedang berpegangan tangan.
"Kamu dari mana saja Yuri?" Tanya mama penuh selidik.
Yuri yang baru tiba, duduk di sebelah mamanya. "Yuri tadi habis ambil gambar ponakan Yuri ma."
Mama senyum-senyum sendiri, ”kamu ambil foto baby atau kenalan sama cowok manis itu?"
Yuri yang sedang di goda oleh mamanya, lalu menjadi salah tingkah, "ishhh… mama, Yuri tidak kenalan ma. Tadi itu sebenarnya Yuri sudah nabrak cowok tadi tiga kali ma, hari ini. Pria itu mau meminta pertanggung jawaban dan permintaan maaf Yuri."
Mama terkejut mendengar penuturan Yuri, "hah? Kok bisa? Coba kamu ceritakan sama mama, mama mau dengar kronologi nya."
Yuri lalu menceritakan pada mamanya, "tadi ma, waktu Yuri dari mall ngejar jambret tas kak Aera, Yuri nabrak dia, terus tadi pas mau masuk ruangan kak Aera waktu panik mau melahirkan, dan terakhir tadi, waktu Yuri jalan sambil memegang ponsel." Kata Yuri malu-malu.
Mama hanya melongo Mendengar penjelasan Yuri. "Plakkk." Mama memukul lengan yuri.
"Apa sih mama ini, sakit ma."
Mama agak emosi mendengar cerita Yuri, "Apa kamu bilang, kenapa kamu biarkan kakak ipar kamu ngejar jambret? Kalau sampai dia kenapa-kenapa bagaimana?"
Yuri yang mendengar maksud mamanya juga sedikit menyesal, "iya ma, maafkan Yuri. Untung saja kak Aera dan baby tidak kenapa-kenapa." Yuri mengelus dadanya memikirkan hal tadi.
Tiba-tiba mood mama ivana berubah kembali, "ya sudah, kamu juga sudah tahu salah, nabrak orang malah nyolot gak mau minta maaf. lain waktu kamu ajak Steven makan malam di rumah kita, sebagai permintaan maaf kamu sudah nabrak orang."
"Ish mama, gak usah undang makan malam, nanti Yuri ajak di warung kopi aja. Yuri aja gak kenal sama dia." Kata Yuri menyanggah maksud mama ivana.
Mama lalu mendelik tidak ingin dibantah, "pokoknya mama mau kamu undang dia makan malam, jadi dia gak bisa macam-macam sama putri mama."
Yuri cemberut mendengar keinginan mamanya yang tidak bisa di bantah, "iya ma, iya.. kapan mama ada waktu buat makan malam bersama?" Yuri berkata sambil mencibirkan bibirnya.
”tunggu kakak ipar kamu keluar dari rumah sakit. Ingat, kamu jangan hilangkan kartu nama itu." Kata mama ivana, lalu masuk ke dalam ruang Aera di rawat, meninggalkan Yuri di ruang tunggu di depan seorang diri.
Di saat yang sama, Steven hanya tersenyum melihat apa yang terjadi hari ini. Dia berjalan keluar, ke parkiran rumah sakit. Lalu masuk ke mobilnya. Sebelum menyalakan mesin mobil, ponselnya berdering.
Ternyata yang menelpon adalah asistennya. " Tuan, data yang anda minta sudah saya dapat."
Steven tersenyum, dia lalu berkata, "jadi apa yang kamu telah dapat dari informasi yang kamu cari hari ini."
"Tuan pasti tidak akan pernah menyangka dan mengira, gadis itu namanya Yuri, dia baru lulus SMA. Dia adalah adik dari, pasti tuan akan shock dan kaget mendengarnya." Asistennya mencoba bermain teka-teki bersama tuannya.
"Hehehe, maaf tuan. Gadis itu namanya Yuri, dia adalah adik dari tuan Ray Anasrel, dia tadi di rumah sakit untuk menjenguk istri dari tuan ray, yaitu kakak iparnya yang sedang melahirkan." Asistennya mengambil nafas setelah berbicara panjang lebar mengenai informasi Yuri.
"Hhmmmm, adik dari Ray ya. Sangat menarik. Jadi Ray sudah menikah juga ya, kok tidak pernah terekspos. Coba kamu cari tahu lagi mengenai keluarga Ray." Kata Steven lagi.
Asistennya yang bingung lalu berkata, "buat apa tuan, apa tidak cukup adiknya saja. Kalau untuk tuan Ray agak sedikit sulit, karena penjagaan dia sangat susah. Dimana-mana ada bodyguard dia dan istrinya. Kalau saya perhatikan istrinya juga bukan wanita biasa."
Steven pun mulai menaikkan alisnya, "kamu pokoknya coba aja cari tahu dulu. Jangan bilang sulit dulu. Kasih tahu setiap apa yang kamu lakukan dan menemukan info baru."
Belum selesai asistennya menjawab, Steven sudah mematikan ponselnya.
"Ya, tuan. Saya belum selesai bicara. Sudah di matikan teleponnya." Kata asistennya lagi, lalu mulai mencari informasi mengenai Ray.
Di rumah sakit, Aera sudah mulai menggendong bayinya. Dia sangat senang dan terharu melihat bayinya mulai menyusu padanya. Ray yang melihat istrinya menitikkan air mata, lalu datang menghampiri.
"Kamu kenapa sayang? Apanya yang sakit"
Aera menggelengkan kepalanya, "tidak ada kak. Aera hanya merasa sangat bahagia, di hidup Aera sudah memiliki kak Ray, orang tua kak Ray, Yuri, orang tua Aera. Dan juga sekarang bayi kita kak. Aera sangat bersyukur sekali kak."
Air matanya terus mengalir, mungkin pengaruh sedikit baby blues membuatnya sangat sensitif.
Ray yang mendengar kata-kata istrinya juga lalu mulai menghapus air mata istrinya, dan memeluk serta mencium pucuk kepala istrinya.
"Aku juga sangat bersyukur mendapatkan kamu, dan mengambil keputusan yang tepat untuk menikahi dirimu. Coba bayangkan jika kita tidak bertemu di kencan buta itu. Mungkin kamu akan dengan yang lain, begitu juga aku."
"Tidak kak, karena kita sudah ditakdirkan bersama, makanya kita di persatukan. Aera sangat sayang kak Ray. Jangan tinggalkan Aera ya. Walau Aera nanti tidak semenarik waktu belum memiliki anak." Aera berkata masih dengan air mata yang mengalir.
Ray semakin tersentuh mendengar kata-kata istrinya, "tidak sayang, aku pastikan hatiku hanya punya kamu."
Mama ivana dan mama Mia, yang baru masuk kamar rumah sakit, terkejut melihat Aera penuh dengan air mata.
"Plakkk." Mama ivana memukul punggung Ray.
"Aduh, sakit ma.. apaan sih, main pukul aja." Ray yang dipukul tiba-tiba langsung marah ke mamanya.
Mama ivana merasa apa yang dia lakukan benar, "kamu apakan menantu mama, sampai dia nangis dan wajah cantiknya memerah."
Mama Mia juga menimpali. "Aera sayang, Ray sakiti kamu ya? Nanti pulang rumah sakit, kamu tinggal sama mama saja ya nak."
Ray yang panik lalu segera berkata, "mama, dan mama Mia, ini semua salah paham. Ray gak akan menyakiti Aera seujung jari pun."
Aera yang melihat hal itu lalu tersenyum. "Mama, mama ivana, kalian semua salah paham. Aera menangis, karena Aera merasa bahagia dan bersyukur memiliki kalian semua di hidup Aera. Jangan pisahkan Aera dan suami Aera ma."
Kemudian, mama ivana dan mama Mia lalu memeluk Aera dengan penuh sayang. ”makasih juga ya sayang, sudah hadir di keluarga kami. Kamu juga sudah memberikan cucu yang tampan dan sehat,"
happy reading all ❤️❤️
selalu syukuri saja yang kita miliki saat ini. maka kita akan selalu bahagia