
“Syukurlah bisa pas banget,” ucap Sasmaya. Mengancingkan kemeja di tubuh Gama yang dipesankan dari salah satu butik langganannya sendiri. Kali ini ia memilih butik yang bukan menjadi langganan keluarga mertuanya. “Padahal hanya pakai ukuran kemeja yang ada. Ya, aku sedikit tambah, sih, ukurannya. Karena Mas Gama kayaknya lagi banyak makan,” imbuhnya sambil terkekeh.
“Aku gendut?” tanya Gama. Keningnya mengerut. Baru kali ini ia mendengar Sasmaya memprotes kondisi tubuhnya. Sementara ia merasa tidak ada yang berubah. Olahraganya juga tak pernah absen.
“Dibilang gendut, mm ... gak juga, sih. Cuma aku perhatiin Mas Gama itu banyak makan.”
Gama tak percaya. Memutar tubuhnya menghadap cermin. Keseluruhan tubuhnya tampak jelas pada pantulan di depannya. “Gak, ah. Gini-gini, aja.” Ia merasa tidak ada perubahan pada tubuhnya secara signifikan. Lantas berdiri menyamping. Kembali lagi menghadap cermin. Menyamping membentuk sudut 45 derajat. Tak lama lurus lagi pada posisi awal. Ia bahkan harus menahan napas agar bisa melihat perubahan pada tubuhnya. Terutama pada perut.
“Udah ... udah, gak gendut kok. Kalau Mas Gama banyak makan, artinya lagi happy.” Ia menunduk melipat baju kemeja lama Gama yang dijadikan contoh ukuran di atas kasur. Baju model abaya miliknya sendiri telah jadi beberapa hari yang lalu. Awalnya bukan untuk acara tasyakuran kehamilannya. Namun ternyata baju tersebut bisa dipakai.
“Kamu suka aku yang dulu apa sekarang?” tanya Gama. Duduk di tepi kasur.
Ia berdiri. Menatap suaminya. Yang juga tengag menengadah menatapnya. “Berdiri, Mas,” pintanya.
Gama berdiri mengikuti instruksinya. Ia melepaskan kancing kemeja baru tersebut satu per satu dari atas. Yang modelnya menyesuaikan abaya miliknya.
“Aku lebih suka Mas Gama yang sekarang,” jawabnya.
“Benarkah?” senyum samar menghias di bibir Gama.
“Ya.” Kancing kemeja Gama telah terlepas semuanya. Tubuh atas Gama terekspose usai kemeja itu benar-benar tanggal.
Kemeja putih dalam genggamannya diambil Gama. Diletakkan Gama di atas kasur. Ia menatap Gama ketika kedua tangannya ditempelkan pada bidang dada milik suaminya.
“Kalau ini gimana?” tanya Gama mengarahkan gerakan tangan itu untuk meraba seluruh permukaan dada.
“Mas ... gak lucu, ah,” ucapnya. Ia geli melihat sikap Gama dan tentu merasa malu “Aku belum mandi,” imbuhnya beralasan.
“Aku gak nanya kamu mandi.”
“Ya, tapi ... aku bau asem, lengket ... habis dari pantai. Kena debu, kotor ...,” sergahnya tetap berusaha menghindar.
“Justru itu feromon buatku,” bisik Gama mulai usil.
Ia sedikit membelalakkan mata. “Hah!” Dari mana kata feromon itu muncul di saat ia justru merasa kurang bersih. Bahkan ia sendiri kurang nyaman dengan baunya. Setahunya feromon itu zat kimia yang bisa diproduksi sebagai parfum. Yang salah satunya untuk merangsang ... mm ... mmm
Gama kembali menarik tangannya. Membuat tubuh keduanya merapat. Saling melihat. “Aku juga lebih suka kamu yang sekarang.” Ia mencium Sasmaya. Mengatupkan bibir yang entah mengapa sejak diketahui mengandung anaknya ini terus menggoda. Dan membuatnya tak tahan untuk tidak menciumnya.
“Mas Gama,” potongnya ragu, membuat ciuman Gama berhenti.
“Aku tahu bagaimana agar dia gak terganggu,” tukas Gama. Mengusap perut Sasmaya. Paham akan kekhawatiran Sasmaya akan kehamilannya. Mengingat ini anak pertama mereka.
Bermesraan pada istri yang tengah hamil muda tentu saja berkurang intensitasnya. Mereka harus pintar-pintar mengatur kebutuhan biologis agar tidak menyakiti makhluk kecil yang saat ini sedang bertumbuh di rahim Sasmaya.
Namun hal itu tidak mengurangi keintiman keduanya untuk bercengkerama setiap saat. Mengingat, itu salah satu bentuk komunikasi dan cara mereka menyampaikan perasaan. Ditambah mengamati setiap fase perubahan yang ada dalam diri Sasmaya. Hal itu menjadi sesuatu yang unik dan menyenangkan.
Meskipun lebih manja, tapi Sasmaya masih bisa mengendalikan diri.
...☆☆...
Gama mengusap titik-titik keringat yang bermunculan di sekitar wajah Sasmaya. Beberapa saat yang lalu mereka menggugurkan hasrat yang tertahan akibat tak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan Sasmaya selama masa pembentukan janin terjadi di tiga bulan pertama.
Sasmaya memejam. Mengatur pernapasan. Ia bisa melihat aura kecantikan Sasmaya berkali-kali lipat. Sudut bibirnya terangkat. Rasa bangga memiliki Sasmaya membuatnya menjadi laki-laki yang hebat.
Ia sadar, pernah menyakiti Sasmaya. Tetapi ia berjanji tak akan pernah mengulangi lagi.
“Mas, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Sasmaya ketika membuka mata, ia melihat Gama menatapnya dengan tersenyum tanpa henti. Akan tetapi, sepertinya Gama tak menyadari istrinya keheranan melihatnya.
“Terima kasih.”
Dahi Sasmaya berkerut.
Ia mengusap-usap pipi kenyal dan lembut milik Sasmaya. “Aku bahagia bersamamu.”
Perlahan bibir Sasmaya merekah. Berbinar-binar menatap Gama yang sedari tadi juga menatapnya. “Aku juga terima kasih, Mas Gama telah berusaha menjadi suami yang selalu membahagiakanku.”
“Meski aku banyak makan?”
“Baiklah, karena aku banyak makan. Aku juga harus membuang kalori lebih banyak lagi.” Ia beringsut.
“Lho ... lho Mas Gama mau ngapain?” Melihat Gama memosisikan diri mengungkungnya.
“Aku ingin mengulanginya sekali lagi.”
...☆☆...
Enam bulan telah berlalu, molor dari target yang ditetapkan untuk menghasilkan biografi Kirei. Yaitu empat bulan.
Hal ini dikarenakan kondisinya pada awal-awal kehamilan mengharuskannya untuk lebih banyak beristirahat. Di samping pekerjaan kantor yang ternyata kadang kala menuntutnya bekerja di luar jam semestinya.
Akhirnya, waktu yang ia sengaja sisakan untuk mengerjakan biografi Kirei menjadi sedikit. Biarpun, ada Sinta dan tim lain yang membantunya.
“Sin, sudah sampai mana?” Kali ini ia menunjuk Sinta untuk menjadi editor. Hari ini tepat dua minggu setelah pertemuannya dengan Kirei. Semua data telah masuk. Baik data primer, pendukung dan pelengkap.
“Cetak dummy udah siap. Mulai besok lo udah bisa periksa,” sahut Sinta. Mendadak mendesis. Memegangi perutnya.
“Lo, kenapa?” Ia bangkit dari kursi kerjanya. Menghampiri Sinta yang duduk di depannya.
“Perut gue tiba-tiba mules,” sahut Sinta.
“Lo, mau lahiran?”
Sinta menggeleng. “Usia kehamilan gue gak jauh beda sama lo. Jadi gak mungkin gue lahiran sekarang,” tangkasnya.
“Lo salah makan kali? Atau lo mau poop?”
Sinta menggeleng lagi.
Ia sigap mengambil minyak kayu putih dalam tasnya. Membuka penutupnya lalu menyodorkan pada sahabatnya tersebut.
Karena khawatir terjadi apa-apa ia membawa Sinta ke rumah sakit. Kata dokter kontraksi pada ibu hamil bisa terjadi kapan saja. Biasanya terjadi karena kelelahan. Atau mengalami gangguan pencernaan.
Lega. Mendengar dokter mengatakan jika kehamilan Sinta baik-baik saja. Tidak ada masalah yang berarti.
“Lo besok cuti aja dulu, Sin.”
“Kayaknya karena gue salah makan, deh.” Tadi malam Sinta teringat menyantap asinan Bogor melebihi porsi biasanya. Entah mengapa ia begitu kepengennya makan makanan itu, hingga aji mumpung ketika bisa makan yang diinginkannya. Khilaf.
Ia mendengus.
Sinta meringis, “Gara-gara ngidam, sih ... hehe.” Mencari pembenaran.
Tepat di depan lobi rumah sakit suami-suami mereka tiba hampir bersamaan untuk menjemput pulang.
“Baby, kamu gak apa-apa?” Gama langsung menyerbunya. Menuju rumah sakit ketika mendapat kabar jika Sasmaya berada di sana.
Begitu juga suami Sinta. Terlihat khawatir. “Sayang, gimana adiknya Lea?” mengusap perut Sinta yang usia kehamilannya hanya berselisih 2 minggu lebih dulu dari kehamilan Sasmaya.
Ia dan Sinta saling berpandangan. Lalu menahan senyum. Sama-sama menggeleng. Kemudian melambaikan tangan, manakala suami-suami mereka menggiringnya untuk masuk mobil masing-masing dan mengajaknya pulang.