
...60. Follow Your Heart...
“Sas, gue berangkatnya Sabtu pagi. Gue gak bisa lihat siraman elo dong!” seru Sinta di sambungan telepon. Terdengar kecewa. Setelah ia menceritakan prosesi 1 hari dirinya harus mengikuti siraman, lalu midodareni di hari Jumat.
“Gak apa, lo, kan masih bisa jadi saksi saat gue nikah sorenya.”
“Yah ... padahal gue orang penting yang menyiramkan air suci ke tubuh lo,” cibir Sinta.
Ia mendesis. Lalu tertawa mengejek, “Kalau lo kasih siraman ke gue, berarti lo masuk sesepuh dong.”
“Pasti! Secara bilangan memang umur gue lebih muda. Tapi secara pengalaman berumah tangga, gue bisa digolongkan lebih tua dari lo.”
“Ya ... ya, sendika dawuh Ndoro Putri ....”
Sinta di ujung telepon tertawa.
Hari ini dan besok, ia benar-benar menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Melihat mama dan papa sering bersama meskipun ada Miko dan mamanya. Namun itu tak jadi soal. Mama dan papa bersama karena alasan dirinya.
Gama mengatakan ingin menemui koleganya di resto yang pernah mereka datangi melalui pesan. Ternyata laki-laki itu masih menyempatkan kerja di tengah masa cutinya. Ia menggeleng. Mengingat laki-laki itu tak mengenal lelah. Begitu bersemangat. Meski seharusnya laki-laki itu menyiapkan diri untuk pernikahan mereka. Ya, ia pun tidak bisa melarangnya.
Sasmaya memutuskan berjalan-jalan sebentar. Kendati hari mulai berganti siang. Matahari juga tampak gagah menyinari. Tetapi udara di Kemuning sangat sejuk.
Langkahnya berhenti di taman. Di mana ia dan Gama pernah berada di sini. Dulu masih berbentuk taman yang tidak begitu besar dengan aliran sungai kecil. Sekarang menjadi taman yang lebih luas dilengkapi area permainan anak-anak, seperti ayunan, perosotan, jungkat-jungkit dan komidi putar.
Begitu juga dengan sungai kecilnya, ditata rapi. Dengan tetap mempertahankan bentuk alaminya.
Berjalan lebih ke atas melewati jalan setapak yang terbuat dari kepingan batu gunung. Ia menghentikan laju langkahnya ketika melihat Miko berdiri bersedekap. Tepat di hadapan kincir air yang terbuat dari bambu.
“Mbak kenapa ke sini? Bukannya lagi dipingit.” Miko berujar kepadanya meski tak melihat keberadaannya.
“Lagi ingin jalan-jalan.”
“Lagi ingin jalan-jalan apa suntuk?”
“Bisa kedua-duanya.”
Kedua tangan Miko yang melipat di depan dada terlepas. Kini satu tangannya masuk ke dalam saku celana.
“Kamu sendiri?” tanyanya. Tadi ketika ia menanyakan ketidakhadiran Miko saat sarapan pada papa, katanya Miko tengah berada bersama temannya yang kebetulan juga liburan di Kemuning.
Miko menyahut, “Biasalah.”
Tarikan sudut bibirnya terlihat. Lalu perlahan pergi meninggalkan adik tirinya.
“Kami senang Mbak menikah!” tandas Miko. Membuat ayunan langkahnya berhenti.
“Setidaknya beban Papa berkurang. Dan Papa hanya fokus kepadaku,” lanjut Miko.
Akan tetapi ia tak menanggapi ucapan Miko. Ia kembali mengayunkan langkahnya terus ke atas.
“Mbak!” seru Miko. Ingin mengatakan jikalau di taman paling atas ada keluarga calon kakak iparnya. Namun urung. Sasmaya sudah terlihat menjauh. Ia menendang kerikil yang berada tak jauh dari kakinya, seraya berucap, “arrgh!”
Sementara semakin menjajaki kepingan batu yang dilaluinya, semakin indah pemandangan yang dilewati.
Ia pikir Banyu Mili yang dibangun Gama tidak akan seperti ini. Ternyata, justru di luar dugaannya. Luas, asri, landscape yang indah serta menyuguhkan nuansa natural sekreatif mungkin. Belum fasilitas lapangan golf yang akan segera dibangun masih berada dekat dengan Banyu Mili.
Sayup-sayup suara percakapan seseorang terdengar. Membelakanginya.
“Mas Gama kondisinya gimana?”
Langkahnya terhenti. Terpaku. Mendengar sosok Gama disebut-sebut.
“Tulang tangannya retak! Yang lainnya gimana?”
Apa yang terjadi dengan laki-laki itu?
“Mas, 2 hari lagi pernikahan mereka. Apa kita tidak memberitahukan pada Sasmaya?”
“Mama, ada Tante Sas.” Kae yang baru datang memberitahukan keberadaannya yang tak jauh dari Widiya. Membuat ibu hamil tersebut menoleh ke belakang. “Sas ... kamu—”
“Aku mendengarnya, Mbak. Mas Gama kenapa, di mana? Apa yang terjadi? Tolong beritahu aku ....”
Sekonyong-konyong ia memutar tumit. Berlari menuruni jalan setapak di tepi sungai kecil. Ia mengikuti kata hatinya.
“Mas Gama kecelakaan. Kamu jangan khawatir, Sas. Mas Gama sudah ditangani dokter. Dan ada Mas Affan serta Papa di sana.”
Bagaimana tidak khawatir, jika 2 hari lagi adalah hari pernikahannya. Sementara calon suaminya tengah terbaring di rumah sakit.
“Mbak Sas kenapa?” tanya Miko yang masih berdiri di tempat semula. Heran menatapnya yang tampak bingung. Tergesa-gesa. Juga terengah-engah mengatur napasnya.
“Mik, tolong antar aku ke rumah sakit. Sekarang!” pintanya.
“Lho ... mau ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Mbak lagi dipingit, gak boleh ke mana-ma—“
“Ayo cepat!” Ia menarik baju Miko. Mengajak adiknya untuk segera pergi.
Miko terpaksa mengikutinya. Meskipun hati dan pikirannya menolak. Namun ada sedikit rasa kasihan melihat kakaknya yang panik tak karuan.
“Mbak, aku bilang sama Papa dulu. Kunci mobil dipegang Papa.” Miko hendak mengarah ke area tempat keluarganya menginap. Dengan cepat ia menyergah, “jangan!” larangnya.
Ia yakin semua keluarganya tidak akan menyetujuinya melihat kondisi Gama. Sementara ia ingin memastikan sendiri. Melihat laki-laki itu yang tengah terbaring di rumah sakit. Setidaknya hari ini ia masih bisa keluar, sebelum besok ia harus menjalani ritual prosesi sebelum menikah.
“Mbak kita pakai apa?” tanya Miko setelah keduanya tiba di pendopo tempat makan malam waktu itu.
Melihat security resort yang lewat, ia langsung mendekatinya. Meminjam kendaraan yang dipunyai petugas keamanan tersebut.
Awalnya security itu ragu. Tapi dengan menyebut nama Gama dan ialah calon istrinya yang akan menikah esok hari. Security itu mengangguk. Menyerahkan kunci motornya.
“Tapi hati-hati, ya, Bu?” pesan security itu padanya. Menunjukkan motornya yang diparkir di area khusus motor.
“Makasih, Pak,” balasnya. Menyerahkan kunci pada Miko. “Aku gak mau, Mbak yang bawa,” tangkas Miko.
Tak mau mendebat. Ia memasukkan kunci pada tempatnya. Memakai helm. Begitu juga dengan Miko. Lalu bergegas pergi. Tak lupa memberikan klakson pada security yang berdiri menatap mereka. Security tersebut membalas menunduk sejenak lantas tersenyum. Baginya kapan lagi bisa sedekat ini dengan calon istri bosnya.
“Mbak gak salah? Kenapa kita gak pakai mobil Papa saja!” Miko berbicara padanya. Sedikit mendekatkan kepala ke arahnya.
Pasti. Jika menggunakan mobil papa, keluarganya tidak akan memperbolehkannya pergi. Sebab ketahuan, ia meninggalkan Banyu Mili. Pun, dengan kendaraan milik keluarga calon suaminya. Dengan Widiya melarangnya, itu artinya sama saja.
“Kalau nanti Papa marah sama aku, Mbak yang harus tanggung jawab. Bela aku!” tandas Miko kesal. Ia tidak ingin untuk kesekian kali terkena amarah papa. Selama ini, mungkin kakak tirinya tidak tahu. Bahwa ia selalu dibanding-bandingkan dengan wanita yang mengendarai motor di depannya ini. Papa sedikit-sedikit bilang, “Mbakmu itu rajin, pintar. Mbakmu itu ... penurut. Mbakmu itu, gak neko-neko kayak kamu. Mbakmu itu mandiri ... Mbakmu ... Mbakmu ....” Sasmaya selalu menjadi tolak ukur papa untuknya.
Sementara ia tak menggubris Miko. Justru pikiran dan hatinya terpusat pada Gama. Ia tak mengetahui dengan jelas sebab laki-laki itu mengalami kecelakaan. Hanya saja Widiya mengatakan, terjadi fraktur pada lengan kiri. Dan belum tahu bagaimana kondisi Gama pastinya.
Meski demikian ia lebih mengikuti kata hatinya. Bahwa ia harus melihat Gama. Sekarang juga.
“Mbak,” panggil Miko.
“Mbak!” seru Miko lagi menepuk pundaknya. “Di depan ada razia polisi.” Miko melihat tanda rambu yang memberitahukan sedang ada razia berkendara.
Sasmaya mulai melambatkan laju motornya. Seusai salah satu petugas menyuruhnya untuk menepi. Petugas yang lain berpakaian lengkap dengan rompi hijau menyala terang menyuruhnya untuk mengantre. Bersama kendaraan motor yang lainnya.
“Selamat siang!” sapa petugas polisi yang lain lagi menghampiri mereka. “Boleh minta surat-surat kelengkapan berkendaranya?”
Sasmaya turun dari jok. Begitu pula Miko yang turun terlebih dulu. Ia menyerahkan SIM C kepada petugas. Yang diambilnya dari dompet, yang sengaja ia bawa bersama ponsel di dalamnya.
“STNK?” tanya Pak Polisi.
Ia menatap adiknya. Gawat. Mereka lupa meminjam STNK motornya saking terburu-buru. Bahkan tak terpikirkan akan ada pemeriksaan razia polisi di jalan seperti ini.
“Bisa saya pinjam STNK-nya?” ulang petugas tersebut. Sebab dirinya tak segera menyerahkan surat yang diminta petugas.
Ia menggeleng. Miko hanya menatapnya kesal, lalu berujar, “Gara-gara, Mbak. Kita berurusan sama polisi,” ketusnya.
“Karena kalian tidak bisa menunjukkan STNK saat berkendara. Maka kami berhak menilang. Sesuai undang-undang lalu lintas dan angkutan jalan no.22 tahun 2009. Pasal 106 ayat 5, bahwa saat pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan setiap orang yang mengemudikan ranmor wajib menunjukkan antara lain STNK atau STCK dan SIM. Pasal 288 ayat 1. Bahwa setiap pengendara yang tidak dilengkapi dengan Surat Tanda Kendaraan Bermotor dan Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor, bisa dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak 500 ribu,” terang Pak Polisi. Panjang lebar. Dan ia hanya bisa ternganga ketika pada kalimat terakhir.
“Tunggu-tunggu, Pak. Saya mau menikah tidak mungkin saya dipenjara gara-gara gak pakai STNK. Terus pernikahan saya gimana, 2 hari lagi saya mau menikah, Pak. Bapak tega!” Panik. Ini kali pertama ia berurusan dengan polisi. Siapa yang tidak takut jika diancam penjara. Terus bagaimana nasib pernikahannya?
“Mbaknya salah. Sudah melanggar berlalu lintas,” tegas petugas.
Ia menoleh pada Miko. Lantas beralih kepada petugas yang masih menatapnya.
“Saya mohon, Pak. Saya mau ke rumah sakit. Calon suami saya kecelakaan. Saya tidak tahu bagaimana kondisinya. Saya ... harus segera ke sana. Saya harus segera menemui calon suami saya,” pintanya mengiba. “2 hari lagi saya mau menikah. 2 hari lagi, Pak. Kalau Bapak tidak percaya saya bisa teleponkan pihak rumah sakitnya. Tadi saya buru-buru. Jadi kelupaan tidak bawa STNK. Ini motor saya pinjam dari security hotel. Saya jamin, ini bukan motor curian, dan lihat,” ia menunjukkan pelat nomor bagian belakang. “Masih aktif. Bayar pajaknya juga masih lama,” cerocosnya menjelaskan. Ia tidak tahu lagi harus bilang apa.
Pak Polisi itu menggeleng. Menyilakan dirinya untuk menuju meja yang ditunjuk.
Kontrol emosinya mulai kacau. “Oke. Kalau Bapak menghendaki seperti ini. Artinya Bapak tidak mendukung saya untuk menikah. Secara tidak langsung Bapak juga mendoakan saya jomlo seumur hidup. Saya gagal menikah.”
“Mbak, Mbak Sas!" Miko menghardiknya. Ikut menggeleng.
Ia menghapus air matanya yang berderai kurang ajar. Entah mengapa suasana hatinya mendadak tak terkontrol. Waktu rasanya melambat. Di sana masih ada 1 barisan orang mengantre untuk mendapatkan surat tilang. Entah ia nomor yang ke berapa.
Hampir 20 menit mengantre ia akhirnya mendapatkan surat tilang. Merelakan SIM-nya disita petugas. Menyuruh Miko yang mengendarai motornya.
Selama perjalanan keduanya diam. Hingga tiba di rumah sakit ia begitu saja meninggalkan Miko dengan helm yang ia serahkan pada adiknya tersebut. Laju langkahnya sangat cepat menuju ruangan UGD. Sebelum masuk ia memastikan ulang pada petugas jaga di sana. Dan ternyata laki-laki itu memang di ruangan yang masih sama dengan informasi yang diberikan Widiya.
Perlahan langkahnya maju. Tangannya hendak menyibak gorden yang menjadi penutup sekaligus sekat. Namun urung manakala ia mendengar suara Gama.
“Aku gak bisa, Vi. Aku gak bisa menikahinya ....”
Ia menelinga.
“I can’t do it. Aku tidak bisa menikahi Sasmaya. Aku tidak akan bisa menikah.”
Kepalanya menggeleng tidak percaya. Suara yang begitu lekat di hati dan sangat diinginkannya ini mengungkapkan hal yang terlalu menyakitkan.
Tidak mungkin.
Ini hanya mimpi, bukan?
Sialnya dada yang sempat sesak, kini bertambah tumpat. Ada yang menusuk-nusuk membuatnya seperti dihunjam belati. Air mata yang sempat tumpah akibat ketakutan akan penjara karena pernikahannya terancam gagal, sekarang tambah meruah.
Jika tadi Pak Polisi memberikan surat tilang berslip merah. Karena dianggap kurang kooperatif. Maka demikian juga dengan Gama. Harapan itu dipaksa berhenti sampai di sini.
Pernikahan itu tidak akan terjadi.
Gama tidak akan menikahinya. Laki-laki itu tidak menginginkan pernikahan.
Lantas apa beda ia dengan Elena? Mengapa Gama memperlakukannya sama dengan Elena?
“Kenapa tidak menikah? Dengan menikah orangtua pasti akan merestui hubungan kalian?"
“Itu kesepakatan. Dia tidak menginginkan. Dan aku juga.”
“Jika menikah telah menjadi keputusanmu, aku harap itu bukan pengalihan.”
Perlahan langkahnya mundur. Tangannya menyeka pipinya yang basah.
“Jauh sebelum Mas Gama pergi ke Belanda mengurus hotel Pak Sofyan di sana. Sebenarnya Mbah Heti juga memesan kebaya pernikahan Mas Gama dan calon istrinya di sini. Tapi ternyata mereka tidak ditakdirkan berjodoh.”
Terus mundur dengan membekap mulutnya sendiri untuk menahan tangisan yang mulai tak terkendali.
Tepat di teras UGD, ia memutar tumit. Terkejut tatkala di hadapannya berdiri Sofyan dan Affan.
Ia menggeleng. Mengusap butir-butir air mata yang meluncur melintasi pipi. Berdeham mengontrol suaranya yang mendadak tercekat.
“Semua keputusan ada di tanganmu, Sas. Papa dan Gama akan menerimanya.” Sofyan menukas lugas. Ia tahu, Sasmaya mungkin telah mengetahui kondisi anak pertamanya yang sebenarnya.
Ia menggeleng lagi.
“Pernikahan ini terjadi atau tidak, kamu tetap anak Papa,” tambah Sofyan. Melihat kondisi Sasmaya yang berantakan dan kalut, rasanya ia merasa bersalah. Telah melibatkan Sasmaya dalam hal ini. “Papa minta maaf,” sesalnya.
Ia hanya bisa menggelengkan kepala untuk kesekian.