
...51. Elusive...
Bumi Amsterdam sedikit demi sedikit terlihat terang. Menggeser penguasa malam untuk kembali ke peraduan.
Sasmaya menekan kepalanya. Dengan kelopak mata masih mengatup. Rasanya ia enggan membuka mata. Sebab kepalanya juga terasa berat.
Ia mengusap wajahnya. Mencoba perlahan untuk mengerjap. Mengerjap lagi. Begitu terkejut ketika matanya telah terbuka sempurna. Ia refleks bangkit. Dengan debaran jantung yang melonjak kaget.
Ini di mana? Pandangannya mengedar ke ruangan yang sama sekali berbeda dengan hotel yang selama ini ditempati.
Kepalanya terasa pusing. Ia berusaha mengingat kejadian tadi malam.
Dirk. Red Light District. Kapal. Minum.
Spontan ia melihat keadaannya. Pakaian tadi malam masih melekat di tubuhnya. Ia mendesakkan napas lega.
Suara kapal motor terdengar. Dibarengi sedikit getaran di kasur. Karena penasaran ia turun dari ranjang. Mendekati jendela. Menguak sedikit kerai sebagai penutup kaca.
Keningnya berkerut. Apa ini rumah Dirk?
Ia kembali ke ranjang. Melihat secarik kertas yang tertinggal di meja kecil dekat tempat tidur.
...—Keluarlah, aku buatkan minuman hangat—...
Tak berpikir macam-macam. Karena memang tidak terjadi apa-apa. Ia bergegas keluar. Di ruangan tengah yang bergabung dengan dapur tidak ada siapa-siapa. Tapi dari sini ia bisa melihat dengan jelas. Sangat jelas.
Gama bersandar pada pagar. Tengah berbincang dengan Dirk yang duduk di kursi. Sejak kapan laki-laki itu datang? Rasanya malam tadi hanya ada Dirk dan dirinya. Ia berusaha kembali mengingat kejadian tadi malam. Memang sepertinya ada orang lain selain Dirk. Apa itu Gama?
Perlahan, langkahnya bergerak maju. Menuju pintu. Begitu Gama menyadari kehadirannya, laki-laki itu mendekatinya. Menuntunnya keluar.
“Kamu sudah bangun? Tunggu sini, aku buatkan minuman.”
“Em, a ...,” tergugup hendak bicara. Laki-laki itu keburu pergi. Mulutnya hanya bisa menganga.
“Tadi malam kamu mabuk, Sas.” Dirk menyergah. “A marah padaku, gara-gara membiarkanmu ikut minum.”
“Jadi?”
Dirk mengangguk. “A datang ke kapal. Membawamu ke sini.”
Ia berbalik. Saat melihat sebuah kapal motor lewat.
Pria bule itu berdiri. “Aku harus kerja. Pagi ini mau bawa turis ke Zaanse Schans.” Dirk memakai topinya.
“Dirk,” cegahnya.
Sahabat Gama itu menoleh padanya. “Dank u wel,” ucapnya. Dirk banyak membantunya. Bahkan tadi malam jika tidak ada Dirk, mungkin saja hal-hal tidak diinginkan ... ah, tidak tahu apa yang akan terjadi padanya tersesat di Red Light District sendirian.
Dirk melenggang pergi sambil mengibaskan tangannya ke udara. Sempat berpapasan dengan Gama. Entah apa yang mereka bicarakan. Ia memilih kembali melihat suasana kanal di sekitar.
Matahari telah sepenuhnya muncul. Gama menyodorkan segelas minuman.
“Peppermint tea,” tukas Gama.
Ia menerima gelas tersebut. Dengan sudut bibirnya tertarik samar.
“Bisa mengurangi sakit kepala,” imbuh Gama. Berdiri bersandar pada pagar. Menghadapnya.
Ia menyesap minuman buatan Gama tersebut.
“Harusnya aku tiba di sini kemarin siang. Tapi karena kesalahan Dani memesankan tiket. Aku harus transit dulu di Dubai. Sampai sini malam,” tutur Gama.
Ia kembali menyesap tehnya.
“Tadinya mau kasih kamu surprise. Aku sengaja tidak mengabarkan kedatanganku. Tapi justru ....” Gama mengangkat bahu. Memasukkan satu tangan ke saku celana pendeknya. Mengalihkan pandangan menatap lantai.
Jemarinya menguat mencengkeram gelas. Lengang. Riak-riak kanal tersibak oleh kapal motor yang melintas. Ia menelan ludah. Justru banyak surprise yang telah diterimanya. “Aku ... sudah bertemu Elena,” decitnya. Mendekat pagar. Menopangkan gelas di sana.
Gama menengadah. Tak lama memosisikan tubuhnya sejajar dengan Sasmaya. Sama-sama menghadap kanal yang mulai terlihat sibuk.
“Elena masa lalu. Gak penting. Lagian aku pernah bilang kalau aku ini bad boy.” Gama menjeda. “Aku khawatir kalau aku menceritakan semua masa laluku, membuatmu sakit. Membuatmu kecewa dan ... itu bukan hal yang pantas untuk diceritakan. Aku tidak sesempurna seperti milyaran laki-laki penghuni bumi ini.”
Hatinya terasa sedikit ringan. Biarpun masih ada ganjalan. Sebenarnya, ini bukan masalah pantas tidak pantas. Ia menatap minumannya dalam gelas. Tapi ...keterbukaan. Seandainya laki-laki di sebelahnya ini terbuka, mau bercerita, mau berbagi sedikit saja masa lalunya. Setidaknya, ia telah mempersiapkan diri menghadapi orang atau hal-hal yang terkait dengan Gama di masa lalu.
“Tidak perlu menceritakan seberapa buruknya aku,” sambung Gama.
Justru ini yang membuatnya semakin ingin tahu. “Kenapa tidak menikah? Dengan menikah pasti orangtua akan merestui hubungan kalian.” Ini persoalan dasar. Dan ini jalan keluar. Cinta yang tidak mendapat restu. Yang bisa dipertahankan dan bisa diperjuangkan. Sasmaya yakin, Pak Sofyan bisa menerima mereka.
Kehadiran dan kemunculannya dalam keluarga Pak Sofyan berangkat dari kebetulan dan perjodohan. Posisinya kini belum terlalu jauh. Jika dengan membantu Gama dan Elena bersatu, bisa membahagiakan semua orang, itu akan dilakukannya. Ya ... biarpun hati kecilnya merasa tidak rela. Karena ia sudah menempatkan laki-laki itu mengisi sisi lain di hatinya.
Gama bersedekap. “Itu kesepakatan. Dia tidak menginginkan. Dan aku juga.”
“Kenapa? Kalian saling cinta, apa itu tidak cukup untuk membuat komitmen ke jenjang pernikahan?” Sayangnya, ungkapan ini hanya tertahan dalam benaknya. Ia tidak mengerti jalan pikiran Gama dan Elena. Refleks menggeleng saja.
“Kami sama-sama bukan yang pertama. Elena berkeyakinan bahwa dengan jalan hidupnya seperti itu sudah keputusan yang tepat. She was happy. Hal seperti itu normal di sini.”
“Tapi tidak di kita,” sanggahnya. Ia masih belum mengerti. Terlalu sukar dipahami malah, “Apa cinta kalian tidak cukup untuk membuat sebuah komitmen?” desaknya.
Gama menarik dan mengembuskan napas kasar. “Sas, ada hal yang kita tidak bisa paksakan.”
“Kenapa?” Kalimatnya terdengar kecewa. Membayangkan jika itu terjadi pada dirinya. Gama tidak mau memperjuangkan. Sungguh pasti menyakitkan.
Gama diam. Ia tambah kecewa. Lantas pergi meninggalkan laki-laki itu. Rasanya pembicaraan ini tidak menghasilkan apa-apa. Menyimpan gelas di atas meja makan. Berlalu menuju kamar.
“Karena kami hanya teman.”
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar.
“Teman hidup bersama,” terang Gama. “Tidak lebih. Tidak menuntut. Belum tentu juga untuk masa depan.”
Memilih air dingin untuk menghujani kepalanya. Berharap bisa meredam banyak pertanyaan yang memenuhi hati dan pikirannya.
Dengan segala konsekuensi yang harus diterima. Memang Gama dan Elena sudah berpisah. Namun, justru jendela besar siap melemparkan dirinya sama percis dengan nasib Elena. Bukan hanya satu Elena... mungkin juga ada Elena, Elena yang lain.
Ternyata cinta tak cukup sebagai landasan buat berkomitmen. Lalu, pertunangannya dengan Gama .. apa bukannya lebih parah. Sudah tidak ada cinta, terpaksa untuk menikah. Pernikahan macam apa yang akan mereka jalani.
Sasmaya lekas mengakhiri mandinya. Pagi ini ia harus kembali ke hotel. Siang menghadiri Amsterdam International Antiquarian Book Fair.
Tatapannya berhenti di atas kasur. Sebuah paper bag. Ia melihat isinya. Sebuah dress bercorak garis vertikal berwarna cokelat muda setrip hitam. Sepasang kain dalaman atas dan bawah berwarna senada. Semburat pipinya langsung memerah. Laki-laki itu mempersiapkan semua untuknya. Sampai sedetail ini.
“Kenapa dia bisa tahu ukurannya?” gumamnya. Setelah selesai memakainya. Semua pas dan nyaman di tubuhnya. Ia pun keluar kamar. Melihat Gama di meja makan sedang mengoles roti panggang.
“Makanlah,” tukas Gama. Menggeret kursi untuknya. Menuang susu. Lantas menggeser gelas berisi susu padanya. Menyusul roti panggang yang telah dioles madu. “Kamu suka keju?” tanyanya. Membuka keju dari pembungkusnya, meletakkan di atas piring.
“Nanti aku ambil sendiri,” sahutnya. Meraih gelas dan meminumnya.
“Kita ke Zaanse Schans setelah ini. Melihat desa tradisional Belanda. Ada pabrik keju di sana. Kita bisa beli untuk oleh-oleh.”
“Siang ini aku ada acara ke Amsterdam International Antiquarian Book Fair,” ungkapnya.
“Pameran itu 2 hari. Besok masih bisa ke sana,” timpal Gama.
Ia yang tengah mengunyah roti panggangnya terhenti sejenak. “Aku harus mempersiapkan kepulanganku besok.”
“Dani sudah mengatur semuanya. 3 hari lagi kita baru pulang.”
...***...
“Kamu mau ke mana mumpung di sini. Kita bisa ke Paris. Hanya sekitar 3 jam, menggunakan kereta cepat.” Pagi itu Gama mengajaknya ke Zaanse Schans. Ada yang bilang Desa Kincir Angin.
Akhirnya ia tak bisa menolak ajakan laki-laki itu. Mobil yang dikendarai Gama melaju konstan. Menuju utara sebelah kota Amsterdam.
“Atau kamu mau ke Brussels. Ke sana lebih dekat sekitar 2 jam. Di sana juga banyak tempat-tempat menarik. Kamu pasti suka,” papar Gama.
“Bukankah kamu pernah ke sana?” Tentunya bersama Elena.
Gama berdecak, “Kali ini beda. Aku yang jadi tour guide kamu. Dan kita hanya berdua.”
Entah apa maksudnya, ‘kita hanya berdua’. Bukankah, Elena pernah mengatakan pernah road trip bersama Gama ke sana. Apa mereka tidak berdua saja? Mengingat Gama pernah ke sana bersama Elena keantusiasannya tidak sebesar seperti sebelumnya.
Menempuh jarak sekitar setengah jam. Mereka tiba di Zaanse Schans. Berjalan kaki menyusuri desa kecil nan indah. Rumah-rumah kayu berarsitektur kuno dengan halaman tertata rapi, dihiasi bunga-bunga cantik. Yang sedang bermekaran sebab bertepatan dengan musim semi.
Melihat kincir angin kuno secara langsung. Berfoto dengan ikon negara Belanda tersebut. Rasanya ia bisa melupakan permasalahan sejenak. Ia juga bertemu Dirk beserta rombongan turisnya.
Berkunjung ke museum, pabrik keju hingga rumah tenun. Gama tak pernah membiarkannya jauh. Bahkan terkadang laki-laki itu menggenggam tangannya erat.
Hampir dua jam mengelilingi Desa Zaanse Schans. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di tepi kanal. Melihat sekerumunan bebek yang tengah asyik berenang.
Gama menghampirinya dengan membawa pannekoek. Mengangsurkan 1 padanya.
“Setelah ini kita ke Volendam,” ujar Gama. “Di sana ada studio foto bernama De Boer. Sangat terkenal. Rasanya kurang kalau ke Belanda belum ke sana,” terangnya.
“Tempatnya seperti ini?”
“Bukan. Volendam adalah desa nelayan. Spot wisata yang juga tak kalah terkenal,” sahut Gama.
Memang ciri khas bangunan di Volendam dan Zaanse Schans hampir sama. Bangunan-bangunan lama. Yang masih dipertahankan entitasnya hingga kini.
Tiba di Volendam sudah sore. Angin laut langsung menyambut. Tidak begitu ramai dibandingkan saat di Zaanse Schans tadi. Volendam lebih sepi. Mungkin saja karena kedatangan mereka kesorean.
Sasmaya mengusap-usap lengannya. Dress yang di kenakannya berkibar tersapu angin. Ia menunggu di tepi pelabuhan. Duduk di salah satu kursi.
Sementara laki-laki itu belum muncul setelah mengatakan pergi ke toilet.
Sejak tadi pagi Masala mengirimkan pesan. Bahkan tadi siang katanya sempat mencarinya di hotel. Padahal ia mengatakan sedang pergi ke Zaanse Schans. Tapi laki-laki itu bersedia kembali lagi ke hotel nanti malam. Ia lantas mengiriminya pesan.
Sasmaya : Jangan menungguku, aku masih di Volendam.
Dering ponselnya nyaring bertepatan Gama datang. Ia menerima panggilan tersebut.
“Kamu sama siapa, May?” tanya Masala.
“Aku,” menatap Gama yang juga tengah menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Sama Mister A.”
Hening. Yang terdengar hanya desau angin yang semakin kuat. Gama melepas blazer-nya. Memakaikan kepadanya.
“Baiklah ... hati-hati, May. Aku senang jika kamu juga bahagia bersama pilihanmu. Tapi aku juga berhak mengingatkan untuk kebahagiaanmu. Siapa saja pilihanmu itu hak kamu. Asal orang itu benar-benar membuatmu bahagia, May. Happy holidays.”
Masala memutuskan panggilan. Gama masih menatapnya. “Apa yang dia katakan?”
Sudut bibirnya tertarik seraya menggeleng.
Air muka Gama berubah. Ini salah satu alasan dari banyak alasan mengapa ia tertarik dan suka dengan Sasmaya. Wanita yang katanya terpaksa mencari jodoh di usianya 32. Yang punya pikat untuk laki-laki suka padanya. Seorang wanita yang tak pernah menyadari bahwa dia memiliki aura kecantikan yang berbeda.
Jika Elena dan wanita yang pernah dekat dengannya adalah tipe bebas, kurang rendah hati sebab terlalu mandiri merasa derajatnya sama yang berakibat kurang menghargai. Menghargai dirinya, maupun papa dan mama. Yang berujung mereka tidak menyetujui hubungannya. Ditambah keputusan untuk tidak menikah.
“Mas Gama,” ia menepuk lembut pipi Gama. Melihat laki-laki itu seperti melamun.
Gama justru menggenggam tangannya. Merengkuhnya. “Apa kamu mau meninggalkan aku karena masa laluku?”