
...63. Stranger at The Day...
Menghabiskan waktu di dalam apartemennya justru membuatnya kian mengingat Gama. Pada akhirnya, pergi menjauh menjadi pilihan yang tepat di hari pernikahannya untuk mengurangi kesedihan yang melanda.
Menyewa mobil. Menuju Jakarta bagian utara.
Bila beberapa kali dirinya datang ke sini bersama keluarga dan teman-temannya. Baru kali inilah ia datang sendiri.
Seperti orang asing. Tak kenal siapa-siapa. Bingung mau ke mana. Sebab tujuannya hanya mencari hal lain yang dapat mengalihkan perhatiannya. Ya ... bukankah, seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya.
Sasmaya membeli tiket reguler. Menikmati beberapa wahana ekstrem. Dari mulai kora-kora, bomb-bomb car, kolibri hingga ontang-anting yang terletak di bagian sisi barat.
Melihat anak-anak yang bermain antusias, tertawa lepas dan menjerit histeris membuatnya ikut hal yang sama. Efektif. Setidaknya isu pernikahan itu teralihkan sementara waktu.
Hanya saja bedanya anak-anak tersebut ditemani keluarganya, orang tuanya. Ada yang ikut rombongan. Sementara dirinya, beberapa kali ditanya petugas, “Mbaknya sendiri?”
Ia mengangguk. Terbersit redup dalam sinar matanya.
Beralih pada wahana yang lebih ekstrem. Ia memberanikan diri untuk menaiki hysteria. Uji nyali yang sangat menantang. Dulu saat bersama teman dan rekan-rekan kerjanya ia tidak pernah menaiki wahana yang terlampau ekstrem. Takut. Nyalinya ciut. Termasuk wahana di depannya ini. Apalagi, gumaman dari para pengunjung yang mengatakan katanya jantungnya mau lepas. Dengkul lemas. Mual dan perutnya seperti diremas-remas.
Sekarang, keberanian itu tiba-tiba hadir. Berada dalam barisan antrean sebelum masuk sebenarnya membuat keberaniannya terkikis perlahan. Setelah beberapa orang di depannya menyatakan mundur. Menyerah karena nyalinya kendur.
Ia membulatkan tekad. Ditambah dorongan yang kuat. Kali ini ia harus mencoba. Kapan lagi! Meski teriakan para peserta di bangku hysteria terdengar sampai ke telinganya.
Tibalah gilirannya. Duduk di bangku hysteria. Petugas memastikan keamanannya. Lantas suara sirene peringatan terdengar. Sampai di sini ia seperti terdakwa yang hendak diadili.
Tarikan pertama melesatkan tubuhnya. Membuat kejut jantungnya seakan berhenti berdetak. Histeris ia berteriak, “Aaaa ...!”
Belum hilang rasa kaget yang pertama. Kejut berikutnya datang dengan sangat kencang. Tiba-tiba ia diturunkan memelesat ke bawah. Rasanya raga dan jiwanya berceceran antah berantah. Ia berteriak lantang, “I hate you!” Bola matanya membelalak, sekencang-kencangnya ia berteriak, “really ... really ... hate youuuu!”
Entah keberanian selanjutnya datang dari mana. Meski suaranya sedikit mengalami perubahan, karena pekikkan dan teriakan spontan. Namun tak urung menyurutkan keinginannya untuk mencoba wahana tornado. Yang selalu dihindarinya ketika di tempat rekreasi ini.
Tubuhnya diputar-putar. Sebagai awal perkenalan. Kian lama putarannya semakin kencang dan mengerikan. Tak lama dijungkir-balikan berkali-kali. Dibanting. Dinaikkan. Lalu dibiarkan lama pada posisi kepala jungkir di bawah kaki di atas.
Lelah berteriak. Ia diam. Memejamkan mata.
“Karena aku sayang kamu.”
Netranya kembali terbuka.
“I hate you ...” lirihnya. “Aku lelah ... it really hurts—” belum usai gumamannya, tubuhnya kembali diputar. Digulingkan. Dihempas. Ia pasrah. Memilih mengatupkan kelopak mata. Hingga raga tak lagi mampu menolak perlakuan dari wahana ini. Benar-benar menyerah.
Kala tornado berhenti. Sebagian peserta yang masih duduk berteriak, “LAGI! LAGI!”
Ia menggelengkan kepala, “Cukup, Mas! Cukup. Aku gak mau!”
Turun dari wahana, tubuhnya terhuyung. Dugaannya meleset. Ternyata tornado lebih seram dan mengerikan dibanding hysteria. Ia sampai tidak bisa lagi berkata-kata. Perutnya tiba-tiba mual dan ingin mutah. Ia berlari memelesat ke kamar mandi.
Sebagai penutup wahana, ia mengakhiri dengan menaiki bianglala. Permainan yang selalu tak pernah dilewatkan setiap ia berkunjung ke Dufan.
Berada di atas ketinggian. Melihat matahari yang mulai tergelincir di kaki barat. Sambil menikmati angin sore sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Dan pemandangan pantai Ancol dari kejauhan.
Ia termenung.
Semesta sedang tak berbaik padanya. Mengujinya lagi dan lagi. Hingga ia merasa sebagai manusia yang tak pantas bahagia.
Banyak pertanyaan yang sampai kini tak terjawab. Apa, mengapa, pemilik semesta ini menginginkan dirinya dalam kesendirian dan kesedihan. Dan itu sampai kapan?
Menampikan nasib percintaannya yang begitu tragis, rasanya sangat sulit. Tapi ini bukan mimpi. Sedangkan mimpi tentang kebahagiaan, tentang cinta dan masa depannya sepertinya semakin jauh. Atau ... ia hanya akan jadi pemimpi belaka.
Sasmaya menggeleng. Bersamaan tetesan air dari sudut matanya. Pada akhirnya ia kembali berkelindan kecewa.
...***...
Keputusan keluarga Sasmaya atas kekecewaan penundaan pernikahan mereka tak mendapat respons baik dari Ranti. Ibu dari Sasmaya itu memilih keluar dari rumah adiknya.
Sementara Eyang Sulasih selalu menjadi penengah tiap ketegangan antara keluarganya dan keluarga Sasmaya muncul. Apalagi papa meminta semua keputusan itu diserahkan pada Sasmaya dan Gama.
“Bagaimana jika Sas bukan menunda, tapi menolak menikah dengan Gama?” tanya Tirto.
“Kami akan terima,” jawab Sofyan.
“Jadi maksud Anda, kami yang harus menanggung malu, jika pernikahan mereka batal!” ketus kakak Ranti.
“Kami mohon maaf, Pak. Tidak ada sedikitpun niat saya mempermainkan pernikahan. Dari awal saya yang meminta Sas untuk menjadi menantu saya. Dari awal juga, saya tidak pernah memaksa Sas. Bahkan sampai detik ini. Kami keluarga sangat senang ketika mendengar dan melihat Sas-Gama dekat dan saling menyayangi. Saya juga berharap mereka menikah pada hari ini. Sayangnya ... saya pikir trauma Gama sudah hilang dan sembuh. Nyatanya ....” Sofyan menggeleng lesu. “Saya juga kecewa terhadap Gama, saya marah pada anak saya ...tapi saya bisa apa. Yang pantas disalahkan dalam hal ini adalah saya. Saya yang menginginkan mereka menikah.”
“Sudah-sudah. Keputusan pernikahan ini batal atau ditunda, semua ada pada cucu saya, Sasmaya.” Eyang menukas. “Kita sebagai keluarga hanya bisa menunggu dan mendoakan. Berdoa yang terbaik untuk mereka. Jika mereka berjodoh, pasti Tuhan akan memberikan jalan. Tapi kalau tidak, kita tidak bisa memaksa. Biarkan Sas menyendiri dulu. Menemukan obat lukanya,” putus Eyang.
Tak ada lagi bantahan dari 2 pihak keluarga setelah eyang memutuskan.
Ia dan istrinya serta papa pamit. Meninggalkan kediaman Eyang Sulasih.
“Yang kutakutkan terjadi, Fan,” keluh papa. Ia pikir melihat interaksi Gama dan Sasmaya layaknya pasangan mampu menepis kekhawatirannya. Nyatanya ia keliru.
“Aku juga berpikir begitu, Pa.”
“Mas Gama hanya butuh waktu,” Widiya menimpali. “Kita sudah mendengar keterangan Lyvia. Mas Gama mencintai Sas. Tapi di sisi lain dia belum bisa melepas ketakutannya.”
“Tapi mengakibatkan trauma,” sergah Widiya.
“Apa Gama cerita sesuatu mengenai kematian Cyntia, Fan? Yang Papa tidak tahu,” tanya Sofyan.
Lengang. Affan menggeleng.
Mobil yang mereka tumpangi kembali ke Banyu Mili.
“Aku juga bisa merasakan posisinya Sas saat ini,” ujar Widiya. Merebahkan kepalanya di bahu suaminya. “Pasti Sas sedih, kecewa, marah, dan terluka.” Sesama wanita pasti intuisinya sama.
“Gama di mana?” tanya Sofyan yang duduk di depan.
Affan menjawab, “Sudah pulang dari rumah sakit. Menunggu kita di resort.”
Setelah tiba di Banyu Mili, ia, Widiya dan papa langsung menemui Gama. Kakaknya itu terlihat mondar-mandir di depan kamar. Menanti kedatangannya.
“Bagaimana?” tanya Gama khawatir. Lengan kirinya digips, digendong. Sedangkan tangan satunya menyugar rambutnya kasar. Melihat reaksi papa dan adiknya tak bersemangat.
Papa menarik napas hingga bahunya terangkat. Lantas menggeleng. Sementara ia dan Widiya menatap Gama sendu.
Posisinya serba sulit. Jika, kakaknya adalah laki-laki sehat yang menyakiti wanita, saat ini juga ia pasti akan memberikan 4-7 pukulan di wajah, perut, kaki dan tangannya. Tidak peduli jika harus berdarah-darah.
Sialnya, ia menghadapi saudara kandungnya yang punya psikosomatis. Gangguan anxietas yang kini fatal menyakiti fisiknya.
Sofyan angkat tangan, “Kali ini Papa tidak akan membantumu. Kejarlah Sas, jika kamu benar-benar mencintainya.” Berlalu meninggalkan mereka.
“Fan, aku—”
Affan menyergah, “Kami sudah berusaha membuat keluarga Sasmaya tidak membatalkan pernikahan kalian. Tapi ...,” berdesah berat. Mengembalikan kepercayaan yang pudar akan sulit sekali ketimbang membangun kepercayaan dari awal. Ia menggeleng.
“Aku akan menikahinya, Fan. Akan menikahinya!” tangkas Gama.
Ia menepuk pundak kakaknya. Memilih pergi bersama istrinya.
...***...
Memutuskan kembali ke Jakarta pada malam hari. Ditemani Dani yang kini duduk di sebelahnya. Keduanya tak bersuara, semenjak mereka meninggalkan Banyu Mili.
Seharusnya baru esok hari ia diperbolehkan melakukan perjalanan jauh, mengingat luka yang ada di tubuhnya. Akan tetapi, berada di resort malah menambah rasa bersalahnya berkali-kali lipat.
Ia menarik napas dalam, mengeluarkannya perlahan. Jika kondisi memungkinkan biasanya ia akan berolahraga. Membuang energi negatif yang akhir-akhir ini menyertai.
Entah mengapa jelang pernikahan, Cyntia kerap hadir. Bahkan saat ia mengemudikan mobil saat itu. Hingga ia harus membanting setir ke kiri. Menabrak sebuah bangunan semi permanen yang kosong.
Tuhan masih melindunginya. Bahkan untuk kedua kalinya.
“Pulang ke rumah apa hotel, Pak?” tanya Dani setelah sekian lama bungkam. Ia tidak mengetahui percis, mengapa pernikahan atasannya ini tidak jadi diselenggarakan. Padahal, hanya tinggal menunggu hari-H saja. Meski banyak pertanyaan, tentu saja sebagai bawahan ia tidak berani mengungkap. Apalagi ini ranah pribadi. Yang ia tahu dari Ferdi—sekretaris Pak Sofyan sekaligus sepupunya—bahwa pernikahan mereka ditunda.
“Apartemen,” sahut Gama.
Kening Dani berkerut. Apartemen di sini pastinya milik Sasmaya. Siapa lagi.
Tiba di sana, ia menyuruh Dani untuk menunggunya sebentar. “Tidak lama,” ujarnya.
Memiliki akses pengguna gedung yang sama memudahkannya untuk memasuki apartemen Sasmaya. Begitu pula akses menuju unit. Berharap Sasmaya belum mengganti kode akses smartdoor lock-nya.
Temaram.
Hanya bias ambient light dari kabinet kitchen set dapur dan lampu balkon.
Kakinya menuju balkon dengan pintu terbuka. Dugaannya Sasmaya di sana. Meski ia tahu jika wanita itu mengetahui kehadirannya, pasti akan marah dan bertambah benci terhadapnya.
Namun suara hatinya menuntunnya kesini. Melihat Sasmaya dari dekat.
Benar saja. Sasmaya tertidur di ayunan. Dengan wajah lelah dan gurat sedih yang tertinggal.
Ia lantas kembali masuk. Menuju kamar. Membawa selimut dan menutupi tubuh Sasmaya perlahan hingga ke dada.
“I felt regret ... aku minta maaf ...,” lirihnya. Menatap sedu wajah yang sangat dirindukannya itu.
Ia menekuk kaki. Menunduk mengusap-usap tangan Sasmaya yang terselimuti.