BLIND DATE

BLIND DATE
73. Menjemput Impian



...73. Menjemput Impian...


“Berdiri!” tandas papa.


Ia menggigit bibir. Menahan getir. Hanya bisa melihat 2 lelaki yang masih bersitegang satu dengan yang lainnya. Tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sementara Ranti yang berdiri di dekat meja hanya bisa menelan ludah. Tak mampu untuk melerai keduanya. Gama sudah membuktikan kesungguhannya. Memenuhi permintaannya. Menyetujui membuat prenuptial agreement. Yang mana poin-poinnya melindungi dan menjaga anaknya dari segala perbuatan yang merugikan. Selain itu Gama juga setuju untuk membuat surat pernyataan atas kemungkinan jika terjadi pembatalan pernikahan untuk kedua kalinya. Dari sanalah ia mengetahui bahwa anak Sofyan Putra tersebut benar-benar ingin membuktikan keseriusannya.


Lain hal dengan eyang. Yang hanya menggeleng. Menatap bekas menantunya dan Gama dalam titik yang sama.


Secara perlahan, Gama berdiri. Keduanya berhadapan.


Tangan lelaki paruh baya tersebut mendarat di bahu Gama dengan pukulan cukup keras. “Kali ini saya pegang janjimu untuk kedua kali. Jika janji yang ini kamu ingkar, saya tidak peduli jika harus dipenjara 5-10 tahun lamanya.”


Gama menatap Papa Sasmaya. “Menikahlah sekarang juga, sebelum saya berubah pikiran.”


...***...


“Kamu gila, ya!” dengus Sasmaya kesal. Mereka berada di kantin rumah sakit.


“Demi kamu.”


“Ya, tapi—” menunduk, memejamkan mata sesaat. Mendongak. Hendak menunjuk laki-laki yang duduk di sebelahnya namun mengurungkannya. Tangannya hanya terangkat diudara. Mengibas bersamaan suara berdesah.


Gama justru tersenyum. Lantas mengernyit menahan nyeri di pipi.


Bahunya turun. Iba melihat pipi laki-laki itu yang memerah. Dengan sudut bibir sedikit robek mengeluarkan darah.


“Tutup mata!” titahnya berseru.


Laki-laki itu memprotes, “Kenapa aku harus tutup mata?”


“Pokoknya tutup mata!”


Terpaksa Gama menuruti perintah wanita yang sedari tadi memasang wajah cemberut itu. Tapi baginya justru tampak manis dan lucu. Aliran darahnya terasa hangat sekarang. Membungkus hatinya yang gersang beberapa waktu lalu. Tanpa sepengetahuan Sasmaya, laki-laki itu mencuri-curi pandang.


Mengambil beberapa potongan es batu yang dimintanya dari salah satu warung di area kantin. Dibungkusnya dengan kain. Perlahan dikompreskan pada bagian pipi Gama yang memar.


Laki-laki itu menahan senyum. Berusaha mengintip dari salah satu celah kelopak matanya yang sengaja dibuka sedikit.


“Tutup mata!” serunya. Mengetahui Gama bermain curang.


Semarah apa pun. Seberapa kesal tak terhitung. Suara wanita yang tengah mengusap pipinya ini justru terdengar menggelitik. Percis ketika mengomel di telepon salah menerka pada waktu itu.


“Papa dan Affan sedang menuju kemari. Dani tengah menyiapkan semuanya.”


Ia menurunkan kain kompres. Mengganti dengan yang baru.


“Malam ini kita akan menikah, Sas.”


Tangannya terhenti. Menatap Gama yang benar-benar menutup matanya. Ia bisa dengan jelas melihat fitur yang ada di wajah laki-laki itu. Bersamaan detak jantungnya yang bergejolak melonjak. Berdemonstrasi.


“Aku ingin menjadi pasangan pakaian buatmu. Menjadi partner hidupmu di sisa umurku. Menjemput impian kita.” Kelopak mata Gama terbuka perlahan. Berikut dengan tangannya yang meraih tangan Sasmaya. Dua pasang mata itu saling pandang. Distraksi kalimat yang baru saja terdengar menyelinapi perasaan yang selama ini membungkus hati masing-masing.


Apalagi buat Sasmaya, ini menjadi untaian kata yang tak pernah bahkan tak akan pernah diharapkannya setelah pernikahan mereka yang sempat gagal. Ia sudah ikhlas. Mengikhlaskan jodohnya pada Sang Pemilik sesungguhnya.


“Tapi a-aku belum menyatakan kesiapanku,” kilahnya diikuti mengalihkan tatapannya pada objek lain. Tak ingin lagi bertindak gegabah. Lagi pula, ia tidak ingin membuat sang mama kecewa. Setahunya laki-laki ini juga tengah menjalani terapi. Sampai di mana kemajuannya? Akankah akan terjadi hal yang sama jika pernikahan akan tetap dilaksanakan. Tidak. Ia tidak mau terulang lagi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan.


“Sas,” Gama mengusap punggung tangannya. “Aku tidak perlu kesiapanmu.” Membuat Sasmaya menoleh menatap Gama.


“Aku hanya ingin kamu lihat dan saksikan, kalau aku sungguh-sungguh menginginkanmu.”


...***...


Derap langkah 2 pasang kaki terayun cepat menyusuri lorong rumah sakit. Tiga puluh  menit yang lalu Sofyan dan Affan baru saja mendarat sukses di Bandara Adi Soemarmo. Menyewa taksi menuju rumah sakit tempat Eyang Sulasih dirawat.


Sementara Sofyan menyuruh Ferdi untuk membantu Dani menyiapkan segalanya. Ia dan anak keduanya menemui Eyang Sulasih yang tampak tersenyum menyambut kedatangannya.


Terakhir menjenguk pemilik Moerder tersebut 4 hari pasca-peluncuran bukunya. Ia sengaja mendatangi beliau. Membawa buku terbaru cetakan pertama.


Saat itu Eyang Sulasih kondisinya stabil. Baru saja pulang dari rumah sakit. Namun beberapa hari setelah itu ia mendengar kabar bahwa beliau kembali masuk RS.


“Maaf, saya merepotkan Bu Sulasih.” Begitu ucapnya ketika duduk di kursi samping ranjang. Sedangkan Affan berdiri di sebelahnya.


Ranti dan mantan suaminya berdiri tak jauh dari mereka. Kerut di wajah eyang tertarik. Memperlihatkan senyuman.


“Kami sudah membuat kekisruhan dan meninggalkan kekecewaan untuk keluarga ini. Tapi Bu Sulasih masih mau memberi kesempatan pada kami.” Sungguh ini berita yang mengejutkan. Beberapa jam yang lalu Gama mengabarkan tengah berada di rumah sakit. Lamaran terhadap Sasmaya diterima keluarganya. Dan yang membuatnya lebih terkejut, malam ini Gama dan Sasmaya akan melangsungkan pernikahan. Memintanya untuk secepatnya datang.


Keraguan yang sempat mampir disebabkan kondisi anak pertamanya tersebut hilang, setelah Affan menceritakan kemajuan yang dialami Gama akan terapi yang diikutinya. Ditambah restu yang didapatnya dari orangtua beserta keluarga Sasmaya menjadi berita berikutnya yang menyempurnakan keyakinannya.


Rasanya tidak mungkin. Restu itu diraih anak pertamanya. Apalagi kali ini ia benar-benar tidak ikut terlibat dalam mempersatukan hubungan mereka kembali. Entah dengan cara apa Gama bisa meyakinkan mereka. Tapi melihat keseriusan serta bentuk dukungan atas hubungan anaknya tersebut, ia dan Affan langsung menuju kemari.


Perbincangan mereka terpaksa berhenti. Sebab bertepatan dengan jadwal kunjungan dokter.


Ia dan Affan serta orangtua Sasmaya beralih pada sofa. Meminta izin untuk membawa pasien keluar rumah sakit sementara waktu.


Meski memperoleh izin, namun pasien tetap diharuskan dalam pantauan tenaga medis. Dan harus secepatnya kembali ke rumah sakit.


...***...


Segala persyaratan pernikahan telah selesai dalam waktu yang cukup singkat. Hanya beberapa jam saja.


Meski terlihat sederhana dari ruangan pertemuan yang telah disulap menjadi panggung akad nikah, dengan beberapa hiasan bunga namun perjuangan untuk mewujudkan pernikahan yang sesungguhnya tidak bisa dibilang sesederhana itu. Bagaimana Dani dan Ferdi harus berkejaran dengan waktu. Mengerahkan semua tenaga dan pikiran. Memperbaharui syarat-syarat pernikahan. Mengajukan permohonan dispensasi menikah secara mendadak. Mengubah lokasi pernikahan yang awalnya di Kemuning.


Alurnya begitu rumit karena waktu yang sempit. Sepelik hubungan atasannya dengan penulis biografi Sofyan Putra. Yang tidak bisa ditebak.


Beruntung Pak Wiryo—Kakak Ranti—mengenal dekat petugas kecamatan yang mengeluarkan surat dispensasi tersebut. Bahkan terpaksa harus membuat drama jika alasan kesehatan Eyang Sulasih menjadi hal mendasar dan menjadi permintaan terakhir.


Ferdi menepuk pundaknya dari belakang. Mengangguk memberi isyarat.


“Beres,” sahut Dani.


Sementara di salah satu kamar executive suite Sasmaya tengah didandani oleh seorang MUA. Ia meminta riasan wajahnya natural dengan kebaya yang beberapa waktu lalu seharusnya dikenakannya. Ya, kebaya kutu baru yang ia tinggal begitu saja di Banyu Mili ketika memutuskan untuk membatalkan pernikahannya.


Ternyata Gama menyimpan semua. Berharap suatu saat pakaian itu akan dikenakan mereka.


Tak berapa lama Ranti datang bersama eyang yang duduk di kursi roda. Seorang perawat dari RS membantu mendorong kursi tersebut mendekat padanya.


“Ma,” ujarnya menoleh pada wanita yang juga memasang raut wajah penuh rekah. Ia tahu sang mama pada akhirnya memberikan restunya. Meski ia tidak tahu kesepakatan apa yang telah dilakukan antara Gama dan mama. Yang pasti Ranti kini memberikan izin untuk Gama kembali meminangnya. Menikahinya.


Ranti duduk di tepi ranjang. Ia menyusul duduk di sebelahnya. Seorang MUA dan asistennya membereskan peralatan make up.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Ranti.


Ia menoleh pada eyang. Yang kembali didorong agar lebih mendekat pada mereka. Mengusap punggung tangan yang tertopang pada sandaran lengan. Meraihnya. Mencium takzim, “Makasih, Eyang. Ma.” Menatap haru eyang sekaligus Ranti secara bergantian.


Mata tua dan berair itu mengangguk tersenyum. Diikuti lelehan cairan dari kedua matanya. Hal yang sama juga terjadi pada Ranti.


Ia merengkuh eyang dan mama sekaligus. Ketiganya bergeming sejenak. Getaran kebahagiaan yang merambat pada sela-sela udara kamar mampu menghipnotis apa pun dalam ruangan itu. Menyusul butir-butir air mata dari ketiga pasang netra. Sesekali isakan dari mulut Ranti terdengar, menambah suasana kamar kian dramatis.


Sementara di ruang pertemuan yang telah disulap menjadi panggung pernikahan. Seorang laki-laki berpakaian jawi jangkep tengah duduk menghadap Irwan. Kursi sebelahnya kosong. Pengantinya akan datang ketika ijab kabul telah lantang diucapkan.


Gama tidak sendiri. Di samping Papa Sasmaya duduk kepala KUA. Sementara di kanan-kirinya Affan dan Pakde Wiryo sebagai saksi.


Berapa kali ia melakukan latihan mengucap ikrar suci yang baginya momok menakutkan selama belasan tahun? Entah ... ia sendiri lupa. Rasanya tak percaya jika sekarang ia duduk untuk membuktikan kebulatan hati kali ini.


Ia masih ingat. Latihan pertama, kedua dan ketiga membuat keringat dingin serta kepalanya berdenyut hebat. Mual menyerang tiba-tiba. Hampir pingsan. Bahkan kalimat pencentus itu tak sanggup diucap secara utuh dan jelas. Lidahnya mendadak kelu, melumpuh dan kaku. Butuh waktu lama hingga ia kembali berani mencoba untuk melafalkan lagi.


Pada sesi keempat dan selanjutnya agresi ketakutan itu masih saja menghantui, tapi ia menyugesti pikiran membayangkan kehidupannya dengan Sasmaya pasti lebih bahagia setelah pernikahan. Berusaha menekan ketakutan itu agar tak menguasainya. Hingga ketakutan itu mampu ditekannya. Walau hanya sebagian kecil.


Sesi berikutnya ia hanya merasakan gemetar dan keringat dingin. Disertai napas yang tersengal saat pelafalan. Itu terjadi pada sesi latihan yang ke-10 kalinya. Meskipun lafal itu terucap dengan terputus-putus. Tapi kata Lyvia itu kemajuan yang cukup signifikan.


Dan mungkin orang lain tidak tahu, jika baru latihan yang kesekian kalinya, ia mampu mengucap dengan lantang. Kendati getaran bibir dan tangan terlihat jelas. Wajahnya juga terlihat pucat pasi. Tapi itu wajar dialami tiap calon pengantin.


Sementara Sasmaya bersama sang mama dan eyang melihat gerak-gerik Gama yang tengah menjabat tangan papa melalui layar kaca. Papa sendiri yang menjadi wali nikah.


Tegang. Cemas. Terbersit ragu. Berbagai perasaan tak menentu berkecamuk membentuk persepsi buruk. Kalau-kalau hal tak diinginkan kembali terjadi.


Papa terlihat menangis. Tersedu. Terbata-bata mengucap ijab kabul penuh haru. Hal itu menambah suasana hati dan pikirannya kian membuncah. Seakan-akan sebongkah batu menumpat di dadanya. Membuatnya kesulitan mengatur pernapasan.


Hingga terdengar sahutan lantang melalui speaker televisi layar datar yang tertanam di dinding, Gama mengucap lafaz kabul penuh percaya diri : Saya terima nikah dan kawinnya Sasmaya Kirana binti Irwansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.


Lebur sudah keraguan. Kelegaan menyelusup, meringankan beban di dada. Menyatu dengan haru kebahagiaan.


Menunduk. Menangkup dua tangan di depan dada. Cairan bening yang sedari tadi lolos dari pelupuk matanya kian deras. Seperti aliran sungai di bawah kaki gunung. Gama benar-benar membuktikan kesungguhannya.


Ranti bangkit. Memeluknya sejenak. Lalu membimbingnya untuk berdiri. Ia masih bisa melihat laki-laki itu yang tengah menengadahkan tangan berdoa di layar kaca meneteskan air mata.