
...61. Gamophobia...
“Gama mengalami trauma berat akan pernikahan.” Sofyan mengajaknya duduk di sebuah taman. “Awalnya Papa tidak percaya. Kejadian belasan tahun itu membelenggunya. Membuatnya takut untuk menikah sampai sekarang.
“Suatu ketakutan yang mengada-ngada menurut Papa. Tapi setelah mendengarkan psikiater yang dibawa Widiya. Papa baru percaya.
“Gama memulai belajar bekerja di GPP. Di mulai dari bawah menjadi staf biasa. Lalu kariernya semakin menanjak. Dan dia mulai disibukkan dengan pekerjaan. Di saat itulah dia datang membawa Cyntia. Mengatakan ingin menikahinya. Saat itu Gama berusia 25 tahun. Dengan karier yang cemerlang dia memutuskan untuk menikah.”
Jeda. Sofyan menghela. Menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi taman.
“Segala persiapan pernikahan mereka saat itu diurus sendiri oleh Cyntia. Dibantu Heti. Sementara Gama fokus dengan pekerjaannya. Apalagi pada waktu itu, GPP tengah jaya dan berkembang pesat.
“Mungkin, bagi Cyntia Gama seperti tidak peduli dengan pernikahan mereka. Terlalu sibuk. Hingga melupakan hal-hal yang menurut Cyntia perlu Gama terjun langsung.
“Hingga suatu waktu pertengkaran hebat sebelum 7 hari pernikahan mereka terjadi. Mereka mengalami kecelakaan tunggal sepulang dari melihat wedding venue yang direncanakan di daerah puncak.”
Sofyan menegakkan punggung. Ia membasahi bibirnya yang kering.
“Cyntia terluka parah. Sementara Gama kondisinya lebih baik.”
Laki-laki yang duduk di sebelahnya ini membenarkan letak kacamatanya. Menarik napas kemudian.
“Tepat di hari pernikahan mereka. Bukan janji pernikahan yang terucap. Melainkan kesedihan yang mendalam karena harus melepas Cyntia selama-lamanya. Cyntia meninggal sebelum Gama mengucapkan ikrar pernikahan. Hal itu menjadikan Gama merasa bersalah. Menyalahkan diri sendiri hingga kini.
"Bahkan dengan memindahkan Gama ke Belanda, saya pikir dia akan bisa melupakan peristiwa itu. Ternyata ... saya salah. Gama menyimpan ketakutan itu sendirian."
Tentang ketakutan. Trauma. Sofyan baru mengetahuinya setelah Gama kembali ke Indonesia. Gama sedang berusaha keluar dari ketakutannya. Tengah menjalani beberapa terapi pada dokter Lyvia, rekomendasi Widiya.
“Papa minta maaf, Sas. Telah melibatkan kamu pada masalah keluarga ini. Apa pun keputusan kamu, kami terima.”
Lengang. Ia sendiri belum bisa memutuskan apa-apa.
“Gama sedang berperang melawan ketakutannya. Melawan musuh yang tidak tampak. Tapi sangat berdampak besar hingga membuatnya seperti ini.”
Sepanjang perjalanan kembali ke Banyu Mili Sasmaya terdiam. Sementara Affan yang mengemudi di sebelahnya ikut tak bersuara. Meski banyak hal yang ingin diungkapkan.
Seusai Sofyan menceritakan perihal sikap Gama yang tersebutlah secara tidak sengaja didengarnya. Ia lantas pamit pulang. Tanpa menemui laki-laki itu sebelumnya.
Sampai dengan saat ini ia belum tahu, keputusan apa yang akan diambil. Yang pasti, memaksakan laki-laki itu untuk menikahinya juga percuma. Hanya akan menambah derita pada Gama. Pun, ia tidak ingin berakibat buruk dengan pernikahan itu seandainya tetap berjalan. Biarpun, ia juga merasa sakit dan kecewa.
“Gama sangat mencintaimu, Sas.” Akhirnya kata-kata yang sedari tadi ditangguhkan diucapkan Affan.
Ia diam.
“Kamu berhak marah kepadaku. Dari awal aku yang merencanakan ini semua. Bermula dari dating apps, biografi papa, menjodohkan kalian ... hingga pernikahan ini. Aku andil di dalamnya.” Affan sekilas melihat Sasmaya di sebelahnya yang masih terdiam. Dengan pandangan lurus ke depan.
“Gamophobia selama belasan tahun membuatnya memutuskan untuk tidak menikah. Meski beberapa kali dekat dengan wanita. Hingga dia bertemu dengan Elena yang punya pemikiran sama. Enggan berkomitmen untuk masa depan.
“Hanya Elena. Wanita Belanda yang mau menerimanya. Sementara yang lain ...,” Affan kembali melihat Sasmaya sekilas. “Wanita mana pun juga ingin kepastian. Berkomitmen untuk masa depan ... pasti lebih memilih laki-laki lain yang punya kejelasan hubungan. Dan Gama juga selalu menghindari wanita yang berujung meminta hubungan serius, apalagi membicarakan pernikahan.”
Satu tahun terakhir kondisi Gama sangat menyedihkan. Setelah mama meninggal, papa hanya memberikan jeda 1 tahun untuk Gama tinggal di Belanda. Dan laki-laki itu harus kembali ke Jakarta. Memulai kehidupan baru. Yang pasti kehidupan yang menurut papa dan almarhum mama adalah yang baik dan semestinya.
Apalagi, wasiat mama terakhir yang ingin Gama menikah. Membuat Sofyan membulatkan tekad untuk mengubah Gama. Biarpun Sofyan harus menjual semua saham Zoon di Belanda.
“Gama juga sangat mencintai Cyntia. Tapi caranya salah. Berkaca dari kesalahan itulah, dia ingin memperbaikinya saat bersamamu.”
Lengang sejenak.
“Dan kamu juga harus tahu, Sas. Dia berusaha untuk mengobati ketakutannya dengan menjalani beberapa konseling dan terapi selama ini setelah mengenalmu. Karena sebelumnya Gama tak pernah mengakui ketakutannya. Meski ada kemajuan ... tapi ternyata ketakutan itu belum seluruhnya hilang. Ketakutan yang mendalam belasan tahun butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkannya. Apalagi, Cyntia kerap hadir dalam mimpi Gama.”
Ia memejamkan mata.
“Dulu mendengar kata menikah saja, Gama sudah berkeringat dingin. Dia tidak pernah datang saat teman-temannya mengundangnya untuk datang ke pernikahan. Hal yang sangat dihindarinya. Apalagi saat lamaran kalian terjadi, Gama harus melawannya sekuat tenaga. Dia merasakan mual, muntah, pusing bahkan hampir pingsan. Gejala yang menurut orang mungkin biasa. Tapi bagi penderita itu sangat menyiksa.”
Mobil mereka tiba di Banyu Mili.
“Aku minta maaf, Sas. Apa pun keputusan kamu, kami terima. Kami sudah terlalu dalam melibatkanmu dalam masalah keluarga kami.”
Sasmaya membuka pintu mobil.
“Sas,”
Ia menatap Affan.
“Terima kasih. Kita masih bisa profesional.”
Ia menarik sudut bibirnya samar. Tanpa berucap sepatah kata. Membuka pintu mobil. Lalu menutupnya. Meninggalkan Affan yang masih berada di dalam.
Membuka pintu kamar mama dan eyang perlahan.
“Ya ampun, Sas. Kamu dari mana saja? Mama cari kamu. Papa juga nyariin kamu ... kamu pergi begitu saja gak bilang-bilang.” Ranti mengomel melihat kedatangannya.
Sementara ia duduk di sofa, di sebelah eyang yang masih mengulas senyum menyambutnya. Papa datang bersama Miko.
Ia mengangguk. Papa duduk di sofa satunya. Dengan Miko berdiri di belakangnya.
Sasmaya mulai menceritakan kecelakaan yang menimpa Gama. Semua orang yang berada di sana terkejut. Terkecuali Miko. Mungkin adiknya itu belum menceritakan pada papa. Sebab reaksi papa sama dengan yang lainnya.
“Keadaan Mas Gama baik-baik saja. Hanya tangan kirinya mengalami fraktur,” tukasnya.
Lega. Semua orang mengucap syukur.
Eyang mengusap lengannya.
Ia menarik napas panjang. Mengembuskan pelan. Saatnya ia mengambil keputusan.
“Ma, Pa, Eyang ....” Semua orang menatapnya. Menanti kelanjutan kalimat yang ingin disampaikan. “Sas dan Mas Gama ... ingin menunda pernikahan ini.”
Mama langsung beraksi cepat. Menggeleng, menyergah, “Apa-apaan, Sas. Gila kamu. Mau membuat malu Mama dan semua keluarga?” tandas Ranti dengan mata berkaca-kaca. “Ini keinginan kamu. Keinginan kalian. Kenapa mendadak membatalkan seperti ini. Gak, Sas. Pernikahan ini tetap terjadi.”
“Apa tidak ada jalan lain, Sas? Apa hanya fraktur lengan kiri. Jangan-jangan Gama mengalami luka yang lain, parah, tidak bisa bangun dari ranjang rumah sakit? Makanya kalian menunda hingga Gama sembuh,” tanya papa. "Kalau itu alasannya, Papa bisa terima."
Ia menggeleng. “Mas Gama baik-baik saja, Pa.”
“Lalu, kenapa harus ditunda?” Ranti menimpali.
Satu persatu tatapannya beralih pada mama, papa dan eyang. “Mas Gama sakit psikis. Butuh waktu penyembuhan. Tidak mungkin pernikahan kami digelar 2 hari lagi.” Terpaksa ia mengambil keputusan ini.
“Sakit psikis?” Ranti menggeleng. Tak mengerti. Semacam alasan irasional yang sulit dipahaminya.
Sementara papa menarik napas dengan mata terpejam rapat.
Ya, ia tahu keluarganya pasti kecewa dengan keputusannya. Tapi menurutnya, inilah jalan yang terbaik. Ke depannya, ia tidak tahu, apakah hubungannya dengan Gama akan terus bertahan. Atau berhenti sampai di sini.
Eyang kembali mengusap lengannya, “Kalian dengar, ini keputusan Sas dan Gama. Apa pun yang terjadi. Ini semua jalan Tuhan.”
“Tapi, Bu—” Ranti menyela. Rasanya ini sulit diterimanya.
Eyang menggeleng, “Ran ... kita semua ingin Sas menikah. Tapi atas kemauannya sendiri. Jika ini sudah keputusannya, kita tidak bisa memaksanya.”
“Bu, benar, kan apa yang aku katakan tadi. Erna pernah bilang kalau akan terjadi sesuatu dengan pernikahan Sas. Dan ini buktinya. Ya, kan! Pernikahan mereka ... batal.” Ranti berdesah. Tak sanggup lagi membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Hal buruk menimpa Sasmaya jelang pernikahannya. Erna ternyata benar.
“Sudah ... sudah. Kita berdoa semoga dibalik kejadian ini, ada hikmah yang bisa kita ambil. Sas ....”
Ia memeluk eyang. “Sas minta maaf, Yang.”
“Tidak perlu minta maaf. Jodohmu mungkin bukan dia. Atau mungkin inilah ujian yang harus kalian lewati terlebih dahulu.” Eyang mengusap punggungnya.
Sementara Ranti menyeka tangisnya. “Gak mungkin,” lirihnya.
“Aku akan menemui Gama.” Papa bangkit. Berlalu meninggalkan mereka. Diikuti Miko yang ikut keluar dari kamar.
Tak ada yang tahu mengapa dan bagaimana semua ini bisa terjadi jelang pernikahannya. Tapi satu hal yang pasti. Ia butuh waktu. Menyembuhkan dadanya yang tumpat. Mengembalikan suasana hatinya yang porak-poranda. Ia lara.
Kereta Api Senja Utama baru saja meninggalkan Stasiun Solo Balapan 10 menit yang lalu. Membawa dirinya kembali ke Jakarta.
...***...
Terjadi perdebatan kecil antara Papa Sasmaya dengan Sofyan. Siapa pun orangtua tidak akan ada yang rela pernikahan anak perempuannya gagal di tengah jalan. Ditambah dalam hitungan jam.
Ia tidak terima.
Alasan Sofyan yang seperti dibuat-buat. Gama sakit psikis. Butuh penyembuhan dari psikiater. Tak membuatnya 100% percaya. Sakit apa? Hingga laki-laki itu lari dari tanggung jawab.
“Gamophobia.” Ia mengulang ucapan Sofyan. Penyakit aneh yang kali pertama didengarnya. Sejenis ketakutan berlebihan yang ditimbulkan dari trauma masa lalu.
Meski demikian ia tak terlalu memahami apa itu gamophobia. Hanya 1 yang diinginkannya. Ia ingin bertemu dengan laki-laki itu.
“Saya mau bicara dengan Gama!” tangkasnya berseru. Pokok soalan pada laki-laki itu yang pernah berjanji padanya untuk tak melukai Sasmaya baik fisik maupun perasaannya.
Nyatanya ... Janji itu diingkari.
“Maaf, Pak. Gama tengah menjalani terapi bersama psikiater. Untuk menstabilkan emosinya,” tukas Sofyan.
Kecewa. Ia berdesah panjang. “Bagaimana bisa, kalian mempermainkan anak kami? Ini sangat menyakitkan. Saya tidak tahu lagi harus bilang apa. Permisi.”