
...75. Epilog...
Sasmaya merebah di atas tikar depan tenda. Menengadah. Melengkungkan bibirnya.
Malam tadi mungkin akan menjadi malam terkonyol dalam hidupnya. Entah serangga apa yang menggigit kakinya. Membuatnya berteriak. Dengan sigap Gama kembali menyalakan lentera.
Akibat gigitan hewan tersebut laki-laki itu rela tidak tidur untuk menjaganya. Tapi seberapa besar kekuatan dan keteguhan Gama bertahan? Nyatanya seujung kuku.
Setelah berhasil menangkap serangga pembuat onar, laki-laki itu kembali melakukan bujuk rayu.
Mungkin bagi sebagian orang tindakan ini aneh dan di luar kebiasaan. Sebab malam pertama biasanya akan dilakukan di tempat yang spesial, terencana dan terkondisikan. Sementara ini kebalikan. Mereka melakukannya di tenda. Tapi, ya... merunut asal muasal pernikahan keduanya saja tanpa rencana. Mungkin juga berimbas dari kejadian malam tadi. Yang memang tanpa rencana. Insidental.
Ia menggeleng. Rasanya malu dan lucu.
“Baby ... kamu ingat waktu di houseboat?” tanya Gama. Mengoleskan obat salep gigit serangga ke kakinya. Beruntung penyewaan tenda lengkap dengan fasilitas kesehatan darurat seperti kotak P3K.
Menggeleng. Seraya mengerutkan dahinya.
“Waktu itu ...,” Gama meraih tangan Sasmaya. Memasukkan ke dalam kaosnya. Meski tangan wanita itu terasa kaku tapi mau tak mau akhirnya menurutinya. “Ya ... kamu mengusapnya seperti ini.” Mempraktikkan adegan yang pernah Sasmaya lakukan padanya. Di malam di mana wanita itu mabuk berat.
Wajahnya merona. Mengusap perut dan seputar dada laki-laki itu. Menggeleng. Lantas bertukas, “Ngarang!” semburnya. Tak mengakui.
Gama terkekeh. Melepas kaosnya. “Kita reka ulang kejadian!” tanpa meminta persetujuannya, laki-laki itu menghujaninya kecupan-kecupan. Memberikan stimulasi manual pada titik-titik sensitifnya. Dengan gerakan perlahan dan lembut.
Secara langsung stimulasi tersebut mengakibatkan kembali hasrat yang sempat teredam. Sialnya lagi meski otaknya berusaha menolak, nyatanya sinyal hormon endorfin keluar dengan jumlah yang tepat. Neuron-neuron yang diproduksi hormon tersebut membuat gerakan seperti bekerja sendiri. Tanpa instruksi. Begitu juga dengan respons emosionalnya.
Sekelebat bayangan muncul. Merasa pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Ia menahan kepala laki-laki itu yang berada di ceruk leher. Tengah mencucup di sana. Membuat Gama terhenti, bertanya, “Kenapa?”
“Apa aku sefrontal itu?”
Gama tak menjawab.
“Waktu kita di houseboat, apa aku terlihat murahan?” imbuhnya.
Terkekeh. Laki-laki itu justru mencium keningnya. “Aku jadi menyesal. Kenapa waktu itu kesempatan yang begitu terbuka lebar kubuang cuma-cuma,” ujarnya berpura-pura penuh sesal.
Ia berdecak. Mengerucutkan bibir.
Memilih merebahkan tubuh di samping Sasmaya. Menghadapnya. “Ternyata aku penuh keberuntungan. Padahal kesempatan datang lagi. Bodohnya ...aku melewatkannya lagi,” cengir Gama dengan melipat bibir. Menahan senyum.
“Curang, curang, curang!” timpalnya sebal. Memukuli dada Gama. “Kamar mandi kamu penuh jebakan. Lagian mana aku tahu kamu pulang dari Bandung. Harusnya kamu kasih tahu kalau mau pulang. Jadi aku bisa tidur di kamar tamu,” elaknya mencecar. Tertangkap basah tanpa sehelai benang pun di tubuhnya membuatnya malu sekaligus kesal mengingat kejadian kala itu.
Kekehan Gama masih terdengar. Sambil merengkuh dan mencium kepalanya. “2 kali aku harus mati-matian mengendalikan diri. Tapi sepertinya malam ini aku gak sanggup lagi.”
“Bagaimana kalau ada yang lihat?” mereka tidak sendiri. Ada 2 tenda yang tak jauh dari tempatnya ini.
“Matikan lampu.”
“Bagaimana jika ada saudara serangga tadi yang datang?” Tidak menutup kemungkinan serangga lain luput masuk saat pintu tenda terbuka.
“Sudah aku periksa. Tidak ada serangga yang tidur bareng kita.”
“Bagaimana kalau ... tiba-tiba hujan deras?” meski saat ini hujan telah berhenti. Tapi kemungkinan itu masih bisa terjadi.
Seringai kecil terbit. Gama tahu, istrinya ini mencari cara menghindar. “Tenda ini punya tingkat water resistance di atas 2000 mm. Juga double layer,” tutur Gama sesuai apa yang dikatakan oleh pemilik persewaan camping tadi. Jadi dengan intensitas hujan di wilayah Indonesia yang rata-rata 500-2000 mm, tenda tersebut masih aman. Sengaja memilih tenda yang berkualitas bagus dengan harga sewa yang lebih mahal ternyata tidak rugi. Di samping itu juga dilengkapi dengan alas tidur matras udara yang juga waterproof, empuk dan tinggi. Setidaknya membuat tidur mereka lebih nyaman. Biarpun tak senyaman seperti di rumah atau hotel.
Walau ada satu hal yang cukup mengganggu. Alas tidur yang terbuat dari bahan PVC vinyl menghasilkan suara gemeresak saat keduanya melakukan gerakan.
“Bagaiman—”
“Sstt... jangan berandai-andai. Kalau kita belum mencobanya,” sergah Gama dengan suara lirih. Membungkam mulutnya dengan organ kenyal milik laki-laki tersebut. Tanpa memberikan kesempatan pada Sasmaya meneruskan kalimatnya.
Adegan berikutnya ... semua terjadi begitu saja. Mengikuti naluri. Insting bermain. Gama benar-benar membuatnya rileks. Membuatnya nyaman. Memberikan pemanasan yang cukup. Sampai-sampai laki-laki itu mampu membubungkannya seolah-olah tak menapak tanah.
Pasrah.
Mengikuti keinginan Gama hingga berulang kali berdesah. Laki-laki itu melakukan tugasnya memimpin secara misionaris. Disertai gerakan yang perlahan dan lembut. Tetap menjaga komunikasi. Walau lebih banyak komunikasi non verbal.
Sayangnya, malam pertama itu harus diwarnai adegan putus di jalan. Sebab sorot beberapa lampu senter dari kejauhan menembus tenda keduanya. Menghampiri mereka.
Sasmaya menutup wajahnya. Mengingat itu rasanya menggelikan. Benar-benar malam yang tak terlupakan.
“Aku bawakan nasi goreng.” Gama datang membawa kantong plastik hitam. Tadi pagi usai bergantian mandi di toilet umum. Laki-laki itu memesan makanan untuk mereka sarapan.
Ia duduk bersila. Sementara Gama membuka bungkusan nasi yang terbuat dari kertas berlapis daun. Duduk di hadapannya.
“Habis ini kita turun. Ke pantai.” Sebenarnya sejak bangun tadi ia merengek untuk ke pantai. Namun laki- laki itu belum mengizinkan.
Melihat Gama yang diam, ia menukas, “Pleaseee ... sebelum pulang.” Memohon pada suaminya.
...***...
Menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan. Sekali-kali Gama menarik tangannya saat ombak kencang menerjang.
Pantai dengan pasir putih bersih. Tidak begitu luas. Sebab diapit bukit karang.
Keduanya memilih duduk bersisian di areal pantai yang kering. Sambil mendengarkan gemuruh ombak yang datang menuju ke tepian.
Tenang.
Indah dan menakjubkan.
Sasmaya menyandarkan kepalanya pada bahu Gama. Laki-laki itu mengusapnya. Memberikan ciuman di sana.
Rasanya masih seperti mimpi. Di usianya 32 tahun, ia pada akhirnya menemukan jodohnya. Menemukan pasangan hidupnya.
Berbagai cara dan usaha untuk segera menemukan pasangan yang tepat telah dilakukan. Termasuk menerima perjodohan. Karena dari perjodohan itulah orang yang tepat kini berada di sebelahnya. Menjadi suaminya.
Apa ia menyesal telah melakukan blind date?
Gelitik senyum mengusik benaknya. Jawabnya tidak.
Karena ia tahu pemilik semesta ini menyembunyikan tiap pasangan makhluk ciptaannya penuh misteri. Bisa jadi dipertemukan dalam waktu yang tidak tepat. Tempat yang tidak sesuai, dan dengan orang yang mungkin tidak pernah diharapkan. Namun yakinlah ... jodoh itu tidak pernah salah. Sebab terkadang kesalahan terletak bukan pada apa dan siapa yang kita inginkan. Melainkan pada bagaimana cara menyikapi. Perlu pemahaman lebih untuk mengerti hakikat pasangan sesungguhnya.
Sekuat apa pun berusaha mengejar dan mendapatkan pasangan, jika dia bukanlah orang yang tertulis dalam takdir, maka tak akan pernah menyatu. Sebaliknya, jika sekuat tenaga menolak dan berusaha menjauh, jika dia yang tertulis dalam takdir, maka dia akan tetap bersama.
Sebagaimana kutipan-kutipan yang sering dibacanya dalam sebuah undangan pernikahan. Tertulis jelas:
‘Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu tenang dan tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.’—Ar Rum;21—
Tidak ada rumus yang akurat untuk mengetahui pasangan hidup. Yang jelas semua perlu diusahakan dan diperjuangkan. Jangan lupa juga berdoa.
“Baby, kita pulang,” ucap Gama. Bangkit dan mengajaknya berdiri.
Laki-laki tampan yang mengenakan kacamata hitam itu tersenyum, “Saatnya kita menikmati honeymoon ala aku,” imbuhnya sambil mengerling menggoda.
Sesuai kesepakatan tadi pagi saat mereka berjalan ke toilet umum, bahwa setelah dari sini, Gama yang akan jadi komando selanjutnya mengisi sisa liburan mereka. Cukup 1 hari hidup bertualang di tenda, kata laki-laki itu.
Biarpun di alam bebas. Lokasinya sepi dan cukup nyaman untuk berduaan, ternyata gangguan itu banyak macamnya. Datang tak bisa diprediksi. Tak bisa dihindari. Dari mulai serangga, matras angin yang tak mau diam, hingga sorot senter dari rombongan pemancing yang datang hanya untuk meminjam korek api.
Ia hanya bisa menahan senyum. Meski dalam hati terkikik geli. Sementara Gama ... berdesah menggaruk kepalanya yang seakan-akan meledak sebab hasrat yang tak sempurna tertuntaskan. Pun pada akhirnya mereka hanya bisa melanjutkan tidurnya. Hingga esok hari.
“Senyum aja terus, mulai nanti malam senyum itu akan berubah rengekkan,” sindir Gama. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Mengambil beberapa lembar tisu. Mengelap peluh di leher dan wajahnya. Terik matahari sangat menyengat. Apalagi tepat di jam 12 siang.
Sepertinya Gama mengetahui dan mampu membaca pikirannya. Bisa jadi dari gestur wajah yang diperlihatkan sejak mereka meninggalkan pantai hingga ke parkiran.
Ya, memang tubuhnya merasakan lelah. Nyeri dan pegal-pegal. Jadi solusi dari Gama rasanya tepat. Kemudian ia mengangguk, mengucap, “Terima kasih,” disertai senyuman.
Tiba di beach resort sore hari. Setelah makan siang yang sangat terlambat, ia dan Gama berpisah. Laki-laki itu menuju kolam renang. Sementara ia digiring seorang terapi menuju salah satu ruangan spa.
Setelah hampir 1 jam setengah, ia melakukan pemijatan tubuh, bahkan sempat ketiduran. Kini langkahnya terayun menuju kamar yang telah dipesan Gama.
Tiba di kamar, laki-laki itu tak terlihat. Sepertinya masih berada di kolam renang. Ia memeriksa ponselnya. Banyak pemberitahuan di sana, salah satunya dari Sinta.
Urung membalas, Sasmaya justru memilih melakukan panggilan telepon.
“Woiii ... gitu ya, saking lo menikmati liburan atas usul gue, segitu lupanya lo sampai gak kasih kabar,” cerocos Sinta begitu sambungan telepon itu terdengar. “Hello ... ada kabar apa gerangan?” sambungnya menyindir.
Menyengir. Menggigit bibirnya kemudian, ia menyahut, “Gue lagi di Yogya, Sin.”
Sinta menyergah, “Ya, terus ....”
“Siapa?” tanya Gama yang datang dari belakang tanpa sepengetahuannya. Mencium pelipisnya. “Bagaimana sekarang, sudah lebih rileks?”
Ia yang lupa menutup speaker telepon, mengangguk, menjawab laki-laki itu, “Sinta. Aku teleponan dulu, ya.” Menjauh menuju teras belakang. Menggeser pintu kaca. Berdiri tepat menghadap Samudera Hindia.
“Sorry, Sin—”
“Jangan bilang lo nginap dengan laki-laki?” potong Sinta. “Siapa dia, Sas? Sejak kapan lo pacaran sama dia? Lo kenal dia di mana? Teman komunitas lo? Teman ketemu di jalan? Oh jangan ... jangan ... lo ... dia ... lo sama dia ... lo—”
“Baby ... siapa yang telepon? Tolong lihat, aku lagi tanggung mandi!” teriak Gama dari kamar mandi. Mendengar dering teleponnya yang nyaring terabaikan. Membuat Sinta terhenti. Terdiam menelinga.
Hening. Langkahnya kembali terayun masuk ke dalam kamar. Nama Dirk tertera di layar. Namun baru saja ponsel Gama hendak diangkat, sambungan telepon tersebut terputus.
“Oh my gosh ... OMG ... ya ampun! Lo ... dia ... oh, Tuhan ampuni sahahat gue ini. Pleaseee ....”
Ia berdecak.
“Ini beneran lo, kan?!”
“Iya ... ini gue. Gue mau kasih tahu, kalau gue udah nikah.”
“Oh my gosh ... OMG ... ya ampun! Beneran?!”
Sasmaya terkekeh.
“Lo pikir ini berita lucu!” sekak Sinta yang mendengar tawa sahabatnya di ujung telepon.
“Makanya dengerin gue dulu,” pintanya. “Gue udah nikah 4 hari yang lalu. Sama Ardian Gama Putra.”
Lengang. Tak ada sahutan Sinta akan keterkejutannya. Hingga suara Gama menyela. Bertepatan keluar dari kamar mandi.
“Baby, siapa yang telepon?”
“Dirk,” sahutnya. Lantas berbicara dengan Sinta, “udahan ya, Beb. Nanti gue ceritain panjang lebar gimana gue ama dia bisa nikah. Bye, Sin.” Menutup sambungan telepon tanpa menanyakan dan mendengarkan tanggapan dari Sinta, di seberang sana yang masih ternganga tak percaya.
Sementara Gama yang keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk kimono ikut duduk di sebelahnya. Mengusap-usap rambutnya yang masih lembab, sebab tak sepenuhnya dikeringkan dengan hairdryer tadi di kamar mandi.
“Sepertinya telepon penting dari Dirk. Lebih baik kamu telepon balik,” usulnya. Menyuapkan potongan buah pada laki-laki itu.
Gama sempat berpikir sesaat, sambil menghentikan kunyahannya. Lantas menukas, “Kalau penting pasti dia telepon balik.” Rasanya memang bukan Dirk, jika hanya bertegur sapa. Pasti ada hal penting yang sahabatnya itu ingin sampaikan.
Namun, entah mengapa leher jenjang Sasmaya yang tersibak akibat rambutnya dicepol ke atas lebih menggoda dibanding kabar dari Dirk. Gama mengecupnya sekilas. Membuatnya refleks menjengit dan meninggalkan sensasi meremang.
Ia pikir laki-laki itu berhenti hanya di situ saja. Nyatanya saat ia bangkit ingin meninggalkan sofa, Gama menarik lengannya.
Sasmaya yang tak siap dengan serangan tiba-tiba jatuh di pangkuan laki-laki itu. “Mas Gama,” tandasnya.
Tersenyum dengan tatapan dalam, Gama melepas satu persatu kancing kemejanya yang terletak di depan. “Tidak ada serangga di sini. Tidak ada suara berisik dari ranjang. Juga ... tidak ada pemancing yang datang pinjam korek api,” papar laki-laki itu. Tapi ia mengingat sesuatu, jika ..., “wait a second,” ungkapnya. Melangkah meninggalkan istrinya sejenak. Memutar tumit ketika melewati partisi yang memisahkan antara tempat tidur dan meja makan. Tersenyum, menatap wanita yang duduk di sofa yang juga tengah mengawasi gerak-geriknya. Gama mengangkat telunjuk, “kita akan terbebas dari gangguan kali ini, janji ...!” cengirnya seraya kembali memutar tubuhnya menuju pintu keluar kamar. Memasang tanda pada handle pintu. Yang biasa tersedia pada hampir semua hotel.
“Let’s do it,” ujarnya senang terucap dengan berdendang. Misinya kali ini pasti akan lancar dan sukses. Tidak ada seorang pun yang akan berani mengganggunya.
Gama mendekatinya dengan senyum yang terus terhias di wajahnya. “Sekarang kita bisa melakukannya dengan tenang dan nyaman,” bisiknya.
Ia yang awalnya berniat berjalan-jalan menikmati senja di pantai terpaksa mengurungkannya. Tidak ingin membuat kecewa Gama. Lebih-lebih lagi impuls demi impuls yang diberikan laki-laki itu membuatnya tak berdaya.
Hingga puncaknya Gama membopongnya ke atas kasur. Merebahkan perlahan. Laki-laki yang berada di atasnya itu melepas bathrobe-nya. Kembali menyusuri tempat-tempat sensualitas pada tubuhnya.
Saat tubuh menyeru menyatu. Titik-titik peluh bergumul antar kulit saling mengimpit. Ponsel Gama nyaring berdering. Membuat laki-laki itu seketika menghentikan kegiatannya. Namun hanya beberapa detik. Setelahnya, laki-laki itu tetap memilih mengabaikan panggilan berikutnya yang kembali susul menyusul tanpa henti.
Dalam hati Gama memejam, mengumpat, “Verdomme!” Jika ini Dirk, ia sumpahi sahabatnya itu agar lekas menyusul menikah. Tentu dengan gadis yang jauh lebih muda. Juga punya watak manja. Ditambah bukan dari benua Eropa. Semua hal yang tidak disukai Dirk menjadi sumpah serapahnya.
Sasmaya menepuk bahunya. Membuka mata. “Kayaknya penting, Mas. Angkat dulu.”
Mengusap wajah dengan kasar, laki-laki itu terpaksa bangkit. Duduk di tepi ranjang. Menyambar ponsel yang tergeletak di meja kecil samping kasur. Menelepon balik nomor Dirk yang berderet di riwayat panggilan.
“Hallo,” sapa Gama malas. Rasanya ia menyesal mengapa tak mematikan ponselnya sedari awal.
“Hei A. Please ... help me. Aku tunggu di Jakarta. Ada hal penting kenapa aku datang ke Indonesia lebih awal sebelum undangan pernikahan kalian. Aku sedang diinterogasi pihak imigran bandara. I need your help. Please help me, now.”
WHATT! Kening Gama mengerut. Sambungan telepon terputus. Tubuhnya terhempas ke belakang di samping Sasmaya. “Sorry, Baby kayaknya honeymoon kita harus ditunda ... kita harus pulang ke Jakarta.”
...END...
... ...