
Matahari sudah mulai condong di langit barat. Sudah lewat tengah hari. Mata hazel itu menatap lembut ke arah seraut wajah cantik yang terlelap di sampingnya. Sebuah senyum tipis menghiasi bibir ranum itu.
Pemilik mata hazel itu tersenyum.
"How beautiful is my girl ", lirihnya.
Perlahan mendekatkan wajahnya, mencium bibir mungil merah itu dengan mesra. Mengecapnya lembut.
"Capek ya ? Maaf ya sayang, aku nggak bisa tahan ", diusapnya lembut pipi mulus itu.
Mengusap bekas keringat di pipi mulus istrinya, hasil pergulatan seru mereka beberapa jam yang lalu.
Kenan.... hmmm... lelaki itu telah menggempur pertahanan Adelia tanpa ampun. Hingga gadis itu kini terlelap karena kecapekan. Bahkan sudah melewatkan makan siangnya.
Kembali Kenan mengecap bibir ranum itu. Sedikit terusik tubuh cantik itu beralih posisi. Dari posisi miring kini menjadi terlentang. Dan alhasil menyebabkan selimut yang menutup tubuh polos mereka berdua tersingkap
Glekkk. Kenan menelan ludahnya. Ketika bulatan indah itu tampak nyata menantang di depan matanya. Dengan puncak pink ranum yang menggoda.
Beberapa jam lalu Kenan sudah menikmati itu, dengan ulah nakal bibir dan tangannys yang menggila. Tapi melihat itu lagi, kenapa sesuatu di bawah sana kembali gelisah.
"Oh.... Shittts....! ", umpatnya. Tangannya bergerak mengusap sesuatu di bawah sana yang mulai menegang dan berdiri tegak.
Gairah lelaki itu kembali bergejolak. Tapi Kenan harus berusaha menahannya. Istrinya sudah terlalu kecapekan. Bisa-bisa nanti marah kalau dia terus menyerangnya.
Tadi saja, gadis cantik itu sudah protes. Bahkan tangan mungilnya memukuli dada dan pinggul Kenan kesal, sekaligus gemas. Ahhh.... kenapa mesti pinggul sih? salah gadis itu sendiri kan?
Dengan sentuhan di pinggulnya, tentu saja Kenan semakin bergairah. Aishhh Adel, kamu bener-bener polos, baby.
Itulah yang membuat Kenan terus menghajarnya tadi.
Perlahan Kenan menarik selimut itu ke atas. Menutupi tubuh mulus istrinya yang kini terdapat banyak hickey di sana. Tapi dasar Kenan, sebelum tubuh cantik itu kembali tertutup, kepala lelaki itu menunduk di atas dada montok itu.
"Just kiss, baby. Boleh kan ? ", gumamnya di depan puncak ranum itu.
Sedetik kemudian bibirnya sudah menikmati little pink yang menggoda itu. Tangan usilnya tentu saja tidak mau diam. Ikut bermain-main di sana.
Tak ayal lagi, si empunya bulatan indah itu terusik. Suara merdu mulai keluar dari bibir mungilnya. Sementara matanya masih terpejam.
"Emhhh....Kennnn, you drive me crazy, you know, stop it !", desahnya. Masih dengan mata terpejam tangan mungil itu bergerak menyentuh kepala yang berada di atas gundukan indahnya. Menyelipkan jemarinya diantara helaian rambut lelaki itu dan sedikit menekannya.
"Hmm...baby, I'm going crazy because of you, my love ", gumam lelaki itu. Masih di atas little pink menggoda itu.
Kenan masih belum mau berhenti. Bibirnya masih asyik bermain di sana. Mata hazelnya juga terpejam, begitu menikmati kegiatannya.
Suara merdu dari bibir Adelia terdengar semakin jelas. Hingga akhirnya mata cantik itu membuka, lalu spontan mendorong kepala Kenan kuat. Hingga lelaki itu terjatuh dari ranjang.
"Brakkkk.... ", tubuh besar itu jatuh menimpa lantai. Bersamaan dengan itu pekikan dari bibir Adelia terdengar.
"Awww.....It's hurt !", katanya sambil beranjak dari baringnya. Tangan mungilnya memegangi puncak dadanya.
"You hurt me ..... Kennnn ! ", Adelia mengamati puncak dadanya yang semakin memerah karena ulah bibir Kenan yang terus mengulumnya tadi.
Kenan yang masih terjengkang di lantai segera melompat dan berdiri. Sama sekali tidak memperhatikan tubuh polosnya.
Lalu bergegas naik ke ranjang menghampiri istrinya.
"Where is getting hurt, baby? hmm.... I'm sorry, my love ", katanya dengan wajah cemas.
Dahi lelaki itu mengernyit. Padahal perasaan Kenan tidak menggigitnya tadi, tapi kenapa istrinya kesakitan?
"Let me see, baby. Mana yang sakit? ", menjulurkan tangannya hendak mengambil alih tangan mungil Adelia.
Gadis cantik itu segera menarik selimutnya untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
"Prankkkkk..... ", seru Adelia. Seraya terkekeh geli.
Sebelum Kenan menarik tubuhnya, Adelia dengan cepat menggeser tubuhnya ke tepi ranjang dan melompat turun.
Kenan hanya bisa melotot konyol. Gadis kecilnya ini ternyata sedang mengerjainya.
"Naughty girl, awas ya !", gumamnya.
Sebentar, bibir lelaki itu tersenyum nakal. Tatapan mata hazel itu berubah cemas ketika terdengar rintihan dari bibir mungil istrinya.
"Ishhhh.... ", Adelia mendesis menahan perih di bagian bawah tubuhnya. Karena ulah Kenan yang over. Berusaha menyamankan diri dengan mengapitkan kedua kakinya dan membenahi selimutnya.
"Baby, what's happened ? Don't move, okay !", cemasnya. Terlihat sekali gadis kecilnya itu merasa tidak nyaman, sedikit meringis menahan sakit, tapi kenapa bertingkah menggemaskan seperti itu.
"Punya kamu masih sakit sayang, jangan sembrono !", marah lelaki itu.
Kenan merangkak di atas ranjang. Mendekati Adelia yang sudah berdiri di sisi ranjang yang berlawanan dengannya.
Pipi gadis cantik itu memerah. Apa suaminya tidak sadar kalau dia tidak mengenakan apapun sekarang? Adelia jadi ingat baby yang sedang belajar merangkak. Tapi ini? Baby besar ? Dengan sesuatu yang... uhmmm... besar di bagian itu...
Oh my gosh.....Adelia jadi salfok kan?
Gadis itu segera mengalihkan pandangannya. Bibir mungil itu mencebik lucu.
"Kamu yang bikin tubuh aku sakit, sekarang bikin mata aku nggak fokus ", celetuk Adelia.
Kenan seketika berhenti. Langsung paham dengan ucapan gadis cantik itu. Karena pandangan gadis itu beralih darinya dengan pipi yang memerah.
Lelaki itu tersenyum mesum. Lalu perlahan beranjak dan berdiri. Dengan cepat melompat dari ranjang dan mendaratkan kaki di sebelah istrinya.
"Mana yang sakit, baby? Biar aku sembuhin", bisiknya. Tangannya bergerak hendak meraih tubuh cantik itu, tapi Adelia keburu menghindar.
"Whoa.....wanna catch me, Ken? c'mon !", ledek Adelia. Bahkan gadis itu menjulurkan lidah, menggoda suaminya seraya mundur menjauh.
Kenan menggeleng pelan dengan senyum nakal di bibirnya. Gadisnya sangat menganggu imannya kalau bersikap begini.
"You don't listen to me, baby. I catch you, now ", bisiknya.
Adelia hendak berucap tapi Kenan segera mengintimidasinya.
"Look, siapa yang ngledek aku tadi? This? ", Kenan mengusap lembur bibir merah ranum itu.
Sebelum Adelia menyahuti, lelaki itu sudah lebih dulu membungkam bibirnya. Memagut bibir mungil itu lembut.
Dengan nakal menjulurkan lidahnya masuk ke mulut gadis cantik itu. Mengeksplor rongga mulut Adelia dengan nikmat. Lidah mereka saling menari liar di dalam sana.
Sejurus kemudian tanpa melepas ciumannya, Kenan mengangkat tubuh cantik itu ke gendongannya.
"Mandi bareng, sayang ", ucapnya di depan bibir yang masih terbuka mengambil nafas. Adelia terengah karena ciuman hebat Kenan.
"Mandi beneran ", manja Adelia. Seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang lelaki itu.
"Hmm... ", balas Kenan menyetujui. Tapi senyum nakal terukir di bibirnya.
************
Malam harinya.
"Ngapain sih mereka ke sini? ", gerutu lelaki itu.
Adelia yang tengah berdiri di depan kaca rias terkekeh geli. Lelaki itu menggerutu kesal dari tadi.
Pasalnya, grandpa dan grandma mau datang ke mansion. Beberapa saat yang lalu Mama Jasmine memberi tahu mereka.
"Husshh.... nggak boleh kayak gitu sama orang tua. Mereka udah jauh-jauh datang, biarin puas main di sini ", ingat Adelia.
Lelaki itu mendengkus jelas.
Main.... main, emang anak-anak ?
Pasti mereka akan menganggu pergulatsn serunya nanti malam.
Batin Kenan masih menggerutu.
"Orang tua kadang kembali kayak anak-anak, jangan olok mereka !", lanjut istrinya. Masih sibuk mengamati lehernya di kaca.
Gotcha !
Gadis kecilnya ini seperti cenayang saja. Bisa menebak pikirannya. Bibir merengut itu seketika tersenyum.
Kenan beranjak dari sofa dan melangkah menghampiri istrinya yang sedang sibuk di depan kaca. Menyisir rambutnya dan beberapa kali berhenti memperhatikan lehernya. Kenan mengamati itu dari tadi.
Kenan peluk tubuh cantik itu begitu sampai di belakangnya. Sebelah tangannya menyibak surai kecoklatan itu. Bibirnya langsung beraksi menciumi leher putih jenjangnya.
"Tapi kita jadi nggak bisa kayak gini, baby. Mesra-mesraan", mata lelaki itu mengedip nakal.
"They must be disturb us ", keluh lelaki itu. Masih sibuk mengecupi leher istrinya, kini beralih ke pipi mulusnya.
Adelia pukul lengan lelaki itu yang melingkar di perutnya.
"Mesra-mesraan terus? Tadi seharian udah
kan? ", protesnya.
Kenan ambil alih sisir di tangan istrinya. Sebelumnya menarik dagu cantik itu dan melabuhkan ciuman lembut di bibirnya.
"Why not, baby? kita pengantin baru, enggak masalah kan kalo mesra-mesraan terus?", protes lelaki itu. Tangannya mulai menyisir surai panjang istrinya.
Adelia memanyunkan bibirnya. Spontan membuat Kenan tergelak. Lalu meraih tali rambut dan mengikat helain indah itu. Tampak semakin jelas beberapa hickey di leher putih jenjang itu. Hasil karya Kenan tadi siang.
"Look at this Ken, You wanna make it again? ", Adelia menunjuk lehernya.
Kenan terkekeh. Menyelesaikan kegiatan mengikat rambut istrinya. Lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di leher dan kepala perempuan cantik itu.
"Of course, baby. This hickey, I'll make it with my pleasure, honey ", bisik Kenan seduktif. Seraya mengusap lembut leher putih itu.
Spontan Adelia memutar tubuhnya.
"Dasar jahat...gimana nanti kalo grandpa sama grandma lihat? ", dipukulnya dada bidang suaminya berkali -kali.
Kenan raih tubuh cantik itu ke dalam pelukannya. Dikecupnya kening istrinya beberapa lama. Membuat gadis cantik itu terpaku dan akhirnya terdiam dalam pelukan hangatnya.
"No matter who'll see, baby. I love you so much", tegasnya.
"Granpa and grandma must be understand that ", lanjutnya.
Adelia menjauhkan tubuhnya. Mendong as k untuk mempertemukan pandangan dengan lelaki jangkung itu.
"But I'm so shame, Kenn ", cebik gadis itu.
Kenan terkekeh. Lalu meraih bibir mencebik itu dan memagutnya lembut.
"I know, baby. Makanya aku lebih suka kita berdua, sayang. Nggak ada yang ganggu", lembutnya.
Pipi mulus itu kembali merona. Keduanya saling bertemu pandang. Lembut dan penuh cinta.
Lalu tanpa perlu menunggu lama, kedua bibir itu saling menempel mesra. Berpagut lembut dengan suara decapan nyaring di telinga.
Terhenyak, keduanya melepas pagutan itu, dan bersamaan menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara menginterogasi.
"Siapa yang ganggu, just tell me !"