BLIND DATE

BLIND DATE
85. Siasat Jitu Kaum Hawa



"Open your eyes, baby !", lembut Kenan. Lelaki itu menatap gadis kecilnya dengan senyum di bibir.


Bagaimana tidak? Perempuan cantik itu tadi yang minta, ingin tahu katanya, tapi sekarang malah menutup matanya.


"No, Ken... pake baju kamu !", seru Adelia dari balik telapak tangannya.


Adelia merasa bodoh. Kenapa bertanya Kenan tentang hal itu lagi ? Kalau Kenan tidak pernah berhubungan intim dengan perempuan lain.


Dan sekarang apa? Lelaki itu kini berdiri di depannya tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Adelia duduk di tepi ranjang. Masih di kamar di ruang kerja Kenan. Disanalah lelaki itu menurunkan tubuhnya.


Lalu tanpa canggung sedikitpun, lelaki itu melucuti pakaiannya di depan Adelia. Meminta pada istrinya itu untuk memeriksa sendiri, kalau benar milik Kenan masih ori, belum pernah digunakan selain dengan Adelia.


Huft konyol sekali !


Memang bisa dicek sendiri? Dengan melihat itu? Pasti akal-akalan Kenan saja. Dia pasti Ingin menghajarnya lagi di ranjang.


Hmm... Adelia harus bisa mengalihkan perhatian suaminya, agar tidak melulu minta itu. Bisa patah tulang belulangnya karena tingkah suaminya itu.


Suasana hening beberapa saat. Adelia belum berani membuka bekapan telapak tangannya atau sekedar mengintip lelaki di depannya. Adelia malu.


Padahal entah sudah berapa kali bergelut mesra berdua, tanpa busana, mandi bersama dan melihat lelaki itu tanpa mengenakan apapun di tubuhnya, tapi Adelia masih malu melihat itu.


Apalagi menatap sesuatu yang besar dan tegak di bawah sana. Sumpah, Adelia sungguh merasa malu. Tapi kenapa lelaki itu sungguh tak tahu malu ya? Dengan santai berdiri di depan sana. Tidak risih sama sekali.


Adelia mendengar langkah kaki Kenan semakin mendekat.


"Ken, stop there !", ucapnya.


Terdengar suara kekehan lelaki itu. Semakin mendekati Adelia.


"Kennn.... please stop atau pake celana kamu !", mohon Adelia.


Kenan terkekeh lagi.


"Kenapa, baby? Jangan malu gitu dong ! Udah pernah lihat kan ? hmm...kayaknya harus lebih banyak lihat yah", godanya.


Adelia merasakan jantungnya berdebar kencang, suara lelaki itu semakin mendekat. Apalagi saat sebuah tangan besar meraih telapak tangannya. Menyingkirkan itu dari wajahnya. Mata gadis cantik itu masih memejam rapat.


"Kennn.... ", lirih Adelia begitu merasakan tangan lelaki itu memeluk pinggangnya dan menuntunnya berdiri.


"Open your eyes, my love !", bisik Kenan.


Di susul dengan benda kenyal yang menempel lembut di bibir Adelia. Memagut bibir mungil ranum gadis cantik itu mesra.


Mau tidak mau Adelia harus membuka matanya. Lalu perlahan mendorong tubuh Kenan. Disusul dengan pukulan tangannya mengarah ke lengan atas lelaki itu.


"Awww....It's hurt, baby. Don't hit me !", lelaki pura-pura kesakitan.


Bibir Adelia mencebik.


"Masa bodo, habis mesum gitu !", marahnya. Lalu melengos ke arah lain dengan tangan terlipat di bawah dada.


Dengan cepat Kenan meraih tubuh cantik itu, lalu memeluknya erat. Adelia berontak, tapi tentu saja pelukan Kenan lebih kuat.


"Tadi yang pengen tahu siapa? Sekarang malah nggak mau lihat ", bisiknya mesra.


"Look at me, baby ! ", pinta Kenan.


Sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa bertemu pandang dengan manik coklat cantik itu. Tangannya masih memegangi bahu istrinya.


Adelia pukul dada terbuka lelaki itu.


"Siapa suruh buka baju gitu? Emang bisa di cek pake begituan?", cebiknya.


Kenan tergelak.


"Begituan apa sayang? Of course Its can. Nanti aku ajarin ", lelaki itu masih tergelak.


Adelia mendengkus lirih.


Ajarin? Memang apa yang mau diajarin ? Menghajar aku maksudnya?


Kenapa punya suami menyebalkan begitu sih?


Untung tampan. Ehhh...gimana?


Melihat istrinya masih membuang muka, Kenan menghela pelan.


"Coba lihat, sayang, nih udah pake celana !", pinta Kenan. Mengalihkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang ramping istrinya.


Spontan Adelia mengarahkan pandangan ke bawah tubuh Kenan. Dan benar, lelaki itu sudah memakai celananya, meskipun cuma boxer pendek.


Huft... Kenapa sih tonjolan besar itu selalu tampak begitu jelas di sana ? Membuat Adelia gagal fokus saja. Apa nggak bisa dikecilkan saja? Ehhhh.. memang bisa?


Pipi putih itu merona. Lalu mendongak agar bertemu pandang dengan mata hazel yang menatapnya dengan senyum nakal.


"So, kita lanjutin, sayang ? You've not been seen it carefully, baby ", goda Kenan.


Bibir mungil itu manyun lucu. Lalu senyum manis terukir di sana. Perlahan Adelia mendekat. Membuat jarak mereka semakin tipis. Dimainkannya jemarinya di dada bidang suaminya itu.


"Boleh, tapi.....jatuhin aku dulu !


In three attack ", katanya dengan nada centil.


Kenan terkekeh. Menarik tubuh cantik itu hingga menempel di tubuhnya. Lalu memeluk pinggang ramping itu erat.


"Nantangin nih?", kerlingnya nakal. Adelia hanya mengedik.


Kenan gemas sekali dengan tingkah gadisnya ini. Lalu dengan cepat memagut bibir ranum yang begitu menggoda tepat di depannya itu. Mengecapnya lembut. Bahkan memberikan jilatan nakal di sana.


"Okay, with my pleasure, honey. Who's scared?", masih di depan bibir mungil itu.


"I'll let you down, then never let you go,


baby ", bisiknya seduktif di telinga Adelia.


Tengkuk Adelia meremang. Lalu sedikit memundurkan tubuhnya.


"Let's see, c'mon ! ", balasnya.


Kemudian secara mengejutkan berjinjit untuk mengecup bibir Kenan. Membalas memberikan jilatan di sana. Sebelum Kenan membalasnya, dengan cepat Adelia memutar tubuhnya. Melangkah meninggalkan lelakinya yang tercengang karena tingkahnya barusan.


"Babyyyyy..... ", gemas Kenan. Lelaki itu berusaha menahan gairahnya yang tiba-tiba bergejolak karena tingkah nakal istrinya.


"Let make me down, dude !"


**********


Di rumah Adelia, tepatnya rumah papa Bram dan Mama Rose. Pagi itu mereka tengah kedatangan tamu. Kakek dan nenek Kenan.


Entah apa awal mulanya, dua pasang suami istri yang semula bercengkarama riang itu tiba-tiba meninggikan suaranya.


Dua orang lelaki tua itu juga tengah berdebat seru sekarang.


"Biar cucu aku honeymoon di Belanda, sekalian main ke tempat kami ", Opa Adelia ngotot.


Grandpa Kenan tak mau kalah.


"No.... no, biarin mereka ke Italy sama-sama kami ", tegasnya.


"No, They don't. They have to go to Dutch ....with us !", Opa Adelia juga tetap bersikeras.


"No....They must go to Italy. That's the most beautiful place for honeymoon ", balas grandpa.


Keduanya saling adu otot.Tidak ada yang mau mengalah.


Sementara Oma dan Grandma saling pandang. Menyaksikan perdebatan suamk mereka rasanya seperti melihat dua anak TK yang bersiteru. Sebentar keduanya tos dan tersenyum penuh rencana.


"Okay... the two old man, Have you finish? ", grandma menengahi.


"Old man...?", kedua lelaki itu membulatkan matanya.


Oma dan Grandma saling pandang. Menyenggolkan lengannya satu sama lain, merasa rencananya berhasil. Setidaknya bisa mengalihkan topik perdebatan mereka.


Apalagi begitu mendengar ucapan Opa.


"Who's the old man ? We still strong, you know? "


Oma dan Grandma terkekeh geli.


"Still strong, okay? ", yakinnya


"Of course !", grandpa juga menyetujui.


Oma dan grandma saling pandang dan tersenyum.


"Let's prove it !", kata Oma.


Kedua perempuan tua yang masih energik itu saling bertaut tangan. Lalu melangkah bersama meninggalkan para suami mereka.


"Follow us, the strong man !", kata keduanya bersamaan.


Opa dan grandpa saling pandang.


"What are we waiting for ? C'mon !", keduanya juga serempak. Mengikuti para istri mereka yang telah melangkah lebih dulu.


******


Dari balik dinding dua pasang telinga menguping percakapan mereka.


"Mereka cocok ya Pa ? Pantes jadi besan ", Mama Rose terkekeh geli.


Papa Bram menyetujui.


"Hmm.... sama - sama ngotot, Ma ", balasnya. Sambil menoleh ke arah istrinya.


"Tapi salut, semangat mereka masih kayak anak muda ", lanjutnya.


Keduanya terkekeh.


"Papa lihat yang grandpa lakuin ke Kenan kemarin ? Pantas aja pede banget kalo masih strong ", ucap mama Rose.


Papa Bram mengangguk. Lalu tersenyum penuh rencana.


"Kalo Opa aja masih strong, How about me, darling ? ", sambil memeluk pinggang Mama Rose mesra.


Perempuan yang masih terlihat cantik dan seksi itu tersenyum. Lalu mengelus dada Papa Bram lembut.


"So pasti lebih strong lah, Pa. Udah papa buktiin kan semalam? ", kata Mama Rose sambil mengedip nakal.


"Nggak mau kalah sama pengantin baru ", lanjutnya sambil tersenyum malu-malu.


Papa Bram tergelak. Lalu mencium bibir istrinya mesra. Sesaat mereka saling berciuman.


"Gimana kalo kita ulangin lagi?", bisiknya di telinga Mama Rose.


Mama Rose cubit perut rata Papa Bram.


"Mau saingan sama mantu Papa?", godanya.


Papa Bram mengangguk. Lalu kembali meraih bibir istrinya. Memagutnya mesra.


Mama Rose mengusap pipi papa Bram lembut.


"Nanti aja lagi. Kita lihat duel seru dulu, Pa. T The two strong man ", bujuknya.


Papa Bram sedikit cemberut. Tangannya bergerak nakal menepuk pinggul berisi mama Rose.


"Ditolak nih Papa? ", rajuknya.


Mama Rose tersenyum. Mengelus lengan suaminya lembut.


"No, Pa. Mana pernah sih mama nolak? Cuma nunda bentar. Lagian masih terlalu pagi kan? ", bujuk Mama Rose.


Papa Bram akhirnya menuruti.


"Okay, darling. But.....I want twice ", sambil menunjukkan dua jemarinya.


Mama Rose menyetujui.


"Hmm... boleh. Lebih juga boleh ", balasnya.


Papa Bram tersenyum lebar. Keduanya terkekeh bersama. Lalu saling berciuman mesra. Sebelum kemudian melangkah ke dalam sambil berpelukan.