BLIND DATE

BLIND DATE
80. Never Stop



"Uhmmm.... Ken, udah lepasin !", Adelia berontak. Ketika lelaki yang sudah menjadi suaminya itu kembali memeluk tubuhnya dan mencumbuinya.


Entah berapa kali Kenan mengagalkan niatnya untuk mandi. Entah berapa kali pula lelaki itu mengajaknya bercinta. Mengulang pertempuran seru, menghajarnya hingga Adelia kehabisan tenaga.


Masih di kamar di ruang kerja Kenan.


Dan konyolnya, setiap kali Adelia hendak menuju kamar mandi, dengan berbalut selimut, lelaki itu tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dengan tubuh yang masih polos. Lalu menarik tubuh Adelia kembali ke ranjang, dan mengulangi pergulatan seru itu.


"Emhhh... Ken .. !", lenguh Adelia ketika lelaki itu kembali menciuminya. Dan kini malah berusaha menyibak selimut yang menutupi tubuh polos Adelia.


"I want you, baby. Once more again, please !", mohonnya. Dengan bisikan mesra dan menggoda.


"Enough, Ken... I wanna take a bath !", disikutnya perut lelaki itu.


Lalu kembali menarik selimut yang terbuka dan mengekspos tubuh atasnya karena tingkah nakal tangan Kenan.


Dengan cepat Adelia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan lelaki itu. Memegangi selimut dengan tangan mungilnya.


"Aku pukul kalo nggak mau berhenti ", galaknya.


Kenan tergelak.


"I want to stop, baby. Never stop !", Lalu dengan cepat meraih tubuh cantik itu agar menempel di tubuhnya. Kembali menyambar bibir mungil yang sedikit terbuka itu. Lagi.


"Hit me, baby, like this ", ucapnya sesaat sebelum menempelkan bibirnya di bibir ranum itu.


"Emmhhhh... ", lenguhan keduanya karena pagutan bibir yang menggebu. Pergulatan bibir itu terjadi lagi. Beberapa lama. Tangan Adelia masih mencengkeram kuat selimut di tubuhnya.


Sedangkan tangan Kenan berusaha menyingkap selimut itu. Adelia berusaha menahan tangan lelaki itu.


"Kennnn.... don't, I'm tired ", keluhnya.


Karena Kenan sudah menggempurnya berulang kali. Tapi anehnya lelaki itu tidak terlihat lelah sama sekali.


Padahal Adelia merasakan miliknya di bawah sana sakit dan nyeri. Lelaki itu seperti tidak ada capeknya. Dan itu....yang Kenan sebut sebagai samurai kebanggaannya, kenapa terus berdiri tegak seperti itu sih ?


Pipi putih Adelia kembali memerah ketika tanpa sengaja melihat benda panjang dan besar itu berdiri gagah di bawah sana.


Kenan terkekeh.


"No, baby. Just take a bath, okay ? Aku nggak ngajakin itu lagi ", katanya.


Mata cantik itu berbinar, lalu bibir ranum itu tersenyum merekah.


"Really? ", Adelia menyakinkan.


Kenan mengangguk cepat.


"Hmm... ", lalu disingkapnya selimut yang menutupi tubuh cantik itu. Adelia akhirnya menuruti, meski sebenarnya masih sangat malu.


Sekarang tampak lagi pemandangan indah di depan Kenan. Tubuh putih mulus yang menggoda dengan kiss mark bertebaran di sana.


Kenan tersenyum melihat itu. Hasil karyanya yang eksotis. Tak sadar lelaki itu menelan ludahnya. Jakunnya naik turun. Gairah itu kembali memuncah. Tapi Kenan harus menahan sebisa mungkin. Karena istrinya masih merasakan sakit.


Adelia yang melihat Kenan menatap tubuhnya dengan tatapan seperti harimau lapar, membulatkan mata cantiknya dan berseru seketika.


"Kennn..... !", berusaha menutupi tubuhnya. Masih merasa aneh dengan tubuh tanpa sehelai benangpun tepat di depan lelaki itu. Dengan posisi berdiri saling berhadapan.


Padahal tadi entah berapa kali dengan tubuh polos seperti itu berada di bawah tubuh lelaki mesum itu.


Ahhh.... ralat, lelaki mesum itu adalah suaminya sekarang.


"Sssttt....aku udah lihat semuanya, baby. Kenapa masih malu? ", lelaki itu menahan senyumnya.


Adelia memanyunkan bibirnya. Langsung Kenan berikan kecupan lembut di sana.


Kenan membawa tubuh cantik itu agar menempel di tubuhnya.


"Biar aku mandiin, masih sakit kan ini? ", tangannya nakal meraba bagian tubuh Adelia di bawah sana. Yang sudah beberapa kali membuatnya nikmat tadi.


Adelia pukul lengan lelaki itu keras.


"Naughty ...", cebiknya. Langsung Kenan sambar bibir mencebik itu. Lagi. Mengecapnya lembut.


Adelia cubit pinggang lelaki itu hingga tergelak dan melepaskan ciumannya.


"C'mon, baby !", masih terkekeh. Lalu mengangkat tubuh Adelia dan melangkah menuju kamar mandi.


Memang benar Adelia masih merasakan sakit di bawah sana. Tapi Adelia sedikit curiga. Mana mungkin cuma mandi?


Kondisi terkini saja senjata lelaki itu terus tegak begitu? Huft... pasti akal-akalan liciknya saja !


Gerutu Adelia.


***************


"Ken.... turunin, aku bisa jalan sendiri ", pinta Adelia, begitu pintu lift terbuka. Sepasang pengantin baru itu tengah menuju ke ruang makan di lantai satu. Acara makan malam keluarga.


Sebenarnya Kenan meminta makan di atas saja tadi, di kamar mereka. Ahhh... bukan, di kamar Adelia. Masih kamar Adelia. Karena Kenan bilang ada kamar khusus untuk mereka berdua setelah menjadi suami istri.


Ternyata di kamar mandi, yang lelaki itu bilang "Just take a bath", hmmm, seperti prediksi Adelia, cuma bohong saja.


Karena mana bisa Kenan membiarkan tubuh indah itu di depan matanya, tanpa mengusilinya, tanpa menyentuhnya, tanpa menyerangnya.


"Baby, listen to me, okay. Kamu nurut, lagian nggak nyaman kan buat jalan? ", lembutnya.


Bibir mungil itu mencebik. Jelas saja tidak nyaman. Adelia masih merasakan sakit di bawah sana. Apa karena milik lelaki itu yang terlalu besar ya? Ehhh....


Kalau dibuat jalan rasanya aneh. Karena itu juga lelaki itu bersikeras menggendongnya, meskipun dia sebenarnya menolak tadi.


"Because of you !", gerutu gadis itu.


"Dasar jahat !", dipukulnya dada lelaki itu dengan pipi yang memerah.


Kenan terkekeh. Sedikit menunduk, memberikan kecapan lembut di bibir mungil ranum itu.


"I'm sorry, baby. Tapi kita memang harus sering ngelakuin itu, biar nggak berasa sakit lagi ", kerlingnya nakal. Kaki panjangnya terus melangkah menuju ruang makan.


Adelia meraupkan tangannya ke wajah tampan lelaki itu.


"Modus !", ketusnya.


Selalu itu yang diucapkan Kenan. Sering bercinta akan membuat lebih nikmat katanya. Huft..... dasar mesum !


Gerutu hati Adelia.


Kenan tergelak.


"Modus yang bikin enak, sayang ", bisiknya mesra.


Adelia memanyunkan bibirnya.


Enak... enak gimana? Adelia merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena ulah lelaki itu.


Tapi Adelia juga merasakan sesuatu yang aneh memang, sensasi luar biasa. Yang tentu saja baru Adelia rasakan selama sembilan belas tahun ini. Perasaan yang membuatnya melayang ke awang.


Apakah itu yang Kenan bilang nikmat ?


Ahhh... tahu, Adelia lebih baik diam. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


Kembali menunduk, Kenan kecup kepala gadis kecilnya itu berulang kali, dengan sayang.


*******


"Whusss... !", sebuah apel tampak melayang di udara, tertuju ke arah Kenan, begitu laki-laki itu dan Adelia baru sampai di meja makan. Siapa pelakunya? Tentu saja kakeknya.


Sebelum memasuki ruangan, Adelia minta Kenan untuk menurunkannya. Malu dilihat semua anggota keluarga. Apa kata mereka coba ? Gendong-gendongan seperti orang sakit saja.


Terlebih lagi ada keluarga lengkap di sana. Dari keluarga Kenan maupun Adelia.


Eh......ada keluarga Ina juga, papa dan mamanya. Kalau Nino sudah tidak punya keluarga, itu makanya pernikahan dilakukan di mansion Kenan. Dan Keluarga Kenan sudah menganggap Nino seperti keluarganya sendiri.


Melihat buah apel terbang, semua yang ada di ruang makan membulatkan mata, kecuali papa Alex dan mama Jasmine. Mereka sudah hafal dengan tingkah papa dan papa mertua mereka.


"Happp... ", dengan cepat Kenan menangkap itu dengan tangan kirinya.


Berbarengan dengan itu, terdengar suara tepukan keras.


"Plakkk....! ", tangan grandma bergerak memukul lengan lelaki tua itu.


"What are you doing, old man ? ", gerutunya.


Kakek Kenan hanya tertawa lucu.


"Nothing darling ", katanya takut-takut.


Kenan terkekeh.


"It's okay, grandma", masih terkekeh. Lalu menarik kursi untuk tempat duduk gadis cantiknya. Lalu dia duduk di sebelahnya, dengan lebih merapatkan kursinya.


"Thanks, grandpa !", diangkatnya apel yang dipegangnya ke atas, ke arah kakeknya.


Digigitnya buah apel itu, lalu menyodorkannya ke bibir Adelia.


"So sweet, baby. Just try !", katanya.


Dengan pandangan menatap lekat pada wajah cantik itu.


Seketika membulatkan matanya konyol begitu mendengar pertanyaan kakeknya.


Bahkan semua yang ada di meja makan menghentikan makannya dan menatap ke arah Adelia dan Kenan bergantian.


"Apa yang kamu lakuin sama cucu cantik grandpa, sampe jalannya susah gitu?"


.