BLIND DATE

BLIND DATE
69. Hectic Day



...69. Hectic Day...


Bekerja tanpa Dina ternyata membuatnya keteteran.  Biasanya sekretaris editor in chief tersebut selalu mengingatkan jadwal kesehariannya. Tepat jam kantor dimulai. Dari pekerjaan apa saja yang harus diselesaikan hari itu. Pertemuan internal maupun eksternal. Menghadiri event. Hingga mengingatkan untuk pulang ketika pekerjaannya telah semua diselesaikan, dan waktu jam kantor berakhir.


Alih-alih mengikuti jadwal yang telah begitu rapi disusun oleh Dina. Ia justru larut dalam pekerjaan yang seharusnya ia hentikan segera. Sebab harus menghadiri event yang diselenggarakan oleh departemen magazine and newspaper di Hotel Zoon.


Menggigit bibir bawahnya sambil berulang kali melihat arloji di lengan.


“Pasti terlambat,” gumamnya mulai resah. 10 menit lagi acara akan dimulai. Meski waktu Indonesia bagian mana pun terkenal dengan jam karet. Namun, jika dalam undangan mencantumkan ‘mohon hadir tepat waktu’ dengan tulisan miring dan cetak tebal, maka acara akan dimulai tepat sesuai dalam undangan tersebut. Tidak ada toleransi menunggu para undangan hingga hadir seluruhnya. Apa lagi dirinya termasuk tipe M (Monokronik) yang menghargai waktu dalam setiap kesempatan.


Sudah 4 hari ia kembali ke rumah. Memenuhi permintaan Ranti untuk tinggal bersamanya. Sementara informasi yang diberikan Gama, bahwa laki-laki itu berada di Bandung sejak 2 hari yang lalu.


Hubungannya dengan Gama jika dikatakan stashing, rasanya kurang tepat. Sebab status keduanya masih tanda tanya, namun tiap pertemuannya dengan laki-laki itu ia menyembunyikannya dari sang mama.


Setelah pertemuannya pada acara pernikahan Dina dan Dani. Pertemuan mereka kembali terulang. Yaitu menghadiri pernikahan salah satu staf Zoon. Gama memintanya untuk menemaninya. Sulit menolak. Juga merasa serba salah menerima. Tapi pada akhirnya, ia mengiyakan. Sebab teringat ucapan Widiya. Pun, ia menganggap ini misi kemanusiaan.


Lalu kembali bertemu lagi tanpa sengaja ketika ia berada dalam ruangan Affan.


Meski pertemuan mereka seperti sudah diatur sedemikian rupa. Tapi tak dapat dipungkiri, kecanggungan serta reaksi tubuhnya tidak biasa.


“Sudah sampai Mbak,” ucap sang sopir. Menyadarkannya untuk segera keluar mobil. Merapikan pakaiannya, kendati tidak ada yang berubah dari sana.


Dugaannya tepat ia benar-benar terlambat. Tiga puluh tujuh menit. Pintu ruang pertemuan telah tertutup rapat. Bahkan salah satu panitia yang terlihat keluar dari ruangan tersebut mengatakan jika dirinya sudah tidak bisa masuk ke dalam.


Berdesah kecewa. Atas keteledoran yang dibuatnya. Ia memilih ke restoran. Melanjutkan perkerjaan yang lainnya di sana.


Memesan segelas ice coffee latte. Memilih tempat di pojok ruangan. Baru saja layar laptopnya menyala. Sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Sinta : Lo di mana? Kenapa sampai sekarang belum kelihatan.


Acara udah dimulai dari tadi.


Ada 3 undangan khusus yang diperuntukkan staf GPP termasuk dirinya.


^^^Sasmaya : Gue telat.^^^


Sinta : 😱


Sinta : Kok bisa!!


^^^Sasmaya : Gak ada yang ingatin gue.^^^


Sinta : Alasan lo. Jadi lo sekarang di mana?


^^^Sasmaya : Di resto hotel. Daripada balik kantor, mending gue kerja dari sini.^^^


Sinta : Oke, kelar dari sini gue samperin ke sana.


Ia meletakkan ponsel di sebelah komputer jinjingnya. Memastikan review naskah yang telah lolos oleh editor.


Satu jam ke depan Sasmaya masih menatap layar laptopnya. Kali ini ia mengontrol budget triwulan GPP yang telah dibuat oleh kepala divisi masing-masing. Yang juga telah direkap oleh Dina beberapa waktu lalu.


Ada beberapa pengeluaran yang menurutnya over dari bulan-bulan sebelumnya. Tangannya meraih ponsel. Melakukan panggilan.


“Halo, Din ....”


“I ... iya, Mbak.”


Keningnya melipat. Suara Dina terdengar aneh di telinga. Ia memastikan ponselnya tidak ada masalah. Lantas kembali menempelkan di indra pendengarannya.


“Din, sorry ganggu,” ia tahu Dina masih cuti.  “Gue mau tanya soal—” suaranya terhenti sebab terganggu suara gemeresak. Dahinya kian melipat. Disertai suara berdesah yang masuk di telinganya. Bercampur pekikan dan suara tenggelam begitu saja. Meski sambungan telepon masih terus berjalan. Membuat seluruh otot wajahnya mengerut. Memasang gurat tak percaya. Dengan mulut sedikit terbuka.


...***...


“Dan, lo gimana sih buat schedule gue. Lo, gak tahu atau lupa kalau gue masuk perwakilan delegasi ATF di Jakarta!” serunya kesal. Memang Dani tengah cuti. Katanya honeymoon di Bali. Tapi itu bukan informasi yang penting buatnya. Bahkan katanya, Ferdi akan menggantikan Dani sementara waktu. Buktinya ... masih saja kegiatannya bentrok satu dengan yang lainnya.


Akibatnya ... ia harus memilih satu di antara dua pertemuan yang sama pentingnya. Dan itu berdampak besar. Hotel Zoon Bandung yang dipilih pemerintah sebagai tempat menginap para delegasi ASEAN Senior Transport Official Meeting dan dirinya harus mendampingi pejabat pemerintah terkait dalam penyambutan hari esok.


Sementara di Jakarta ia ditunjuk oleh kementerian pariwisata untuk menjadi bagian delegasi Indonesia dalam pertemuan ASEAN Tourism Forum (ATF) yang berlangsung 2 hari di Hotel Indonesia Kempinski mulai besok pagi.


Akhirnya ia memilih Jakarta. Menghadiri ASEAN Tourism Forum. Sementara di Bandung diwakili papa yang kebetulan punya agenda lain di sana.


Dani tak menyahut. Ia pikir Ferdi sudah menangani semua pekerjaannya selama cuti. Nyatanya sepupunya itu membuat ulah. Sepertinya sengaja untuk mengganggu bulan madunya.


“Dan, kenapa gak jawab? Benar, kan, lo buat semua jadwal berantakan. Papa terpaksa memundurkan jadwal seminar di kampus. Untuk gantikan gue!” paparnya kesal. Ia menuju resto hotel. Baru tiba dari Bandung. Belum sempat makan siang.


Sedangkan matahari sudah tergelincir, membuat bayang sama panjangnya dengan panjang benda aslinya.


“Ma-maaf, Pak.” Hanya itu yang mampu Dani katakan. Tidak mau memperpanjang dan membuat suasana semakin runyam. Apalagi bisa menurunkan hasratnya yang tengah mencapai titik kulminasi.


Ia berdecak. Memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Memilih meja. Mengeret kursi hingga berderit. Lantas duduk di sana sedikit kasar.


Memanggil pelayan. Memesan makanan.


Tanpa disadari seorang wanita di sebelahnya memperhatikannya. Semenjak masuk restoran hingga saat ini.


Gama kembali meraih ponselnya. Baru saja teringat jika malam ini ia akan membatalkan pertemuannya dengan salah satu investor Banyu Milli. Sebab ia harus memantapkan hasil koordinasi dengan investor lain.


“Halo, Dan,” sapanya begitu sambungan telepon diterima. “Kasih tahu pihak PT. Croco Design kalau malam ini pertemuannya ditunda. Jika mereka menanyakan waktu, bilang saja minggu depan.”


Hening sesaat. Kemudian terganti suara gemeresak. Tak lama berdesah disertai pekikan. Lalu kembali hening.


Matanya terbuka lebar. Dengan mulut menganga. Lalu berganti dengan cepat menjadi ekspresi kesal. Di mana kelopak matanya kencang. Kedua alis menurun dan berkerut dalam. Begitu juga dengan batinnya yang menggeram. Sialan ...


Mematikan sambungan telepon. Meletakkannya begitu saja di meja. Hingga bayang seseorang tertangkap oleh ekor matanya. Sebab jaraknya cukup dekat.


Ia menoleh, “Sas.”


...***...


“Aku sudah makan,” tolaknya saat Gama menawarinya makan bersama. Akhirnya laki-laki itu berpindah meja. Duduk di depannya.


Terpaksa ia memesan kudapan ringan. Berupa salad buah.


Laki-laki itu begitu atraktif menceritakan harinya yang merepotkan dan berantakan. Semua gara-gara Dani yang tengah menjalani cuti.


Ia menyudukan salad buah ke mulutnya. Mendengar cerita Gama. Yang ternyata punya kemiripan dengannya.


Bahkan seharusnya kemarin Gama ke dokter untuk mengontrol lengannya. Serta melepas gips. Berhubung tidak ada waktu, baru hari ini rencana itu akan dilakukannya. “Kayaknya nanti malam saja,” ralat Gama melihat raut wajahnya yang kurang senang sebab laki-laki itu melupakan hal penting yang seharusnya diutamakan. Gama tersenyum. Demi membuat wajah wanita di depannya berubah manis dan cantik.


“Termasuk lupa makan siang. Atau menunda makan siang?” sindirnya. Meski kini seporsi potongan daging yang dipanggang hampir habis. Bahkan kentang dan sayuran lain yang menjadi pelengkap. Artinya ... bisa ditebak, Gama kelaparan. Terlihat dari gestur yang ditampilkan selama menyantap makanan.


“Dua-duanya,” cengir Gama. Kembali memperlihatkan deretan giginya. Meraih gelas berisi salad buah di depannya. Menyuapkan ke dalam mulutnya.


“Mau dipesankan lagi?” tawarnya.


Gama menggeleng. Mengembalikan salad buah kepadanya. Setelah menyudu beberapa kali.


Ia mengirimkan pesan pada Sinta. Bahwa ia pulang terlebih dahulu. Sebelum matahari tenggelam.


“Kapan pengumuman interview itu keluar?” tanya Gama. Mereka meninggalkan resto menuju lobi.


“Besok.”


“Besok?” ulang laki-laki itu.


Ia mengangguk.


“Aku yakin kamu terpilih.”


“Kalau aku terpilih, itu juga berkat kamu.” Banyak hal yang ia pelajari dari Gama. Banyak ilmu yang ia adopsi baik secara langsung maupun tidak.


Gama tergelak ringan, “Kalau begitu berarti aku boleh minta balas jasa?”


Langkah mereka terhenti. Tepat di depan mobilnya.


Ia menoleh pada laki-laki itu. “Aku harus balas pakai apa?”


Menemani Gama ke dokter. Ia dan laki-laki itu duduk di belakang bersebelahan. Berbincang tentang Gama Pustaka di masa depan.


Hingga waktu rasanya berjalan cepat. Seusai dari dokter, Gama memutuskan mengajaknya makan malam drive thru. Menikmatinya dalam mobil yang terparkir di salah satu taman kota.


Hal ini tentu saja mengingatkan dengan kejadian keduanya pada saat kencan dulu. Bukan Gama tidak mau mengajak wanita di sebelahnya ini makan di restoran. Melainkan, ia ingin mengingatkan kembali kenangan mereka. Berharap Sasmaya tergugah dengan perasaan yang sebenarnya masih ada untuknya. Ya, ia berharap wanita di dekatnya ini kembali kepadanya. Menjadi miliknya.


Waktu merangkak semakin malam. Mobil yang membawa mereka berhenti tepat di depan rumah.


“Aku masuk dulu,” pamitnya pada Gama. “Terima kasih, ya, Pak,” imbuhnya pada sopir kantor yang bertugas melayaninya.


Sopir mengangguk, mengucap, "Sama-sama, Mbak.”


“Sas,” Gama membuka kaca jendela.


Ia menghentikan langkahnya.


Karena tidak ingin sopir mendengar pembicaraan mereka. Gama menekan tombol menutup kaca secara otomatis. Kemudian keluar dan menutup pintu.


“Terima kasih untuk hari ini.”


Ia diam. Mengeratkan genggaman tangannya pada tali tas yang menggantung di bahu.


“Maaf, membuat semuanya berantakan. Kacau. Dan ... berubah mengecewakan. Seharusnya tidak aku lakukan. I am sorry about what happened to us ... I—”


Suara pintu terbuka. Membuat keduanya mengalihkan perhatian ke sana. Ranti muncul dan berdiri di ambang pintu.


“Pulanglah ... sudah malam.”


Bukannya menuruti Sasmaya yang pergi dulu meninggalkannya. Gama justru mengekori di belakang menyapa Ranti, “Malam, Tante. Maaf jika saya mengganggu. Hari ini—”


Tanpa kata Ranti memutar tumit meninggalkan mereka yang masih berdiri di teras.


“Good night.” Ia tersenyum samar. Menutup pintu.


Sedangkan laki-laki itu berkacak pinggang. Mendongak, menatap langit malam yang gelap. Lantas mengatupkan kelopak mata. Mengetatkan rahang. Tak lama mengusap wajah. Menyengap. Ada desiran menyelusup menyayat. Menggenangi indra penglihatannya.