
"Kenn....I'm scared ", lirih Adelia begitu lelaki itu mengungkungnya di bawah tubuh tinggi atletisnya.
Setelah beberapa saat bercumbu hebat. Di depan pintu. Lalu Kenan mengangkat tubuh cantik itu ke gendongannya dengan kaki mungil Adelia yang melingkar sempurna di pinggangnya.
Tanpa melepaskan ciuman, Kenan membawa tubuh cantik itu ke atas meja kerjanya. Bercumbu lebih hebat lagi di sana.
Suara decapan kedua bibir itu begitu nyaring terdengar. Bibir mereka bergulat mesra, saling menghisap dan memagut penuh gairah.
"Ke kamar ya, sayang? ", lirih Kenan. Masih di depan bibir merah ranum itu. Tanpa menunggu jawaban Adelia kembali menyambar bibir mungil yang masih terbuka, karena terengah mengambil nafas itu. Ciuman hebat lelaki itu membuat nafas gadis cantik memburu.
Saling memagutkan bibir mereka, Kenan kembali mengangkat tubuh cantik itu ke gendongannya. Tangan mungil Adelia melingkar mesra di leher kokoh lelaki itu.
Kini tubuh Adelia sudah berada di bawah tubuh lelaki itu. Di atas ranjang besar di sebuah kamar di ruang kerja Kenan. Dengan pakaian yang sudah terbuka semua kancingnya. Meninggalkan bra hitam yang masih menyembunyikan bulatan indah itu di dalam sana.
Bagian atas tubuh Kenan juga sudah tidak berpenghalang lagi. Menampakkan otot tubuh kokoh dan perut six packnya, yang semakin membuat lelaki itu terlihat jantan dan macho.
"What are you scared of, baby? Me? ", Kenan tatap gadis cantik itu dengan mata yang sudah berkabut gairah.
Pipi Adelia merona. Melihat tubuh terbuka Kenan di atasnya membuat gadis cantik itu mengalihkan pandangannya ke arah lain selama tidak bertemu pandang dengan mata hazel itu. Adelia Malu. Perlahan kepalanya menggeleng.
Kenan tersenyum. Nakal dan menggoda.
"So, what baby? ", menundukkan kepalanya untuk mengendus leher putih jenjang Adelia.
"Kennn...... ", suara merdu keluar dari bibir mungil itu. Apalagi ketika Kenan semakin menurunkan ciumannya ke dada bagian atas putih mulus itu. ******* merdu gadis cantik itu semakin terdengar jelas. Membuat Kenan semakin lupa diri.
Dengan cepat melucuti kain yang masih tersusa di tubuh mereka. Bibirnya tidak berhenti beraksi. Menciumi seluruh tubuh cantik itu tanpa terkecuali. Kenan merasa sangat gila, apalagi Adelia.
Racauan tak jelas terus keluar dari bibir mungilnya ketika Kenan tiada henti mengeksplor tubuhnya.
Sebentar saja dua tubuh itu sudah polos, tanpa sehelai benangpun menghalangi. Pipi Adelia yang sudah memerah semakin memerah. Tangan mungil itu berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya.
Suasana siang hari menjelang sore dengan cahaya yang begitu benderang, membuat keduanya bisa dengan jelas melihat tubuh masing-masing yang terekspos. Jendela kamar juga dibiarkan terbuka begitu saja.
Kenan segera menyingkirkan tangan mungil itu.
"Don't hide your beautiful body, baby. I love it, I love everything ", kembali menyerang bibir mungil Adelia.
"I'm so shame, Ken ", lirih Adelia. Berusaha menahan tangan Kenan yang mulai bergerak nakal membelai bulatan indahnya.
Kenan menggeleng. Menatap manik cantik itu penuh cinta. Tangannya bergerak ke atas mengusap lembut pipi mulus itu.
"No, baby. You don't need to be shame, I'm your husband. Everything is mine ", kembali mencumbu bibir mungil Adelia.
"Kenn... wait a minute !", mendorong pelan dada Kenan agar menjauhkan bibirnya. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.
"Did you ever do it before ? with someone else?", tanyanya. Tangan mungilnya memegangi lengan kokoh Kenan. Agar lelaki tidak keburu menyerangnya lgi.
Dengan cepat kepala lelaki itu menggeleng.
"Just my mouth and hand, baby, Not with this one ", Kenan menunjuk dengan bibirnya sesuatu yang besar dan gagah di bawah sana. Menggesekkan itu di paha putih mulus gadisnya.
Adelia semakin merona. Tubuhnya merasa panas dingin. Tapi sebentar senyum terukir di bibir mungilnya. Lalu dengan cepat meraih tengkuk Kenan, menyatukan bibir mereka dengan lembut. Lagi.
Sedikit terhenyak Kenan mendapat ciuman tiba-tiba itu. Tentu saja dengan antusias membalas setiap pagutan lembut itu. Lebih hebat. Kenan sangat suka gadis kecilnya berinisiatif. Mereka kembali bercumbu mesra. Larut dalam gairah yang menggelora.
Bibir Adelia terus saja meracau tidak jelas. Apalagi ketika bibir dan tangan Kenan mulai bermain-main di bulatan indahnya.
"You make me crazy, Ken.....eughhh.... ", suara merdu tak henti keluar dari bibir mungil itu.
"I'm crazy about you, baby, more than you know ", suara serak lelaki itu sudah dipenuhi gairah yang memuncak.
Kembali berlama-lama bermain di bulatan indah itu. Mengulum, menghisap dan membelai mesra di sana bergantian.
Membuat tubuh Adelia seperti tersengat listrik yang hebat. Hingga menggelinjang dan berteriak keras.
"Kennnn.... oh my god... I make wet the bed ", katanya.
Kenan terkekeh.
"No, baby. That's okay, just enjoy it ! ", katanya. Masih berada di depan bulatan indah menggoda itu.
Gadis polosnya ini tidak tahu kalau dia sedang mengalami pelepasan pertamanya. Kenan tersenyum. Memagut bibir mungil itu lagi dan lagi, sebelum kemudian mengalihkan bibirnya ke bawah sana. Ke liang kenikmatan yang sudah sangat basah.
"Are you ready, baby? ", desis Kenan. Adelia sudah merasa seperti hilang kendali. Kenan mulai memberikan cumbuan di bawah sana, membuat gadis kecilnya kembali berteriak.
"Kennnn.... what are you doing? ", serunya.
Masih asyik dengan kegiatannya, Kenan tersenyum di bawah sana. Sedikit mendongakkan kepala untuk melihat wajah cantik gadisnya yang sudah sangat basah bermandi keringat. Meski AC di kamar menyala.
"Just enjoy it, baby. I'll make you so satisfy ", dengan suara dalam yang dipenuhi gairah.
Dibuktikan dengan suara merdu yang terus keluar dari bibir mungil itu. Dan memenuhi kamar di ruang kerja Kenan. Tanpa sadar tangan mungilnya mencengkeram rambut Kenan.
Bibir mungil itu kembali mengerang keras setelah beberapa saat bibir dan lidah Kenan bermain nakal di bawah sana. Nafas gadis itu semakin memburu seperti baru melakukan marathon.
"Argghhhh..... Kennnn, I'm going crazy, dude !"
Kenan tersenyum puas.
"That's what I wanna, baby. Do you love it? ", lalu mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan dengan gadis cantik itu.
Manik hazelnya menatap dengan sayang wajah cantik yang basah oleh keringat itu. Diciumnya kembali bibir yang sedikit terbuka itu.
"I'll be start it, okay? ", katanya di depan bibir itu.
Membulatkan matanya, Adelia memukul bahu lebar lelaki itu. Yang juga mulai basah dengan keringat.
"Wh.....what do you mean? Apa yang kamu lakuin barusan ? ", Adelia dengan terputus-putus. Karena terengah.
Kenan tergelak. Segera memposisikan tubuhnya.
"You'll know, my love ", kembali memagut bibir cantik itu.
Memposisikan tubuhnya dengan pas di atas tubuh cantik itu. Berusaha memasuki liang kenikmatan Adelia, yang masih sangat-sangat sempit.
Hingga beberapa saat berusaha, terdengar pekikan keras dari bibir mungil gadis cantik itu.
"Kennn.... it's so hurt !"
Suara yang begitu keras terdengar sampai ke depan pintu ruang kerja. Kondisi pintu kamar dan jendela yang terbuka membuat suara berisik itu samar-samar terdengar.
Dua orang yang tengah melintas di luar pintu ruang kerja Kenan menghentikan langkahnya.
"Huh.... naughty boy, what does He do with my granddaughter in law? ", gerutu lelaki tua itu.
Perempuan tua di sebelahnya memukul bahunya keras.
"Sssttt....let them to enjoy their time, grandpa. Let's get out of here !", ajaknya.
Lelaki tua itu masih bersungut.
"It's too early for making love, grandma. Anak manja itu sungguh nggak tahu waktu ya !", masih menggerutu.
"Let me open the door !", lanjutnya seraya mengambil ancang-ancang. Hendak menendang pintu di depannya.
Perempuan di sebelahnya segera menghadang di depan pintu.
"Just go on, open the door ! ", tantangnya.
Lelaki tua itu menyengir lucu.
"Sorry, darling. Let's go, we have to take a rest !", menghampiri istrinya. Dan meraih tangannya.
Perempuan tua itu menghindar, lalu menjewer telinga lelaki itu.
"Kayak nggak pernah muda aja, emang dulu tahu tempat ? Suka nangkring di mana aja kan? ", ledeknya.
Lelaki tua itu terkekeh lucu.
"Iya.... honey bunny sweety, I'm wrong, okay. Sekarang, gimana kalo ulang masa muda kita, masa nakal dulu? ", godanya.
Menyingkirkan tangan istrinya yang masih bertengger di telinganya.
Perempuan tua itu mencebik.
"Emang masih bisa? I don't think so ", katanya seraya melangkah lebih dulu.
Lelaki tua itu membulatkan matanya konyol.
"Grandmaaaaa....... nantangin ya? ", segera mengikuti langkah istrinya.
Dengan cepat meraih tubuh perempuan yang sudah tidak muda lagi itu ke gendongannya.
"Let's go to prove it, darling !", katanya mesra.
"Okay, with my pleasure my old man !"
Keduanya terkekeh bersama. Meninggalkan depan pintu kamar yang masih sangat berisik di dalam sana.