
"Emang kenapa kalo nurutin kemauan grandpa sama grandma ? That's not big problem, all right ?", bujuk Adelia.
Perempuan cantik yang tengah sibuk menyiapkan perlengkapan mereka di koper itu sesekali menoleh ke arah suaminya dan menggelengkan kepala.
"Udah jangan ngambek gitu, jadi nggak ganteng nanti ", rayu Adelia lagi.
Lelakinya itu dari tadi mondar-mandir seperti setrikaan. Uring-uringan karena grandpa dan grandma memutuskan berangkat honeymoon hari ini.
Sebenarnya masalahnya bukan itu. Hari ini atau besok tidak masalah bagi Kenan, lebih cepat lebih baik. Tapi tidak ke Italy atau Belanda. Kenan punya tujuan sendiri untuk rencana honeymoon mereka. Asal tidak ke negara kakek nenek mereka. Alasannya satu. Kenan tidak mau diganggu saat berdua dengan istrinya.
Kenapa mereka seenaknya begitu ? Siapa yang mau honeymoon ? mereka atau Kenan? Kenapa mereka seenaknya memutuskan ?Batin lelaki itu menggerutu.
Lelaki tampan itu langsung menoleh begitu mendengar ucapan istrinya. Bener juga, tidak masalah juga sih, selama bersama istri cantiknya. Itu sudah cukup. Kenapa Kenan harus marah-marah coba ? Dasar labil !
Lelaki itu menggerutu pada dirinya sendiri.
Sebentar kemudian, bibir seksi yang sedari tadi cemberut itu tersenyum.
"So, ngakuin nih, kalo suami kamu ganteng ?", gumamnya.
"Hemmm....", bahu gadis cantik itu terangkat
Terdengar kekehan kecil dari bibir mungilnya. Kenan bisa mendengar itu.
Tapi karena posisi tubuh istrinya yang kini membelakanginya dan berada di depan lemari tengah mencari sesuatu, membuat Kenan tidak bisa melihat wajah cantik itu. Tapi Kenan pastikan wajah cantik itu pasti sedang menggodanya dengan raut centil dan lucu.
Dengan cepat Kenan menghampiri istrinya. Akan diciuminya semua inci wajah yang menggodanya itu sampai tak bersisa. Lihat saja !
Ketika tangannya hendak meraih tubuh cantik itu dengan cepat Adelia menghindar, lalu memutar tubuhnya disertai gerakan tendangan ke tubuh suaminya.
Dughhh....
Pukulan kaki Adelia mengenai tubuh Kenan.
"Arghhh....baby ", lelaki itu mengerang kesakitan. Biasa, berpura-pura kesakitan, karena Adelia hanya pelan saja mengarahkan tendangannya.
"Fokus Ken.....fokus, marah-marah bikin kamu nggak waspada. Coba kalo yang nyerang lawan kamu, gimana coba ?", goda Adelia.
Kenan menegakkan tubuhnya. Lalu senyum tipis menghiasi bibirnya. Tangannya bersidekap di dada.
"Gini nih kalo punya istri jago beladiri, mau nyentuh aja ngajak gelut dulu", celetuknya.
Adelia terkekeh.
"C'mon jangan lengah, gimana mau lindungi aku kalo kayak gitu ?", ledeknya lagi.
Kenan membeliak konyol.
"Wokey, c'mon hit me baby !", Kenan merentangkan tangannya.
Adelia tersenyum. Cantik sekali. Lalu secara tiba-tiba menghambur ke pelukan lelakinya. Sedikit terhenyak Kenan balas memeluk tubuh cantik itu.
"Wanna hit you, Ken.....like this !", manjanya. Seusai ucapan itu Adelia menjauhkan tubuh mereka. Sedetik kemudian menempelkan bibirnya di bibir Kenan.
Dengan senang hati Kenan menyambut itu. Pergulatan bibir terjadi. Sesekali menjauhkan bibir mereka. Dengan dahi yang masih saling menempel.
"I'll protect you, baby .... always", lirih Kenan.
"I know ", balas Adelia.
Kembali Kenan meraih bibir mungil itu. Saling berpagut lagi. Mesra dan hot.
"Aku akan jadi harimau manis cuma buat kamu, baby ", lirihnya di depan bibir merah ranum itu.
"Emhhh....harimau manis yang ganas ", kekeh perempuan cantik itu.
Kenan tersenyum.
"Wild and strong, baby ", kembali mengecap bibir manis istrinya. Saling memagut lebih dalam.
"Really ? Show me !", Adelia dengan nada genit.
Senyum Kenan mengembang.
"As you wish, my love !", kembali saling pagut. Semakin hebat lagi.
Kedua tangan mereka saling menyentuh dan meraba. Masih dengan bibir yang bertaut. Kenan mengangkat tubuh istrinya. Dengan kaki mungil Adelia yang melingkar sempurna di pinggangnya. Ciuman itu semakin panas dan liar.
"Ken, Adel....are you ready ?", suara dari arah pintu mengejutkan mereka. Seketika kegiatan mereka terhenti. Dan menoleh ke arah suara.
Ina yang berdiri di depan pintu spontan menutup mata.
"Upssss....Sorry....just go on !", langsung menutup kembali pintu. Terdengar suara kikikan geli dari bibir teman Adelia itu.
Kenan dan Adelia saling berpandangan. Adelia pukul manja dada lelaki itu, yang sudah terbuka beberapa kancing bajunya. Ulah tangan mungil Adelia.
Sama juga dengan baju yang di kenakannya, sudah terbuka dan mengekspos bagian dada atasnya. Ulah tangan nakal Kenan.
"Kunci dulu pintunya !", manja gadis cantik itu.
"Okay, whatever you want, baby", lalu melangkah ke meja kecil di dekat ranjang.
Masih dengan menggendong istri cantiknya, dan kegiatan berpagutnya, Kenan membiarkan tubuhnya sedikit menunduk untuk meraih remot di meja.
Menekan itu hingga terdengar bunyi klik. Pintu terkunci.
"Let's fight, baby !", bibir mereka kembali menyatu. Semakin hebat dan liar.
Hingga kedua tubuh itu akhirnya terjatuh bersama di ranjang. Saling bergulat dan bertempur hebat untuk ke sekian kalinya. Dengan gairah yang memuncah. Suara merdu yang mengiringi ketika meraih puncak kepuasan bersama. Di pagi menjelang siang itu adalah hari yang panas bagi keduanya.
********
"Ready, Na ?", Adelia menyenggol lengan Ina.
Gadis yang kini berubah postur tubuhnya menjadi sedikit langsing itu mencebik.
"Udah dari tadi. Siapa yang lama coba ? Masih sempat berantem lagi", ledeknya.
Adelia terkekeh.
"Iya....iya.....I know ", gadis itu masih terkekeh.
"Take a picture, Del !", Ina mengambil gambar mereka berdua.
"Dasar narsis !", Adelia tepuk bahu Ina.
Sementara gadis itu masih sibuk memainkan gawainya. Sesekali memasukkan makanan ringan ke mulutnya.
Adelia membenahi rambutnya, mengikatnya sembarang. Membulatkan matanya begitu sebuah benda kenyal menempel di pipinya. Di susul tangan besar melingkar di pinggangnya.
"C"mon baby !", suara lembut Kenan berbisik di telinganya.
"Udah selesai ?", Adelia menoleh ke arah suara. Tepat bertubrukan dengan bibir Kenan di sana. Kenan kecap bibir ranum itu lembut.
"Hmmm.... ", gumam lelaki itu. Mengiyakan pertanyaan istrinya, sekaligus menikmati manis bibir ranum perempuan cantik itu.
Lelaki itu baru saja mengatur anak buahnya untuk menjaga mansion. Juga menjaga perusahaannya. Karena selama seminggu akan di tinggal honeymoon. Ina dan Nino ikut bersama mereka.
Urusan perusahaan sementara akan di handle oleh papa Kenan. Sementara Nino masih menyiapkan mobil untuk keberangkatan mereka ke bandara. Mereka akan berangkat dengan private jet keluarga parviz.
Oma dan Opa Adelia ikut bersama mereka. Sekalian ingin saling bertandang ke negara Grandpa dan grandma. Begitu juga sebaliknya. Dua pasang suami istri itu sudah siap dari tadi.
"Mobil sudah siap, tuan muda ", Nino datang memberi tahu.
"Okay, kita berangkat sayang ", Kenan menyodorkan lengannya ke arah istrinya.
"Let's go ", Adelia menggelayutkan lengannya manja di sana.
"Na, c'mon !", ajak Adelia ke arah Ina.
Istri Nino yang tengah asyik dengan makanan ringannya itu segera menghentikan kegiatannya.
"I...iya Del...I'm ready ", balasnya.
"No, pegangi istri kamu, hilang nanti !", ingat Kenan. Lalu melangkah bergandengan dengan istrinya menuju ke mobil.
"Siap tuan muda !", balas Nino sambil menunduk hormat.
Ina mendengkus lirih.
"Hilang....hilang ....emang anak kecil. Dasar tuan muda mesum, untung tampan ", gerutu gadis itu.
"Ehh....honey, nggak boleh marah-marah. Apa Hubby bilang tadi ?", hibur Nino.
"Katanya nggak papa kalo marah sama yang ganteng, biar anak kita ikutan ganteng nanti ", bela Ina.
Nino seketika menepuk jidatmya.
"Bener juga. Tapi berarti suami kamu nggak ganteng ?", rajuknya.
Nina menggelayut di lengan Nino.
"Ganteng dong. Suami aku paling gaaanteng sedunia ", manjanya.
"Serius? Gantengan mana sama tuan muda Ken ? ", goda Nino.
"Uhmm....", Ina nampak berpikir. Nino menunggu jawaban istrinya sambil senyum-senyum. Gadis bertubuh besar itu kemudian tersenyum lebar.
"Nggak perlu di jawab. Terlalu sulit pertanyaannya. Yang penting suami aku yang paling ganteng buat Ina ", seru Ina seraya menarik lengan Nino untuk melangkah menuju mobil.
Nampak mobil yang ditumpangi Adelia dan Kenan melaju perlahan keluar mansion. Mobil paling depan membawa pasangan kakek nenek mereka.
Sebentar kemudian mobil yang ditumpangi Ina dan Nino juga menyusul di belakangnya.
Iringan mobil meninggalkan mansion, disertai tatapan tajam sepasang mata dari kejauhan sana, di persimpangan jalan, dengan senyum sinis menghias bibirnya.
"Tunggu surprise dari aku ", bibir merah itu bergumam. Lalu sebentar kemudian, mobil sport merah itu melaju kencang membelah jalanan kota.