BLIND DATE

BLIND DATE
55. Didn't Know



...55. Didn’t Know...


“Terima kasih, Vi,” ujar Gama. Berpamitan pada Lyvia.


“Sama-sama. Ingatlah, selama kita percaya, yakinlah semua ada dalam kendali.” Lyvia tersenyum. Mengantarkannya hingga di ambang pintu.


“Kita pulang, Dan.” Ia memerintahkan Dani saat duduk di sebelah sekretarisnya yang memegang setir kemudi.


“Kembali ke hotel apa Jakarta, Pak?” tanya Dani.


“Jakarta.”


Sementara Dani melajukan mobil membelah jalan tol, ia membuka tablet pc-nya. Ada beberapa hasil pertemuan dengan investor Banyu Mili yang harus segera ditindaklanjuti. Kerja sama dengan biro travel, travel agent online, pemerintah, dan sejumlah pelaku pariwisata diterapkannya pada Banyu Mili Resort. Seperti yang dilakukannya pada hotel Zoon selama ini.


Meski Banyu Mili belum sebesar Zoon. Tapi ke depannya akan dikembangkan lebih besar. Bisa jadi setara dengan Zoon yang punya predikat bintang 4.


Dipastikan fasilitasnya bahkan akan lebih lengkap. Karena arealnya lebih luas daripada Zoon yang berlokasi di Jakarta dan Bandung.


Omong-omong soal fasilitas. Ia jadi teringat apartemen Sasmaya yang diam-diam ia ganti interiornya. Kendati Sasmaya pernah berujar untuk tidak mencampurinya.


“Sampai mana pengerjaan desain interior apartemen Sasmaya?” tanyanya di sela-sela pandangannya menatap layar tablet pc.


“Sejauh ini tidak ada laporan kendala, Pak. Sesuai timeline pada saat meeting semua selesai dalam 30 hari. Mereka minta tambahan waktu 5 hari, jika cuaca tidak mendukung. Karena pihak kita meminta finishing-nya cat duco. Lebih memerlukan waktu lama dibanding HPL (High Pressure Laminated sheet).”


Ia menyahut, “Tidak masalah. Yang penting hasilnya bagus.”


“Bapak gak kasih tahu Mbak Sasmaya? Kalau dia marah bagaimana?” tukas Dani. Proses membujuk pihak manajemen yang mengelola gedung unit milik calon istri atasannya itu penuh drama. Beruntung, pihak manajemen gedung percaya saat ia menggadaikan nama bosnya itu sebagai jaminan. Dengan alasan sebagai kado pernikahan.


Gama menggeleng. “Nanti saja, Dan. Kalau sudah selesai. Aku ingin kasih dia surprise.” Meski ia tahu, bisa jadi Sasmaya malah marah kepadanya.


Tiba di Jakarta hari telah berganti. Penghuni rumah juga pasti telah terlelap dalam mimpi. Memilih melewati pintu samping yang menggunakan smartdoor lock. Memasukkan kode angka sebagai kunci pengaman.


Sembari berjalan ia melepaskan kancing kemejanya. Selain lelah tentu saja rasa kantuk untuk segera menutup mata.


Masuk ke dalam kamar seperti biasa, Gama langsung menuju kamar mandi yang lampunya menyala karena sensor gerak otomatis. Melepas kemeja dan celananya. Lalu menyimpan ke dalam keranjang pakaian kotor. Membersihkan muka dan menggosok gigi.


Bertepatan ia keluar dari sana lampu padam. Mengambil celana pendek santai dan kaos tanpa lengan di lemari yang terbuka. Memakainya seraya melangkah ke tempat tidur.


Waktunya melepaskan penat. Menabung energi untuk esok hari.


...***...


Pagi seperti biasa deram alarm ‘lalala’ memecah sunyi. Membuat si pemilik benda persegi panjang itu mengulurkan tangan ke atas meja samping ranjang tanpa membuka mata. Menggeser tombol ‘snooze’.


Sementara Gama yang tertidur di sisi lain hanya mengubah arah kepalanya. Dari tengadah menjadi miring. Tak terganggu sedikit pun dengan alarm yang baru saja berbunyi.


Sasmaya mengubah posisi tubuhnya dari miring kiri menjadi miring kanan. Mengusap-usapkan kepalanya di bantal mencari kenyamanan. Terlebih lagi aroma parfum laki-laki itu tertinggal rekat. Membuatnya semakin enggan untuk beranjak.


Lima menit kemudian deram alarm kembali menukik sepi. Membuatnya berucap tanpa sadar, “Ya, ya. Sebentar lagi,” mohonnya entah pada siapa. Memutar kembali posisinya menghadap meja bulat di samping tempat tidur. Kali ini menggeser ‘dismiss’. Ia duduk di tepi ranjang dengan kelopak mata yang masih mengatup. Membungkam mulutnya yang menguap. Berat rasanya mau bangkit dan melangkah.


Bukankah hari ini Sabtu? Hari di mana ia libur tidak masuk kerja. Sayangnya ia tidak bisa berleha-leha sebab tengah berada di rumah Pak Sofyan.


Terpaksa menyeret kakinya menuju kamar mandi. Lampu menyala seketika. Batinnya tergelitik, “Kamar mandi yang unik. Sekaligus menggelikan.” Sebab kaca yang bisa tembus pandang dari sudut mana pun. Anehnya  justru kloset yang tersembunyi di balik partisi kaca bermotif. Bagaimana ia bisa mandi jika tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke kamar ini?


Sasmaya mengangkat bahu. Rasanya tidak mungkin. Orang-orang di rumah ini tidak akan berani menyelonong masuk begitu saja. Pasti Gama sudah membuat peraturan.


Memilih menggunakan shower dibanding bathup. Ia mulai melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Mengucurkan air hangat. Mulai membasahi seluruh tubuhnya.


Sementara laki-laki yang sekarang tidur berposisi miring ke kiri mulai terusik oleh suara gemercik. Ditambah lampu kamar mandi yang menyala terang. Membuat bola mata dalam kelopak yang tertutup itu mulai gelisah. Bergerak acak.


Bahkan sepertinya suara ponsel sempat tertangkap oleh pendengarannya. Jika itu Dani, rasanya tidak mungkin. Sekretarisnya itu tidak akan mungkin membangunkannya secepat ini. Karena mereka baru datang dari Bandung tadi jam 3 dini hari. Lagi pula ini weekend. Dan ini ... oh, siapa yang berani-beraninya menggunakan kamar mandinya?


Sialan. Umpatan itu menggeram dalam hati. Ia menelungkupkan tubuhnya. Mendengus kesal. Rasanya tidurnya benar-benar terganggu.


Tak tahan lagi, akhirnya Gama bangkit. Dengan desakkan napas kesal ia memaksa kakinya untuk melangkah cepat. Sekonyong-konyong mendorong pintu kaca.


Laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Begitu juga Sasmaya yang memekik kaget saat refleks menghadapnya.


Melihat siapa yang tengah berdiri di bawah kucuran air dengan menutupi bagian atas dan bawah meski tak sepenuhnya tertolong. Dengan cepat Gama memutar tumitnya. Membelakangi wanita yang kenapa bisa Sasmaya berada di sana. “Ke-kenapa kamu di sini?”


“Ka-kamu kapan pu-pulang?”


Sama-sama tergagap. Sekaligus terkejut. Sasmaya lekas menyambar handuk yang diberikan laki-laki itu yang tetap membelakanginya.


Ia mematikan kran. Memegangi handuk yang membungkus dada hingga atas lututnya. Rasanya malu, bingung, kesal, sesal dan rasa canggung menyelimuti. Bagaimana bisa ia memperlihatkan tubuh polosnya pada Gama sebelum waktunya. Ya Tuhan ... tragedi ini lebih memalukan dibanding saat dirinya mabuk di Amsterdam.


“Kamu sudah pakai handuk?” tanya Gama. Namun tak ada sahutan dari Sasmaya.


“Aku berbalik,” Gama menukas sebab wanita itu tak meresponsnya. Perlahan menghadapnya. Mengusap wajah. Lantas mengembuskan napas lega. “Sejak kapan kamu masuk di kamar ini?”


Ia menggeleng. “Sejak kapan kamu pulang?” justru balik bertanya. Bingung.


Menarik tangan wanita itu, lalu memakaikan handuk kimono yang baru saja diambilnya dari laci nakas wastafel. “Aku baru pulang tadi jam 3,” ujarnya.


Ia menghela. “Tadi malam aku kemari karena mau mengantarkan pesanan Mbak Widiya. Lalu mengobrol bareng Papa, Pak Affan dan Mbak Widiya. Gak tahunya sampai malam. Papa menyuruhku tidur di sini,” paparnya masih malu-malu.


Gama menahan senyum. Sejatinya bukankah ini cara unik mereka dipertemukan. Ide jahil mulai meracuni pikirannya. “Melihat sebentar tanpa sengaja itu tidak apa-apa. Anggap bonus. Kecuali aku melihatnya lama. Itu petaka. Lagian aku sudah lupa sekarang.”


Ia mencebik. Sudut bibirnya tertarik ke bawah. “Tidak lucu!” serunya kesal. Mendorong laki-laki itu untuk keluar kamar.


Gama tergelak senang. Lantas berkata, “Kenapa aku diusir dari kamarku sendiri?” protesnya tak terima.


Ia menyergah, “Aku mau ganti baju! Tidak mungkin ganti baju di kamar mandi yang terang benderang tembus pandang, itu namanya petaka.” Sementara laki-laki itu masih berada dalam kamar. Itu artinya sama saja, Gama bisa melihatnya.


Gama mengulum senyum. Kali ini ingin menahan tawa yang hampir meledak di ujung mulutnya. “Kamu tidak tahu caranya?”


Tangannya berhenti mendorong laki-laki itu.


“Sini aku kasih tahu.” Gama menarik tangannya. Membawanya ke dalam kamar mandi. Mengambil remote control berwarna putih dari laci nakas wastafel. Menekan tombol kuning. Seketika kaca bening yang menjadi dinding dan pintu kamar mandi berubah menjadi buram. “Smart glass,” bisik Gama hingga menyentuh cuping telinganya. Yang membuat Sasmaya meremang tegang. Kemudian tersenyum sambil meninggalkan dirinya.


...***...


Sumpah demi apa pun sarapannya terasa hambar. Kejadian beberapa saat lalu masih menyisakan malu. Senyum paksa ia hadirkan untuk menyamarkan kejadian memalukan tersebut.


Gama mengajaknya berenang bersama Kae. Awalnya ia menolak. Namun Widiya datang membawakan baju renang untuknya. Gagal untuk kabur menghindar. Kini ia duduk di tepi kolam memainkan tungkainya di dalam air.


“Mas Gama tadi malam pulang jam berapa, Sas?” tanya Widiya.


Ia menoleh pada ibu hamil tersebut. “Jam 3 katanya, Mbak.”


“O, aku pikir baru saja.” Soalnya saudara iparnya itu tak terlihat di meja makan saat sarapan.


Sejak ia berganti baju dan keluar dari kamar mandi, Gama sudah tak terlihat lagi. Entah pergi ke mana. Bahkan saat sarapan. Lalu muncul ketika ia dan papa duduk di teras samping dekat kolam renang.


Kata laki-laki itu, “Aku tidur di kamar lain.”


“Kae, Mama sama Papa pergi dulu!” Widiya berseru. Kae yang mendengar suara mamanya mengangguk.


“Sas, aku tinggal, ya. Hari ini jadwal periksa ke dokter,” imbuh Widiya. Menepuk bahunya. Lantas pergi setelah ia membalas, “Oke, Mbak. Hati-hati.”


Gama dan Kae terlihat berlomba berenang memutari kolam beberapa kali. Lalu laki-laki itu menepi menghampirinya. Dengan napas terengah-engah.


Sementara Kae bersantai di kasur apung sambil mendengarkan musik di telinganya.


Laki-laki itu memercik air di wajahnya. Membuatnya memelotot. Alih-alih Gama takut, justru laki-laki itu tergelak mengejek.


“Hey, sorry ... I didn’t know that.” Gama menatapnya. Berusaha membujuknya. “Apa aku harus menghapus memorinya?”


Ia menatap Gama sejenak. Tak lama menunduk.


“Okay ....” Laki-laki itu menarik tangannya. Meletakkan di kedua matanya. Mengusap-usap perlahan. “Ini caranya biar mataku tidak melihat hal-hal yang tidak seharusnya,” ucap Gama. Lalu menarik ke atas mengusap-usap kepalanya. “Memori tentang hal-hal yang tidak seharusnya, dihilangkan dari ingatan.”


Ia mengatupkan indra penglihatannya. Menarik napas panjang. Siap berseru, “ Gak makes sense—”


“Haha ....” Gama terbahak, berhasil menghindar ketika ia hendak menghujatnya. Yang pada akhirnya tanpa sadar berhasil membuatnya turun membenamkan diri di air kolam. Demi mengejar laki-laki itu yang terus kabur menjauhinya.