BLIND DATE

BLIND DATE
50. Thinking Out Loud (2)



...50. Thinking Out Loud (2)...


Pemandangan di hadapannya tak biasa. Bangunan-bangunan klasik yang menampilkan suasana erottis. Berwarna merah menyala.


Sasmaya mendekap tubuhnya sendiri. Bibirnya bergetar menahan serbuan udara malam yang menyengat. Ia tak tahu kenapa sampai di tempat seperti ini.


Cerobohnya, ia tak memakai jaket atau sweater. Pakaiannya yang dikenakan masih sama.


Di seberang kanal juga panoramanya tak jauh beda. Etalase-etalase kaca tembus pandang menampilkan wanita seksi dan gambar-gambar khusus dewasa mengundang syahwat.


Ia menunduk. Kenapa Dirk lama datangnya?


Menyandarkan sepedanya berdekatan dengan sepeda lain. Ia memilih berjalan. Berharap Dirk segera menemuinya.


“Sasmaya.”


Ia menolehkan kepalanya ke samping. Menerbitkan senyum. Akhirnya Dirk datang juga. Lega.


“Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu ada acara dengan pemilik Holland?” tanya Dirk heran. Seorang turis sendirian. Wanita. Di tempat prostitusi malam-malam. Bahkan banyak orang yang tengah mabuk.


“Aku ...,” ekor matanya mengikuti bayangan sepasang pria dan wanita yang tengah berciuman di ... ia langsung mengalihkan pandangannya. Menatap Dirk. “Aku ingin naik kapal.”


Dirk berdecak. Gila. Wanita ini nekat. Lihat saja pakaiannya. Rok selutut dengan pakaian tipis. Apa wanita Indonesia tahan udara dingin?


“Ayolah, Dirk!” serunya memohon. Ia belum mau kembali ke hotel. Suasana hatinya sedang berantakan. “Aku ingin lihat kota Amsterdam di malam hari dari atas kapal.”


Pria bule itu akhirnya menyerah. Mengikuti permintaan calon istri sahabatnya. Lihat! Bahkan di dalam kanal ini hanya kapal miliknya saja yang beroperasi sendirian di gelapnya air yang hanya tampak berkilauan karna bias lampu.


Ini sudah malam. Pukul 10.15.


Dirk menepikan kapal motornya. Padahal baru beberapa meter saja. Mengambil selimut dari kotak storage. Lalu menyodorkan pada Sasmaya yang berdiri bersedekap dengan pandangan lurus.


Sangat yakin. Wanita itu tidak melihat pemandangan sekitar. Buktinya kapal telah berhenti, tidak ada protes darinya.


Tak mendapat respons dari Sasmaya, Dirk menyelimuti punggung wanita itu dari belakang. “Pakailah ... kamu pasti kedinginan.”


Ia menoleh ke samping. Mengeratkan selimut. Lalu duduk. Melepas sepatu. Menekuk kedua kakinya ke atas kursi. “Terima kasih,” balasnya.


Dirk tahu ada sesuatu yang terjadi pada wanita tersebut. “Apa kamu menikmati acaranya?” tanyanya. Ia bisa menebak, Sasmaya langsung ke sini. Atau malah belum sampai acara tuntas. Tanpa sempat berganti pakaian. Bahkan tanpa pakaian pelapis. Seperti terburu-buru. Tidak mungkin seorang turis maupun warga lokal berpakaian seperti itu di malam hari. Ini masih musim semi.


Sasmaya diam. Cukup lama terpaku menatap lantai kapal.


Udara malam kian menyengat. Dirk berjalan lagi ke bagian depan. Membuka storage dan mengambil sebuah botol beserta gelas. Membukanya. Lantas menghampiri wanita itu dan duduk tak jauh darinya.


“Bagaimana jika tadi aku terlambat datang. Bisa-bisa kamu ditarik ke salah satu bangunan,” ujar Dirk. Menuang botol ke dalam gelas. Meminumnya.


“A dulu menemukan aku terkapar di sana. Hampir tiap malam aku mabuk. Menghabiskan sepertiga malam di salah satu bar langganan.”


Dirk codong. Kembali menuang botol. Meraih gelasnya. Punggungnya bertumpu di sandaran kursi.


“De Wallen adalah tempat kelahiranku. Masa kecilku hingga sekarang. Di balik gang di antara rumah-rumah penjaja kenikmatan.” Dirk menyimpan gelas yang telah kosong. “Beruntungnya aku ketemu dengan A,” lanjutnya.


Ia mengubah posisinya. Menurunkan kakinya. “Apa A sering kemari?”


Ledakan tawa Dirk membuatnya menatap pria itu. Keningnya berkerut.


“Are you angry or jealous?”


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Biarpun hatinya berkata lain.


“Sebagian besar pria pasti penasaran apa yang terjadi di dalam sana. Selanjutnya semua akan menjadi rahasia masing-masing.” Derai tawa Dirk kembali memecah.


Benarkah?


Ia menuang minuman botol itu ke dalam gelas yang kosong. Meneguknya dengan cepat. Refleks wajahnya bermimik aneh. Hal itu menjadi perhatian Dirk. Lantas pria itu berucap, “Kamu bukan peminum.”


Sasmaya tidak peduli. Malam ini ia ingin melupakan sejenak kekacauan yang melanda hatinya. Menurut cerita temannya, mabuk bisa membuatnya rileks sejenak dari permasalahan yang ada.


Biarpun sadar ini salah. Nyatanya ia tak berhenti untuk kembali menuang minuman tersebut. Paling tidak ia ingin merasakan mabuk sekali saja. Ya ... sekali saja. Berharap setelah ini ia bisa melupakan Gama, Elena, entah siapa saja yang mengaduk-aduk suasana hatinya.


Sayangnya, baru 2 gelas minuman itu masuk ke dalam tubuhnya. Ia justru merasakan sedikit pusing. Pandangannya kurang jelas. Sensasi tipsy sudah mulai dirasakan.


Dirk masih menceritakan awal perkenalannya dengan A. Tapi ia justru kurang fokus mendengarkan.


Ia kembali menuangkan minuman itu ke dalam gelas. Dirk sempat mencegah. Sebab tahu dirinya bukan peminum. Dengan sekali dua kali tegak saja pasti sudah mabuk.


Kepalanya menggeleng tidak setuju. Telunjuknya terangkat—memohon sekali lagi—dengan senyum manis.


Dirk menghela napas. Menerima telepon. Entah siapa yang mengganggu malam-malam begini.


“Dirk menurutmu, apa A akan menikahiku?” tanyanya. Entah kenapa kalimat itu tercetus.


“Apa jawaban hatimu?” sahut Dirk.


Ia terdiam menunduk. Lalu menggeleng. “Dia dan Elena tidak ada komitmen untuk menikah. Kemungkinan besar itu juga akan terjadi padaku.”


Dirk berdecak, mencibir, “A dan Elena bahkan tidak sampai tahap pertunangan.”


“Tapi mereka hidup bersama. Mereka saling cinta. Apa cinta tidak cukup untuk berkomitmen?”


Dirk berdiri. Seseorang datang memakaikan jaket padanya.


“Kita pulang,” ajak orang itu.


Ia menggeleng. Kepalanya semakin berat. Meski sensasi ringan ia rasakan. Tak ada rasa sakit di hati. “Jawab Dirk!” desaknya.


Dirk diam.


“Dirk.”


“Sas, kita pulang.”


“Aku mau di sini,” tolaknya.


“Kita pulang.”


Ia seperti melayang di udara. Masuk ke dalam ruangan lain. “Dirk, kamu mau bawa aku ke mana? Aku masih ingin di sini. Aku ingin menghabiskan malam ini. Ternyata minuman kamu bisa membuatku rileks, hehe. Dirk,” panggilnya.


Tidak ada sahutan. Ia kembali memanggil pria bule itu. “Dirk. Apa A juga pintar berbohong selain pintar menyembunyikan masa lalunya?”


Lengang.


...***...


Kesalahan Dani membuatnya kesal hingga kini. Harusnya ia memakai penerbangan langsung ke Amsterdam. Biarpun harus duduk di kursi ekonomi.


“Direct flight ke Amsterdam tinggal kelas ekonomi, Pak,” ujar Dani. “Jadi saya pesankan yang business class.”


Akibatnya ia harus menjalani transit di Dubai. Sebelum pesawat buatan UAE tersebut mendarat di Schiphol. Waktunya terbuang banyak.


Tiba di Amsterdam sudah malam. Sekelebat bayangan masa lalu belasan tahun ia di sini sejenak berputar-putar memenuhi ingatannya. Tapi ia berusaha menepis.


Tujuannya ke sini hanya menjemput Sasmaya. Tak ada yang lain. Lagi pula saham yang digadang-gadang masih bersisa ternyata papa sudah menjual semuanya. Tak ada lagi saham Zoon di sini.


Meski demikian, hubungan baiknya dengan para karyawan Zoon Hotel masih terjalin hingga kini. Bahkan beberapa dari mereka suka rela untuk dimintai pertolongan.


Ini pasti terjadi. Lambat atau cepat. Bahkan mungkin karena papalah semuanya terkuak ke permukaan. Ia tidak menginginkan ini. Tapi tidak bisa juga mengelak.


Menemui Sasmaya dalam kondisi mabuk. Menambah kekesalannya pada Dirk. Bagaimana pria yang mengaku sahabatnya itu justru membiarkannya.


“Dirk.”


Sasmaya masih menyebut nama itu. Ia mengangkat Sasmaya. Memindahkannya ke rumah kapal yang telah di sewanya.


“Katakan Dirk, apa A juga akan sama memperlakukan aku seperti Elena?”


Wanita yang terlihat menyedihkan itu ia baringkan di atas kasur. Terdengar masih mengoceh karena mabuk. Wajahnya kuyu. Rambutnya berantakan. Ia menarik selimut hingga ke dada Sasmaya. Menyikap perlahan rambutnya yang menutupi wajah.


“Maaf,” sesalnya. Duduk di samping ranjang. Menatap wajah Sasmaya dengan perasaan berkecamuk.


Perlahan Sasmaya membuka mata. “Ka ... mu?” mengerjap-ngerjap demi menangkap bayangan yang tepat di wajahnya. Tak lama menggeleng. “A gak bakalan datang. Ya, kan, Dirk?” tertawa sumbang.


“Sas, aku datang. Ini aku.” Meraih tangan Sasmaya lalu menempelkan di wajahnya. “Aku datang.”


“Benar ini kamu?”


Gama mengangguk.


Sasmaya menarik bahunya. Hingga ia terjatuh tepat di wajah wanita tersebut. Dua pasang bibir itu saling bertemu. Embusan napas mereka saling bertumbukan.


Bagi Gama kerinduannya pada Sasmaya telah mencapai puncak. Dan inilah obat mujarab. Melihat Sasmaya, berada di dekatnya. Ia bukan tipe laki-laki yang setiap saat mengobral kalimat. Bukan pula bisa bermanis-manis supaya romantis. Ia lebih suka memantau Sasmaya dari kejauhan. Agar hubungan mereka terasa nyaman.


Menyapukan perlahan bibirnya pada bibir milik Sasmaya. Wanita yang memiliki senyum manis dan memikat. Paras cantik natural. Tubuh mungil tapi tetap proporsional. Memesona. Ternyata telah mencuri perhatiannya.


Sasmaya membalasnya. Ikut menggerakkan organ kenyal berwarna pink tersebut. Bergerak perlahan. Pelan-pelan. Saling merasai. Bertambah ritme. Kian masuk. Saling berpangut. Mengakibatkan tarikan dan desakkan napas keduanya mulai tak beraturan. Tindih-bertindih.


Wanita yang kini berada di bawahnya ini mulai agresif. Menyikap selimut. Menarik kaos yang dikenakannya.


“Sas.”


Sasmaya tak berhenti. Menyusupkan kedua tangannya ke dalam kaos yang dikenakan. Meraba dada, perut dan punggungnya.


Siapa yang tahan jika diperlakukan seperti ini. Dadanya berdesir. Napasnya terasa berat. Hasratnya meningkat.


Apa Sasmaya menginginkan ini?


Adegan pertautan bibir keduanya tambah bergelora. Ia mulai menguak blouse berbahan tipis tersebut hingga dada. Telapak tangannya menyentuh perlahan dengan lembut mulai perut terus ke atas sampai ke leher. Berakhir di tengkuk.


Bunyi berdesah keluar dari bibir Sasmaya.


Kain berwarna hitam yang masih menyelimuti dada ia lepas pengaitnya. Ia menghentikan sejenak. Melihat wajah wanita di bawahnya. Dengan napas memburu dan mata sayu.


“Sas,” lirihnya.


Sasmaya mengangguk. Mengusap pipi dan rahangnya. Dengan senyum memesona.


Meski sedikit ragu. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Mencucup. Menghidu dalam lantas bergerak perlahan ke bawah. Di mana buah dada itu ranum bersanding.


Lagi-lagi suara berdesah wanita yang dirindukannya ini terdengar mendayu dan merayu. Menambah adrenalinnya untuk lebih berpacu.


Dorongan memiliki Sasmaya kian membara. Rindunya, cintanya tak terbantahkan lagi. Ia melempar kaosnya. Menghujani tubuh mulus itu dengan menciuminya bertubi-tubi.


“Ele ... na.”


Gerakannya terhenti. Matanya mengatup.


Tidak!


Ini tidak benar.


Ia tidak boleh menyakiti Sasmaya lebih dalam. Walaupun ia harus meredam hasrat lelakinya. Meredam keinginan yang membungkusnya. Tapi ini tidak boleh terjadi. Dengan cepat ia kembali mengaitkan penutup dada berwarna hitam. Membenarkan pakaian Sasmaya seperti sedia.


Terlonjak refleks meraup wajahnya. Mondar-mandir. Berperang batin. Menarik rambutnya paksa.


Sasmaya berusaha bangkit. Menutup mulutnya.


“Sas, kamu—”


“Hoek,”


Ia lekas membopong Sasmaya ke toilet. Membuka penutup kloset. Wanita yang tengah mabuk itu mengeluarkan isi perutnya di sana. Ia membantu memijat tengkuknya.


Membaringkan dan menyelimuti kembali Sasmaya sekembalinya dari toilet. Menatap sesaat wajah yang tampak tertidur lelah. Ia memutuskan untuk meninggalkan Sasmaya di kamar.


“Apa kamu masih mencintainya?”


Langkahnya terhenti. Memutar tumit dan kembali menghampiri. Duduk di tepi ranjang. Meraih tangan Sasmaya lalu menciumnya. Menggeleng.


“Katakan itu hanya mimpi ... itu tidak benar,” igau Sasmaya dengan mata tertutup.


Ia mengusap punggung tangan Sasmaya. Menciumnya lagi.


“Dia menginginkanmu. Kalian masih saling cinta?”


“Aku akan pergi.”


“Aku bisa pergi.”


"Kita bisa batalkan perjodohan ini."


Hening. Lalu terdengar sesenggukan menyayat. Walau tanpa air mata. Tapi ia bisa merasakan kekecewaan itu jelas tersirat.