BLIND DATE

BLIND DATE
64. Presisi



...64. Presisi...


Hari perdana kerja pasca-cuti beberapa hari membuatnya kurang nyaman. Bukan karena apa-apa. Dalam lubuk hatinya ia mencari jawaban, kalau-kalau ada rekan kerjanya mengucapkan, “Selamat Sas. Ikut bahagia dengan pernikahan lo.” Atau, “ih ... gak undangan nih kawinan. Suami lo orang mana, Sas?” Bahkan bagaimana jika ia bertemu tidak sengaja dengan karyawan Zoon, yang jelas-jelas tahu ia dan Gama akan menikah.


Pikirannya malah melalang buana tak karuan. Membuatnya menjengit kala pundaknya ditepuk seseorang dari belakang.


“Habis cuti kok gak semangat!” ujar Wita.


Ia tersenyum samar.


“Ke mana aja kemarin, Sas?” imbuh Wita. Rekan kerjanya itu menyenggol lengannya, “gue mau ikutan kayak lo. Traveling  3-4 hari ke mana gitu, refresh otak yang udah stuck.”


Ia tersenyum samar lagi. Beruntung pintu lift terbuka. Ia lekas masuk. Bersamaan dengan karyawan yang lainnya.


Akan tetapi Wita masih sempat-sempatnya bertanya, di dalam kotak besi yang menampung 6 orang tersebut. “Atau jangan-jangan lo cuti bareng cowok yang nge-tag lo di instagram itu ya? Siapa sih, Sas?”


Membuat yang lain menoleh pada Wita. Lantas beralih kepadanya. Serasa mereka juga mendengarkan percakapannya dengan Wita. Dan kini ikut menanti jawabannya. Meski karyawan departemen lain, tapi dari tanda pengenal yang tergantung di leher jelas mereka bisa ditelusuri dari bagian mana saja. Dan hanya ia dan Wita yang berasal dari Gama Pustaka.


“Malah melamun,” tangkas Wita. Bersamaan dengan pintu lift terbuka. Rekan kerjanya itu terpaksa keluar dari lift. “Duluan, ya, Sas!” melambaikan tangan.


Ia ikut membalas dengan senyum tipis.


Tak berapa lama ia juga memasuki ruangannya. Langkahnya gontai. Baru saja akan membuka pintu ruangannya. Teriakan memanggil namanya membuatnya menoleh, “Sasmaya!” Sinta berlari. Merentangkan tangan dan merengkuhnya. “Gue, kangen tahu. Sorry, gue gak ada di sana waktu lo—”


“Gue gak apa-apa,” sergah Sasmaya. Menepuk pundak Sinta. Menerbitkan senyum. Kemarin ia memutuskan untuk membuang jauh kesedihan. Dan berniat memulai hidupnya dengan hal-hal yang menyenangkan. Tak mau berlarut-larut akan kegagalan.


Melihat sahabatnya tersenyum, Sinta ikut menarik sudut bibirnya lebar. “Lo, yakin?”


Ia mengangguk. Mengajak Sinta masuk.


“Lo beneran hari ini siap kerja?” Sinta kembali memastikan keadaannya.


“Lo bisa lihat!” tukasnya, mengangkat bahu. Lantas kembali tersenyum.


Sinta berdesah lega, “Syukurlah. Gue khawatir lo down banget. Terus lo melakukan hal-hal aneh.” Ikut duduk di sofa, setelah ia duduk terlebih dahulu.


“Maksud lo, gue suicide gitu?” tebaknya. Lantas menggeleng, “nyawa gue cuma 1.”


Ibu satu anak itu mengangguk-angguk.


“Cukup naik hysteria sama tornado sudah bikin gue seperti kehilangan nyawa,” lanjutnya.


“Eh ... lo ke Dufan?”


Ia mengangguk.


“Dan lo naik hysteria sama tornado?”


Ia mengangguk lagi.


Sinta menggeleng. Tak lama bertepuk tangan. “Hebat! Selama ini lo gak pernah mau naik wahana itu. Kayaknya gue harus kayak lo dulu biar bisa naik tornado.” Dipaksa bagaimanapun juga Sasmaya tidak akan mau. Ternyata orang yang patah hati keberaniannya bisa naik berkali lipat.


“Lo mau dicerai dulu sama si Aa!” tandasnya mencibir.


Sahabatnya itu menggeleng, tersadar. “Amit-amit ....” mengetok-ngetok meja. Lalu bangkit. “Seumur hidup gue mending gak naik, daripada gue bercerai.”


Ia terkekeh.


“Nah, gue senang lihat lo ketawa begini,” ucap Sinta.


Dahinya berkerut usai tawanya reda, “Tapi ... gue ngerasa parno, Sin. Entah perasaan gue atau gue yang pelupa. Saat gue ketiduran di ayunan, kok gue pake selimut. Padahal seingat gue ... gak ada selimut di dekat gue. Apa apartemen gue ada hantunya, ya?”


Kini giliran Sinta tertawa mencibir, “Rajin ngaji, Bu. Biar tuh setan kabur ... udah ah, lo pelupa kali. Gue balik,” menutup pintu ruangannya. Tak memedulikan dirinya yang masih memikirkan malam kemarin. Yang menurutnya aneh.


...***...


Sore harinya Sasmaya membahas buku biografi Sofyan Putra. Ada sedikit perubahan yang dilakukannya. Pada beberapa bab yang menurutnya ia baru menemukan jawaban.


“Kamu, yakin, Sas?” tanya editornya.


Ia mengangguk.


“Bagaimana kalau Pak Sofyan marah. Atau keluarganya tidak terima?”


“Ini biografi. Seluk beluk latar belakang kehidupan tokoh yang kita angkat semua kita tuang di sini.” Ia mengangkat dummy buku biografi Sofyan Putra. “Justru orang akan membeli buku ini. Karena penasaran. Orang tahunya Sofyan adalah seorang pengusaha sukses. Tokoh pers. Tokoh literasi. Tanpa cela, sederhana dan punya keluarga bahagia.”


“Gila lo! Gue kurang setuju. Ini akan jadi pro-kontra.” Editornya menggeleng.


“Tapi ini fakta.” Sasmaya menambahkan permasalahan keluarga Sofyan menyoal Gama yang memilih hidup sendiri. Sofyan rela melepas saham Zoon di Belanda karena menginginkan Gama kembali ke Jakarta dan menikah. Rekan-rekan bisnisnya pasti tidak mengetahui alasan mendasarnya. Dan pasti mereka tidak akan menyangka. Jika pretensi utamanya adalah menyangkut Gama. Bukan kepentingan bisnis.


“Ini soal Sofyan Putra. Bukan Gama,” sangkal editornya.


“Gama adalah anak Sofyan. Yang membuat Pak Sofyan sama terpuruknya ketika ditinggal istri selamanya. Bahkan Ibu Heti sakit karena memikirkan anaknya yang memilih jalan berbeda. Pada akhirnya rela melepas Zoon di Belanda. Demi siapa? Demi Gama. Jadi ... Gama sosok yang penting dalam buku ini. Karena mempengaruhi kehidupan pribadi dan bisnis Sofyan,” paparnya.


Editornya itu menggaruk kepalanya. “Lo, gak rundingan dulu sama Pak Sofyan?”


Ia menggeleng. “Nanti setelah dummy perbaikan, gue kirim bukunya ke beliau.”


“Terus ending tujuan Pak Sofyan menikahkan Pak Gama bagaimana? Bukankah alasan menikahkan anaknya, akhirnya beliau menjual saham Zoon.”


“Mulus tapi penuh intrik.”


Editornya mengerutkan kening, bergumam, “Penuh intrik?”


“Gak perlu membahas tentang pernikahan anaknya. Yang jelas kita sudah mengetahui alasan dibalik penjualan saham Zoon. Ini undercover.”


“Ck, gue jadi penasaran, Sas. Siapa istri Pak Gama yang dijodohkan Pak Sofyan."


“Mereka belum menikah.”


“Ya, kalaupun belum menikah, suatu saat mereka juga pasti menikah. Lo kenal, Sas?”


Editornya terpaksa ikut berdiri. Dengan raut muka yang dibuat-buat kecewa.


“Ini biografi Sofyan Putra. Bukan cerita fiksi.” Ia terkekeh mencairkan suasana.


Meninggalkan ruangannya bersamaan Dina—sekretaris editor in chief— menghampirinya.


“Mbak Sas, mobil sama sopir kantor udah menunggu di bawah,” ucapnya berdiri saat ia melewati meja sang sekretaris tersebut.


Langkahnya terhenti. “Tapi aku cuma penanggungjawab sementara editor in chief, Din.” Apa iya fasilitas itu juga didapatkannya?


“Ini perintah Pak Affan, Mbak. Lagian, ini sesuai prosedur SOP yang berkaitan dengan segala fasilitas dan benefit untuk jabatan editor in chief. Baik menjabat sementara ataupun tetap.” Dina mengangsurkan sebuah map kepadanya. “Semuanya lengkap di sini.”


Ia membuka sekilas. Ada beberapa fasilitas yang mengikat pada editor in chief, seperti; kendaraan beserta sopir, rumah atau tempat tinggal, tunjangan teknologi berupa laptop dan ponsel, dan masih banyak poin-poin di bawahnya.


Sasmaya menipiskan bibir. Menutup map. “Oke,” putusnya.


“Mbak Sas, saya kirimkan schedule 4 hari ke depan lewat e-mail, ya. Setiap hari saya akan ulang mengingatkan,” sergah Dina.


Ia mengangguk dan menjawab, “Oke.”


“O, ya ... di awal pekan depan, ada wawancara editor in chief. Sementara agendanya di ruangan meeting Gama Pustaka. Tapi bisa berubah. Nanti saya beritahu jika pihak HRD ada perubahan tempat.”


“Oke. Ada lagi, Din?”


Dina tersenyum. Menggeleng. “Sementara itu saja, Mbak.”


“Aku duluan, Din,” pamitnya. Menuju lobi.


Tiba di sana sebuah mobil sedan Toyota Camry terparkir di depan lobi. Berserta sopir yang berdiri siap membukakan pintu.


Ia melempar senyum, “Terima kasih, Pak.” Masuk dan duduk di belakang. Menyebutkan sebuah alamat.


Sopir tersebut mengangguk. Meninggalkan pelataran gedung GPP yang mulai temaram. Lampu jalanan dan gedung-gedung terlihat berpendar dari kejauhan.


Biasanya menggunakan ojek lebih cepat sampai di tujuan. Kini ia harus bersabar. Terjebak macet dan merelakan sebagian waktunya menunggu ketidakpastian.


Sasmaya mengirimkan pesan pada seseorang.


Sampai di tempat tujuan ia bergegas menuju ke sebuah kafe. Seorang laki-laki melambaikan tangan. Tersenyum padanya.


“Sorry, Mas ... sorry, macet,” ungkapnya. Menggeret kursi dan duduk di depan laki-laki itu.


“Lagu lama,” seloroh laki-laki itu.


“Tadinya mau naik ojek biar cepat.”


“Tapi sayang fasilitas kantor dianggurin,” cibir laki-laki yang duduk di depannya ini. Tersenyum.


Ia tergelak. “Mas Oki bisa aja.”


Oki salah satu teman yang dikenalnya di departemen lain di bagian magazine. Bukan arsitek. Bukan pula desainer interior. Tapi dia seorang wartawan majalah arsitektur dan desain interior. Setidaknya dengan berkecimpung lama di sana, Oki tahu seluk beluk apa yang akan ditanyakan.


“Jadi bagaimana?”


“Bagaimana apanya? Justru aku yang mau tanya, kira-kira dengan foto yang aku kirimkan kemarin, bisa menghabiskan biaya berapa?” tanyanya.


“Aku gak bisa jawab pasti, Sas. Hanya aku bisa pastikan kalau kualitas desain interior dengan costum gambar yang kamu kirim itu bagus dan rapi. Menggunakan material terbaik. Apalagi semua dirancang sesuai estetika. Berpresisi akurat. Kompak. Compact. Contemporer. Dan focal point-nya ada pada kamar mandi. Aku rasa seleranya tinggi,” terang Oki.


“Dengan semua penilaian Mas Oki, berapa budget yang harus dikeluarkan?”


Sepanjang perjalanan pulang, ia terkejut dengan angka yang disebut Oki. Biarpun hanya estimasi. Bahkan saat ia duduk di sofa. Memainkan remote control kamar mandi yang berganti-ganti warna dan lampu. Angkanya mampu menguras kantongnya.


Nominal yang fantastis hanya untuk sebuah unit apartemen bertipe studio. Ia tahu selera Gama memang beda. Terbukti dari rancangan Zoon di Belanda, di Jakarta, juga Banyu Milli, yang ia ketahui. Bahkan kamar pribadinya.


Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping. Menelepon seseorang, “Dan, bisa ketemu besok sore. Aku tunggu di kafe dekat GPP.”


Belum sempat meletakkan kembali ponselnya usai mengakhiri percakapannya dengan Dani, layarnya berpendar. Susi memanggil ....


“Halo, Mbak Sas. Tadi Mas Gama kesini. Jadi saya titipkan koper Mbak Sas sama Mas Gama.”


“Lho, Sus. Kok gak bilang dulu sama aku. Kan aku sama Mas Gama beda rumah. Lagian kenapa gak tunggu instruksi aku dulu!” protesnya.


“Maksudnya beda rumah gimana, Mbak? Saya gak ngerti. Tadi kata Mas Gama biar Mas Gama aja yang bawa. Ya, saya pikir sekalian gitu.”


“Ehm ... maksudku, em ... gak enak merepotkan orang lain, Sus. Lagian Mas Gama sibuk.”


“Orang lain gimana sih, Mbak. Mas Gama itu, kan, suami Mbak Sas. Jadi bukan orang lain. Eh lupa ... ya, pengantin baru ... cie ... cie. Selamat ya, Mbak Sas ... semoga bahagia, sakinah, mawaddah, dan cepat dapat momongan. Biar rumah ini ramai kalau ada bayi. Pasti Bu Ranti senang banget punya cucu. Duh, udah kebayang nih, Mbak. Mas Gama guanteng, Mbak Sas cantik, pasti baby-nya gemesin.” Susi di ujung sana mencerocos tak bisa disela. Omongannya melantur tak beratur. Ia hanya memejamkan mata.


Hingga ia mengakhiri telepon dari Susi ketika suara bel pintu unit apartemennya terdengar berdenting.