BLIND DATE

BLIND DATE
52. Pasangan Pakaian



...52. Pasangan Pakaian...


Meski beberapa kali Gama mengutarakan bahwa ia bisa membatalkan perjodohan mereka. Tapi kali ini terdengar berbeda. Ada kecemasan sekaligus ketakutan. Ia tak menyangka jika Gama punya perasaan takut kehilangan dirinya.


Mengingat kembali kisah keduanya.


Perkenalannya tergolong singkat melalui aplikasi. Berlanjut perjodohan. Lantas ia dan Gama memutuskan saling menerima bukan sebab cinta. Melainkan keduanya punya alasan masing-masing. Hingga pada akhirnya rasa khawatir, perhatian, rindu, itu muncul dengan sendirinya.


Apa cinta telah tumbuh di antara ia dan Gama?


Ia bisa merasakan degupan jantung Gama. Ia juga tak dapat mengelak. Jika debaran jantungnya tidak kalah mengedor-gedor. Berdemonstrasi. Hingga sensasinya dapat dirasakan sampai ke leher. Namun, dalam  satu waktu bersamaan perasaan hangat dan nyaman membungkusnya saat Gama mengeratkan rengkuhannya.


“Aku tahu kamu kecewa, Sas. Mungkin juga marah kepadaku.”


Lengang. Hingga titik-titik air dari langit menyadarkan mereka untuk segera menyudahi.


Ia dan Gama bangkit. Laki-laki itu menarik tangannya agar lekas mengikuti langkahnya. Tak ada yang bicara. Hanya derap langkah kaki mereka yang terus terayun menyusuri jalan conblok.


Sudut bibirnya tertarik ke atas. Menatap punggung laki-laki itu. Ia tahu masa lalu Gama buruk. Namun, ia juga tak bisa menghukum Gama karena hal itu. Tiap-tiap orang punya masa lalu. Punya jalan pilihan yang mungkin berbeda dan penuh konsekuensi. Pernah salah. Khilaf. Bisa jadi itu pilihan yang terpaksa. Tapi tetap, ia tak boleh menghakimi.


^^^Menurut kamu apa arti pertemanan?^^^


Teman bagiku adalah pelengkap. Tanpa pelengkap kita masih menjalani hidup normal.


^^^Lalu bagaimana dengan pasangan?^^^


Pasangan itu seperti pakaian. Saling melindungi, melengkapi dan menutupi.


^^^Jadi apa masih bisa normal jika hidup tanpa pasangan?^^^


Bisa. Tapi sayang banget, kamu diciptakan berpasangan-pasangan, kenapa memilih sendiri? Teman akan datang dan pergi seiring waktu. Tapi pasangan akan menetap.


 


“Aku mau jadi pasangan kamu.” Langkahnya terhenti. Gama ikut berhenti. Memutar tumit menghadapnya.


“Apa yang kamu katakan?”


“Aku mau jadi pasangan kamu,” ulangnya. Napasnya setengah memburu. “Pasangan yang saling melindungi, melengkapi dan menutupi.” Ia menatap Gama dengan senyum.


“Sas."


Ia mengangguk.


Refleks Gama menariknya ke dalam pelukannya. Titik-titik air berubah menjadi hujan lebat. Namun bagi keduanya ini merupakan tanda kebaikan. Seolah restu langit langsung tercurah. Semesta ikut bersukacita.


Gama menatapnya. Menghapus tetesan hujan yang mengenai wajahnya. Tersenyum dengan binar mata bahagia.


Laki-laki itu menghunjam bibirnya. Menyalurkan kebahagiaan. Menyatakan perasaannya. Bukan seperti pada saat ciuman pertama mereka di apartemen. Tapi ciuman ini seperti pernah mereka lakukan sebelumnya.


Ia berusaha mengingatnya. Di mana? Kapan? Ciuman ini seperti ciuman yang belum lama.


Gama menarik pinggangnya. Merekatkan tubuh mereka. Sementara ia mengusap punggung laki-laki itu.


Saling membalas. Saling memagut. Mengungkapkan bahwa inilah perasaan yang sedang menyelimuti keduanya. Lantas baru tersadar manakala suara klakson kapal begitu bergema.


Ia dan laki-laki itu saling tatap. Tak lama saling melempar senyum.


“Kita pulang,” ajak Gama. Kembali menarik tangannya. Berjalan di bawah guyuran hujan.


...***...


Tiba di Amsterdam bukannya Gama mengantarkan ke hotel. Justru laki-laki itu membawanya ke houseboat.


“Semua barang-barang kamu sudah dipindahkan. Aku menyuruh salah satu pekerja di sana.”


Begitu tiba di houseboat ia membersihkan diri. Membuat minuman hangat untuk mengurangi hawa dingin yang masih menyengat.


Segelas chocomel hangat untuknya. Sementara ia membuatkan kopi latte untuk Gama.


Suasana kanal tampak sepi. Meski rinai hujan telah berhenti. Ia menelepon mama. Mengabarkan keadaannya. Hingga Gama muncul dari kamar satunya. Menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Ia mengakhiri sambungan telepon. Lalu berucap, “Dapat salam dari Mama.”


Gama duduk di sebelahnya. “Sebelum ke sini aku bilang sama Mama kalau aku mau nyusul kamu.”


“Pantas, Mama tahu kamu di sini.”


“Malam ini mau ke mana?” tanya Gama. Meneguk minumannya.


Seharian berkeliling di 2 kota sekaligus, ia merasakan tubuhnya lelah. Tapi kapan lagi ia bisa mengelilingi Amsterdam. Belum tentu dalam waktu dekat ini. Atau malah inilah untuk yang pertama dan terakhir kali.


Laki-laki itu mengajaknya ke pusat kota. Melihat atraksi para seniman di Dam Square. Masuk ke pusat perbelanjaan. Membeli oleh-oleh. Lalu berjalan kaki menyusuri Red Light District.


“Kata Dirk, sebagian besar pria pasti penasaran untuk masuk ke sana,” tunjuknya pada bangunan-bangunan yang berjejer rapi. Dengan pendar lampu merah.


“Kamu juga penasaran?”


“Aku bilang pria,” sanggahnya. Tak mau kentara menutupi rasa ingin tahunya.


Gama melipat bibir menahan senyum. Lalu berkata, “Penasaran itu wajar. Apalagi di sini legal. Penyedia layanan dan pengunjung sama-sama mendapat perlindungan.”


“Termasuk kamu pernah masuk di sana?” desaknya.


Ekspresi Gama mengernyit. Lantas menoleh padanya. “Mau tahu apa yang aku lihat?”


“Memangnya ada apa?” Banyak sekali bangunan yang menyajikan pertunjukkan secara langsung selain wanita seksi yang hanya berpakaian minim nan tipis, potongan kain atas dan bawah saja. Menggelinjang mencoba merayu para pengunjung. Dari balik kaca maupun pintu-pintu yang terbuka. Bangunan-bangunan tersebut terpendari oleh neon sign mayoritas berwarna merah bertuliskan stripclub, se*xshow, se*xtoys hingga se*xmuseum.


Ia paham jika area Red Light District ini adalah kawasan prostitusi legal yang sangat terkenal di dunia. Yang katanya sudah ada sebelum abad ke-20. Tapi juga penasaran. Sebenarnya ada apa saja di balik dinding yang sengaja dihias lampu merah tersebut.


“Beneran hanya se*xmuseum?” pancingnya.


“Ya, live se*xshow juga pernah.” Laki-laki itu terkekeh.


Nah, benar apa yang dibilang Dirk.


Gama merangkulnya, berbisik, “Tapi hanya sebatas lihat. Kalau mau praktik, boleh setelah ini.”


Ia menghentikan langkahnya. Menelengkan kepala pada Gama. Giginya mengetat. Memelotot siap menghardik.


Gama berlari terlebih dahulu. Menghindari kemarahannya. Dengan gelak tawa membahana.


...***...


Hari terakhir pameran Amsterdam International Antiquarian Book Fair di selenggarakan. Ia, Gama serta Dirk hadir di sana.


Tidak banyak stan buku yang mengikuti pameran tersebut. Hanya 36 negara yang ikut berperan serta. Dan keseluruhannya adalah dari benua Eropa.


Buku-buku antik dan kuno dipajang di tiap stan. Bahkan beberapa sengaja dilelang.


Puas mengelilingi semua stan mereka memutuskan untuk duduk di salah satu kafe yang tak jauh dari pameran.


Dirk dan Gama sedari tadi berbicara dalam bahasa Belanda dan Inggris. Ia hanya menyahuti sesekali. Terkadang senda gurau menyelangi. Hingga tampak dari kejauhan Elena berjalan ke arah mereka.


Mengenakan sepatu high heels menunjang tubuh Elena kian tinggi semampai.


“Hai,” sapa Elena. “Apa kabarmu A?” tanya Elena dalam bahasa Belanda. “Tidak sangka bisa ketemu lagi,” imbuhnya. Elena mencium pipi Gama 3 kali. Lalu mendekatinya.


Sementara Gama tampak tersenyum tipis, “Very well, thanks,” membalas dengan bahasa Inggris. Bermaksud agar Sasmaya tidak salah paham.


“Hai, Sas,” sapa Elena beralih padanya. Mencium pipinya juga 3 kali. Duduk di sebelahnya. Tepat pada kursi yang tersisa di meja mereka.


Ia membalas dengan tersenyum.


“Aku pikir kamu hari ini pulang ke Indonesia,” tukas Elena.


“Rencana esok hari,” jawabnya.


“D, tumben datang ke pameran seperti ini?” cibir Elena.


Dirk mengangkat bahu sekaligus menipiskan bibir, “Menemani A dan Sasmaya,” kilahnya.


Suasana yang awalnya hangat dengan gurau tawa berubah kaku.


“Kom op ... D, kamu sepupu aku. Kamu lebih memilih A ketimbang saudara sendiri,” dengus Elena. Raut wajahnya tampak kesal.


Dirk mengembuskan napas kasar, “A sudah seperti saudara bagiku, El. Jadi wajar aku menemaninya sekarang. Besok mereka pulang ke Indonesia, belum tahu kapan lagi bisa bertemu.”


Elena tampak sedih. “Sas, apa sesama saudara di Indonesia juga begitu? Aku merasa dekat dengan kamu. Merasa senang berteman denganmu. Mungkin karena aku nyaman. Bisa juga karena aku nyaman sebelumnya berhubungan dengan pria Indonesia.” Elena melirik Gama yang duduk di sebelahnya.


Hening. Ia hanya menarik sudut bibirnya sedikit. Walau ia sedikit terkejut bahwa Dirk dan Elena ternyata masih bersaudara. Kenapa sahabat Gama itu tidak bercerita.


“A bisa kita bicara 4 mata?” pinta Elena.


Gama menoleh padanya. Bertepatan ia juga melihat laki-laki itu. Sekian detik mata mereka bersitatap. Lantas ia melihat Elena.


“Sorry, I can’t. We have a plan after this.”


“We ...?” tandas Elena. Menatap Sasmaya. Lalu beralih pada Gama kembali.


“Ya. Sasmaya dan aku,” tegas Gama. Menatapnya, “Sasmaya is my future wife ....”


Bagi Elena ini bukan berita mengejutkan. Wanita berkebangsaan Belanda itu tertawa mencibir, “Is that so? Well ... sejak kapan kamu memutuskan untuk menikah?”


“Maaf Elena, aku tidak memberitahukan ini sebelumnya. Aku pikir memang bukan hal yang penting buatmu,” ujarnya menengahi pembicaraan Elena dan Gama.


Wanita itu menghela. “Okay,” Elena berdiri. “Sorry jika kehadiranku mengganggu kalian. Lupakan obrolan kita kemarin, Sas. Thank you, telah menjadi teman mengobrol beberapa hari ini. Senang berjumpa denganmu.” Kemudian menatap Gama, “Jika menikah telah menjadi keputusanmu, aku berharap itu bukan pengalihan.” Menarik bibirnya, berucap, “selamat.” Lantas menepuk pundak Dirk. Berlalu pergi.


Ia merasakan apa yang tengah dialami Elena. Wanita itu sebenarnya masih mengharap hubungannya dengan Gama kembali. Pun, mungkin kecewa dengannya. Namun, Gama menggenggam erat tangannya. Tak membiarkan dirinya menoleh ke belakang lagi.


Dirk mengantarkan Sasmaya dan Gama ke Central Station. Seusai dari pameran buku. Gama mengajaknya untuk melancong ke Paris-Perancis. “Hanya berdua. Aku jadi tour guide kamu,” ucap Gama. Meskipun awalnya ia ingin mengajak Dirk juga. Namun Gama selalu menekankan bahwa ia ingin pergi berdua.


Kenapa hanya berdua?