
...54. I Know You’re Not...
Hari pertama kerja setelah kedatangannya dari Belanda membuat suasana lantai GPP sedikit riuh. Rekan-rekan kerjanya saling berebutan memilih gantungan kunci serta aneka cokelat khas negeri kincir angin tersebut.
Padahal semua pasti kebagian. Hanya saja euforia seperti itu tidak afdal rasanya.
Suara deheman Pak Weka sejenak membuat suasana seperti ter-pause. Lalu kembali riuh ketika atasannya itu bilang, “Punya saya jangan lupa, Sas.”
“Huuuu ....” Gemuruh tawa meledak seketika. Pak Weka mengangkat tangan. “Saatnya kembali bekerja,” ujarnya.
“Gue tinggal,” pamitnya pada rekan-rekan kerjanya. Menyusul Pak Weka ke ruangannya. Tidak lupa membawa pesanan atasannya tersebut.
Sebuah tas dengan brand terkenal. Ia pikir tas untuk diberikan istrinya. Nyatanya tas untuk dipakai Pak Weka sendiri. Eit, atasannya itu tidak hanya jastip tas. Melainkan jam tangan yang juga keluaran brand terkenal. Kalau ini memang sengaja untuk dihadiahkan pada istrinya, kata Pak Weka, “Untuk kado anniversary, Sas.”
Menyerahkan pesanan Pak Weka. Lalu kembali ke ruangannya. Bertepatan dengan getar pada ponselnya.
Sebuah pemberitahuan uang masuk ke dalam rekeningnya. Karena tak mengenali siapa pengirimnya, ia mencoba mengingat-ingat siapa saja yang pesan barang kepadanya. Hanya Pak Weka, Sinta dan Mbak Widiya. Bahkan ketiga orang tersebut sudah mentransfer uang saat ia masih berada di Amsterdam.
Keningnya melipat. Uang yang baru saja masuk bernominal besar. Rasanya apa ada orang yang salah kirim. Atau kesalahan pihak bank. Ia memutuskan mengabaikan. Seandainya kesalahan pada pihak bank pasti sebentar lagi akan mengonfirmasi.
Gama masih berada di Bandung. Mungkin sampai 2 hari ke depan.
Sementara penulisannya telah pada bagian akhir. Dalam minggu ini bisa ia serahkan pada editor. Target selesai.
Getar ponselnya kembali berbunyi. Kali ini nama papa tertera di sana.
“Halo, Sas. Bagaimana kabar kamu?”
“Sas, kabarnya baik, Pa. Papa apa kabar?”
“Papa sehat. O, ya ... baru saja Papa kirimkan uang buat kebutuhan pernikahan kamu. Papa tahu kamu pasti membutuhkannya.”
Ternyata sang papalah yang mengiriminya uang.
“Tapi, Sas masih bisa—”
“Sas,” potong papa. “Kapan lagi Papa bisa memberikan apa yang kamu butuhkan dan Papa punya? Semenjak kamu kerja, kamu selalu menolak pemberian Papa. Bahkan saat kamu ulang tahun. Kali ini saja. Sebelum kamu menikah.” Terdengar permintaan papa yang memohon.
“Baiklah ... Sas terima uang dari Papa.”
Pandangannya masih menatap layar ponselnya yang telah gelap. Angka 35 juta yang baru saja ditransfer papa adalah nominal terbesar yang diterimanya selama ini. Helaan napasnya kentara. Sebenarnya ia masih berat untuk menerima uang tersebut.
Baru beberapa menit menyeleksi dummy buku, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk.
Mbak Widiya : Sas, pulang kantor mampir ke butik ya, fitting baju.
^^^Sasmaya : Ok, Mbak. Sekalian mau mampir antar pesanan Mbak Widiya.^^^
Mbak Widiya : Ok. Thanks, Sas. 😊
Ia mengganti mode ponselnya menjadi hening. Ingin menyelesaikan pekerjaannya tanpa gangguan dari perangkat pintar tersebut.
Empat jam ke depan ia masih duduk di kursi kerjanya. Melakukan proses proofing dummy buku yang menumpuk di mejanya.
Pemeriksaan tahap akhir. Walau sebenarnya semua proses penyuntingan telah dilakukan. Namun ini bagian yang tak boleh ditinggalkan dan sudah menjadi tugasnya.
“Sin, ke ruangan gue,” ucapnya melalui sambungan interkom.
Sinta duduk setelah masuk ke dalam ruangannya.
“Menurut gue tipografinya gak usah sebanyak ini. Ini buku anak, kita tonjolkan visual yang lebih menarik,” paparnya menjelaskan sampul buku cerita anak-anak yang ditanggungjawabi Sinta. “Mencakup judul, nama penulis dan tagline. Sudah cukup,” imbuhnya.
“Oke. Nanti gue revisi lagi dan koordinasi dengan layouter-nya,” jawab Sinta.
Ia menyerahkan buku dummy tersebut pada Sinta.
“Sin, lo ada acara gak habis ngantor?” tanyanya.
Sinta menggeleng, “Gak sih, cuma gue harus cepat balik. Ayahnya Lea lagi gak enak badan. Hari ini off dia.” Sinta menatapnya, “kenapa?”
“Gak sih, tadinya gue minta ditemani ke butik, fitting baju.”
“Yah ... so sorry. Kenapa gak sama Pak Gama?” ucap Sinta.
“Dia lagi di Bandung.”
“Yah, jadi gak enak gue. Lo sendirian dong?” tukas Sinta merasa tidak tega.
“Udah gak apa-apa.”
Sinta bangkit, “Beneran?”
Ia mengangguk, berucap, “Yakin.”
...***...
Tiba di butik yang ditunjuk Widiya ia turun dari taksi. Pintu utama terbuka dari dalam, seseorang menyambutnya ramah.
“Terima kasih,” balasnya. Baru kali ini ia mendatangi sebuah butik yang memang khusus merancang pakaian pernikahan dan acara seremonial tertentu. Ia di suruh menunggu sebentar di ruangan yang memajang berbagai pakaian hasil karya butik.
“Mbak Sasmaya? Sendiri?”
Ia mengangguk kala seorang wanita yang mungkin perkiraan umurnya kurang lebih sama dengan mama memanggilnya. Ia mengulurkan tangan, “Sasmaya,” sebutnya.
Langsung disambut oleh orang tersebut, “Anne. Saya pemilik butik ini. Yang kemarin datang ke rumah Pak Sofyan itu anak saya,” terangnya.
Sasmaya tersenyum. Mengikuti Anne yang mengajaknya ke sebuah ruangan lain. Di sana terlihat manekin yang terbungkus kebaya kutu baru berwarna putih. Dengan rok hitam beraksen emas. Bersanding dengan manekin berbalut pakaian jawi jangkep. Berwarna hitam beraksen emas juga.
“Kemarin waktu pertemuan dengan anak saya mintanya adat Jawa tradisional. Jadi saya perpadukan dengan warna yang beraksen ningrat dan elegannya keluar,” tutur Anne. “Kita coba dulu, ya.”
Ia mengangguk. Masuk ke dalam fitting room. Ada 2 orang yang membantunya memakaikan kebaya tersebut.
Anne menghampirinya. “Kurusan, ya?” melipat kebaya bagian pinggang yang tampak kebesaran sedikit. “Udah pas segini, jangan dikurusin lagi,” ujar Anne.
Asisten Anne sigap membantunya untuk mengukur ulang. “Kita kecilkan lagi,” ucapnya pada asistennya. Yang dijawab dengan anggukan.
“Saya sama Mbak Heti itu dulu teman satu sekolah. Tapi beliau senior saya.” Anne mundur 1 langkah. Menelengkan kepala ke kanan dan kiri. Melihat pakaian kebaya yang melekat di tubuhnya. Lalu tersenyum. “Cantik. Selera kamu mirip Mbak Heti,” imbuh Anne.
“Sudah lama kenal sama Mas Gama?” tanya Anne.
“Iya, gak usah lama-lama pacaran. Begitu cocok ya udah bawa ke pernikahan. Mbak Heti sempat cerita sama saya. Katanya semenjak anak pertamanya gagal menikah, setelah itu gak pernah lagi berhubungan sama wanita. Cukup lama. Khawatir trauma. Khawatir tidak akan menikah. Dan banyak kekhawatiran Mbak Heti yang disembunyikan. Beruntungnya Mas Affan nikah dan ngasih cucu. Jadi ya ... kekhawatiran-kekhawatiran itu sedikit tertutupi.” Anne menjeda. “Bantuin Mbak Sasmaya ganti bajunya,” menyuruh asistennya yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
Ia kembali menghampiri pemilik butik yang duduk menunggunya.
“Minum dulu, Sas. Kamu gak ada acara, kan habis ini?”
“Gak Tante. Hanya mengantar pesanan saja habis ini.” Ia mengambil gelas tinggi berwarna kuning. Ada potongan lemon yang menancap di bibir gelas. Menyeruputnya melalui sedotan.
“Pasti Mbak Heti bahagia. Melihat Mas Gama mau menikah lagi.”
“Uhuk!” tiba-tiba minuman manis-asam itu seperti masuk ke trakea. Sehingga membuatnya tersedak.
“Pelan-pelan, Sas.” Anne menukas.
Ia mengangguk. Melanjutkan lagi minumnya.
“Mbak Heti sepertinya kecewa Mas Gama menikahi wanita Belanda itu. Bisa terlihat saat saya tanya soal menantunya yang di Belanda. Jauh sikapnya ketika saya tanya soal Mbak Widiya. Bahkan ... pernikahan mereka terkesan ditutupi. Saya juga kurang tahu alasannya apa. Mas Gama lebih memilih wanita itu ketimbang kebahagiaan Mbak Heti dan keluarga. Sampai-sampai beliau jadi bahan omongan teman-teman arisan. Padahal beliau itu orangnya ramah dan baik.
“Saya juga heran, selama keluarga Pak Sofyan mengadakan acara-acara penting, seperti waktu khitanan cucunya, ulang tahun perusahaan, istri Mas Gama yang warga negara Belanda itu tak pernah hadir. Karena saya tahunya Mbak Heti dan keluarga pesan bajunya di sini. Bahkan saat Mbak Heti meninggal pun, istri Mas Gama itu tidak terlihat.
“Maaf, Sas. Jadi curhat begini,” Anne tersenyum simpul.
Jadi wajar kesimpangsiuran atas status pernikahan Gama yang menikah dengan wanita Belanda terjadi. Hal itu memercik tanya sebab tak pernah dikenalkan di publik dan hadir dalam momen-momen tertentu. Sebab mereka tidak tahu bahwasanya antara Gama dan Elena tidak pernah terjadi pernikahan.
Taksi yang membawanya tersendat melaju di jalanan utama. Sipongang klakson seakan penanda sang pemilik kendaraan tidak sabar untuk segera berjalan.
“Jauh sebelum Mas Gama pergi ke Belanda mengurus hotel Pak Sofyan di sana. Sebenarnya Mbak Heti juga memesan kebaya pernikahan Mas Gama dan calon istrinya di sini. Tapi ternyata mereka tidak ditakdirkan berjodoh.”
Anne menghela dan tersenyum kepadanya sebelum pamit. “Semoga acaranya lancar ya, Sas. Pernikahan kalian diberkahi.”
Tiba di rumah Widiya pukul 9 malam. Karena kadung janji, ia mengirimkan pesan pada istri Affan tersebut. Tak berapa lama pintu utama terbuka. Widiya keluar menyambutnya.
“Sorry, barusan lagi di rumah papa. Yuk!” ajak Widiya masuk.
“Mbak, aku sebentar ya. Udah malam nih, gak enak nanti ganggu,” kilahnya. Ketika Widiya mengajaknya masuk lebih dalam. Melewati ruang tamu, ruang keluarga dan teras samping.
“Eh, tunggu Sas.” Widiya berhenti. “Papa nungguin kamu lho. Lagian kita belum dengar cerita kamu selama di Amsterdam. Yuk!” menarik tangannya untuk mengikuti calon iparnya itu.
Benar saja di ruang keluarga yang sangat luas. Di kediaman Sofyan terlihat calon mertuanya itu dan Affan yang sedang duduk berbincang.
Ia menyapa keduanya. Mencium punggung tangan Sofyan. Lalu meletakkan 2 buah paper bag di atas meja.
Widiya berucap, “Titipan aku, nih.” Mengambil 1 kantung bertuliskan sebuah brand tas terkenal.
Sasmaya mengangguk.
“Gimana Sas di Amsterdam. Selama di sana lancar?” tanya Sofyan.
Ia menceritakan dari awal kedatangannya hingga pertemuannya dengan Elena—anak Hubert, teman Sofyan—pemilik HPG.
Kerja sama berjalan tanpa kendala yang berarti. Bahkan ada tindak lanjut dari kerja sama tersebut.
Sofyan manggut-manggut seraya tersenyum. Affan menanyakan berapa tempat yang telah dikunjunginya selama di sana.
Obrolan mereka terus mengalir. Sampai tak menyadari waktu terus merangkak malam. Ia melihat arloji di lengannya.
“Tidur sini saja, Sas,” tukas Sofyan. Pukul 22.30 WIB. Tidak mungkin membiarkan calon menantunya pulang sendirian. Sementara karyawan sopirnya telah kembali ke rumahnya.
“Wid, antar ke kamarnya Gama,” imbuh Sofyan. “Kamarnya kosong. Dia belum kembali dari Bandung.”
“Ya, Pa. Nanti pakai baju tidur aku aja, Sas.” Widiya menambahi.
“Yuk, Sayang!” Affan bangkit. “Pa, kami pulang,” pamitnya meski jarak rumah mereka hanya beberapa langkah saja dari posisinya kini.
Ia ikut berdiri, kala Widiya mulai berjalan di depannya. Mau menolak permintaan Sofyan rasanya tidak enak. Takut mengecewakan. Pun, ini sudah malam. Ia lantas mengirimkan pesan pada mama. Bahwa dirinya menginap di rumah Sofyan.
Widiya membuka pintu kamar. Cahaya remang-remang membuat suasana kamar laki-laki itu tidak begitu jelas. Baru setelah Widiya menyalakan lampu utama. Kesan kontemporer kental membungkusnya.
“Aku tinggal,” ucap Widiya. “Nanti ada yang antar baju tidur ke sini,” lanjutnya. “Bye, Sas. Selamat tidur ....” Widiya menutup pintu.
Ia menatap tempat tidur yang berukuran king size. Terbungkus seprei dan selimut berwarna gelap. Lalu di sisi kanan-kiri terdapat lampu bed side menempel dinding. Di bawahnya ada meja bulat berwarna keemasan. Sementara latar belakang headboard terbuat dari ornamen panel kayu yang membentuk kisi-kisi vertikal sampai plafon.
Dinding sisi lain terlihat wall art Menara Eiffel. Selebihnya lemari terbuka dan tertutup yang menempel dinding lain. Kamar mandi jelas terlihat dari sini karena hanya berpintu kaca tembus pandang.
Suara ketukan pintu terdengar. Ia membukanya. Seorang asisten rumah tangga yang membawakan baju tidur untuknya. Tak banyak membuang waktu, Sasmaya lekas mengganti bajunya. Mencuci muka dan menyeka pelan wajahnya dengan handuk.
Mematikan lampu utama. Mempertahankan hanya lampu tidur yang berpendar remang. Rasanya nyaman. Matanya lekas terpejam.
Tak menyadari pukul 3 pagi seseorang ikut merebahkan tubuhnya di sisi yang lain.