
Setelah melihat kedatangan Ray dan Gilbert. Pak Yusuf menyapa dan ingin mengajak bergabung. Kata pak yusuf kepada Aera dan Selina "makin banyak orang makin rame. Jadi bapak bisa membuat agar pak Ray tidak berharap padamu lagi aera."
Lalu mereka berdua menuju meja yang di duduki oleh Aera dan Selina serta pak Yusuf. Ray dengan segera duduk di sebelah aera dan Gilbert duduk di sebelah Selina.
Pak yusuf bertanya pada Aera, "Ra, suamimu mana, kok belum datang. Ini sudah hampir selesai waktu makan siang."
Lalu Aera berkata " pak Yusuf ini suami Aera." Sambil tangannya menunjuk ke arah Ray yang sedang meminum air putih.
Terkejutlah pak Yusuf. Ternyata suami Aera adalah pimpinannya sendiri.
Pak Yusuf yang semula mempunyai banyak bahan untuk di bicarakan kepada suami Aera, langsung kehilangan kata-kata.
Aera yang melihat pak Yusuf salah tingkah langsung menyikut Ray yang sedang menikmati makan siangnya. Ray yang merasa di tatap oleh Aera segera berkata pada pak Yusuf "saya dengar pak Yusuf ingin memberi saya wejangan menjadi suami yang baik."
Gilbert dan Selina yang melihat pak Yusuf kehilangan kata-kata hanya bisa tersenyum melihatnya.
Pak Yusuf sambil mengambil sapu tangan dan menyeka keringatnya berkata "nikmati saja dulu makan siangnya pak. Tidak ada yang perlu saya bicarakan pak. Saya cuma mau mengenal secara dalam suami dari Aera. Karena Aera sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri.. bukan begitu kan, Ra?"
Aera yang tersenyum melihat pak Yusuf yang keringat dingin berkata ” iya, kak Ray. Pak Yusuf walaupun galak tapi dia baik seperti orang tua Aera sendiri. Sama kayak kak Ray. Galak tapi sayang sama Aera."
Aera dengan wajah manisnya melihat ke arah Ray, Gilbert dan Selina yang mempunyai masalah sendiri cuma bisa sambil tersenyum mendengar jawaban aera.
Setelah mereka berlima menghabiskan makan siangnya pak Yusuf mulai bertanya tentang rasa penasarannya.
"Oya, mulai kapan anda mengenal Aera pak? Setahu saya, anda kan baru pulang dari luar negeri. Dan tentang rumor yang beredar kalau anda membelikan perhiasan kepada Amirah, apakah itu benar?"
Ray yang mendengar pertanyaan dari pak Yusuf, menatap wajah istrinya dan berkata "saya dan Aera baru mengenal saat kencan buta pak. Itu ketika saya baru pulang dari luar negeri. Ya, walau saya bukan pasangannya, tapi akhirnya dia mau menikah dengan saya."
Aera yang dipandang mesra oleh ray, lalu tersenyum malu-malu. Tanpa sengaja dia melihat ke arah Gilbert dan Selina. Pandangan mata mereka menunjukkan ada sesuatu.
Gilbert dan Selina saling berpandangan satu sama lain. Membuat Aera ingin segera menginterogasi Selina setelah pulang dari makan siang ini.
"Untuk masalah Amirah, kemarin saya hanya minta tolong saran untuk membelikan istriku ini cincin. Saya tidak tau siapa yang menyebarkan berita tidak benar tersebut, karena sekarang pak Yusuf sudah mengetahui bahwa saya suami Aera, jadi saya tidak perlu alasan untuk datang menemui istri saya." Kata Ray penuh penegasan.
Pak Yusuf yang mendengar hal tersebut berkata "ya pak, kapanpun bapak mau menemui Aera silahkan saja.saya pastikan tidak akan muncul rumor aneh-aneh lagi."
Pak Yusuf yang mendengar kata-kata Ray dengan segera berjanji akan menjaga Aera, "baik pak saya akan menjaga Aera. Tenang saja ada yang mengganggunya akan berhadapan dengan saya duluan."
Aera yang mendengar penuturan Ray lalu menatap dan memegang erat tangan suaminya. Ray tanpa malu mencium kening istrinya tersebut. Membuat Gilbert yang sedang minum air putih memuncratkan air ke arah Ray. Dia tidak menyangka Ray akan semanis ini kepada wanita.
Ray yang basah karena Gilbert, segera menatapnya dengan tatapan dingin. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyemburku?"
Aera yang melihat Ray disembur oleh Gilbert lalu teringat dengan lagu Mbah dukun, dia segera mengambil tisu dan melap wajah suaminya sambil tertawa melihat kekonyolan asisten suaminya itu.
"Kenapa kau tertawa sayang? Apakah melihat suamimu di simbur air itu sangat lucu buatmu." Kata Ray dengan nada manis kepada Aera, tapi matanya masih ingin menguliti Gilbert. Gilbert yang ditatap dengan segera sembunyi di belakang Selina.
Waktu makan siang telah usai, Ray dengan segera menggandeng tangan Aera masuk ke mobilnya. Ketika Gilbert akan masuk ke dalam mobil Ray, segera Ray mencegatnya. "Kamu balik kekantor ikut dengan mobil pak Yusuf,itu hukuman dariku karena telah menyimburku.”
Ray berkata ke pak Yusuf, "pak, saya bawa istri saya kembali ke kantor. Tolong bawa pria ini di mobil anda." Sambil berkata kepada pak Yusuf, Ray menunjuk ke arah Gilbert.
Aera hanya tersenyum ke arah Selina, sambil matanya mengatakan ingin berbicara sesuatu yang penting. Selama di perjalanan Ray sangat manis kepada istrinya. Dia selalu mencium tangan istrinya.
Di mobil pak Yusuf, Gilbert yang membawa mobil pak Yusuf, dia hanya diam sambil matanya melirik ke arah spion tempat di mana Selina duduk, dia ingin mengutarakan perasaannya kepada gadis tersebut. Pak Yusuf asyik bertanya ke arah Gilbert," pak Gilbert saya selama ini penasaran,anda selalu di samping tuan Ray, apakah anda sudah memiliki kekasih? Dan saya juga dengar rumor kalau anda adalah Gay?"
Selina yang duduk di belakang, mendengar pertanyaan dari pak Yusuf dia juga penasaran ingin mendengar jawaban dari Gilbert. Sambil memandang jalan dari kaca mobil, Selina memasang telinganya.
Gilbert sebelum menjawab pertanyaan pak Yusuf , tetap melihat kaca spion ingin melihat ekspresi dari Selina." Kekasih, saya sudah memiliki seseorang yang ingin saya jadikan kekasih. Tapi entahlah apa dia mau menjadi kekasih saya." Sambil matanya melihat ekspresi Selina yang sedang tersenyum malu-malu. Lalu katanya lagi "dan untuk gay, saya adalah pria normal yang masih menyukai lawan jenis, hanya karena saya selalu bersama Ray, bukan berarti saya gay. Siapa yang berani-beraninya menyebarkan rumor tersebut."
Gilbert melajukan mobilnya dengan penuh emosi. Pak Yusuf yang melihat cara Gilbert membawa mobil lalu berkata "sabar pak. Dan pelan-pelan bawa mobilnya."
Gilbert masih saja melajukan mobilnya, lalu terdengar suara lembut dari belakang "pak Gilbert bawa mobilnya pelan-pelan ya, Selina agak pusing."
Mendengar suara Selina, Gilbert lalu menormalkan laju mobilnya. Gilbert menatap Selina dari spion, tanpa sengaja mata mereka saling beradu pandang satu sama lain.
happy reading all..❤️❤️
maaf baru lanjut..❤️❤️❤️