
"Eughhh....", Adelia merentangkan kedua lengannya ke atas. Meregangkan otot tubuhnya yang terasa pegal. Mata cantik itu melebar. Mengedarkan pandangannya ke seisi kamar.
"Kemana dia ?", gumamnya. Lalu dengan cepat bangun dari baringnya.
"Oppsss....", dengan cepat menarik kembali selimut yang jatuh dan mengekspos tubuh bagian atasnya. Tubuh polosnya.
"Mau mandi ", lirihnya. Lalu turun dari ranjang
dengan mengenakan selimutnya. Kaki mungil itu melangkah menuju ke kamar mandi. Terhenti begitu mendengar gawainya
berdering. Dari dalam tasnya.
Nomor tanpa nama. Siapa ? batin Adelia. Tapi tetap saja mengangkatnya.
"Hallo ....!", sapanya.
Mata cantik itu membulat begitu mendengar suara dari seberang sana.
*******
"Hup....hup.....", dengan lincah Adelia menggerakkan tangan dan kakinya. Melakukan latihan, memukul dan menendang. Untuk meningkatkan kemampuan bela dirinya.
Gadis cantik iti merasakan tubuhnya pegal semua. Hmmm....tentu saja karena ulah liar suaminya. Mungkin dengan melakukan latihan akan membuat rasa penat itu akan menghilang.
Dan benar, setelah melakukan sit up dan push up, tubuhnya terasa lebih segar. Lalu di lanjutkan dengan gerakan bela diri.
Mumpung suaminya tidak ada, gadis cantik itu memilih melakukan latihan fisik. Karena kalau ada lelaki itu, pasti tidak akan membiarkannya istirahat, dia pastii akan menghajarnya terus tanpa ampun.
Seusai menerima telepon dari nomer tak di kenal, Ehhh... ternyata adalah telepon dari mantan pacarnya.
Lelaki itu menceritakan sesuatu tentang suaminya. Dan menurut Adelia tidak masuk akal. Lebih baik dia mengabaikannya. Dengan ketus Adelia menutup telepon lelaki itu dan pergi mandi.
"Hya......hya....", perempuan muda itu bersemangat sekali latihan. Meskipun kembali berkeringat setelah mandi, tapi tubuhnya terasa bugar dengan melakukan latihan. Tangan kakinya mungil itu terus bergerak. Sesekali melompat tinggi dan melakukan roll di udara.
Keringat tampak sudah membasahi tubuhnya. Terdengar kembali dering gawainya di atas meja. Masih asyik dengan latihannya, gadis itu mengabaikan telepon itu.
Dering gawai itu terus berbunyi nyaring.
"Kenan ...!", gumamnya. Biar bahagia langsung tampak di wajah cantiknya. Mengira kalau yang menelepon adalah suaminya.
Adelia menyudahi latihan. Sebentar melakukan pendinginan. Lalu melangkah cepat ke arah meja. Perasaan berbunga membayangkan kalau penelepon adalah suaminya.
Raut kecewa menghiasi wajah cantik yang berkeringat itu begitu melihat layar gawainya. Nomor tanpa nama. Adelia lihat sekilas seperti nomor yang tadi menghubunginya.
"Mau apalagi sih ?", dengkusnya lirih. Tapi tetap saja menerima panggilan itu.
"Apa ?", ketusnya.
Terdengar suara tergelak dari seberang sana. Lalu terdengar suara ledekan.
"Buruan ngomong, kalo enggak aku tutup ", galak Adelia lagi.
Hendak menutup teleponnya, tapi terdengar suara agak gelagapan dari seberang sana menahannya.
Adelia mendengkus jelas. Kemudian dengan bibir merengut mendengarkan ucapan dari seberang sana.
"I don't believe you !", tegas Adelia.
Terdengar suara gelak di seberang sana.
Adelia terpaksa mendengarkan suara dari seberang sana dengan menggerutu. Sebentar gadis cantik itu mengeryit dalam. Tangannya bergerak mengusap keringat yang membasahi keningnya.
"Okey, awas kalo bohong !", ancamnya.
Bibir mungil itu mencebik demi mendengar balasan dari seberang sana. Lalu menutup sambungan telepon sepihak. Suara teriakan dari seberang sana tidak Adelia hiraukan.
"Ken, where are you ? Apa yang aku dengar bener ?", gumam Adelia.
Mengotak-atik gawainya. Menghubungi nomer suaminya. Berdering tapi tidak diangkat.
"Kennn.....what are you doing ? Angkat telepon aku !", gerutu Adelia.
Beberapa lama menunggu. Teleponnya tetasp tidak terubung. Gawai lelaki itu aktif, tapi tidak mengangkat teleponnya. Terbersit di hati Adelia kekhawatiran. Tentang yang dikatakan lelaki mantan pacarnya. Apa mungkin benar ? Gadis cantik itu menggeleng perlahan.
"Kennn....awas ya kamu, aku pukul nanti !", Adelia menghentakkan kakinya kesal.
"I'll prove it by myself ", katanya kemudian.
*********
Dengan langkah gontai Adelia memasuki resto. Di sinilah katanya lelaki itu menunggunya. Lelaki mantan pacarnya. Siapa lagi kalau bukan Arion.
Bagaimana pula lelaki itu tahu dia dan suaminya berbulan madu di maldives? Itu juga yang jadi pertanyaan besar di benak Adelia.
Resto itu tak jauh dari hotel yang Adelua tempati sekarang. Itu juga alasannya mengapa Adelia terpaksa mau memenuhi undangan lelaki itu. Selain berita penting yang dia bawa. Katanya.
Adelia sedikit merasa aneh, resto terbuka menghadap ke arah pantai itu terlihat cukup sepi. Begitu Adelia mulai memasuki area resto, tiga lelaki bertubuh besar menghampirinya. Menghadang jalannya.
"Butuh teman, Nona ?", sapa seorang lelaki di antara mereka.
"C'mon, don't be shame baby. Kita siap jadi penghangat buat kamu ", seseorang dari mereka dengan kurang ajar menjawil dagu cantik Adelia. Gadis itu segera menepisnya.
Plakkk.....
"Jangan kurang ajar, get out of my way !", galak Adelia.
Ketiga lelaki itu tergelak.
"Whoa.....whoa....wild girl, I like that !", seru salah seorang lelaki itu.
Ketiganya menatap Adelia dengan pandangan lapar. Bersama mereka berusaha memojokkan Adelia. Gadis itu masih berusaha menghindar, dengan memundurkan tubuhnya.
"Let's get the party, girl !", kata lelaki itu lagi.
Adelia terkekeh.
"Yo hoo....I like the party. C'mon....what are you waiting for", tantangnya.
Menggerakkan jemarinya meminta mereka untuk maju. Lalu mengepalkan tangannya dan mengusap itu dengan jemari lentiknya.
"Who's first ?", lanjutnya dengan senyum sinis.
Seorang lelaki yang sudah merasakan pukulan tangan Adelia, maju lebih dulu.
"Biar aku yang atasi kucing liar ini !", katanya.
"C'mon girl, give me a huge !", sambil merentangkan tangannya. Melangkah semakin mendekati Adelia.
"Arghhhhh.....shittt !", lelaki itu mengerang ketika tendangan keras Adelia mengenai tubuhnya. Dan membuatnya terjengkang ke belakang beberapa langkah.
"Nice huge, is'n it ?", ledek Adelia.
Dua orang lelaki yang lain seketika mengumpat marah.
"Berengsek .... !", giginya gemelutuk menahan emosi.
Sementara seorang lelaki yang telah merasakan tendangan Adelia segera menegakkan tubuhnya. Mengepalkan tangannya dan memukulkan itu ke telapak tangan kirinya.
"Kurang ajar kamu bocah !", geramnya. Lalu menerjang dan menyerang Adelia. Dua lelaki yang lain ikut menyerang bersamaan.
Dengan lincah Adelia menghindar. Menangkis serangan ketiga lelaki itu. Sesekali berlari mencari space bertarung yang lebih luas, sekaligus menjeda waktu untuk mengulur serangan mereka.
Adelia sedikit kesulitan menahan serangan bertubi-tubi itu. Ketiga lelaki itu marah, menyerang Adelia membabi buta dan ngawur. Bahkan sekarang dua di antara mereka mengeluarkan sebuah pisau kecil.
Ahhh....seandainya ada suaminya pasti dengan mudah mengalahkan mereka. Batin Adelia. Tapi sudahlah mengingat Kenan membuat Adelia merasa semakin tidak tenang. Tentu saja karena omongan lelaki yang akan ditemuinya sekarang.
Kennnn.....kemana kamu ?
Teriak hati Adelia.
Karena hanyut dengan pikirannya, Adelia sedikit lengah, satu di antara lelaki itu berhasil menorehkan pisaunya di lengan kiri gadis cantik itu.
Crashhh......
"Ughhhh...." , gadis cantik itu langsung memegangi lengannya yang terluka. Seraya terus menangkis serangan lelaki-lelaki itu.
Darah keluar membasahi jaket yang dikenakannya. Untung saja dia mengenakan jaket, kalau tidak pasti lebih parah lukanya.
"Haha .... nyerah saja cantik. Daripada luka, lebih baik kita buat kamu nikmat !", seru pongah seorang lelaki yang berhasil melukai Adelia. Masih terus menyerang.
Gadis itu mendengkus jelas. Lalu senyum mencibir.
"Nyerah ? I'm so sorry to make you disappointed, c'mon attack me again, loser !", ledek Adelia.
"Huh ... masih sombong kamu !
Sini biar aku cabik-cabik tubuh kamu sampe nggak bisa bangun ", seraya menatap liar ke arah tubuh Adelia.
"Ayo kita tangkap dia. Enggak sabar buat dia mengerang keenakan !", sahut lelaki yang lain.
Ketiganya semakin merangsek maju, mendesak dan memojokkan Adelia, hingga tiba-tiba terdengar suara menginterupsi.
"Lelaki macam apa kalian, beraninya lawan cewek ?"
Seketika ketiga lelaki itu menghentikan serangannya. Lalu menoleh ke arah suara. Pun juga dengan Adelia. Seorang lelaki muda gagah berdiri tak jauh dari mereka.
"Kamu ....", gumam Adelia. Lelaki itu tersenyum manis ke arahnya.
"Lawan aku !", kata lelaki muda itu pada ketiga lelaki yang terbengong di depan sana.
Dengan gagah lelaki itu melangkah, mengambil posisi di antara Adelia dan ketiga lelaki itu.
Lalu dengan tidak terduga mengarahkan pukulan dan tendangan keras pada mereka.
Bughhh....bughh....bughh...
Serangan beruntun itu membuat ketiga lelaki itu langsung jatuh tersungkur.