
Baru Aera ingin menjawab segera di potong oleh Ray, "iya, ma. Aera sedang mengandung darah dagingku." Ray tetap menjawab dengan dingin.
"Asyik.. kak Aera,Yuri jadi punya keponakan. Semoga nanti keponakan Yuri cewek ya. Biar lucu dan cantik kayak auntinya." Yuri sambil membayangkan akan segera punya keponakan dia terlihat sangat senang.
”enak saja, ini anak kakak. Pastinya dia anak cowok dan ganteng seperti papanya." Ray tidak mau kalah dengan yuri, sambil mengelus perut Aera.
Mama ivana yang melihat anak-anak nya ribut sendiri, segera membawa Aera pergi ke kamar. Meninggalkan Ray dan Yuri yang sedang berdebat ingin bayinya cowok atau cewek.
"Sudah berapa Minggu Aera, kok tidak kasih tahu mama sama papa?" Kata mama ivana ketika mereka sampai di kamar.
Aera yang merasa bersalah lalu memegang tangan mama mertuanya. "Aera juga baru tahu ma, sekitar Minggu lalu. Aera merasa pusing dan lemas. Kak Ray bawa dokter ke sini untuk periksa Aera,. Maaf ya ma, Aera belum sempat kasih tahu. Rencana akhir pekan ini, Aera dan kak Ray mau berkunjung kerumah mama. Sekalian kasih kabar ini."
"Sudah, Ra. Gak apa-apa. Yang penting kamu sehat aja, nutrisi bayi dan ibu tercukupi itu paling penting. Mama senang sebentar lagi akan gendong cucu. Mama akan jadi grandma yang masih muda." Kata mama ivana sambil membayangkan akan segera punya cucu, mama ivana juga tidak sabar memberi tahu papa Ray kabar ini.
Mama ivana yang sangat bahagia kemudian memeluk Aera. Dia menyayangi aera seperti putrinya sendiri.
Di lantai bawah, Ray dan Yuri tidak sadar kalau mereka masih berdebat.
"Pokoknya ponakan Yuri pasti cewek."
"Enak aja, itu anak kakak, dia pasti setampan dan sepintar kakak ini.. iya kan sayang?" Ray yang dari tadi berdebat dengan Yuri lalu melayangkan pandangan nya ke tempat tadi Aera berada, seketika paniklah Ray melihat istrinya sudah tidak di sebelahnya.
Segera Ray naik ke atas untuk memastikan istrinya berada di mana, Yuri yang melihat Aera tidak berada di sebelah Ray dengan segera ikut Ray dari belakang.
Ketika sampai di kamar, Ray dan Yuri melihat mama ivana dan Aera sedang berpelukan,mereka berdua sangat bahagia, Aera bisa membuat mamanya sangat menyayangi aera.
Aera yang melihat Ray dan Yuri berdiri di depan pintu kamar,segera melepas pelukan mama mertuanya.
"Kak Ray, Yuri. Ayo masuk.. kok berdiri di depan kamar." Ajak Aera pada mereka berdua.
"Sayang.."
"Kak Aera.."
Ray dan Yuri berbicara bersamaan. Membuat mereka berdua saling berpandangan lalu perang dingin lagi.
"Kakak yang duluan bicara.."
"Pokoknya Yuri yang duluan bicara.."
Melihat suaminya masih berdebat dengan adik iparnya, segera mama ivana menggeleng kan kepalanya. Lalu mama berbicara kepada Aera ”beginilah Ray dan Yuri jika berdebat.. sama-sama gak mau mengalah.. tapi melihat Ray sudah mau berdebat dengan adiknya, Ray sudah kembali ke Ray yang dulu," ucap mama dengan mata berkaca-kaca.
"Dulu Ray ketika bersama Stella, dia seperti menjauh dari kami semua. Dia hanya memprioritaskan wanita itu.. mama bersyukur sih, waktu Ray mau melamar wanita itu, Stella ketahuan selingkuh.. tapi sifat Ray berubah jadi dingin.. dan ketika kamu hadir di kehidupan Ray, dia kembali seperti dulu. Walaupun sifat dinginnya masih ada." Kata mama panjang lebar..
Aera yang melihat mama mertuanya bercerita, memeluk mamanya lagi "semoga kak Ray tidak berubah lagi ya ma. Bukan Aera yang merubah kak Ray, ma. tapi dia sendiri yang kembali ke dirinya sendiri. Aera tidak pernah meminta kak Ray berubah seperti mau Aera.. Dia menjadi dirinya sendiri karena Aera tidak pernah mengekang dia, ma.”
"Makasih ya Aera sayang.. sudah sekarang kamu pengen makan apa ini?"
Ray, Yuri serta mamanya yang mendengar kata-kata Aera lalu saling bertatapan dan berkata "ketoprak???"
"Sayang, itu di jual di restoran mana? Ayo kita pergi sekarang."kata Ray berubah jadi suami siaga.
"Kak Aera, ayo kita segera pergi. Kasihan baby-nya kalau gak di salurkan apa yang di pengen."
Aera melihat Ray dan Yuri yang sangat bersemangat lalu tertawa terbahak-bahak. Ray dan Yuri melihat Aera tertawa semakin bingung.
"Hahaha Kak Ray, Yuri kalau masalah gini kalian berdua kompak ya.. "
Mama yang melihat kelakuan anak-anak nya hanya bisa tersenyum.
"Kak Ray, beli ketoprak gak ada di restoran. Dia jualnya depan perusahaan kita kak Ray," kata Aera dengan suara mulai mengecil.
"Hah, memang ada? Setauku depan perusahaan gak ada restoran."
" Iya kak, berapa kali Yuri ke perusahaan itu gak pernah lihat restoran ketoprak." Ucap Yuri membenarkan kata-kata kakaknya.
"Hmm, sebenarnya yang jual itu bukan rumah makan, tapi orang yang jualan pake gerobak." Kata Aera sambil melihat ekspresi kedua orang itu
"Jadi maksudmu yang jual ketoprak itu pake gerobak bukan sebuah restoran?" Ucap Ray mengulang kembali jawaban dari Aera.
Aera mengangguk menjawab pertanyaan suaminya. Ray yang tidak suka karena merasa makanan yang di jual di gerobak kurang higienis lalu berkata "tidak boleh.. kamu mau makan apa saja pasti aku akan kabulkan. Tapi kalau yang di jual di gerobak, tidak boleh."
Aera yang mendengar jawaban suaminya lalu matanya mulai berkaca-kaca. Segera dia keluar dari kamar sambil menutup pintu dengan kasar. Ray, mama, dan Yuri yang melihatnya seperti itu terkejut.
"Kamu itu Ray, itu kan mau bayi kamu. Bukan keinginan Aera. Cepat kamu bujuk istri kamu, jangan sampai dia hamil benci dengan suaminya sendiri, kamu mau selama sembilan bulan gak di gubris sama istrimu?" Kata mama menasihati sambil sedikit mengancam.
Ray yang mendengar kata-kata mamanya, segera keluar mendatangi Aera yang duduk di ruang depan kamar, Aera yang melihat kedatangan Ray, segera buang muka.
Ray mendekat Aera, lalu memeluk istrinya dari belakang. "Sayang, jangan marah. Maaf aku kurang tau keinginan ibu hamil macam-macam, kamu kalau makan makanan tadi boleh. Kita beli aja ya. Kalau perlu sama gerobaknya." Kata Ray menghibur istrinya.
Aera yang mendengar perkataan suaminya, lalu berbalik ”benarkah kak? Aera boleh makan ketoprak?" Matanya yang bulat besar menatap Ray seolah bahagia keinginannya terpenuhi.
Ray mencium pucuk kepala Aera dan berkata "iya sayang.. boleh."
"Asyik.."kata Aera dengan sangat gembira.
"Tapi.. kamu tidak boleh makan di tempat. Bungkus saja makan di kantor. Paham?" Ray memberi ultimatum.
"Oke kak…"
Mama dan Yuri yang keluar dari kamar, melihat kemesraan Ray dan Aera tidak ingin mengganggu. Lalu mereka berdua pergi ke kamar tamu. Karena sudah malam, mama dan Yuri memutuskan untuk menginap.
happy reading all ❤️❤️❤️