BLIND DATE

BLIND DATE
87. Terperdaya Lagi



Mata cantik itu membeliak. Tapi tak lama kemudian terpejam. Seiring dengan pergerakan bibir Kenan yang memagut lembut bibirnya.


Sementara mata hazel itu sudah terpejam lebih dulu menikmati pergulatan bibir itu.


Ketika sebelah tangan Kenan melepaskan tangan mungil yang baru saja ditahannya itu, seharusnya Adelia memukul lelaki itu, karena mereka sedang berduel sekarang .


Tapi apa faktanya? Tangan itu malah mengalung manja di leher kokoh lelaki itu. Membuat Kenan semakin bersemangat menggulat bibir ranum itu.


"Emmmhhhh.... . ", kedua bibir itu mendesah keras, ketika ciuman itu semakin intens.


Kedua telapak tangan Kenan bergerak meraih ke dua sisi wajah cantik itu. Memagut bibir merahnya lebih dalam lagi.


"Kennn.... ", seru Adelia begitu lelaki itu mengangkat tubuhnya. Mengendongnya dengan kedua kaki mungil itu melingkar sempurna di pinggangnya. Mata cantiknya terbuka lebar.


"Hmm...what's up, my love? ", ucap lelaki itu masih di depan bibir merah itu. Pandangan penuh cinta tersirat dari mata keduanya. Kembali Kenan memagut bibir itu lagi, kaki panjangnya melangkah membawa tubuh cantik istrinya ke arah meja besar di ruangan itu.


"Uhmm......we'll making love? Again?", gerakan bibir mungil itu bertabrakan dengan bibir Kenan karena lelaki itu tak ingin menjauhkan bibirnya sama sekali.


Pertanyaan polos itu, sontak saja membuat bibir Kenan tertarik ke samping. Mata lelaki itu sudah diliputi gairah. Adelia bisa melihat itu, jelas sekali.


Apalagi ketika bibir seksi lelaki itu kembali memagut bibir mungilnya. Tentu saja Adelia sudah bisa menebak jawaban suaminya itu.


"Of course, baby. I want you, my love... so much.. ", suara lelaki itu sudah terdengar berat.


Pipi gadis cantik itu semakin memerah. Apalagi bibirnya. Kembali dua bibir itu menyatu. Kenan menurunkan tubuh cantik itu di atas meja. Pagutan bibir mereka belum terlepas sama sekali.


Tangan Kenan bergerak nakal di balik kaos Adelia. Hingga menemukan bulatan indah di dalam sana. Membelai itu lembut.


Rasanya Kenan sudah tidak tidak bisa menahan lagi. Merasa begitu gila pada gadis cantik yang kini sudah menjadi miliknya itu. Bahkan sudah membuatnya nikmat berkali-kali. Tapi tetap saja menggila bila berdekatan, apalagi menyentuh tubuh cantik itu.


Dengan cepat menarik kaos yang dikenakan Adelia. Bibirnya masih sibuk di atas bibir istrinya. Menggulatnya penuh gairah. Menjauhkan bibir mereka sejenak, ketika kaos itu ditanggalkan dari tubuh cantik itu.


Adelia hanya bisa pasrah. Gairahnya juga meletup-letup bagai api yang bergejolak karena ulah suaminya. Lelaki itu memang pandai sekali memancing gairahnya.


Bahkan dengan lincah tangan mungil itu kini juga bergerak menarik kaos yang dikenakan Kenan ke atas. Menanggalkannya.


Kenan tersenyum. Membantu melakukan itu. Suka sekali gadis kecilnya yang berinisiatif. Tangannya tak berhenti mengeksplor tubuh cantik itu.


Dan dalam sekejab tubuh bagian atas mereka sudah terbuka, meninggalkan kaos mereka yang jatuh bertebaran di lantai.


Semakin menggila, Kenan kembali menyerang bibir itu. Dan tentu saja juga tangan nakalnya menyerang bukit indah yang masih berpenghalang kain hitam.


Perlahan tapi pasti penutup itu terbuka. Dan menampilkan bulatan montok dan indah milik Adelia. Ehhhhh.... bukan. Milik Kenan sekarang. Semua yang ada di tubuh Adelia adalah milik Kenan. Cuma milik Kenan.


"Babyyy....emmhhh.... I love this ", lelaki itu mulai menikmati buah ranum itu. Suara indah langsung meluncur dari bibir mungil yang terbuka untuk mengambil nafas itu.


"Arrgghhhh.... Ken.... ", tangan mungil itu menjambak rambut Kenan dan menekan kepalanya.


Keringat sudah membasahi wajah cantik itu. Ulah nakal Kenan membuat gadis itu panas dingin. Suara indah itu tak juga berhenti dari bibir mungilnya.


Hingga ketika ulah lelaki itu semakin liar, dan siap membaringkan tubuhnya di meja, Adelia menepuk bahu suaminya keras.


"Hmmm..... ", gumam Kenan. Karena bibirnya masih asyik bermain di puncak bukit indah itu.


"Kennn.....enggak di sini kan? ", tanya Adelia dengan suara lemah dan pasrah. Maksudnya mereka tidak akan bercinta di atas meja itu kan?


Lelaki itu mengangkat kepalanya, mempertemukan pandangannya dengan mata cantik itu. Mengerti maksud dari istri cantiknya.


Lelaki itu tersenyum. Meskipun sudah diliputi gairah yang memuncah Kenan harus mendengarkan istrinya. Tidak ingin perempuan cantik itu merasa tidak nyaman ketika mereka bercinta.


"Mau di kamar ?", lembutnya. Bibirnya kembali menciumi leher putih jenjang itu. Lalu kembali ke bulatan montok yang menggoda itu.


"Hmm ..... ", perempuan cantik itu mengangguk.


"Kenannnn..... naughty !", serunya. Bibir ranum itu kembali mengeluarkan suara merdu karena ulah nakal bibir dan tangan lelaki itu.


"As you wish, baby ", langsung mengangkat tubuh cantik itu ke gendongannya. Kembali menyambar bibir ranum itu lagi. Lalu melangkah menuju ke kamar ganti di ruang latihan itu.


Mendorong pintu dengan kakinya, lalu segera masuk. Menendang pintu besar itu agar menutup kembali. Bibir keduanya masih bertaut mesra. Saling memagut penuh cinta.


Sekejab Kenan melepas pagutannya, membiarkan istrinya mengambil nafas. Lalu kembali berpagut mesra lagi. Suara decapan dua bibir itu terdengar sangat nyaring.


Beberapa saat kemudian terdengar suara merdu yang bersahutan dari dalam sana. Suara ******* dan erangan yang memekakkan telinga.


*********


Nampak mama Jasmine berjalan mondar-mandir. Gelisah.


"Ma, relax. Grandpa sama grandma cuma cari angin di luar, pasti cuma sebentar. Nothing happened, darling ", papa Alex berusaha menghibur.


Kening mama Jasmine menyatu.


"Sebentar kata papa ? look, dari pagi mereka keluar dan sampai sekarang.....!", Mama Jasmine terlihat cemas.


Kembali mengotak - atik gawainya menghubungi seseorang.


"Kenan sama Adelia nggak bisa di hubungi. Rose sama Bram juga. Kemana sih


mereka? ", perempuan yang masih terlihat cantik dan muda itu kembali menggerutu.


Mereka pergi hanya berdua. Tidak menggunakan sopir. Bagaimana kalau terjadi apa-apa. Dan yang lebih menyebalkan granpa dan grandma tidak membawa gawai mereka.


Papa Alex beranjak dari sofa. Melangkah menghampiri istrinya yang mondar-mandir bagai setrikaan sejak tadi.


"Mama, sayang. Sit down, please ! ", lembutnya seraya memeluk bahu istrinya itu. .


'Tapi, Pa....! ", Mama Jasmine masih belum tenang. Menatap papa Alex dengan sorot cemas. Papa Alex menggeleng. Lalu mencium bibir istrinya itu lembut, menahannya beberapa saat agar perempuan yang berusia mendekati paruh baya itu tenang.


"Udah, Ma, duduk dulu okey !", Papa Alex menuntun istrinya menuju sofa. Lalu membawanya duduk di sana. Meraih gawai di tangan istrinya dan menaruhnya di meja. Digenggamnya tangan itu mesra.


"Putra kita sama putri kesayangan mama, pasti lagi nikmatin masa pengantin baru mereka, pasti enggak pegang gawai.... ", tutur papa Alex.


Lalu senyum genit terukir di bibirnya.


"Pegangnya yang lain dong, Ma ", lanjutnya. Seraya mengelus pinggang istrinya itu. Mesra.


Perempuan yang masih cantik itu mencebik.


"I know, Pa. Tapi masa Rose sama Bram juga nggak angkat gawainya. Pada ngapain sih mereka? ", kesal mama Jasmine.


Papa Alex terkekeh. Kembali mencium istrinya gemas. Kali ini di pipinya.


"Mama, they must be busy. You know them well, all right? ", masih dengan terkekeh.


Mama Jasmine menatap suaminya dengan sorot penuh tanya. Dahinya mengernyit.


"No, Pa. Mereka nggak sekonyol itu ", bela Mama Jasmine.


Papa Alex tergelak.


"You're forgot something, darling. Mereka bahkan lebih konyol dari kita ", ingat papa Alex.


Mama Jasmine nampak mengingat sesuatu. Sebentar kemudian terkekeh geli.


"Juga nggak tahu malu....", perempuan itu masih terkekeh. Jemarinya mencubit lengan suaminya pelan.


"Kayak Papa ", lanjutnya.


Papa Alex membulatkan matanya. Lalu memeluk pinggang istrinya erat.


"Really ? Tapi mama suka kan? ", godanya.


Mama Jasmine tersenyum.


"Hmm....itu yang buat mama jatuh cinta sama Papa ", jujurnya.


Lalu memeluk tubuh suaminya erat. Papa Alex membalas pelukan itu, lebih erat.


"I love you more, darling ", gumam papa Alex. Lalu sebentar berbisik mesra di telinga istrinya.


"Jadi pengen lagi, Ma. Buat ranjang kita berisik ", lirihnya.


Mama Jasmine terkekeh. Menepuk bahu suaminya lembut. Lalu menjauhkan tubuh mereka.


"Memang nggak tahu malu ya ?", ledeknya. Lalu memberikan kecupan lembut di bibir suaminya.


Pada saat bersamaan terdengar deheman dari arah pintu. Keduanya menoleh ke arah suara bersamaan.


"Grandpa....Grandma.... where are you came from ?", mama Jasmine langsung beranjak diikuti Papa Alex.