BLIND DATE

BLIND DATE
68. As a Normal Person



...68. As a Normal Person...


“Gama dan Sas di mana?” tanya Sofyan pada Affan. Ia tidak melihat mereka begitu acara akad nikah telah selesai. Padahal ia sempat melihat keduanya datang bersamaan. Lalu duduk berdampingan. Setelah itu keduanya tak terlihat lagi.


Acara tengah break. Seusai berbincang dengan keluarga kedua mempelai ia pamit sebentar. Begitu juga dengan pasangan pengantin yang digiring ke belakang untuk mempersiapkan diri menyambut tamu yang akan datang pada resepsi sebentar lagi.


“Aku akan mencarinya, Pa.”


Sofyan menahan Affan. “Tidak usah Fan. Biarkan mereka menyelesaikan.”


Anak keduanya itu mengerutkan kening. “Tapi aku khawatir Gama kambuh.”


Ia menggeleng. “Ada Sas. Gama pasti bisa mengatasinya,” menukas yakin. Ia keluar dari ballroom utama diikuti Affan di belakangnya.


“Apa Papa tidak akan mengubah biografi itu? Mumpung bagian printing belum melakukan tiras. Aku hanya memerintahkan untuk mencetak beberapa. Untuk diberikan pada beberapa sahabat dan kolega Papa.” Mereka memasuki ruangan kerja Sofyan dulu. Namun semenjak Gama memimpin Zoon di sini, papa sudah jarang menempatinya.


Sofyan duduk di sofa. Diikuti Affan di depannya.  “Itu memang kejadian yang Papa alami. True story.”


Affan menyergah, “Tapi, Pa. Sas menyebut Gama sebagai muasal dari saham Zoon Belanda dilepas, menolak kerja sama dengan Holland, hingga pertemanan Papa dan Hubert dipertaruhkan. Bahkan, kerja sama GPP dengan Holland sekarang ini merupakan kompensasi, karena Hubert telah membeli Zoon. Dan mempercepat Gama kembali ke Jakarta.” Ia kurang setuju dengan paparan Sas yang terlalu terbuka. Ini menyangkut soal bisnis dan masa depan mereka. Jika kolega papa mengetahui ini. Mereka pasti menganggap papa tidak profesional ... dan berpikir ulang untuk berinvestasi pada perusahaan mereka. Belum pandangan orang-orang yang selama ini menganggap papa maupun Gama tanpa cacat ... baik sebagai pebisnis maupun personal.


Senyumnya justru semringah. Sofyan mengerti kekhawatiran anaknya. “Kalau bukan Sas, pasti orang lain tidak berani mengungkap ini.”


“Pa ...,”


“Tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna, Fan. Pasti ada cela. Manusia genius seperti Einstein saja punya sisi gelap. Siapa yang tidak kenal dengannya? Tokoh ilmuwan terkemuka dan simbol abadi genius yang pernah ada di dunia. Bahkan ada yang menyebut  ikon kemanusiaan. Tapi ternyata dia juga seorang rasialis dan pernah mengkhianati istri pertamanya⁹.” Ia menyandarkan punggungnya pada sofa. “Begitu juga dengan Papa.”


...***...


Sementara di salah satu ruangan Hotel Zoon tampak Sasmaya dan Gama saling tatap beberapa saat.


Sesungguhnya ia sendiri membenci situasi yang membuatnya limbung. Harus berhadapan dengan 2 perasaan yang bertolak belakang.


Rengkuhan erat tangan kanan Gama berangsur melemah. Perlahan berganti usapan pada pipi. Disertai tatapan hanya fokus pada wanita yang masih dalam jangkauannya.


“Maaf membuatmu khawatir. I feel better now.” Meraih dagu wanita yang telah berhasil melenyapkan segala kesakitan yang beberapa waktu lalu menyerang. Mendekatkan wajahnya.


Sasmaya memejamkan mata. Menoleh ke samping. Bersamaan cairan bening yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.


Gerakan Gama terhenti. Hingga cuping hidungnya mampu menyentuh pipi Sasmaya.


Tidak mau terjebak dalam situasi yang mengaduk-aduk emosinya, mendadak ia bangkit menumpu pada lengan Gama yang lainnya. “Aku harus kembali. Sebaiknya kita kembali,” tangkasnya.


Akan tetapi justru Gama mengaduh kesakitan.


Ia kembali duduk di sebelah Gama, “Apa lagi yang sakit?” tanyanya. Bukankah baru saja Gama mengatakan lebih baik.


Laki-laki itu menunjuk lengan kirinya. Seraya meringis.


“Sorry ... sorry,” merasa bersalah walau tanpa sengaja menekan lengan Gama yang masih dalam proses penyembuhan. “Kenapa gipsnya sudah dilepas?”


“Hanya hari ini.”


Ia berdecak. Berdiri. Menuju meja kerja Gama. Menelepon seseorang. Lantas mengembalikan gagang telepon itu seperti semula setelah ia mengakhiri pembicaraan.


“Aku minta tolong resepsionis untuk mendatangkan dokter untukmu. Mungkin sebentar lagi datang.” Kembali mendekati Gama. “Lepas jas kamu!” serunya. Meski ia menyuruh laki-laki itu pada kenyataannya, ia ikut membantu melepas jas Gama. Menggulung lengan kemeja itu hingga ke siku. Sebab Gama kesulitan melakukannya sendirian.


Gama menuruti semua apa yang diperintahkannya. Sampai ia mengganjal lengan laki-laki itu dengan bantal sofa. Agar tidak mengalami pergerakan berlebihan.


Termasuk menyuruh anak Sofyan tersebut minum air hangat dan melarang berpindah tempat sebelum dokter yang ditunggunya datang. Melakukan tindakan.


Lengan Gama kembali digips. Digendong. Dokter juga telah pergi. Meninggalkan keduanya yang masih di ruangan sama.


“Apa kamu yakin kembali ke sana?” tanyanya begitu laki-laki itu ikut berdiri. Seusai ia mengatakan akan kembali ke ballroom. Padahal sudah beberapa kali ia mengatakan pada laki-laki tersebut untuk beristirahat. Pun, ia tidak menginginkan Gama berulang mengalami serangan kecemasan.


Jawaban Gama masih sama, “I feel better now ... dan aku akan baik-baik saja.”


Berdesah, Sasmaya membuang napasnya kesal. Gama keras kepala.


“Asal kamu mau menemaniku,” imbuh laki-laki itu.


Bagaimana Gama bisa bilang begitu. Buktinya saat ia duduk di samping Gama, saat acara akad nikah Dina dan Dani akan berlangsung, laki-laki itu tiba-tiba menghilang. Sebab tak bisa mengendalikan sesuatu yang membuat rasa takutnya muncul dan menyerang. Bahkan menyakiti fisiknya. Akibat paparan objek yang menjadi alasan fobianya.


Lalu, apa paparan kembali pada objek yang memicu ketakutan itu menjamin bahwa Gama akan tidak mengalami serangan lagi. Dengan alasan dirinya di samping Gama?


Ah ... mustahil rasanya. Ia memejamkan mata.


Laki-laki itu menarik tangannya. Mengajaknya untuk meninggalkan ruang kerjanya.


Ia pasrah.


Bahkan dengan kemunculannya hanya berdua. Ya, bersama dengan Gama pasti menimbulkan perspektif lain dari teman dan rekan-rekan kerjanya di GPP. Bisa jadi di departemen lain.


Langkah keduanya terayun serasi. Laki-laki itu masih menggandeng tangannya hingga memasuki ballroom yang telah disulap menjadi wedding venue berkonsep internasional. Berbeda ketika tadi pada saat akad, pasangan mempelai menggunakan adat tradisional.


Orang pertama yang disapanya adalah rombongan Wita dan rekan-rekan dari divisi editor.


“Ini nih, si mister A yang nge-tag instagram lo,” bisik Wita saat keduanya bersalaman. Sengaja Wita mendekat padanya.


Ia hanya tersenyum sebagai balasan. Meski jawabannya malah meyakinkan Wita. Pun, dengan yang lainnya.


“Kami duluan,” Gama menukas. Menarik bibirnya. Lalu menganjaknya untuk masuk lebih dalam.


Sesekali ia melihat Gama. Untuk memastikan laki-laki itu baik-baik saja.


Giliran mereka berpapasan dengan teman-teman divisi layouter dan desain grafis. Ada Aji yang menyapanya lebih dahulu, “Hai, Sas.”


Belum juga membalas, Aji berganti menyapa Gama, “Hai, Bro. Ada tanding futsal awal bulan depan. Wah, kayaknya gak bisa ikutan ....” Layouter itu menunjuk tangan Gama yang digips.


“Futsal butuh skill kaki. Jadi gak ada masalah.” Gama mengangkat bahu.


Ia yang mendengar hal itu seketika memelotot tak terima dengan jawaban laki-laki tersebut.


“Janganlah ... kami tidak menyediakan asuransi kecelakaan,” sindir Aji. “Semoga cepat sembuh, kalau sudah sembuh kabar-kabar, biar dikasih jadwal bermain.”


Gama mengangkat tangan. Disambut Aji. Keduanya melakukan tos. “Sip,” kemudian berpisah.


Ia terus mengikuti Gama yang setia menggenggam tangannya. Menghampiri para kolega laki-laki itu yang kebetulan bertemu berpapasan.


Tiba di meja VIP ia bisa melihat Pak Sofyan beserta keluarganya. Sedangkan laki-laki itu pamit pergi sebentar setelah menyuruhnya untuk duduk di sebelah Widiya.


Widia menepuk-nepuk punggung tangannya yang berada di pangkuan. Mengangguk dan tersenyum. Seolah mengetahui kecemasannya.


“Terima kasih, Sas,” ucap Sofyan. “Sebesar kecewamu pada Gama dan kami, sebesar itu juga perhatianmu pada Gama.”


“Mas Gama kembali intens melakukan terapi. Meski Lyvia tidak berani menjamin cepat sembuh. Tapi Lyvia berani menjamin jika orang yang paling dicintainya mampu membantu proses penyembuhan itu lebih cepat. Karena kamu alasannya.” Widia berujar menatapnya. “Aku mohon, Sas.”


...***...


Ia memilih cepat mengakhiri dan pulang terlebih dahulu setelah sesi foto bersama kedua mempelai. Sebab melihat kondisi Gama yang mulai tak nyaman. Setiap Gama mulai resah, ia mengusap lengan laki-laki itu. Menyuruhnya untuk relaksasi.


Meskipun ia berusaha terus berada di dekat laki-laki itu, tapi tetap saja ada saat-saat di mana mereka bergabung dengan rekan dan kolega masing-masing.


Teringat Widiya yang mengatakan jika karenanyalah Gama berjuang melawan fobianya. Melalui cerita Widiya yang didapatnya dari psikiater yang menangani Gama, jika paparan objek seperti inilah salah satu teknik dari sekian cara penyembuhan fobia. Namun, tidak boleh sekaligus terpapar lama. Harus bertahap dan berulang. Hingga fobia yang dimiliki akan kehilangan kekuatannya. Sebab apa yang ditakutkan tidak terjadi. Sehingga Gama akan kembali percaya diri dan mampu mengendalikan dirinya.


Untuk itulah, ia menarik laki-laki itu keluar ballroom. Pamit lebih dulu. Meski Sinta mengomel kesal.


“Aku antar kamu sampai di dalam,” ujar Gama.  Melepas sabuk pengaman. Tapi lekas ia tahan.


“Sampai di sini saja.”


Laki-laki itu mengerti bahwa hubungan mereka memang belum membaik sepenuhnya. Ia tersenyum dan berucap, “Baiklah. Selamat beristirahat.”


Mengangguk dan menarik sudut bibirnya. Lantas menutup pintu mobil Gama. Langkahnya terayun menuju unit apartemennya.


“Mbak, ada tamu yang bernama Ibu Ranti. Mengaku sebagai ibunya Mbak Sas. Sudah saya persilakan masuk ke apartemen,” lapor petugas keamanan yang bertemu dengannya di lobi. Beberapa kali berjumpa dengan petugas keamanan tersebut, ditambah ia menggugat atas isi dekorasi unitnya yang berubah tanpa sepengetahuannya ternyata membuat petugas tadi mengingatnya sampai kini.


“Ya, Pak. Terima Kasih.” Ia memberi akses sang mama untuk datang kapan saja. Namun tumben, mama tidak mengabari sebelumnya.


Tiba di unitnya ia mendapati Ranti tengah menonton TV. Melepas high heels-nya dan menyapa, “Sudah lama, Ma?”


Ranti mengangguk. Mengganti saluran TV.


“Sas, ada undangan ke pernikahan staf GPP. Sama Sinta dan yang lainnya.” Menyimpan tas di meja. Lalu beranjak ke dapur. Membuka lemari es. Mencari minuman dingin di sana. “Mama sudah makan?” Menutup pintu kulkas.


Ranti kembali mengangguk. Mengganti saluran TV lagi.


Ia membawa 2 gelas orange juice. Meletakkan satu di meja. Lantas ikut duduk. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan mamanya. Sampai-sampai mendatanginya.


“Mama ingin kamu pulang ke rumah,” pinta Ranti.


Keningnya berkerut. Menatap sang mama yang kembali mengganti saluran TV. Entah siaran apa yang diinginkan wanita yang melahirkannya ini.


“Ma, Sas pasti akan pulang ke rumah. Tapi tidak mendadak seperti ini.”


“Mama khawatir kamu kembali dibuat kecewa oleh mereka. Kamu pasti bertemu dengan mereka, kan di pesta itu. Dan mereka memintamu untuk melanjutkan pernikahan.” Melihat postingan Sinta di beranda WhatsApp. Membuat Ranti harus segera mengambil tindakan. Terlebih dalam foto itu ada Gama di samping anaknya yang tersenyum. Tambah yakin, jika alasan penyakit psikis itu hanya bohong belaka.


“Gak, Ma. Sama sekali mereka tidak membicarakan itu,” tandasnya. Sang mama akan sulit mempercayai apa yang tengah dihadapi Gama. Bahkan penjelasannya pun tidak mampu meyakinkan. Sama halnya yang dirasakan saat ia belum melihat dampak dari fobia tersebut secara langsung.


Ranti berdecak. Menekan tombol off pada remote control. Seketika layar TV gelap. “Mama kasih kamu waktu 2 hari untuk berpikir. Jika kamu memang masih memilih tinggal di sini. Itu artinya kamu setuju untuk melakukan penjajakan lagi dengan orang-orang pilihan Mama. Tapi kalau kamu memilih tinggal bersama Mama ... Mama bebaskan kamu untuk mencari sendiri pengganti Gama.” Ia berdiri. Melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Sasmaya. Membuat ancaman sebagai keputusan. Sebab ingin melindunginya. Ini sesungguhnya berat. Tapi ia tidak ingin melihat anaknya semakin terluka dan dianggap remeh. Dipermainkan perasaannya.


Sementara Sasmaya tercenung. Menatap kepergian Ranti hingga pintu berwarna hitam itu menutup rapat.


 


 


----


⁹ Biografi Albert Einstein. Percik-percik Inspirasi dan Motivasi dari Albert Einstein. Anom Wani Wicaksana.