BLIND DATE

BLIND DATE
86. Three - Zero



"Kenannnn.... nyebelin banget sih? ", gerutu Adelia.


Keduanya sudah berada di arena tanding. Mereka sepakat melakukan duel di ruang latihan. Adelia sudah mengganti pakaiannya, dengan pakaian olahraga.


Sementara Kenan? Lelaki itu tetap mengenakan celana boxer pendeknya. Dan membiarkan bagian atas tubuhnya terbuka.


Adelia sedikit uring-uringan karena itu. Menggerutu dari tadi.


Bagaimana tidak? Pasti Adelia akan gagal fokus kalau bertarung dengan kondisi Kenan yang seperti itu. Belum sempat bertarung pasti Adelia sudah dipastikan jatuh di pelukan lelaki itu. Huft.... menyebalkan!


Sementara Kenan cuma senyum-senyum saja. Sebenarnya lelaki itu malas melakukan pertarungan seperti itu. Dia lebih suka bertarung di atas ranjang, di sofa, di atas meja atau dimanapun itu asalkan bertarung dengan mengeluarkan otot yang ada di bagian tubuh bawahnya itu.


Senjata pamungkasnya, yang selalu bergerak gelisah dan menegang minta dibebaskan kalau berdekatan dengan istri cantiknya. Bertarung dengan senjata samurainya itu sudah dipastikan akan lebih nikmat.


Ehhh....


Tapi demi menuruti keinginan gadis cantik itu Kenan menuruti. Tapi ya itu, tidak serius dan seenaknya. Karena Kenan tahu, istrinya itu sengaja melakukannya karena ingin membuatnya kecapekan.


Dannn... tentu saja agar dia tidak jadi menyerang gadis cantik itu. Aishhh.... Kenan tak akan menyerah semudah itu. Dia tidak akan kecapekan. Justru dengan bertarung tubuhnya akan semakin fit. Kenan yakinkan itu.


"Kenapa bandel banget sih ? Susah di suruh pake baju", gerutu gadis cantik itu lagi.


"Awas ya, nggak aku kasih nanti !", ancam Adelia akhirnya.


Dan ternyata cara itu sangat ampuh. Kenan mau menuruti.


"Okay baby... okay, aku nurut. But, don't do that, my love ! Aku bisa gila ", kata lelaki itu beberapa saat tadi. Begitu takut dengan dengan ancaman Adelia.


Jelas saja takut. Tidak bisa bergelut dan bermanja dengan istri cantiknya adalah sesuatu yang mengerikan bagi Kenan.


Bagaimana nasib samurai panjangnya kalau tidak dicelup ke liang kenikmatan itu ? pasti karatan nanti. Huft... Kenan tidak akan rela.


Tampak tubuh tinggi atletis itu kini keluar dari ruang ganti. Adelia yang sudah menunggu dari tadi menoleh dan bertemu pandang dengan mata hazel itu. Lelaki itu tersenyum.


Adelia mengedipkan matanya berkali-kali. Terpesona. Tidak dipungkiri lelaki yang sudah jadi suaminya itu memang sangat tampan. Pantas saja banyak perempuan bertekuk lutut. Adelia juga tidak luput dari pesona itu.


Lelaki itu melangkah menghampiri Adelia yang kini duduk di lantai. Melakukan peregangan.


Lalu mengulurkan tangannya. Senyum tipis masih terukir di bibirnya. Adelia menerima uluran tangan itu. Kemudian dengan cepat beranjak.


Kenan segera menarik tubuh itu agar menempel di tubuhnya.


"Are you ready, baby? ", bisiknya.


Adelia pukul lengan lelaki itu. Lalu memundurkan tubuhnya beberapa langkah.


"Of course, let's get started !", balasnya.


Kenan terkekeh. Kembali meraih tubuh cantik itu cepat, lalu melabuhkan sebuah ciuman di bibir ranumnya. Mengecap dan memagutnya lembut.


Adelia yang terlampau terkejut tidak bisa menolak atau tepatnya memang tidak berusaha menolak, karena sentuhan lelaki itu begitu mematikan, melumpuhkan semua persedian tulangnya. Hingga terasa luluh tak bertenaga.


"One-zero ", kekeh lelaki itu begitu menjauhksn bibirnya.


"C'mon, baby. I'm ready now, my energy is full !", katanya lagi.


Lalu mengusap bibir mungil Adelia yang semakin memerah dengan ibu jarinya. Matanya mengerling nakal.


Adelia mencebik lucu.


"Kenan curangg.... !", geramnya. Lalu dengan cepat mengarahkan pukulan kanannya ke tubuh lelaki itu.


"Woppss.....lolos, baby ! ", dengan sigap tangan kokoh Kenan menangkis. Kekehan terdengar dari bibirnya.


Tidak kurang akal Adelia kembali mengarahkan tangan kirinya. Kembali Kenan menangkis. Keduanya saling beradu kekuatan tangan.


Adelia gencar menyerang. Kenan dengan lincah menghindar.


"Buktiin kalo kamu bisa jatuhin aku dalam sepeluh menit ", gadis cantik itu sambil terus menyerang.


Kenan tersenyum mesum.


"Hmmm.... boleh", , seraya menangkis serangan Adelia.


"Tapi aku nggak bisa pukul kamu, sayang?", menahan tangan Adelia seraya berbisik. Membuat gadis itu menghentikan serangannya dan mengernyit tajam.


"How about kiss? ", lanjut Kenan seraya mengedipkan matanya nakal.


Adelia berhenti sejenak untuk menyerang. Senyum tipis terukir di bibir mungil itu.


"Okay, just try if you can !", centilnya


Kenan tergelak.


"Okay...deal ", kata lelaki itu seraya, mengulurkan punggung tangannya.


"Deal !", balas Adelia. Keduanya menyatukan punggung tangan mereka.


"Lady's first, my love !", Kenan meminta Adelia menyerang lebih dulu. Lelaki itu tak beralih sedetikpun dari wajah cantik istrinya.


"Okay !", Adelia mulai menyerang.


Kenan menahan serangan gadis cantik itu.


Tak ingin balas menyerang sama sekali.


Pertarungan seru terjadi. Lima menit berlalu. Belum ada tanda-tanda Kenan akan menjatuhkan istrinya itu. Bahkan pukulan dengan bibir yang dia bilang belum juga terjadi.


"C'mon Ken.....cuma seginikah hebatnya suami aku? ", ledek Adelia.


Kenan terkekeh.


"You want it now, baby? I'll give it to you ", balasnya.


Adelia masih terus menyerang. Lalu saat gadis itu sedikit lengah, dengan gerakan cepat menahan tangan gadis cantik itu.


Adelia berusaha melepaskan diri dengan melakukan tendangan. Kenan menghindar lalu mengunci pergerakan istrinya. Membalik posisi sehingga gadis cantik itu menempel di tubuhnya dengan posisi membelakangi.


"Emhhhh... ", terdengar suara lenguhan Kenan. Terlihat sekali lelaki tampan itu sangat menikmati ciumannya.


Adelia menggerakkan sikunya ke belakang, menyodok perut Kenan. Lelaki itu melepaskan ciumannya.


Tapi sebentar kemudian menarik tubuh cantik itu agar menghadap ke arahnya. Memeluk pinggangnya erat. Kembali memagut bibir ranum itu. Lebih leluasa dan lebih dalam


"Emhhhhhh.... Ken !", lenguhan merdu seketika keluar bibir mungil Adelia. Beberapa saat mereka saling berpagut mesra.


"Three - Zero, ang I win !", kata Kenan ketika menjauhkan bibirnya.


"Wh... what ..?", Belum selesai berucap, bibir mungil Adelia kembali dibungkam oleh bibir Kenan.


*********


Di taman belakang rumah Papa Bram.


"Hurry up, Grandpa ! "


"C'mon Oppa, you can do it !"


Seruan menyemangati keluar dari bibir para istri itu.


Iya, Opa dan Granpa kini tengah melakukan duel seru. Dan wowww....benar yang mereka berdua bilang, masih strong.


Buktinya sudah lewat lima belas menit mereka masih bertahan saling serang. Belum terlihat capek.


"How do you think? ", tanya Opa. Masih saling serang dan tangkis.


Grandpa terkekeh.


"Uhmm... not bad ", balas Grandpa.


"For the man was as old as you ", lanjutnya.


"Haha....." , Opa tergelak.


"We are the same. I think. ", lanjutnya.


Lagi. Mereka saling serang.


Grandpa tersenyum mesum.


"Must be strong in the bed, too ? ", katanya. Lalu keduanya melompat dan salto. Kembali mendarat dengan cantik di lantai dengan posisi saling membelakangi. Keduanya menoleh bersamaan


"Absolutely ! ", katanya serempak. Lalu menyatukan punggung tangan mereka. Kekehan keluar dari bibir keduanya.


Suara tepukan tangan terdengar, diiringi langkah kedua istri mereka mendekat.


"So great.....!", kata Oma. Bibirmya berdecak kagum.


"That's enough for exercise ", lanjut Grandma.


Keduanya lelaki itu menyetujui. Lalu mengulurkan tangan pada istri mereka, yang langsung di sambut dengan senyum oleh dua perempuan yang masih menampakkan garis kecantikan di wajah mereka.


"Sudah putusin kemana cucu sama cucu mantu honeymoon ? ", tanya Oma dan grandma hampir bersamaan.


Membuat dua lelaki tua itu saling menoleh dengan senyum geli.


Opa dan Granpa saling pandang.


"Of course ... yess..! ", balas kedua lelaki tua itu sambil tos di udara.


Sepasang suami istri itu tertawa renyah.


Tak jauh dari kedua pasang suami istri itu, dari balik pohon, dua pasang mata tengah mengamati dengan senyum.


Papa Bram memeluk pinggang istrinya mesra.


"Its look like no problem anymore, darling ", bisiknya mesra di telinga istrinya.


Mama Jasmine mengangguki.


"Uhmm.....must be new problem, Pa ", balasnya.


Keduanya terkekeh geli.


"Minta pijit..... ", sahut Papa Bram.


Mama Jasmine menoleh dan tersenyum.


Perlahan mengangguk.


"Opa....opa...", menggelengkan kepalanya. Sudah hafal dengan kebiasaan Opa yang notabene adalah papanya. Kalau kecapekan pasti minta di pijit Oma.


"Apa Granpa Kenan begitu juga ya, Pa? ", Mama Jasmine penasaran.


Papa Bram tersenyum. Lalu mencuri satu ciuman di pipi istrinya.


"Maybe, Ma. Biar terlihat strong, usia nggak pernah bohong ", katanya kemudian.


Lalu membawa tubuh mama Jasmine agar bertemu pandang dengannya.


"Kalo yang satu ini masih strong beneran, dong", tunjuk Papa Bram pada dirinya.


Mama Jasmine mencebikkan bibirnya.


"Narsis, Pa !", sambil memukul manja dada lelaki itu.


Papa Bram tergelak.


"Gimana, mau buktiin sekarang? ", dengan mengedip nakal.


Mama Jasmine terkekeh. Perlahan mengangguki.


"Hmmm... why not? ", balasnya. Papa Bram segera mencium bibir istrinya. Lalu menuntunnya melangkah dengan berpelukan mesra.