BLIND DATE

BLIND DATE
91. Delicious



"Damn you, Ken ...!", lelaki itu mengumpat kesal. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras sampai berbunyi gemeletuk.


Lalu melempar remote control di tangannya sembarang. Setelah sebelumnya mengganti channel televisi yang di tontonnya.


Baru saja lelaki itu memutar TV dan sungguh membuatnya geram karena kebetulan menayangkan siaran ulang acara pernikahan pengusaha muda sukses, Kenan Melviano Parviz dengan ex girlfriendnya, Adelia Mahira Puri.


"Adelia, I know you'll love the bastard", geramnya.


"Aku salah udah cinta sama kamu ", gumamnya.


"Lebih salah lagi kenapa aku bermain hati sama Cindy.....shittts...!", umpatnya lagi.


"But I love it .... I love to be crazy, Adel !", lanjutnya seraya menyeringai jahat.


"Aku harus dapatin kamu, Adelia... bagaimanapun caranya", gumamnya.


"Rio..... tolong bantu keringin rambut aku dong !", terdengar suara perempuan. Lalu muncul siluet tubuh cantik dari balik dinding. Berbalut handuk saja, hingga menampakkan bahu dan paha putihnya.


Melihat perempuan muda itu, wajah masam lelaki itu berubah drastis. Seketika tersenyum. Lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri si perempuan.


Ketika sudah berada di hadapan perempuan muda itu, dengan cepat meraih tubuh itu agar menempel dengan tubuhnya.


"Okey, aku bantuin. Apa upahnya ?", jemarinya bermain di pipi gadis itu.


"Apapun yang kamu mau, aku kasih. Masih nggak percaya ?", genit si perempuan.


Lelaki muda itu tergelak.


"Of course, I believe you, honey. Kamu udah buktiin, kita bisa bebas dari ruangan laknat


itu", tangannya bergerak ke bawah, mengusap paha putih gadis itu yang terekspos.


"If I want this ?", lanjutnya seraya mengusap dan menekan lembut bagian tubuh perempuan muda itu di bawah sana.


Mendesah lirih, perempuan itu menahan tangan lelakinya.


"With my pleasure, darling. Tapi mandi dulu, aku nggak mau cium bau ruangan penjara lagi ", dielusnya dada lelaki itu manja.


Lalu jemari itu bergerak ke atas, mengelus bibir lelaki itu. Sebentar berjinjit dan memberikan pagutan di sana.


Lelaki itu tersenyum. Lalu menarik tengkuk gadis itu dan sedetik kemudian menyerang bibir gadis dengan liar.


Tak lama melepaskan ciumannya.


"Okay, aku mau mandi. Tapi biar aku bantuin keringin rambut kamu dulu", diputarnya tubuh gadis itu. Dituntunnya ke depan kaca rias. Dan duduk di depan sana.


Perempuan muda itu tersipu. Sekaligus bahagia. Hal itu tampak dari tatap matanya. Lelaki yang dia cintai dari awal bertemu, tepatnya sejak mereka kelas satu SMA, karena pertemuan tak sengaja di arena laga, ternyata sekarang bisa bersikap manis padanya.


Mungkin ini efek positif dari menikahnya perempuan itu dengan lelaki lain. Iya perempuan yang menjadi pacarnya, musuh bebuyutannya.


"Malam ini kita nikmatin waktu berdua. Rayain kebebasan kita ", bisik lelaki itu.


Lalu mulai mengarahkan hair dryer ke rambut perempuannya.


"Of course, That's a good idea, Rio ", mata gadis itu mengedip nakal. Tampak dari tatapan di kaca rias.


"Kalo gitu, buruan mandi, aku udah nggak sabar. Biar aku keringin sendiri ", perempuan muda itu mengulurkan tangannya, meminta hair dryer yang dipegang lelakinya.


Masih memegang hair dryer, lelaki itu menundukkan kepalanya.


"Katanya tadi minta dibantuin, sekarang malah ngusir", katanya di dekat telinga si perempuan.


Perempuan itu membalikkan tubuhnya. Lalu beranjak.


"Aku lebih suka dibantuin yang lain. Hajar aku di ranjang !", genitnya. Tangannya meraba kemana-mana ke tubuh lelaki itu.


Lelaki muda itu tergelak. Menahan tangan perempuan muda itu yang hendak menyentuh miliknya di bawah sana.


"I'm ready. aku hajar kamu sampai nggak bisa bangun ?", godanya.


"I'm waiting, darling ", perempuan muda itu tersenyum menggoda. Lalu meraih hair dryer dari tangan lelakinya. Dengan senyum mesum lelaki muda itu memberikannya.


Ketika perempuan muda itu kembali memutar tubuhnya dan kembali duduk di depan kaca rias, dipeluknya dari belakang tubuh berbalut handuk itu. Tangannya bergerak nakal menyentuh gundukan milik perempuannya. .


"Nggak usah pake baju, kayak gini aja, biarin mudah lepasnya nanti ", bisiknya mesra.


Perempuan muda itu tersenyum.


"Hmm.....apapun mau kamu, sayang ", balas perempuan muda itu.


Lalu membusungkan dadanya, seolah memberi peluang agar tangan lelaki itu lebih leluasa menyentuhnya.


Lelaki itu meremasnya nakal. Sebentar menjauhkan tangannya.


"Bisa-bisa nggak jadi mandi nih.... pinter ya kamu godain aku !", kekehnya.


Lalu dengan cepat memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar mandi.


"I'm expert on it, Rio ", balas si perempuan dengan senyum yang genit menggoda. Mengiringi tubuh lelaki itu yang menghilang di balik dinding.


*********


Di mansion megah itu di suatu kamar terdengar suara merdu bersahutan. Terjadi pergulatan panas yang entah ke berapa kalinya.


Hingga akhirnya letusan panas itu kembali membakar keduanya dan menimbulkan suara erangan kenikmatan yang begitu nyaring.


"Kenannnn.......", suara merdu keluar dari bibir mungil di bawah kungkungan lelaki itu.


Bersamaan dengan itu terdengar suara sang lelaki perkasa mengerang hebat.


"Babyyyyy......Adeliaaaa ", suaranya begitu nyaring. Seandainya kamar itu tidak kedap suara, pasti seisi mansion akan gempar dibuatnya.


" l love so much, baby. Thank you ", bisik Kenan lembut. Lalu mengecupi seluruh wajah Adelia. Dan sedikit menahannya di bibir mungil ranum yang terbuka mengambil nafas.


Adelia masih memejamkan mata. Nafasnya masih tersengal, memburu, membuat dadanya naik turun karena di hajar Kenan habis-habisan.


"Buruan turun !", Adelia pukul bahu lelaki itu karena merasakan lelaki itu masih


dI atasnya.


Lelaki itu tersenyum. Lalu menggerakkan kembali pinggulnya. Membuat Adelia seketika membeliakkan matanya.


Dipukulnya pinggul lelaki itu. Yang justru semakin membuat laki-laki itu menghujamkan samurainya lagi


"Emhhh, Ken. Aku bilang turun, masih main-main. Aku tendang nanti ", gemas Adelia.


Kenan tergelak.


"Boleh....tendang pake ini kan ?", kembali menunduk untuk meraih bibir mungil yang sedikit mencebik itu. Mengecapnya lembut.


"Kennn.....", seru Adelia begitu lelaki itu melepas pagutannya.


"Okey.....okey, aku turun, baby !", masih terkekeh.


Adelia menghela lega. Merentangkan kedua tangannya dengan mata memejam. Masih berusaha mengatur nafasnya.


Dia tidak tahu kalau lelaki di atasnya itu kembali menatap lapar pada tubuh cantiknya.


Tepatnya adalah pada dua bukit indah menantang yang berada tepat di depan matanya. Dengan beberapa bekas hickey di sana. Kenan menelan salivanya, jakunnya naik turun.


Adelia mengernyit. Kenapa lelakinya itu tetap belum beranjak ? Apa yang dilakukannya ?


Dannn....pertanyaannya terjawab begitu merasakan sapuan benda kenyal di puncak dadanya. Bagai tersengat aliran listrik, spontan Adelia membuka manik cantiknya.


"Kennnn...", rajuk Adelia. Diangkatnya kedua tangan mungilnya, lalu memukul bahu kokoh lelaki itu.


Kenan mendongak. Senyum mesum terukir di bibirnya.


"Ehhh....blom turun ya, sayang ? Enak sih, jadi nggak pengen turun ", gelaknya.


Adelia mencubit pinggang lelaki itu. Kok bisa sih suaminya bersikap sekonyol itu. Kalau seperti ini lelaki itu mirip lelaki yang haus belaian saja. Lebay sekali.


Perlahan Kenan melepaskan miliknya. Samurai panjangnya.


Desisan lirih keluar dari bibir mungil Adelia.


"Is it hurt, baby ?", lembut Kenan.


Seraya berbaring miring di samping istrinya.


"A little ...", Adelia juga memiringkan tubuhnya. Hingga berhadapan dengan suaminya yang kini menatapnya lekat. Adelia lihat ada sedikit guratan cemas di sana.


"Don't worry Ken, I'm okay ", Adelia usap lembut wajah tampan di hadapannya.


Kenan tersenyum. Meraih jemari Adelia untuk dikecupnya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua. Tangannya memeluk tubuh cantik itu erat.


"Punya kamu terlalu sempit, baby. Maafin ya, udah lukain kamu" , mesra lelaki itu.Tangannya membelai lembut rambut panjang Adelia yang masih basah oleh keringat.


Adelia terkekeh.


"Kenn, jangan lebay ah. Entar juga sembuh kan ?", balasnya.


"Maaf....maaf....nanti diulangi lagi ", lanjutnya dengan bibir manyun lucu.


Tidak bisa menahan tawanya, Kenan langsung tergelak.


""You're so delicious, baby. Gimana nggak pengen nambah terus ?", godanya.


Bibir mungil itu tambah manyun lucu.


"Nah tuh, jahat kan ?", memukuli dada Kenan manja.


"Ngapain minta maaf kalo gitu ?", rajuknya.


Kenan raih tubuh cantik itu, dibawanya dalam dekapan hangat.


"Iya.....iya....I'm sorry baby.....sorry....sorry....", ulangnya berkali-kali.


Adelia menyembunyikan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Sentuhan skin to skin membuat keduanya merasa tenang dan nyaman. Senyaman hati mereka. Kenan semakin mengeratkan pelukannya. Adelia semakin tenggelam di dada lelaki itu.


"Never mind Ken, nggak perlu minta maaf terus. Lagian malah aneh kalo nggak luka, berarti samurai kamu nggak tajam dong ", kata gadis cantik itu di balik dekapan. Kekehan kecil terdengar dari bibirnya.


Kenan membeliakkan matanya. Gadisnya ini, Oh my gosh, bisa-bisanya ngomong seperti itu, membuatnya gemas saja.


Perlahan Kenan menjauhkan tubuh mereka. Ditatapnya gadis cantik yang sudah menjadi istrinya itu dengan senyum nakal.


"Hmmm.....jadi yakin nih samurai aku tajam ?", godanya.


Pipi Adelia tersipu. Kenan memperhatikan itu dengan senyum.


"Uhmm....grandma yang bilang .......Oh my God, grandma Ken .....", Adelia spontan beranjak dari baringnya. Ketika mengingat telah meninggalkan grandma sendiri di kamar.


Dan tentu saja membuat tubuh polos bagian atasnya terekspos. Tangannya bergerak cepat menarik selimut dan mengapitnya di ketiak. Karena melihat mata Kenan menatap bagian itu seolah hendak memakannya.


"Aku harus temeni grandma....", Adelia beringsut hendak turun dari ranjang. Kenan segera bangun dan memeluk tubuh cantik itu.


"No, baby. Don't worry !


Grandma won't looking for you, she's sleeping, now ", bisik Kenan mesra.


"But Ken....", Adelia menoleh ke belakang. Langsung disambut oleh bibir Kenan yang memagut bibirnya. Dalam dan lembut. Sesaat dua bibir itu berpagut.


"Krukkkkk.....", terdengar bunyi dari perut Adelia.


Kenan melepas ciumannya, bibir seksi itu menyunggingkan senyum manis.


"So hungry ?", godanya.


Adelia mengangguk cepat. "Hmmm...", gumamnya.


"Aku buatin makan, habis itu boleh balik temeni grandma ", dijawilnya hidung mancung gadis cantik itu.


"Emang bisa masak ?", Adelia menahan senyumnya.


Kenan terkekeh.


"Kalo bisa, di kasih apa coba ?", godanya.


Sebelum Adelia menjawab, lelaki itu sudah berucap lagi. Ucapan yang membuat Adelia membulatkan mata cantiknya dan bibir mungilnya terbuka.


"Making love again, twice baby", kata lelaki itu sambil mengacungkan dua jemarinya.