BLIND DATE

BLIND DATE
84. What For



"What's that Ken? ", Adelia mengernyitkan dahinya. Menatap sebuah map besar yang di ambil Kenan dari laci di ruang kerjanya. Lelaki itu duduk di kursi kerjanya sekarang.


Setelah mandi bersama, eitss....yang ini bener-bener mandi ya. Meski tidak mengurangi kemesuman dan keusilan tangan lelaki itu ke tubuh cantik Adelia, tapi setidaknya gadis cantik itu berhasil membujuk Kenan untuk tidak mengulangi kegiatan bergelut mereka di sana.


Huft.... memang sungguh mesum lelaki itu. Gairahnya tidak ada matinya. Selalu ingin lagi dan lagi. Adelia dibuat kuwalahan olehnya.


Selesai mandi, dengan Kenan yang membantu memandikannya, lalu mereka makan pagi bersama. Lelaki itu dengan telaten juga menyuapinya. Hmm.... Adelia seperti anak kecil saja rasanya.


Gadis cantik itu berusaha menolak, tapi lelaki itu sungguh tidak bisa di tolak.


Setelah sarapan lelaki itu mengajaknya ke ruang kerja. Dengan lebaynya juga Kenan hendak menggendong Adelia ke sana, tapi dengan galak Adelia menolak.


"No way, Ken. Aku bisa jalan sendiri !", tegasnya. Lelaki itu hanya menyengir lucu. Tapi tak lepas memeluk pinggangnya selama perjalanan.


Lelaki itu bilang akan menunjukkan sesuatu padanya. Dan kini keduanya sudah berada di sana. Di ruang kerja besar Kenan.


Kenan tersenyum manis, melihat gadis cantiknya itu menatap penuh tanya. Lalu menaruh map itu di meja.


"Sit down here, baby !", menarik tangan mungil Adelia yang berdiri agak jauh di depannya. Membawa tubuh cantik itu agar duduk di pangkuannya.


"Kennn.... wh... what are you.... ", pekik Adelia.


"Duduk dulu, sayang, baru dilihat ", bisiknya


mesra.


Sebelah tangannya meraih map di meja dan menaruhnya di tangan Adelia. Sementara sebelah tangannya yang lain memeluk pinggang ramping itu erat.


Perlahan Adelia membuka map itu. Bergidik geli karena ulah bibir Kenan yang menciumi leher dan tengkuknya.


"Stop Ken, aku mau lihat ini dulu !", berusaha menghalau bibir Kenan dengan sebelah tangannya.


"Lihat aja, baby. Aku nggak akan ganggu !", belum juga menghentikan aksinya.


Adelia hanya menggeleng pelan. Bibir mungil itu manyun lucu. Langsung Kenan berikan kecapan lembut di sana. Akhirnya Adelia membiarkan lelaki itu berbuat semaunya.


Gadis cantik itu cemberut begitu melihat isi map besar itu. Spontan melompat dari pangkuan Kenan. Menaruh map besar itu kembali ke meja.


"What for Ken.... I don't need that !", protesnya. Seraya melipat tangannya di bawah dada. Bibirnya masih merengut menggemaskan.


Kenan membeliakkan matanya konyol.


"Listen to me baby ..... !", lelaki itu beranjak, hendak meraih tubuh istrinya, tapi gadis cantik itu segera menghindar.


"Why do you give it to me? All of them? What do you think, Ken? ", Adelia dengan nada tidak suka.


Pernikahan mereka memang berawal dari perjanjian. Tiga puluh persen saham perusahaan Kenan harus diberikan pada Adelia begitu mereka menikah.


Tapi itu dulu. Sekarang semua itu sudah tidak berlaku lagi menurut Adelia. Karena mereka sudah saling cinta.


Tapi kenapa justru lelaki itu menyerahkan semua saham perusahaan padanya. Adelia tidak habis pikir. Tentu saja juga tidak bisa menerima itu.


Gadis cantik itu mendengkus jelas. Lalu melangkah ke sisi meja yang berjauhan dengan Kenan dan duduk di sana. Masih dengan bersidekap dan kini melipat kakinya. Menampilkan betis putih indahnya yang menawan.


Kenan menghampirinya dengan senyum di bibir. Lalu meraih bahu gadis cantik itu.


"Dengerin aku, sayang. Aku nggak mau ingkar janji. Itu janji aku dari awal kan ? So, that's not a big problem, okay ? ", ujar Kenan.


Adelia masih diam. Mengarahkan pandangannya ke arah lain. Menghindari mata hazel yang kini menyorotinya dalam. Kenan raih dagu cantik itu agar bertemu pandang dengannya.


"Aku ikhlas ngelakuin itu, sayang. Just for you, baby ! Jangankan cuma saham perusahaan, nyawa aku......", lelaki itu menghentikan ucapannya karena telapak tangan mungil Adelia sudah membungkamnya.


"Shut up Ken, don't talk anymore !", tegas Adelia.


Gadis cantik itu menghela pelan.


"Aku nggak minta itu, Ken. That's only a damn fool agreement. Kamu nggak perlu ngelakuin itu ", ditatapnya mata lelaki itu lekat.


Manik coklat dan hazel itu saling bertemu beberapa saat.


Perlahan Kenan meraih telapak tangan mungil itu. Mengecupnya lembut.


"No, baby. Aku ngelakuin itu bukan karena perjanjian, tapi karena kamu istri aku,


sayang. My lovely wife ", ditatapnya gadis cantik itu penuh cinta.


Kenan menyentuh satu sisi wajah Adelia, mengusapnya lembut.


"Jangan nolak ya, baby, jangan ngambek, aku bisa gila !", jujurnya.


Bibir mungil itu mencebik. Lelaki di depannya ini pandai sekali menggombal. Atau memang dia lahir bersamaan dengan Raja Gombal?


"But Ken, I can't....... ", bibir mungil itu tak mampu meneruskan kalimatnya. Karena bibir seksi Kenan sudah menempel di sana. Memagut dan mengecapnya mesra.


Kenan raih tangan mungil istrinya dan mengalungkan itu ke lehernya. Lalu bergerak meraih tengkuk perempuan cantik itu untuk memperdalam ciumannya.


"Emhhh....Ken.! ", lenguh Adelia. Mulai terpancing sentuhan lelakinya. Perlahan membalas ciuman itu. Mereka larut dalam ciuman hebat beberapa lama. Saling memagut.


Hingga kemudian Kenan menjauhkan bibirnya ketika Adelia menepuki bahunya.


"Huh. .. huh. . huh.... ", nafas Adelia terengah.


"Sengaja mau buat aku pingsan ya? ", Adelia cubit pinggang lelakinya itu.


Kenan terkekeh. Lalu kembali mengecap bibir itu lagi. Sebentar melepas ciumannya.


"You know, baby. That's the right way to make this beautiful lip shut up ", ditoelnya bibir mungil itu gemas.


Lalu meraih tangan mungil Adelia, mendekatkan ke bibirnya. Mengecupnya lembut. Sebentar kemudian menuntun tangan itu ke bawah sana.


Adelia membeliakkan matanya.


"Kennn... dasar mesum !", segera menarik tangannya karena merasa menyentuh sesuatu yang besar dan keras di bawah sana. Di balik celana Kenan.


"Let your hand do what should its done,


baby ! ", masih dengan kekehan keras.


Adelia memukuli dada lelaki itu berkali-kali. Lalu beralih memukul tangan besar itu yang kini bergerak nakal mengusap lembut paha Adelia hingga tersingkap dressnya. Menampilkan paha putih mulus dengan beberapa hickey di sana. Ulah Kenan semalam.


Ahh.. ngomong-ngomong , lelaki itu tadi menyuruhnya mengenakan dress sebatas lutut. Bukan Adelia sekali kan? Karena gadis itu lebih suka mengenakan celana jeans.


Tapi daripada lelaki itu terus menggerayangi tubuhnya, lebih baik Adelia menuruti. Yang penting segera mengenakan baju.


"Dasar mesum ! Tangan sama bibir kamu nakal banget, tahu nggak ?", manja gadis itu.


Kenan terkekeh.


"Nakalnya cuma sama kamu, baby. Nggak mau sama yang lain ", kerlingnya nakal.


Bibir Adelia mencebik.


"Gombal.....!", dicubitnya pinggang lelaki itu hingga berjingkat geli.


Masih terkekeh, Kenan raih tubuh cantik itu. Membawanya ke dalam dekapan hangatnya.


"That's right, I promise you my love ", gumamnya mantap.


Diciuminya puncak kepala Adelia dengan sayang. Tangannya mengusap lembut surai panjang kecoklatan itu.


"Aku emang brengsek .....", Kenan menghentikan ucapannya sejenak.


Terdengar dengkusan lirih dari bibir Adelia di balik pelukan. Kenan menahan kepala itu agar tetap berada di dadanya.


" Tapi itu dulu. From now on and forever, It's never happen again, baby", lanjut Kenan tegas.


Adelia menjauhkan tubuhnya. Mendongak untuk mempertemukan pandangan dengan lelaki tampan yang kini sudah menjadi suaminya itu. Ditatapnya manik hazel itu lekat.


"I believe you, Ken. Just prove it to me,


okay? ", pintanya.


Kenan mengangguk tegas.


"Of course, my love ", balasnya.


Kedua tangannya mengusap lembut pipi putih mulus itu.


Mereka saling pandang. Sebentar dua bibir itu tersenyum. Lalu tak menunggu lama, kedua bibir itu saling menyatu, dengan lembut dan mesra. Keduanya saling berpagut dan saling mengecap. Sesekali keduanya tersenyum bahagia di balik kecupan.


Kenan bawa kedua kaki mungil itu agar melingkar di pinggangnya. Sementara kedua tangan kokoh Kenan memeluk erat pinggang ramping Adelia.


"Ehmmm... wait a second, Ken !", Adelia mendorong dada Kenan tiba-tiba.


"Hmmm... what's a matter, baby? ", lelaki itu mengalihkan ciumannya, mengendus leher putih jenjang istrinya.


Adelia salah tingkah.


Haruskah menanyakan hal itu lagi ? Sesuatu yang mengganjal perasaannya. Kenan sudah mengatakannya, tapi Adelia masih penasaran.


Saat itu lelaki itu tengah dipenuhi gairah, apa ucapannya benar ?


"Uhmmm..... Ken... ", tangan mungil gadis itu bermain-main di dada bidang Kenan. Sesekali terkekeh geli karena ulah bibir Kenan di lehernya.


Kenan terkekeh. Merasa gemas sekali dengan tingkah gadis kecilnya ini. Tidak bisa menahan, kembali dipagutnya bibir ranum itu.


"Kennn....! ", seru Adelia seraya memukul tangan lelaki itu.


Lelaki itu makin tergelak.


"What's up baby ? Just tell me !", lembutnya. Sambil mengusap lembut bibir merah ranum itu.


"Uhmm.... bener kamu..... nggak pernah ngelakuin.... itu? Sama perempuan lain?", dengan suara terbata.


Matanya mengedip lucu. Membuat bulu lentik itu bergerak-gerak menggemaskan.


Kenan terkekeh geli. Ternyata gadis cantiknya itu masih penasaran dengan yang satu itu. Senyum nakal tercetak di bibirnya. Pasti menarik mengerjai gadis cantik ini. Pikirnya.


"Babyyy..... kenapa masih bahas itu sih?", godanya.


Dan ternyata berhasil.


Bibir mungil itu merengut. Suara dengkusan lirih terdengar. Bahkan mendorong tubuh Kenan menjauh agar dia bisa melompat turun dari meja.


"Okay, baby.... okay, I'll show you !", Kenan tahan tubuh cantik itu. Memeluknya erat.


"Show me, now !", rajuk Adelia.


"Are you sure, honey?", goda Kenan lagi.


Adelia meninju lengan atas Kenan, lalu mengangguk cepat. Secepat itu pula Kenan mengangkat tubuhnya.


Membawanya dalam gendongan.


Melingkarkan kaki mungil itu ke pinggangnya. Lalu melangkah menuju kamar di ruang kerjanya. Kamar di mana Kenan telah mengambil kesucian gadis cantik itu untuk pertama kali.


"Kenapa ke kamar, Ken? ", protes Adelia.


Kenan terkekeh.


Posisi wajah mereka yang begitu dekat, memudahkan Kenan membungkam bibir mungil yang selalu menggoda itu. Mengecapnya lembut.


"Sstt......nggak boleh berisik, sayang. Mau tahu kan ?", ledek Kenan dengan senyum nakal.


Dannnn... Adelia hanya bisa menuruti.