
...45. Notice Me...
Hubungan 2 personal yang sedang terikat cinta tentu mengalami pergerakan secara dinamis. Seiring sejalan.
Tahapan jatuh cinta merupakan permulaan. Sebelum waktu dan kedewasaan membuatnya masuk ke level berikutnya. Yaitu membangun cinta.
Jika jatuh cinta adalah perasaan euforia yang berlebihan. Semua terasa menyenangkan, menerbangkan bahkan menghanyutkan. Sulit dikendalikan. Itu harus sudah diusaikan. Karena hakikatnya cinta adalah membangun.
Membangun kepercayaan. Merawatnya dengan tepat. Saling menghargai dan memberikan ruang.
Begitu pula yang dinginkan dari hubungannya dengan Gama. Sasmaya tidak ingin jatuh cinta berlama-lama. Melainkan ingin membangun cinta.
Laki-laki itu begitu semangat saat mengendalikan sepedanya yang terus melaju di depan. Sesekali melambat demi menyejajarkan laju dengannya.
Waktu masih tergolong pagi. Pukul 07.00 WIB. Namun area GBK mulai ramai dipadati pengunjung yang ingin melakukan olahraga. Baik berlari, berjalan santai maupun bersepeda. Membentuk komunitasnya masing-masing. Bahkan ada juga yang hanya beranggotakan keluarga.
“Capek?” tanya Gama.
Ia menggeleng, “Belum.”
“Nanti saat kamu di Belanda, sepeda jadi transportasi paling banyak digunakan.”
“O, ya.”
Gama menyahut, “Ya.”
“Sepeda elektrik!” duganya. Dengan sepeda elektrik paling tidak tenaga tidak terkuras habis untuk mengayuh. Ya, mirip motor. Hanya lebih bersahabat tidak menimbulkan polusi. Negara maju dengan sistem transportasi canggih dan modern. Pasti moda transportasinya juga mengikuti perubahan.
“Tebakan kamu salah,” sahut Gama. “Justru sepeda manual lebih banyak dipakai dibanding sepeda elektrik.”
“O, ya?” sergahnya masih tak percaya.
Setelah berkeliling gelora cukup lama. Ia dan Gama memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman. Hilir mudik para pengunjung kian ramai.
Ia membuka topi. Menyeka peluh di wajah dengan handuk kecil. Begitu pula yang dilakukan laki-laki itu.
“Bagaimana jarak hotel Jakarta dengan Holland Publisher?” tanyanya. Meneguk air mineral dari botol. Sangat yakin bahwa Gama pasti tahu percis.
“Lumayan. Tapi jangan khawatir. Di sana kita tidak akan tersesat,” ucap Gama. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Sudah mulai panas. Kita pulang.”
Dalam perjalanan pulang laki-laki itu tidak banyak bicara. Hanya sesekali tersenyum. Jika ia bercerita keantusiasannya akan pergi ke Belanda. Paling tidak ia tahu bagaimana kehidupan Gama selama di sana. Sehingga jika suatu waktu mereka bercerita soal Belanda, percakapan mereka akan mengalir, selaras dan yang penting nyambung.
...***...
“Kenapa bukan lo yang berangkat!” ketus Gama pada adiknya. Ia tahu Affan baru saja pulang dari Surabaya.
Baru juga mendudukkan diri di sofa hendak menerima minuman penyambutan dari istrinya, Affan ditodong kakaknya.
“Ya, memang sudah jadi tugasnya. Dia seorang managing editor, suatu saat menjabat editor in chief GPP,” balas Affan santai.
Ia berdecak kesal. Mengusap-usap keningnya. Duduk kasar. “Apa sih motif kalian!” serunya.
Widiya yang melihat kegusaran kakak iparnya ikut berkomentar, “Mas Gama tenang. Sasmaya gak sendirian ke sana. Ada Pak Weka. Yang pernah beberapa kali pergi ke luar negeri bareng aku.”
Ia kembali bangkit. Menggeleng kuat. Lalu pergi berlalu begitu saja. Meninggalkan pasangan suami-istri yang terbengong saling pandang. Tak lama Affan mengangkat bahu. Mengusap perut istrinya dan bangkit. “Aku ganti baju dulu, Sayang.”
Sementara Gama melajukan kendaraannya tanpa arah tujuan yang jelas. Dua jam yang lalu ia baru saja mengantarkan Sasmaya pulang ke rumahnya.
Wanita itu ... ya, wanita yang sebentar lagi akan jadi pendampingnya akan mengetahui masa lalunya selama di Belanda. Biarpun itu masa lalu, tapi tidak sedikit orang terjebak. Lalu membuat pilihan.
Akankah Sasmaya juga akan memberinya pilihan?
Laju kendaraannya berhenti secara mendadak di depan lobi hotel Zoon. Hingga 2 porter yang biasa menyambut tamu di pintu lobi sempat menjengit kaget.
Ia keluar dari mobil. Melempar kunci mobil ke arah porter. Dengan sigap salah satu porter menangkap kunci tersebut. Langkahnya panjang-panjang menuju ruang kerjanya.
Tiba di sana ia menghempaskan pantatnya kasar di sofa. Menelepon seseorang.
“Fer, sejak kapan papa mau bekerja sama dengan HPG?”
Ferdi menjawab, “Sejak Anda sepakat pulang ke Jakarta, Pak.”
Tarikan dan embusan napasnya kesal. “Kenapa Sasmaya yang harus mewakili kerja sama itu?” padahal cukup pemimpin redaksi. Yang tak lain dan tak bukan Weka Yuda.
“Pak Sofyan ingin Mbak Sasmaya banyak belajar. Mengembangkan karier. Juga memperluas jaringan kerja sama.”
Tak puas dengan jawaban Ferdi, ia pun menukas. “Tapi tidak harus ke Belanda.”
Lengang. Ferdi di ujung telepon tak menyahut.
“Fer,” tukasnya setelah beberapa saat tak ada tanggapan dari sekretaris papa.
“Maaf, Pak. Kalau soal itu saya—”
Sambungan telepon ia matikan secara sepihak. Percuma bertanya pada Ferdi. Menuju toilet yang masih dalam 1 ruangan kerjanya. Menyalakan batang rokok. Ini satu-satunya teman setianya. Teman yang selalu ada di saat ia membutuhkannya.
Menghisap dalam-dalam. Mengeluarkannya perlahan dari hidungnya seraya memejamkan mata. Begitu seterusnya hingga tak terasa 1 batang habis. Ia mematikan bara api yang berbekas di puntung rokok ke dalam asbak. Yang sengaja ia perintahkan pada petugas kebersihan untuk selalu disimpannya di toilet. Lantas menyalakan kembali batang rokok untuk yang kedua.
Bagaimana papa membiarkan Sasmaya pergi ke Belanda. Sementara ... aarrgh, decaknya mengacak-acak rambutnya. Apa papa sengaja melakukan ini? Tiba-tiba asap rokok membuatnya tersedak. Ia terbatuk-batuk.
Lekas membuka penutup kloset. Melempar puntung rokok di sana. Lalu menutupnya kembali. Menekan tombol flush.
Langkahnya tergesa menuju lobi.
...***...
Bersepeda ternyata melelahkan. Namun sekaligus menyenangkan. Tidur siangnya selama 30 menit terasa pulas. Istirahat siangnya berkualitas.
“Ah ...,” erangnya sambil meringis. Bertepatan dengan suara bel rumah yang berbunyi.
Ia berusaha berjalan. Tertatih. Berpegangan dinding ke dinding seraya menahan nyeri yang berpusat di betis.
“Aw ... aw,” ringisnya. Menuruni anak tangga dengan susah payah. Sementara suara bel terus berbunyi.
Dengan berdiri satu kaki ia membuka pintu.
“Kamu?”
“Kamu kenapa?”
Ia dan Gama sama-sama menatap heran.
“Aw,” rintihnya manakala laki-laki itu mendorongnya untuk mundur perlahan. Sehingga ia terpaksa menapakkan kaki keduanya.
“Sas,” Gama melihat tungkainya. Lantas beralih menatapnya.
“Betisku sakit.”
Laki-laki itu berdecak. Memapahnya duduk di sofa. Menyentuh kakinya yang mengenakan celana day short yang panjangnya hanya mampu menutupi setengah paha.
“Aw,” ringisnya lagi. Saat laki-laki itu menyentuh tepat di betis sebelah kanan.
Gama mengangkat kakinya. Menumpangkan di atas pangkuannya. Agar posisinya lebih tinggi.
Ia mengambil bantal sofa dan meletakkan di atas paha.
“Tahan sebentar.”
Ia mengangguk.
Laki-laki itu melakukan pemijatan ringan dan lembut di sekitar area kakinya yang mengalami kram. Sesekali ia meringis menahan nyeri.
“Bagaimana kamu mau ke Belanda jika tidak terbiasa naik sepeda.”
“Ada taksi,” balasnya.
Gama menggeleng. Meletakkan perlahan kakinya di sofa. Lantas berdiri. Menuju dapur. “Betis kamu harus dikompres,” ujarnya.
Sasmaya tidak tahu apa yang dilakukan Gama di dapur. Tetapi saat kembali, laki-laki itu membawa kain handuk dan semangkok potongan es batu. Kembali meletakkan kakinya di pangkuan Gama.
Laki-laki itu membungkus es batu dengan handuk. Lalu menempelkannya pada area kakinya yang nyeri.
“Kamu bisa mengundurkan keberangkatan ke Belanda. Atau cukup Pak Weka saja yang mewakili,” tukas Gama. Seraya terus mengompres kakinya.
Ia menggeleng. “Aku gak profesional dong,” tangkasnya. Lagian ... ini cuma kram otot. Beberapa jam lagi juga pasti sembuh.
Gama menyergah, “Tapi kaki kamu sakit.”
“Cuma kram. Sebentar lagi juga sembuh,” elaknya. Memang betul, sekarang ia merasakan kakinya lebih baik.
Gama menghentikan pengompresan. Menatapnya sejenak. Dalam hitungan detik 2 pasang mata itu saling mengunci. Sasmaya jadi salah tingkah.
Laki-laki itu mengambil ponsel dalam sakunya. Menelepon adiknya.
“Fan, tolong cancel keberangkatan Sasmaya. Pak Weka cukup untuk mewakili GPP.”
“Hard to say, I’m sorry ... Pak Weka yang cancel. Karena baru saja Pak Weka memberitahu kalau istrinya masuk rumah sakit. Terpaksa Sasmaya yang berangkat sendiri.”
Kelopak mata Gama mengatup. Mendesakkan napas kasar.
Ia tahu ada sesuatu. Meraih tangan kanan Gama. Mengusapnya pelan, “Jangan khawatir. Aku bisa.” Please ...mohonnya tanpa suara dengan senyum dan wajah menggemaskan.
Siapa yang tak luluh dengan raut wajah wanita yang seperti itu. Gama menyimpan ponsel di sebelahnya. Mengusap kepala Sasmaya dengan tangan lainnya. “Notice me!”
Hening. Ia menatap Gama. Kini tangannya digenggam laki-laki itu.
“Kalau kamu mengalami kesulitan, langsung telepon aku. Di mana pun, kapan pun, sekecil apa pun masalahnya. Aku akan menyuruh temanku yang masih bekerja di hotel Jakarta-Amsterdam untuk membantu kamu selama di sana. Setidaknya sebelum aku datang,” tutur Gama.
“Ka-kamu mau menyusul ke sana?” Keningnya berkerut. Sebegitu khawatirkah Gama terhadap dirinya. Hingga harus menyuruh orang untuk membantunya. Dan laki-laki itu bahkan mau menyusulnya.
Gama mengangguk. “Akan aku usahakan.”
Pipinya terangkat akibat tarikan sudut bibirnya. Ada desiran yang membuncah menyelusup ke dalam hatinya.
Malam itu mereka menghabiskan sepertiga di awal malam. Masak bersama dilanjutkan dengan makan malam. Gama sangat lihai melakukan pekerjaan yang identik dengan kaum ‘hawa’ itu.
Sepiring stew dan patatje oorlog makanan khas Belanda tersaji di hadapannya. Stew terbuat dari daging sapi, kentang, sosis, sayuran wortel, saus dan taburan parsley. Sementara patatje oorlog terbuat dari kentang goreng yang diberi toping tortila chips, saus mayones, saus tomat dan parsley.
“Enak. Sangat enak,” pujinya sambil menunjukkan ibu jarinya. Bertambah nilai poin untuk calon suaminya tersebut. Ia jadi tahu, bahwa Gama selain pintar berbisnis ternyata juga pintar di dapur.