
...47. Terganggu Zona Waktu...
Sasmaya ketiduran sambil memeluk kartu ucapan. Terbangun kala dering teleponnya yang memekik. Nama mama terlihat di layar yang berpendar.
“Ya, Ma,” sahutnya dengan suara berat dan sengau.
“Astaga, Sas. Kamu lupa sama Mama. Sampai-sampai pesan Mama gak dibalas.” Ranti mengomel. Kesal. Pasalnya anak tunggalnya tersebut belum mengabarkan kondisinya. Sementara ia ketar-ketir menanti setiap waktu. Bahkan pesan yang dikirimkan itu beruntun hingga 7 jumlahnya. Tak satu pun yang dibalas.
Ia menguap. Memegangi kepalanya yang sedikit berat. “Maaf, Ma. Sas capek banget sampai lupa. Mama gak tidur?” tanyanya.
“Sas, ini sudah pagi jam 9. Mama mau ke toko.”
Hah. Ia terkujut bukan main. Bagaimana ia bisa terlambat bangun. Sedangkan ia harus pergi ke perusahaan Holland pukul 9 pagi. Ia terlonjak. Melempar ponsel begitu saja. Menyikap selimut. Sempoyongan menuju toilet.
“Sas! Sas ... Sasmaya!” Teriakan panggilan Ranti di telepon tenggelam oleh selimut yang menutupi.
Ya Tuhan. Ia menatap dirinya di depan cermin. Demi apa pun wajahnya lusuh dengan rambut ala gelombang laut pasang. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Mengusir kantuk dan sedikit peningnya.
Menyambar sikat gigi. Mengoles pasta gigi di atasnya. Tidak perlu mandi yang penting ia terlihat rapi, segar dan wangi. Bukankah menurut cerita-cerita yang didengarnya, bangsa Eropa jarang mandi? Ups, karena mungkin mereka tinggal di negara 4 musim. Sementara di Indonesia, duduk saja keringat bisa menetes seperti aliran kali Ciliwung hehe ....
Ia membasahi handuk kecil. Mengelap wajah, telinga, leher, ketek, dan terakhir dadanya.” Kembali seperti bayi,” gumamnya sambil terkekeh geli. Jangan dilupakan bagian vital lain yang perlu juga dijaga kebersihannya. Terutama setelah buang air kecil.
Tidak boleh berlama-lama. Ia lekas mengakhiri. Sebab Dirk pasti sudah menunggunya di lobi. Kopernya yang masih berdiri di sudut lemari membuatnya menghela napas panjang. Ia terpaksa menyeretnya ke dekat ranjang.
Hari pertama ia memilih celana panjang dengan kemeja putih berbalut vest. Gaya rambutnya cukup di ikat samping.
Begitu pandangannya beralih menatap jendela yang tersibak gordennya. Pemandangan di luar masih gelap gulita. Mengapa jam 9 pagi tapi di luar tampak kelam. Ia baru tersadar ....
Ya ampun ... ia menepuk keningnya.
Menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas kasur. Perbedaan zona waktu membuatnya linglung. Ia mencari-cari ponselnya. Guna melihat jam. Di sana menunjukkan pukul 4 pagi waktu Amsterdam.
...***...
Nyatanya saat ponselnya kembali memekikkan telinga tanda alarm yang sengaja disetelnya pukul 07.00 pagi. Ia kembali dibuat terkejut. Langit Amsterdam masih kelam. Hanya sedikit semburat cahaya kekuningan bersulur di cakrawala.
Matahari bahkan masih malu-malu untuk menampakkan batang hidungnya.
Tak mau terkecoh dengan perbedaan waktu. Sasmaya memilih bangun dari tidur. Membereskan perlengkapannya. Membersihkan badan. Kali ini ia benar-benar mandi. Lalu mengirimkan pesan pada mama: Sas, baik-baik saja, Ma. Hari ini dan 2 hari ke depan masih di Amsterdam. Miss u. Love u.
Kemudian menulis pesan pada Gama: Thank you ... I loved it 🥰. Disertai foto buket bunga yang telah diterimanya. Lantas kembali mengirimkan pesan.
Sasmaya : Have a nice day ...
Dirk terlihat menunggunya di lobi. Ia bergegas menghampiri.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Dirk.
Ia mengangguk. “Kamu sendiri?”
Dirk menjawab sambil bangkit dari kursi, “Secangkir kopi dan sepotong roti.”
Langkahnya mengikuti Dirk keluar dari lobi. “Tunggulah di sini. Aku harus mengambil mobil di area parkir.”
Benar yang diucapkan Gama. Bahwa perjalanan dari hotel tempatnya menginap ke perusahaan penerbit Holland tidaklah jauh. Masih di kawasan pusat kota. Bisa ditempuh dengan berkendara mobil selama sekitar 12 menit.
Tiba di sana ia langsung disambut dua orang pria. Dengan satu orang adalah pihak perwakilan yang pernah datang ke GPP waktu itu. Bernama Dennis.
Ia meminta Dirk untuk meninggalkannya. Sebab belum tahu seberapa lama ia akan berada di kantor Holland.
Dirk menyepakati. Memberi kode telepon di jemarinya seraya menerbitkan senyuman. Lalu pergi.
Ini hanya bermodal kepercayaan diri. Tanpa Pak Weka maupun penerjemah di sisinya. Ia harus menghadapi Holland Publisher sendiri.
Kesan pertama tentang kantor penerbit tertua di Amsterdam tersebut unik dengan unsur klasik sangat kental. Ditambah aksen batu bata ekspose di hampir semua bangunan sehingga sulit membedakan mana bangunan kantor, pertokoan maupun hunian. Sebab hampir semua bangunan sama. Baik bentuk dan warnanya.
Dennis selaku manager Holland Publisher mengajaknya untuk berkenalan dengan pemilik Holland Publisher Group. Yang kebetulan telah hadir di ruang meeting.
“Sasmaya,” sapanya dahulu sambil tersenyum ramah.
“Elena,” sahut wanita yang juga ramah menyambutnya dengan mengulurkan tangan. “Thank you for coming,” sambungnya. Mempersilakannya untuk duduk.
Dennis sigap menggeret kursi untuknya.
Inilah generasi ke-4 yang memimpin HPG sekarang. Anak dari Hubert van Basten. Seperti cerita Pak Sofyan.
Elena begitu energik. Bersemangat menceritakan tentang Holland Publisher yang dipimpinnya. Ada 2 cabang HPG di Netherlands. Satu yang sekarang ini dikunjunginya. Hanya berfungsi sebagai kantor. Sementara pabrik percetakannya telah lama pindah di lokasi yang baru. Kemudian cabang lainnya berada di Den Haag.
Holland Publisher Group juga punya cabang di Frankfurt-Jerman.
Ia manggut-manggut ketika Elena masih bercerita tentang HPG. Wanita cantik itu bahkan selalu tersenyum ramah. Memberikan kesempatan untuknya bertanya.
Hampir 1 jam pertemuan di ruang meeting itu akhirnya usai. Ia diajak Dennis untuk berkeliling kantor HPG. Pria jangkung berkacamata tersebut menjelaskan departemen apa saja yang ada di Holland Publisher.
“Sasmaya,” Elena memanggilnya. Saat wanita itu tengah melewatinya.
Ia dan Dennis yang sedang mendengarkan penjelasan kepala divisi penyuntingan menoleh pada wanita tersebut.
“Bagaimana kalau kita koffie drinken?”
“Dinner,” jelas Dennis. Bahasa Elena yang terkadang mencampurkan antara bahasa Inggris dan Belanda membuatnya harus menerka-nerka.
“Ya ... dinner,” ralat Elena.
...***...
“Hai,” sapa Elena yang baru datang. Mencium pipinya hingga tiga kali.
Ia tersenyum. Mengiyakan ajakan Elena untuk makan malam di sebuah kafe tepi kanal.
Meskipun masih tergolong sore, sebab matahari masih terik menerangi. Namun makan malam bagi orang Belanda adalah sekitar pukul 5-7 sore.
Seorang pelayan datang membawakan 2 piring stamppot. Hidangan khas Belanda yang terbuat dari mashed potatoes dan beberapa campuran sayuran dan daging.
“Kamu pasti shock dengan perbedaan waktu antara Indonesia dan Netherlands,” tebak Elena. “Bahkan kami makan malam di sore hari,” kekehnya. Menertawakan diri sendiri.
Ia mendengarkan Elena bercerita. Sambil menyantap makanannya.
“Itu semua karena budaya dari nenek moyang kami,” imbuh Elena. “Well ... aku rasa tidak ada salahnya. Karena harus ada jeda antara makan malam dengan tidur.”
Ini bisa ditiru. Apalagi bagi orang-orang yang menjalankan diet. Masalahnya makan malam di saat matahari masih gagah menerangi tidak afdal jika disebut makan malam.
Cocoknya apa? Mungkin makan sore ... makan senja, makan jelang malam atau makan ketiga?
“32.”
“Wow. Still young. Kamu sudah menjadi seorang manager publikasi,” puji wanita berambut pirang tersebut.
“Thank you,” balasnya.
“Ik pernah ke Indonesia.”
Spontan ia berkata, “O, ya?”
“Ja.” Sorot mata Elena berbinar, sudut bibirnya tertarik meski samar.
“Ke mana? Bali?” Entah kenapa nama Bali bisa lebih terkenal dari Indonesia sendiri.
“Nee.”
Keningnya berkerut. Biasanya orang mancanegara suka pelesir ke Bali. Bahkan menjadi destinasi utama. Kayaknya agak aneh jika Elena tidak pergi ke sana.
“Jakarta. Saya ke Jakarta,” tukas Elena.
Ia manggut-manggut. Mungkin saja Elena ada pekerjaan di sana. Tidak sempat pelesiran ke Bali.
Obrolan terjeda. Pelayan datang membawa hidangan kedua.
Elena menyilakan untuk menyantap hidangan yang baru saja disajikan di atas meja.
“Ini namanya kibbeling. Dari ikan goreng,” terang Elena.
Ia mencicip satu potong. “Lekker,” ujarnya.
Wanita berambut pirang itu tersenyum. “Sayangnya saya ke Jakarta cuma 5 hari.”
“Tidak sempat ke Bali?”
“Nee. Hanya menemani pacar.” Elena mengangkat bahu. “Kebetulan dia orang Indo.”
“O, ya.” Keterkejutan berikutnya. Tak menyangka. Elena punya pacar orang Indonesia. “Bagaimana sekarang?”
Elena tersenyum. Biarpun senyum yang terlihat dipaksakan.
“Dia memilih Indonesia.”
Maksudnya? Dia pulang ke negaranya? Tidak akan lagi kembali.
“Hubungan kami sudah lama putus. Dia memilih Indonesia.”
Tunggu-tunggu. Sepertinya Elena masih mencintai pacarnya. Itu bisa dibacanya dari gestur yang diperlihatkan.
“Eum ... sorry,” ucapnya ikut prihatin.
“Tak apa. Bagaimana dengan kamu?”
“Aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang.”
“Wow. Saya ikut senang mendengarnya.”
“Thank you.”
Manakala hidangan ketiga sebagai penutup telah habis. Dan waktu telah berganti malam. Ia dan Elena memutuskan pulang.
Dengan taksi Elena memaksa untuk mengantarkannya sampai hotel. Ia bahkan sampai harus mencegah Dirk yang terus memaksa menjemputnya.
“Aku dengar hotel Jakarta salah satu pemiliknya adalah Holland Publisher?” Ia duduk di belakang bersama Elena.
“Kamu tahu?” justru Elena bertanya balik.
Ia mengangguk.
“Entah apa alasan mereka menjual sahamnya. Tapi keputusan itu mengagetkan kami semua.”
Ini juga yang masih menjadi teka-teki buatnya. Saham Zoon di Belanda dijual. Gama pulang ke Indonesia. Holland lah yang membeli saham tersebut. Lalu kini Holland dan GPP bekerja sama. Seperti ada kesepakatan-kesepakatan antara pemilik Holland dan Pak Sofyan.
Taksi tiba di depan lobi hotel. Elena membuka pintu, turun terlebih dahulu. Ia turun setelahnya.
“Thank you,” ucapnya.
Dengan masih memegangi pintu mobil, Elena berucap, “Dia pulang ke Indo bersamaan dengan hotel ini beralih tangan.” Elena memutar tubuhnya. Masuk ke dalam mobil. “Bye, Sas. Nice to meet you ....” Melambaikan tangan. Menutup pintu.
Ia memaku. Menatap laju taksi yang membawa Elena perlahan berlalu.