BLIND DATE

BLIND DATE
extra part 2



Eddy berjalan dengan takut-takut.


”i.. iya pak.. maafkan saya.., karena telah bertindak jahat kepada istri bapak. Saya sungguh sangat menyesal."


Ray yang melihat Eddy dengan penuh penyesalan, melirik kearah istrinya dan berkata "aku dengar kamu baru di PHK ya, jika kamu ada waktu besok datang bawa lamaranmu dan temui aku di perusahaan Glory Company."


Eddy yang mendengar hal itu lalu menggenggam tangan Ray, dan berterima kasih sekali. "Terima kasih pak.. terima kasih.."


Istri Eddy yang duduk di sebelah aera memandang Aera dengan mata berkaca-kaca. Sebelum berkata dia melihat darah mengalir dari pangkal paha Aera. ”nona, nona.. anda akan melahirkan. Keluar darah.." kata istri Eddy dengan panik.


Seketika Ray dan semua yang ada diruangan melihat ke arah Aera. Ray terlihat sangat panik. Aera hanya terdiam, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Ray lalu menyuruh Yuri untuk membawa mobil, Ray menggendong Aera dengan buru-buru. Sebelum Yuri mengambil kunci, Eddy lalu dengan sigap membuka pintu mobil dan meminta Yuri agar dia yang membawa mobil.


"Nona, biar saya yang bawa mobil kerumah sakit."


Ray lalu mendudukkan Aera di kursi belakang, dia duduk disebelahnya. Eddy segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.


Ray dengan panik menenangkan Aera, "sayang tenang ya. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit."


"Iya kak, perut Aera sangat mules." Kata Aera dengan sangat manja. Aera jika di depan Ray menjadi seseorang yang terlihat lemah dan tidak berdaya.


Yuri menyusul menggunakan mobil yang tadi dia gunakan bersama Aera, tidak lupa dia mengabari mamanya.


"Mama, kak Aera mau lahiran. Cepat sekarang kerumah sakit kasih bunda."


Mama ivana yang sedang arisan, terkejut dengan panggilan dari Yuri, dia lalu mengangkat ponselnya, tumben Yuri menelpon. "Apa, mama segera kesana."


Mama ivana lalu pamit kepada teman-teman arisannya "jeng, saya pamit dulu ya, ini istri ray sudah mau lahiran."


"Wah, jeng ivana, selamat ya sudah mau jadi nenek.. nenek gaul.”


"Selamat ya jeng.."


Ucapan selamat terdengar oleh mama ivana, kemudian dia pamit kepada teman-teman arisannya, mama ivana menghubungi papa Ray, dan juga besannya, papa Andrew dan mama Mia.


Mama Mia yang mendengar kabar itu berkata "hah, beneran mama Ray. Oke saya akan menghubungi papa Aera dan menyusul kerumah sakit."


Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit kasih bunda. Mereka lalu sampai di UGD. Setelah sampai di UGD ternyata Aera sudah mengalami bukaan delapan. Dia lalu segera di bawa keruang untuk melahirkan,


Ray selalu setia mendampingi istrinya. Dia selalu menggenggam tangan istrinya. Dia takut jika ada apa-apa kepada istrinya.


Bahkan sampai istrinya dibawa ke ruang untuk melahirkan Ray selalu ada disampingnya.


"Apakah anda suaminya?" Tanya bidan.


"Iya, saya suaminya. Bolehkah saya masuk mendampingi istri saya?"


Tanya Ray.


"Boleh tuan, tapi anda harus mengisi administrasi terlebih dahulu." Kata bidan lagi.


Ray melirik ke arah Yuri yang baru tiba. Dia lalu memberikannya semua kartu keluarga, KTP dia dan Aera. Agar bisa di isi yuri.


Yuri mengangguk, lalu bertanya "dimana ruang administrasi untuk pendaftaran?"


"Disana mbak." Kata bidan tersebut


Yuri yang sedang berjalan, tanpa sengaja bertemu lagi dengan Steven. Tapi mereka berpapasan, Steven mengingat Yuri,tapi Yuri tidak mengenalnya.


Yuri mengabaikan kata-kata Steven, sambil terus berjalan saja menuju ruang administrasi.


Dia lalu duduk dan meminta kepada petugas formulir untuk melahirkan. Petugas memberikan kepada Yuri. Steven yang merasa di abaikan melihat Yuri sedang menulis formulir pendaftaran, menunggu gadis itu selesai.


Setelah selesai, Yuri kembali keruang kebidanan untuk menemui kakaknya dan Aera.


Tapi belum sampai di ruang kebidanan, tangannya di tahan oleh seorang pria.


"Maaf anda siapa ya? Kenapa menarik tangan saya." Tanya Yuri dengan wajah judes.


"Apakah kamu lupa? Tadi kamu yang tabrak saya waktu di mall tadi. Kamu meminta maaf pun tidak." Kata Steven yang heran gadis di depannya tampak tidak tertarik dengannya.


Yuri yang merasa langkahnya terhambat, dengan kesal berkata. "Oh jadi anda mengikuti saya, untuk mendengar permintaan maaf dari saya? Oke kalau begitu. Maaf.. saya sedang buru-buru."


Yuri segera meninggalkan Steven lagi.


Steven yang merasa seperti pria bodoh, lalu segera menelpon asistennya. "Apa kamu sudah dapat informasi tentang gadis tadi?"


Asistennya yang sedang mencari informasi berkata "siap bos, ini sedang di selidiki. Sekarang gadis itu sedang ada di rumah sakit kasih bunda. Karena kakak iparnya akan melahirkan. tapi saya heran, kok bos bisa ada di sana? Apa bos menguntit gadis itu ya,?"


Steven yang mendengar kata-kata asistennya, lalu memijat pelipisnya. "Aku tidak menguntit, tapi tidak sengaja bertemu di sini. Kamu tau kan bibiku juga melahirkan di sini. Jadi aku datang untuk menjenguk ya."


"Oh, jadi maksud bos, gadis itu dan bos berjodoh gitu. Duh so sweet banget. Ya sudah ya bos, saya masih menyelidiki.bos jangan telpon dulu ya."


Belum selesai Steven menjawab, asistennya sudah mematikan ponselnya.


"Dosa apa aku punya asisten seperti ini," Steven berkata sendiri, lalu pergi ke kamar tempat bibinya di rawat.


Saat yang sama, Ray menemani Aera melahirkan. Dia menemami setiap perjuangan yang di lakukan oleh Aera, sangat terlihat betapa Ray sangat mencintai istrinya.


Setengah jam kemudian setelah perjuangan aera, terdengar bunyi tangisan bayi yang sangat nyaring. Keluarga yang menunggu di depan merasa lega dan mengucap syukur. Mama ivana dan Mia saling berperlukan. Papa Andre dan richard juga saling berpelukan, mereka sama-sama berkata selamat sudah menjadi kakek dan nenek.


begitupun dengan Eddy dan istri yang menyusul ke rumah sakit.


Aera telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.


"Selamat ya pak, anak anda laki-laki. Dia sangat tampan seperti ayahnya." Kata bidan tersebut.


Ray berada di samping Aera, sambil bidan menggendong bayi melihatkan bayi mereka kepada Aera.


Aera menangis karena bahagia. Begitupun dengan Ray. Ray tidak hentinya mengucap syukur. Dia tidak hentinya mencium wajah istrinya. Putranya dibawa oleh bidan di ruang anak.


keluarga yang menunggu di luar melihat bayi yang di pegang oleh bidan. "apakah ini bayi dari Aera?" kata mama Mia kepada bidan.


"benar Bu, permisi saya akan bawa bayi ini keruang anak dulu." kata bidan dengan sopan.


Sebelum bidan berlalu, Yuri sempat-sempatnya mengambil gambar bayi itu. "wah ponakan aunty tampan sekali."


sedang asyiknya melihat gambar, lagi-lagi Yuri menabrak seseorang. tidak lain tidak bukan adalah Steven.


ini visual Steven ya teman-teman



happy reading all ❤️❤️❤️❤️