
"Kenapa muka lo?"
"Kenapa apanya?" tanya Arin balik tanpa mengalihkan tatapan pada ponselnya. "Dia kok ngga nyariin gue sih?" Gerutunya.
Risda mendengus pelan. "Ooh jadi gara-gara doi toh, muka lo kusut begitu. Tapi kayaknya dari siang tadi deh tu maka begitu." Risda ikut membaringkan tubuhnya di samping Arin.
Sekarang sudah pukul tujuh dan Arin masih berada di rumah Risda. Ia sudah berada di sana sejak siang tadi.
"Biasanya juga dia nyariin gue. Kok sekarang ngga sih? Apa dia belum pulang ya?"
"Biasanya juga lo ngga perduli dia nyariin lo atau ngga." Balas Risda.
"Gue numpang tidur dirumah lo ya?"
"Dari tadi juga lo udah numpang tidur dirumah gue kali." Cibir Risda.
Arin tertawa pelan. Ia lupa kalau dari tadi ia hanya tidur saat disini. Lama mereka terdiam, asik dengan ponsel masing-masing. Risda sibuk stalking, begitu juga dengan Arin.
"Kuota gue abis, monyet." Umpat Arin tiba-tiba. Ia langsung bangun dari tidurannya dan menghela nafas berat. Lalu kembali menjatuhkan badannya ketempat tidur.
"Lo ngga ada niat buat hapusin foto-foto di ig lo ya?"
Arin merubah posisinya menjadi miring menghadap Risda. "Foto apa yang perlu dihapus?" Tanyanya dengan sebelah alis terangkat.
Risda menghela nafas berat mendengar jawaban Arin. Ia tau Arin tak sepolos itu sampai tidak tahu foto-foto mana yang ia maksud. "Lo udah nikah kali sama kakaknya, masa foto sama adek merangkap mantan masih lo simpen sih."
"Biarin kali, buat kenang-kenangan. Kalo semuanya gue hapus nanti kalo gue kangen gimana?"
"Jangan bilang kalo lo-" ucapan Risda terpotong karena suara pintu diketuk menginterupsi.
"Non, makan malamnya sudah siap." Kata seseorang di luar pintu.
"Iya, Mbak." Sahut Risda sedikit berteriak, lagi-lagi menghela nafas.
Arin beranjak dari atas tempat 8 dengan wajah berbinar. "Ayo makan! Udah lapar nih dari tadi," katanya dengan kekehan kecik dan mengelus perut.
Arin menutup kedua matanya lalu menempelkan bongkahan kecil es batu dikedua matanya. Ia sudah melakukan hal itu beberapa kali dua jam terakhir. Hal itu ia lakukan agar rasa kantuk yang menyerangnya segera pergi. Entah dari mana ajaran itu ia dapatkan.
Setelah dirasa cukup, Arin meletakkan kembali es batu itu ditempatnya. Ditatapnya dalam-dalam ponselnya yang tergeletak didekat kakinya yang menyilang. Panggilan atau notifikasi dari seseorang yang ia tunggu sejak tadi tidak muncul-muncul.
Arin menghela nafasnya kesal. Sudah lima jam tepatnya ia benar-benar menunggu dan sekarang ia benar-benar mengantuk karena waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat delapan dini hari. Arin mendorong ponselnya kuat-kuat dengan asal. Bisa ia dengar bunyi ponselnya yang entah terbentur apa.
Pria itu benar-benar marah ternyata. Pikir Arin. Tapi karena apa? Astaga! Ia juga tidak hanis pikir mengapa otaknya mendadak lambat sehingga ia tidak bisa menerka alasan Kenzi marah padanya yang mungkin saja alasannya sangat jelas. Terlalu keras berpikir tanpa sadar ia jatuh tertidur diatas karpet ditengah ruangan kamar Risda, tanpa bantal tanpa selimut.
Sementara itu di sisi lain, tampak Kenzi baru saja memasuki rumahnya yang lagi-lagi gelap gulita. Ia berjalan memasuki kamarnya dengan mata setengah tertutup. Untung saja ia sudah hapal arah mana saja yang harus ia lewati agar dapat masuk ke dalam kamarnya tanpa menabrak apapun walau dalam keadaan mata tertutup.
Begitu sampai dalam kamar, ia mendekati tempat tidur sambil membuka pakaiannya satu persatu dan dibiarkannya tergelatak berantakan diatas lantai. Bahkan yang terkena kakinya, ia tendang kesembarang arah.
Kenzi membanting tubuhnya ketempat tidur juga dengan asal dan mata masih tertutup. Dalam kepalanya hanya ingin istirahat, berharap beban pikiran yang memenuhi kepalanya sejak pagi tadi segera pergi. Pada detik-detik terakhir ketika nyawanya mulai menyelip kealam mimpi, ia sadar bahwa wanita muda yang sudah menjadi istrinya itu tak ada didalam kamar mereka.
***
Arin berjalan pelan di jalan kompleks perumahan rumah Kenzi -asal tahu saja Arin belum berani menyebut rumah Kenzi sebagai rumahnya. Sekitar lima belas meter lagi ia akan sampai. Berjalan kaki di tengah teriknya panas matahari membuatnya semakin merasa lelah dan haus.
Begitu sampai di depan rumah, Arin harus menahan kesal melihat mobil Kenzi yang bertengger manis ditempatnya. Kenzi ada dirumah tapi tidak sekalipun mencari atau menghubunginya. Hal itu membuatnya panas dingin sendiri.
Sedikit tergesa ia memasuki rumah dan berjalan kekamar mereka. Cuaca yang panas dan suasana hati yang juga tak kalah panas membuatnya semakin gerah. Ia membuka pintu kamar dengan keras dan tak sabar sampai daun pintu berwarna coklat itu berdentum didinding.
Langkah Arin langsung terhenti melihat sasuatu didepannya. Ia syok melihat pakaian Kenzi yang berhamburan dilantai. Lalu pandangan matanya beralih keatas ranjang di mana Kenzi sedang menatapnya datar. Tubuh Kenzi yang tertutup selimut
sebagian tengah menindih seseorang yang Arin yakini adalah seorang wanita.
Arin mengerjabkan matanya. "Hahaha -tawanya terdengar hambar- maaf ganggu." Katanya dengan suara bergetar samar. Tak ingin berlama-lama 'menganggu' kegiatan mereka, Arin bergegas pergi. Ia sempat melihat wanita yang berada dalam kungkungan Kenzi berusaha melepaskan diri dari Kenzi dan Kenzi yang masih menatapnya datar dan nyaris tajam.
Arin menatap kosong kedepan. Tak dihiraukannya matahari yang sedang menyorot diatas kepalanya. Bahkan orang gila yang yang berada tepat di depannya dan beberapa siswa siswi yang baru pulang sekolah berteriak histeris karena ada orang gila tak juga ia hiraukan.
Sampai beberapa saat setelah orang gila dan anak-anak itu pergi, seorang gadis kecil berambut pendek sebahu mendekat pada Arin.
Arin yang sadar akan kehadiran gadis itu tak memberi reaksi apa-apa. Ngga usah ganggu dek, gue lagi sakit hati. Hanya dalam hati saja ia mengeluarka
protesnya.
Arin menatap kepergian gadis kecil itu. Ia sempat berpikir dari mana anak kecil itu tahu kalau ia tengah sakit hati sedang seingatnya selama ia duduk disana tak sekalipun ia berucap. Tapi setelahnya ia terpikirkan oleh kata-kata anak itu, jangan menyiksa diri, seketika itu Arin tersadar kalau ia sedang menjemur tubuhnya sendiri ditengah panasnya matahari.
"Kok gue jadi oon gini sih." Gerutunya lalu beranjak pergi. Ia berjalan ke arah rumahnya. "Serah deh apa yang mereka buat. Serah." Ucapnya tanpa sadar dengan nada marah.
Arin menghela nafas dulu sebelum masuk kedalam rumah. Terdengar suara-suara tengah mengobrol. Dan Arin mengenali suara itu. Sangat mengenalinya.
"Kak Iyaaannn." Teriak Arin berlari mendekati Ryan. Dipeluknya erat-erat tubuh Ryan tanpa sungkan. Perasaannya langsung kembali baik begitu melihat Ryan dengan senyum khasnya.
Ryan yang terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Arin berupa pelukan, membuat tubuhnya menegang sesaat. Ini kali pertama ia dan Arin berpelukan. Ryan menatap Kenzi tak enak tapi yang ditatap malah seakan tidak perduli.
Ryan melepaskan pelukan Arin. "Kamu dari mana saja?"
"Kak Iyan yang dari mana aja?" Sungut Arin. Ia mencebik karena Ryan tak menjawab dan malah membalas tatapan wanita yang bersama Kenzi tadi. Arin berusaha mengabaikan sikap tidak acuh Kenzi dan tatapan tak suka dari wanita itu.
Arin menyandarkan kepalanya dibahu Ryan membuat sang empunya menghela nafas. Ryan menjauhkan kepala Arin dari tubuhnya dan menjaga jarak membuat Arin mencebik tak suka.
Suasana yang canggung bahkan nyaris tegas membuat Arin tak nyaman. Tak tahan, ia berdiri dan berniat pergi tapi sebuah suara menginterupsinya.
"Arin," panggil wanita itu membuat Arin tak jadi melangkah.
"Lo manggil gue?" Balas Arin tak sopan. Perduli apa dia lebih tua. Batinnya kesal.
"Arin!" ucap Kenzi keras, tak ketinggalan dengan tatapan tajamnya merujuk pada Arin. "Bersikap sopan pada-"
"Zevana," potong wanita itu. Ia menyodorkan tangannya pada Arin.
Arin mendengus, tatapannya tetap pada Kenzi. "Pacar lo." Katanya lalu berbalik hendak pergi.
Wanita yang mengaku bernama Zevana terkekeh melihat sikap Arin. "Kamu cemburu?"
"Mimpi," balasnya ketus tanpa menoleh.
"Oh ya?" Pancing Zevana. "Tapi dijidat kamu ada tulisan sedang cemburu tuh."
Entah Arin memang bodoh atau bagaimana, ia memeriksa dahinya yang sebenarnya tidak ada apa-apa. "Serah apa kata lo." Ucapnya kesal lalu pergi
"Arin!" Lagi-lagi suara Kenzi seakan membentak Arin. Kenzi hendak menyusul tapi ditahan oleh Zevana.
Ryan yang sedari tadi diam hanya menggelengkan kepala. Dan sebagai gantinya Zevana yang mencegat Arin agar kembali duduk bersama mereka.
Zevana menangkap pergelangan tangan Arin. "Duduk dulu ya?" Bujuk Zevana lembut. Sekali lagi ia terkekeh melihat ekspresi Arin yang terkesan membencinya.
"Dengar! Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu kira." Arin mendengus mendengan suara lembut Zevana. Dan hal itu sukses membuat Zevana tak bisa menyembunyikan senyum gelinya. "Kami bertiga ini, adik kakak."
"Kayak gue mau percaya aja." Celetuk Arin asal.
"Kamu memang harus percaya, Rin." Sahut Ryan yang sedari tadi diam.
"Oh ya? Biar kalian bisa bebas mesra-mesraan?" Kalimatnya merujuk pada Kenzi dan Zevana.
Kenzi hanya menaikkan sebelah alisnya sedang Zevana sudah kembali terkekeh.
"Kamu cemburu."
"Ngga!" Arin menatap Zevana tajam.
"Okee.. denger, ini serius ngga pake bohong. Dan kejadian tadi itu ngga seperti itu. Aku tadi lagi marah sama kak Ken karena nikah ngga bilang-bilang sama aku dan keluarga besar." Jelas Zevana.
"Terserah! Aku lapar." Kata Arin meninggalkan mereka dan pergi kedapur.
Jika mereka memang jujur, Arin merasa malu sekali. Dan tujuannya pergi kedapur selain memang karena tak tahan dengan suara kodok diperutnya, juga untuk
menutupi rasa malunya.
Tapi satu hal yang Arin tidak habis pikir, mengapa ia mudah sekali mempercayai ucapan mereka yang bahkan belum memperlihatkan bukti.
***