(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
14



Keesokan paginya saat orang-orang


belum keluar dari kamarnya atau bahkan belum bangun, Arin sudah berkutat di


dapur dengan ditemani Bi Muna- salah satu ART dirumah besar itu. Arin


memutuskan mengambil alih tugas yang harusnya dikerjakan oleh Bi Muna. Ia hanya


meminta Bi Muna menunjukkan bumbu-bumbu yang tidak terlihat oleh matanya.


"Biasanya Ibu sendiri yang akan


turun ke dapur menyiapkan makan. Tapi jika habis bepergian jauh seperti kemarin


Ibu mempercayakannya kepada saya." Kata Bi Muna melihat betapa lincahnya


Arin berada didapur seakan sudah terbiasa.


"Berarti hari ini Arin beruntung


ya, Bi?" Arin memindahkan hasil masakannya ke atas meja makan.


Bi Muna ikut membantu. "Beruntung


karena apa, Non?" Tanyanya tak mengerti.


Arin menatap Bi Muna yang juga sedang


menatapnya. "Nanti jangan bilang ke siapa-siapa kalau ini semua Arin yang


masak ya?"


"Kenapa? Dari tampilannya saja


sudah keliatan enak Non, apalagi rasanya."


Arin tertawa pelan. "Soal rasa


sih Arin bisa yakin kalau ini termasuk enak. Hanya saja selama ini ngga ada


yang tau kalau Arin bisa masak."


"Kenapa?" Tanya Bi Muna


lagi.


"Karena-"


Ucapan Arin terhenti saat mendengar


deheman dari arah belakangnya. Arin menoleh dan mendapati ibu mertuanya berdiri


tak jauh dibelakangnya dengan tatapan meremehkan yang ditujukan untuknya.


"Pagi, Ma." Sapa Arin rama


yang hanya dibalas dengan dengusan. Arin berusaha menyemangati dirinya sendiri


dalam hati. "Mama mau minum teh? Arin buatin." Tawarnya.


Hanna melirik sinis. "Memang


bisa?"


"Bisa dong," jawab Arin


semangat. "Mama suka manis, tawar atau sedang?"


"Sedang." Jawab Hanna


singkat dan masih dengan aksen dinginnya.


Arin langsung berjalan ke dapur untuk


membuat teh hangat. Satu cangkir khusus untuk Hanna dan satu teko kecil jika


ada yang juga ingin minum teh. Sekalian juga ia membuat kopi hitam untuk para


pria.


Setelah selesai, Arin langsung


membawanya ke meja makan. Semua orang sudah berkumpul dan hendak memulai


sarapan.


Arin menatap satu persatu wajah yang


sedang memakan hasil masakannya. Pada suapan pertama semua orang berhenti


membuat Arin menelan ludahnya takut. Kalau kalian memiliki pendengaran yang


tajam, kalian pasti bisa mendengar degup jantung Arin yang berdebar kencang. Ia


tak tahu mengapa ia harus segugup ini.


"Bi Muna.." Panggil Hanna


tiba-tiba dengan agak keras. Hal itu membuat Bi Muna yang tengah membereskan


dapur datang tergopoh-gopoh.


"Iya, Bu?" Bi Muna melihat


"Rasanya beda." Ucap semua


orang serentak, minus Arin.


Mendengar itu Arin meringis dalam


hati. Miris. Batinnya.


"Beda, yang ini lebih enak dari


pada biasanya." Kata Zevana sambil kembali memakan makanannya.


"Iya," Ryan ikut menimpali.


"Rasanya mirip masakan Mama."


"Mirip..." Kenzi menggantung


ucapannya sedikit lama.


Sedang Hanna memperhatian mata Bi Muna


yang sedari tadi menatap ke arah Arin.


"Arin?" Ibu dan anak itu


berucap serempak membuat Arin menatap keduanya bergantian.


"Ke..kenapa?"


"Jadi ini semua kamu yang


memasak?" Tebak Kenzi tepat sasaran yang hanya di 'iya'kan dalam hati oleh


Arin.


"Ha..haa siapa bilang?" Arin


menatap Bi Muna meminta bantuan. Sekarang entah mengapa ia engan mengatakan


kejujuran tentang itu.


"Jadi, apa semua yang kamu


suguhkan padaku setiap hari itu buatanmu sendiri? Kenapa kamu tidak pernah


bilang?"


Pertanyaan Kenzi membuat Arin


memberengut tiba-tiba. Bibirnya maju satu sentimeter. "Kak Ken 'kan selalu


ambil kesimpulan sendiri. Semuanya dibilang delivery." Gerutunya.


Hanna dan Dika sedikit takjub dengan perubahan


sikap Arin pagi ini. Awalnya terlihat dewasa, tapi sekarang ia memberengut


persis anak kecil. Jadi tidak salah bukan jika Hanna mengatakan Arin anak


kecil. Karena sikapnya kadang masih seperti anak kecil.


"Sudah, mengobrolnya nanti saja!


Papa sudah lapar."


***


Usai sarapan Arin membereskan bekas


makan mereka dibantu dengan Zevana dan Bi Muna. Sesekali Arin melemparkan


candaan dan membuat mereka tertawa bersama.


Arin tidak tahu kalau gerak geriknya


tidak lepas dari pandangan Hanna. Melihat Zevana yang menjauhi dapur, Hanna


langsung memanggilnya.


"Dih Mama, sekarang nambah


profesi jadi stalker ya?" Ejek Zevana.


Hanna mendelik.


"Sembarangan."


"Nggak sembarangan ya,"


Zevana membalikkan tubuhnya, ikut melihat Arin. "Kemarin Zeva liat ya,


Mama ngintipin Kak Ken sama Arin ditaman belakang. Padahal sebelumnya sok-sok


cuek."


"Ah malas jadinya Mama sama


kamu." Balas Hanna cuek lalu pergi meninggalkan Zevana yang terkikik geli.