
Keesokan paginya saat orang-orang
belum keluar dari kamarnya atau bahkan belum bangun, Arin sudah berkutat di
dapur dengan ditemani Bi Muna- salah satu ART dirumah besar itu. Arin
memutuskan mengambil alih tugas yang harusnya dikerjakan oleh Bi Muna. Ia hanya
meminta Bi Muna menunjukkan bumbu-bumbu yang tidak terlihat oleh matanya.
"Biasanya Ibu sendiri yang akan
turun ke dapur menyiapkan makan. Tapi jika habis bepergian jauh seperti kemarin
Ibu mempercayakannya kepada saya." Kata Bi Muna melihat betapa lincahnya
Arin berada didapur seakan sudah terbiasa.
"Berarti hari ini Arin beruntung
ya, Bi?" Arin memindahkan hasil masakannya ke atas meja makan.
Bi Muna ikut membantu. "Beruntung
karena apa, Non?" Tanyanya tak mengerti.
Arin menatap Bi Muna yang juga sedang
menatapnya. "Nanti jangan bilang ke siapa-siapa kalau ini semua Arin yang
masak ya?"
"Kenapa? Dari tampilannya saja
sudah keliatan enak Non, apalagi rasanya."
Arin tertawa pelan. "Soal rasa
sih Arin bisa yakin kalau ini termasuk enak. Hanya saja selama ini ngga ada
yang tau kalau Arin bisa masak."
"Kenapa?" Tanya Bi Muna
lagi.
"Karena-"
Ucapan Arin terhenti saat mendengar
deheman dari arah belakangnya. Arin menoleh dan mendapati ibu mertuanya berdiri
tak jauh dibelakangnya dengan tatapan meremehkan yang ditujukan untuknya.
"Pagi, Ma." Sapa Arin rama
yang hanya dibalas dengan dengusan. Arin berusaha menyemangati dirinya sendiri
dalam hati. "Mama mau minum teh? Arin buatin." Tawarnya.
Hanna melirik sinis. "Memang
bisa?"
"Bisa dong," jawab Arin
semangat. "Mama suka manis, tawar atau sedang?"
"Sedang." Jawab Hanna
singkat dan masih dengan aksen dinginnya.
Arin langsung berjalan ke dapur untuk
membuat teh hangat. Satu cangkir khusus untuk Hanna dan satu teko kecil jika
ada yang juga ingin minum teh. Sekalian juga ia membuat kopi hitam untuk para
pria.
Setelah selesai, Arin langsung
membawanya ke meja makan. Semua orang sudah berkumpul dan hendak memulai
sarapan.
Arin menatap satu persatu wajah yang
sedang memakan hasil masakannya. Pada suapan pertama semua orang berhenti
membuat Arin menelan ludahnya takut. Kalau kalian memiliki pendengaran yang
tajam, kalian pasti bisa mendengar degup jantung Arin yang berdebar kencang. Ia
tak tahu mengapa ia harus segugup ini.
"Bi Muna.." Panggil Hanna
tiba-tiba dengan agak keras. Hal itu membuat Bi Muna yang tengah membereskan
dapur datang tergopoh-gopoh.
"Iya, Bu?" Bi Muna melihat
"Rasanya beda." Ucap semua
orang serentak, minus Arin.
Mendengar itu Arin meringis dalam
hati. Miris. Batinnya.
"Beda, yang ini lebih enak dari
pada biasanya." Kata Zevana sambil kembali memakan makanannya.
"Iya," Ryan ikut menimpali.
"Rasanya mirip masakan Mama."
"Mirip..." Kenzi menggantung
ucapannya sedikit lama.
Sedang Hanna memperhatian mata Bi Muna
yang sedari tadi menatap ke arah Arin.
"Arin?" Ibu dan anak itu
berucap serempak membuat Arin menatap keduanya bergantian.
"Ke..kenapa?"
"Jadi ini semua kamu yang
memasak?" Tebak Kenzi tepat sasaran yang hanya di 'iya'kan dalam hati oleh
Arin.
"Ha..haa siapa bilang?" Arin
menatap Bi Muna meminta bantuan. Sekarang entah mengapa ia engan mengatakan
kejujuran tentang itu.
"Jadi, apa semua yang kamu
suguhkan padaku setiap hari itu buatanmu sendiri? Kenapa kamu tidak pernah
bilang?"
Pertanyaan Kenzi membuat Arin
memberengut tiba-tiba. Bibirnya maju satu sentimeter. "Kak Ken 'kan selalu
ambil kesimpulan sendiri. Semuanya dibilang delivery." Gerutunya.
Hanna dan Dika sedikit takjub dengan perubahan
sikap Arin pagi ini. Awalnya terlihat dewasa, tapi sekarang ia memberengut
persis anak kecil. Jadi tidak salah bukan jika Hanna mengatakan Arin anak
kecil. Karena sikapnya kadang masih seperti anak kecil.
"Sudah, mengobrolnya nanti saja!
Papa sudah lapar."
***
Usai sarapan Arin membereskan bekas
makan mereka dibantu dengan Zevana dan Bi Muna. Sesekali Arin melemparkan
candaan dan membuat mereka tertawa bersama.
Arin tidak tahu kalau gerak geriknya
tidak lepas dari pandangan Hanna. Melihat Zevana yang menjauhi dapur, Hanna
langsung memanggilnya.
"Dih Mama, sekarang nambah
profesi jadi stalker ya?" Ejek Zevana.
Hanna mendelik.
"Sembarangan."
"Nggak sembarangan ya,"
Zevana membalikkan tubuhnya, ikut melihat Arin. "Kemarin Zeva liat ya,
Mama ngintipin Kak Ken sama Arin ditaman belakang. Padahal sebelumnya sok-sok
cuek."
"Ah malas jadinya Mama sama
kamu." Balas Hanna cuek lalu pergi meninggalkan Zevana yang terkikik geli.