(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
pedekate



“Kak Ken,” panggil Arin begitu mobil Ryan meninggalkan pelantaran rumahnya. Dirapikannya gorden penutup jendela tempatnya mengintip Ryan dan Risda. Harapnya aka nada adegan yang bikin senyum-senyum, tapi ternyata itu hanyalah harapan tak berdasar. Arin berlari menyusul Kenzi yang sudah lebih dulu ke kamar mereka.


“Jangan lari-lari, Arin.” Kenzi duduk di sofa di kamar mereka. Meraih laptop dan membukanya.


Masa bodoh, Arin ikut duduk di samping Kenzi dan malah membicarakan hal lain. “Kak, aku tahu perempuan yang cocok jadi pendamping Ryan,” katanya dengan senyum-senyum.


Sambil mengotak-atik laptopnya, Kenzi merespon, “Siapa?”


“Risda.”


Kenzi mengerutkan kening. “Risda?”


Arin mengangguk antusias.


“Kamu mau menjodohkan mereka?”


Tangan Arin menahan tangan Kenzi yang menggerakkan kursor. Kenzi sedang melihat-lihat kembali desain bangunan gedung yang dibuatnya. Dalam hati Arin berdecak kagum. Keren. “Bukan menjodohkan sih, cuma kayak hmm … mendekatkan?” Arin mengubah posisinya. Kepalanya ia letakan di paha Kenzi menghadap laptop. “Soalnya, Ryan kayaknya naksir Risda.”


“Tahu dari mana?”


“Curiganya sih sudah lama, tapi baru yakin tadi. Nahan senyum banget setiap Risda bicara atau senyum.”


“Hanya seperti itu bagaimana bisa dibilang suka?”


“Ih, pokoknya feelingku seperti itu.”


Kenzi menggeleng-geleng. Ada-ada saja pemikiran istrinya itu.


“Kalaupun dia nggak suka, dijodohkan, didekatkan, kan pasti bisa suka lama-lama.” Arin mengubah posisinya lagi jadi menhadap perut Kenzi. “Besok godain Ryan, ah, pasti dia salah tingkah lagi. Habis itu kasih tahu Papa biar langsung dilamar sekalian.”


“Memangnya Risda masih sendiri?”


Arin diam. Yang ia tahu Risda tak pernah pacaran. Cinta pada seseorang saja hanya saat SMA. Itupun sudah sejak lama Arin tahu kalau Risda sudah move on. Jadi, ia yakin kalau Risda masih sendiri, pun begitu dengan hatinya yang belum mencintai siapa-siapa lagi.


Untuk itu, Arin berniat akan jalan-jalan ke rumah Risda besok. Menyanyakan perihal status Risda pada orang tuanya. “Besok aku tanya ke orang tuanya, deh. Tapi setuju nggak kalau Risda jadi adik iparmu?”


Kenzi mengangguk. “Ryan bukan laki-laki breng*ek dan Risda juga gadis yang baik. Mungkin cocok. Kalau mereka sama-sama suka dan mau, ya tidak apa-apa.”


Arin tersenyum semringah. “Habis itu baru kasih tahu Papa buat ngelamar Risda.”


“Tanya Ryan dulu.”


“Nggak usah. Nanti kamu bilang aja dijodohin sama Risda pasti dia seneng.”


Sementara Kenzi dan Arin membicarakan Ryan dan Risda, yang dibicarakan malah hany diam-diaman selama perjalanan. Hanya suara napas Risda yang kadang terdengar berat. Seperti sedang lelah.


“Lo kenapa?” tanya Ryan akhirnya karena merasa ada yang janggal dengan suara napas Risda.


“Nggak papa.” Risda membuang pandangannya kea rah jendela. Melihat kendaraan dan lampu-lampu dari samping. “Maaf, ya, merepotkan. Padahal lo kayaknya terpaksa.”


“Gue nggak terpaksa kok.”


“Tapi daritadi diam saja, dan …” Risda menoleh menatap Ryan, “Muka lo kayak orang lagi nahan boker tahu nggak. Nggak enak dilihat.”


Ryan meringis. Sejelek itu kah wajah beserta ekspresinya sejak tadi? Astaga, harusnya ia berekspresi layaknya pria-pria cool di luar sana.


“Baru lo yang bilang gue jelek.”


“Wah sama-sama.” Risda tertawa. Terdengar renyah. Dan lagi-lagi Ryan harus menahan napas agar senyumnya tak mengembang.


💛💛💛


😘😘