
"Sudah bangun?"
Kenzi bangkit dari tidurnya dan menatap laki-laki yang bersuara tadi. Laki-laki berkulit putih pucat itu menghampirinya dengan kedua tangan berada di saku celana.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Kenzi dengan sedikit ringisan merasakan nyeri di kepalanya. Baru ia sadari ada perban yang menempel. "Kenapa ada ini, Galih?" Kenzi meringis kembali karena berusaha menarik perban itu.
Laki-laki itu, Galih, memutar bola matanya malas, ia mencegah tangan Kenzi yang mau menarik perban di kepalanya. "Sejak kapan kamu berubah bodoh dengan membiarkan luka sebesar itu di kepala?" Katanya menahan kesal.
"Hanya luka kecil kurasa karena tidak begitu sakit."
Galih mendengkus, "luka kecil yang membutuhkan tujuh jahitan?"
Kenzi diam tidak menanggapi, otaknya kembali sibuk memikirkan masa lalunya. Dan orang di hadapannya ini juga hanya sibuk sendiri dengan luka di kepela Kenzi. Lukanya kembali berdarah akibat ditarik Kenzi.
Dulu, dua pria itu adalah teman baik sedari kecil, juga termasuk Ryan dan Zevana. Sampai suatu kenyataan terkuak membuat Kenzi menjauhi Galih. Mengikut Ryan dan Zevana yang juga mulai menjaga jarak. Kenyataan di mana Galih menaruh perasaan lain pada Kenzi membuat Kenzi mulai menjauh. Saat itu Galih marah pada Kenzi yang menjauhinya dan semakin mendekati Kenzi disertai tindakan-tindakan menjijikan menurut Kenzi. Galih juga gencar mencari tahu perihal ada tidaknya gadis yang disukai Kenzi, dan berjanji di depan Kenzi bahwa ia akan menyingkirkan gadis itu dari hidup Kenzi bahkan dari dunia sekalian.
Saat itu Kenzi sudah menyukai Arin dan beruntung hanya Ryan-lah yang tahu tentang perasaannya. Tapi perasaan tenangnya tidak berlangsung lama karena dengan cepat Galih mengetahui keberadaan Arin. Galih yang dikuasai emosi berbuat nekat dengan menabrak Arin menggunakan mobil hingga mengakibatkan gadis itu koma selama empat puluh delapan hari dan terbangun dengan keadaan amnesia.
Namun diam-diam Kenzi masih mengawasi Galih, mana kala laki-laki itu masih berniat untuk melukai Arin-nya.
Lalu dua bulan lalu, Galih yang dengan sengaja atau tanpa sengaja datang padanya dan meminta maaf. Meminta agar melupakan masa lalu dan memulai pertemanan baru serta mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi menyukai Kenzi dengan kata lain ia sudah normal, hal itu diperjelas Galih dengan seorang wanita yang menempel erat padanya saat bertemu Kenzi. Awalnya Kenzi ragu, tapi Galih sangat pintar membuat Kenzi percaya, terlebih sikap Galih pada wanita itu terlihat sangat menyayangi dan begitu melindungi.
"Melamunkan Arin dan Ryan?" Suara Galih menyadarkan Kenzi dari kenangan masa lalu. Pria itu hanya melirik Galih sekilas lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang seraya menutup mata. "Apa yang akan kamu lakukan pada mereka?"
Kenzi terdiam beberapa saat. "Aku ... tidak akan melakukan apa-apa." Andai Kenzi membuka matanya, pasti ia bisa melihat ekspresi aneh di wajah Galih ketika mendengar ucapannya. "Aku akan memberikan mereka kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya. Aku akan memaafkan kesalahan mereka dan menganggap semuanya baik-baik saja."
Galih tercengang, "kamu gila?" Sebisa mungkin Galih berucap tenang. Meski Ia tidak terima dengan keputusan Kenzi yang menurutnya keputusan bodoh.
"Mungkin," gumam Kenzi masih menutup matanya.
...