(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Puding Mangga



Kenzi sudah terkantuk-kantuk, tapi anaknya belum juga tertidur lagi. Beberapa kali Kenzi membujuk agar tidur kembali, tetapi belasan menit telah berlalu dan tidak berhasil. Malah raut wajah Reva terlihat segar.


"Papa," panggil Reva pelan, tanyannya menggoyang lengan Kenzi.


Kenzi yang matanya sudah tertutup terpaksa membuka lagi. Senyum lebar ia tampakkan dengan mata memandang Reva dengan sayu.


"Lapar."


Aduh. Eluh Kenzi dalam hati. Kejadian ini pernah terjadi seminggu lalu. Di mana Reva terbangun tengah malam dan meminta makan.


Tak pikir panjang lagi, Kenzi langsung menggendong Reva menuju dapur. Menuntun sang anak memeriksa lemari pendingin dan memilih makanan yang dimau. Kenzi hanya melarang satu makanan, yaitu yang berhubungan dengan es, seperti es krim.


Di dalam sana ada puding buah, puding susu, salad buah, roti lapis dan beberapa jenis makanan lainnya yang sudah Arin siapkan untuk saat-saat keadaan mendadak seperti ini. Reva termasuk anak yang makannya tidak teratur, di liar jam makan pokok. Jadi, Arin merasa perlu sedia payung sebelum hujan. Sedia cemilan sebelum Reva merengek lapar.


Reva akhirnya memilih puding mangga. Ia mengambil dua cup. Padahal satu saja sudah sangat cukup untuknya.


"Untuk papa." Reva memberikan satu cup pudingnya pada Kenzi ketika mereka sudah duduk di kursi makan.


Kenzi menerima dengan senang hati. Tanpa ucapan, Kenzi berterima kasih lewat kecupannya di dahi buah hatinya.


Kenzi mendudukkan Reva di atas meja, lalu meletakkan kepalanya sendiri di atas meja dan bertumpu sebelah tangannya.


"Papa ngantuk, habis ini langsung tidur ya?"


Reva mengangguk. Tangannya sibuk menyendok dan memasukkan puding ke dalam mulutnya. Meski berusaha hati-hati, tapi tetap saja terkena pipi dan bajunya.


Beberapa saat kemudian Kenzi tertidur, meninggalkan anaknya terjaga seorang diri.


"Sudah selesai makannya?" tanya Arin pelan dan dibalas Reva dengan anggukan serta menunjukkan cup pudingnya yang sedikit lagi kosong.


Arin mengangkat Reva dengan hati-hati agar Kenzi tidak terbangun. Ia memberi minum lebih dulu sebelum membawa anaknya ke kamar.


Arin menyikatkan gigi Reva dengan perlahan. Anak yang tadi terlihat segar kini tampak sangat mengangtuk. Kalau saja tak takut gigi Reva akan berlubang nantinya, sudah pasti Arin akan langsung menidurkan Reva tanpa harus menyuruh anaknya menahan kantuk.


"Reva tunggu di sini dulu ya, Mama mau bawain Papa selimut." Arin menarik selimut menutupi separuh tubuh Reva. Bersamaan dengan bibir Arin yang mendarat di dahi Reva, anak batita itu pun menutup matanya.


Buru-buru Arin turun ke bawah menghampiri Kenzi. Suaminya itu tipe orang yang hanya mampu begadang satu malam, tidak bisa begadang berturut-turut. Dan kemarin malam Kenzi sudah begadang karena pekerjaan, sehingga malam ini tak mampu menahan kantuknya terlalu lama. Arin jadi tak enak hati setiap Reva hanya merepotkan Kenzi saat malam.


Arin berniat membangunkan Kenzi beberapa menit kemudian, tapi ia malah ikut tertidur dengan berbantalkan lengan dan wajah menghadap Kenzi. Lupa kalau esok tubuhnya akan ikut terasa tidak nyaman.


●●●


he he he mianhae


saranghae


i love you


see you


😁😁