
Hari ini cuaca cukup cerah, cocok dengan suasana hati yang ceria. Duduk di bawah pepohonan rindang menikmati minuman dingin serta merasakan semilir angin tentunya akan menciptakan ketenangan tersendiri. Seperti yang sedang Arin lakukan. Oh maksudnya seperti yang dilakukan wanita itu dua jam lalu.
Kini wanita itu tengah duduk di bawah terik matahari, berdiam diri tanpa merasa terganggu dengan rasa panas dari sang mentari. Arin hanya sesekali menatap ponsel digenggamannya.
Tadinya tempat yang ia duduki terkena bayangan pohon, tapi seiring dengan bergeraknya sang surya, bayangan itu tak lagi dapat melindunginya. Seperti mati rasa, Arin tak bergerak dalam lima belas menit terakhir. Jika tidak melihat matanya yang terbuka pasti yang melihat akan mengira Arin tertidur dalam duduknya.
"Astaga Arin!" Teriakan Hanna tak membuat wanita itu menoleh. Melamun. Satu kata yang sempat terlintas dibenak Hanna. Hanna berlari pelan dengan ekspresi panik mendekati Arin yang berada di bawah pohon di samping rumahnya.
"Arin!"
Arin baru menoleh kaget saat Hanna menggoyang pundaknya. "Eh, Mama," katanya dengan cengiran.
"Kamu ngapain di sini panas-panasan? Ayo masuk!" Tanpa menunggu jawaban, Hanna menarik paksa Arin untuk berdiri. Untung saja tubuh Arin terbilang kecil.
“Kamu melamunkan apa sampai tidak sadar sudah kepanasan begitu?" Tanya Hanna setelah mendudukkan menantunya diruang makan dan mengambilkannya minum.
"Kak Ken belum ngabarin ya?" tanyanya tanpa menatap Hanna. Tangannya memainkan gelas usai meminum airnya hingga setengah.
Antara ingin tertawa dan kasian, Hanna hanya memalingkan wajahnya sekilas. "Kamu baru sehari tidak bertemu Kenzi sudah-"
"Hampir dua hari Mama." Protes Arin membuat Hanna terkekeh. Kini Hanna percaya bahwa ada perubahan dari sikap Arin yang kadang semakin manja. "Harusnya sekarang 'kan sudah kasih kabar, seenggaknya bisa dihubungi."
"Kamu lupa perbedaan waktu antara di sini dan di sana? Dua belas jam, Sayang, itu artinya di sana sudah tengah malam. Mungkin dia sangat kelelahan sampai lupa memberi kabar," jelas Hanna menenangkan.
Arin menghela nafas pelan. Ia tahu itu tapi apa Kenzi lupa dengan istrinya yang pasti cemas akan kondisinya. Dan jujur ia juga sudah merindukan suami tak terduganya itu. Suami yang tidak ia sangka adalah kakak dari mantan kekasihnya.
Namun kini yang menjadi suami Arin bukanlah Ryan, melainkan Kenzi. Jujur, Hanna tidak terlalu menyukai fakta itu. Seandainya dulu Ryan memberitahunya waktu perencanaan pernikahan Kenzi dengan Arin. Hanna yakin hari itu ia pastikan tidak pernah terjadi. Sayang, Kenzi menikahi Arin diam-diam, tanpa memberitahu Hanna dan keluarga besar.
***
Makan malam telah usai dua jam lalu. Semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Termasuk Arin. Wanita itu sedari tadi hanya memandangi langit malam yang bertabur bintang di depan balkon kamar Kenzi yang juga sudah menjadi kamarnya. Sedari tadi langit selalu cerah seperti sedang mengejek suasana hantinya yang tengah gelisah bercampur kesal. Kesal karena sang suami belum bisa dihubungi.
Tidak jauh dari tempat Arin duduk, terhambur buku-buku tebal dan kertas-kertas cakaran. Tadinya ia berniat mengerjakan tugas kuliah tapi pemandangan langit menarik perhatiannya. Bahkan rentetan bunyi notifikasi ponselnya tidak ia hiraukan. Hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menatap langit. Ia mendengkus kesal, notifikasi yang masuk hanya dari chat grup teman kelasnya. Sama sekali tidak ada dari Kenzi.
Mengabaikan bunyi ponselnya dan melamun, lama-lama Arin tertidur dengan posisi duduk bersender di tembok. Arin tersentak ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi dengan keras. Ia menggeram kesal melihat nama dan foto Risda terpampang di layar ponselnya, lengkap dengan deringan yang memekakan telinga. Dalam hati ia mengutuki Risda yang entah kapan mengganti deringannya menjadi deringan khusus dengan lagu rock, sungguh menusuk-nusuk telinga Arin.
"Apa?" sapanya galak yang dibalas dengan kekehan. "Ngapain sih? Ini-" Arin menjeda ucapannya dan melihat jam, matanya melotot. "Ngapain lo nelpon gue dini hari begini hah?"
Risda tertawa lagi. "Udah tidur ya lo? Kaget? Hahaha," Arin hanya menggeram kesal tanpa membalas ucapan Risda. "Tugas lo udah selesai belum?"
"Tugas? Astaga!" Arin menepuk dahinya keras. "Gue lupa, mati. Sudah jam segini lagi, mana selesai."
Lagi-lagi Risda tertawa keras di ujung sana. "Sudah kuduga. Udah gue kirim hasil kerjaan gue di WA. Lo bisa bandingin kerjaan gue sama punya anak-anak yang dikirim di grup, gue males, capek. Jangan lupa dikoreksi ya punya gue terus kirim ke gue revisinya. Oke? gue udah ngantuk benget. Bye." Tanpa menunggu jawaban Arin, Risda mematikan panggilannya.
Arin langsung memeriksa aplikasi yang dimaksud Risda tadi. Dan benar ada puluhan foto lembar kertas folio berisi rumus dan angka hasil tulisan tangan Risda. Dan sebelum foto-foto itu dikirim ada rentetan pesan tak penting Risda sejak ia belum tidur sampai ia tertidur yang belum ia baca. Arin membuang nafasnya saat kembali melihat begitu banyaknya yang harus ia tulis. Tapi ia bersyukur karena ia hanya perlu mengoreksi jika ada yang salah atau tidak lalu menyalin. Sesimpel itu tapi tentu membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak sedikit.
Sampai waktu subuh tiba Arin masih berkutat dengan kertas-kertasnya. Ia sudah mengoreksi semuanya dan ada beberapa yang salah, sekarang ia tinggal menyalin lima foto lagi. Ia berdiri dan berniat untuk menunaikan ibadah lima waktunya, setelah itu baru ia melanjutkan menyelesaikan tugas mingguan dari dosennya yang paling killer.
***